15 - Cinta

1661 Kata
Bukan kata kerja (v) dan bukan juga kata benda (n), melainkan kata hati (❤) yang ingin ku ungkapkan kepadamu. -Comma Wiki *** Setelah kejadian Damar yang kembali merajut romansanya dengan Melody, kini mereka tak segan-segan memperlihatkan keromantisannya ditempat umum. Tepatnya, Damar yang sengaja 'memancing' Melody lebih dulu. Walau risih, tapi tetap saja membuat Melody merona. Bahkan, satu gedung tempat Melody bekerja pun tahu tentang kabar tersebut. Niat hati biarkan saja orang lain menilai mereka seperti apa, bagi Melody let it flow saja. Semenjak tersebarnya kabar Melody dan Damar di seluruh penjuru kantornya, tidak sedikit yang mendukung atau mencibir hubungan mereka. Beruntung, Melody tipikal perempuan cuek dan tahan banting. Damar yang telah berganti statusnya dari "jomblo" menjadi "pacar" Melody, hampir setiap hari dirinya menjemput dan mengantar kekasihnya pulang. Awalnya, ia hendak menjemput - berangkat bersama dan mengantarnya pulang, namun Melody tidak menyetujui hal tersebut. Mereka sempat berdebat dengan hasil akhir Melody sebagai pemenang. Menurut Melody, apa yang diusulkan Damar cukup menguras waktu dan tenaganya, bisa jadi ujung-ujungnya Damar akan drop. Disatu sisi, pekerjaan Damar yang memiliki tanggung jawab besar, pasti membutuhkan kehadirannya. Awalnya Damar menolak, ia bersikeras jika dirinya mampu dan Melody tidak perlu khawatir pekerjaannya terbengkalai. Namun, dengan segala bujuk rayu Melody, mau tidak mau Damar memilih opsi kedua, yakni menjemput dan mengantar Melody pulang seusai bekerja. Tapi, Damar tetaplah Damar. Tidak ada yang namanya nego tanpa syarat. Syaratnya adalah setiap akhir pekan, Melody harus menginap di apartemennya. Hanya satu malam. Lalu, bagaimana respon Melody? Terkejut ditambah dengan mata melotot? Jelas. Mendebat? Sudah pasti. Nggak perlu lagi dijabarin gimana kata-kata yang keluar dari mulut Melody, kan? Melody adalah ahlinya dalam mendebat, jika hal tersebut tidak sesuai menurutnya. Melody pun berdebat tentang syarat nego yang diajukan kekasihnya. Tapi tetap saja, Damar dengan 1001 cara muslihatnya mampu membuat Melody setuju. Dan kesepakatan tersebut baru dimulai pekan ini. Tapi entah mengapa, minggu ini kantor Melody tengah hectic. Begitu juga dengan Melody sendiri sebagai cungpret alias b***k korporat. Pekerjaannya seolah-olah tidak berkurang sama sekali, malah semakin bertambah. Dirinya juga beberapa kali skip makan siang dan mengganjalnya dengan beberapa snack manis agar tenaganya tidak loyo. Atau jika ada sedikit waktu longgar disela-sela pekerjaannya, Melody akan delivery. Untuk menikmati makan siang bersama teman-temannya pun, ia tidak sempat. Jangankan makan siang yang pasti setiap manusia butuh makan, pesan dari Damar pun hanya ia read tanpa balasan. Mereka berdua baru bertemu saat jam pulang kantor atau hanya via telepon jika mereka tidak bisa pulang bersama. Seperti saat ini. Hari ini adalah hari Jum'at. Bagi b***k korporat seperti Melody, seharusnya merasa lega karena esok harinya adalah akhir pekan. Meskipun tidak bekerja di pemerintahan, dimana Sabtu-Minggu libur, tapi perusahaan Melody menerapkan sistem libur kerja seperti pegawai pemerintahan. Huft. Melody menghela nafas. Dirinya masih setia duduk di depan komputer. Padahal hari ini Jum'at. Setidaknya, ia hanya memeriksa kembali pekerjaannya, apakah sudah selesai semua atau masih ada yang terselip. Mengingat jika besok adalah akhir pekan, waktunya untuk me time. Tapi, nyatanya tidak. Mengingat jika hari ini seluruh karyawan laki-laki yang beragama Islam menjalankan kewajibannya, hal ini dimanfaatkan Melody untuk istirahat ke kantin. Sebelumnya, ia sudah mengajak dua teman perempuannya, Wulan dan Reta untuk bergabung dengannya. Tapi mereka sedang sibuk dan memilih memesan makanan lewat ojol. Sungguh, Melody merasa penat. Bahkan, kepalanya merasa pening karena pola makan dan istirahat yang berantakan. Beruntung dirinya masih tinggal sendiri, belum bergabung bersama kakak tertuanya untuk tinggal bersama. Apa jadinya jika kakaknya atau yang lebih parah kedua orang tuanya mengetahui kondisinya seperti ini? Bukan cuma menggerutu atau mengomel, mungkin setiap hari dirinya akan disindir terus-menerus sampai kupingnya terasa panas. Siang ini, Melody memilih menu simple. Lalapan dengan sambal sangat pedas. Karena rasa pedas mampu menghilangkan rasa pening di kepalanya dan membuat matanya lebih segar. "Bu, lalapan kayak biasa. Sambalnya pedesin banget," Melody berbicara  langsung dengan ibu kantin kantornya. Bu Wati namanya. "Siap Mbak Mel," sahut Bu Wati dengan gaya hormat. "Minumnya s**u dingin ya bu," Melody menambahkan pesanannya. Jangan lupakan, setiap Melody makan pedas, minumnya tidak jauh-jauh dari s**u. Apapun itu. Gunanya sebagai penawar agar tidak sakit perut. "Asyiaaaap," sahut Bu Wati dengan nada ala-ala Atta Halilintar. Begitulah Bu Wati, meski berumur, beliau tergolong lansia yang lincah dan ceria. Bu Wati bisa dibilang sebagai penghibur karyawan disini, karena celotehan dan tingkahnya buat kita lupa akan tuntutan kerja. Setelahnya, Melody melangkah menuju bangku kantin yang kosong. Hari ini, pengunjung kantin didominasi perempuan atau laki-laki Non-Muslim yang sedang menikmati waktu istirahat mereka. Terlihat lengang hingga Melody bisa merasakan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Kantin memang didesain indoor, tapi tidak menggunakan AC. Pihak kantor justru mendesain banyak ventilasi dan ditanami pohon rindang disekelilingnya agar terasa sejuk. "Monggo, Mbak Mel. Selamat menikmati," suara Bu Wati memecah Melody yang sedari tadi melamun. Terpampang lalapan komplit, sambal yang begitu menggoda mata plus segelas s**u dingin dihadapannya. "Makasih Bu Wati," Melody membalas ucapan Bu Wati dengan santun. Tak lupa senyum tipis tersungging dibibirnya. Setelahnya, Bu Wati meninggalkan meja Melody dan memberikan waktu Melody untuk menikmati santap siangnya. Ting! Ponsel Melody berdenting. Melody yang sadar lantas menggeser ponselnya agar lebih dekat. Ia sentuh layarnya menggunakan tangan kiri. Satu pesan muncul di pop up. Dam ❤ Jangan lupa makan siang, hon :* 12.30 Bisa ditebak siapa pengirim pesan tersebut? Ya siapa lagi, kalau bukan kekasihnya. Damar Eka Wiratama. Melody yang mengintip pesan tersebut berdecak, namun hatinya menghangat. Tidak ada yang tahu isi hati Melody. Diluar mungkin tampak cuek, sengaja ia memasang tampang seperti itu karena gengsi dan sebagai pertahanan diri. Padahal, perhatian-perhatian kecil dari Damar seperti inilah yang sering kali membuat Melody bersemu. Namun, ia begitu pintar menutupi dengan kecuekannya. Dam❤ Hon? 12.32 Dam❤ Sayang? 12.33 Melihat chat Damar yang memanggilnya dengan sebutan 'honey', 'sayang', cukup membuat jantung Melody berdetak cepat. Pipinya bersemu dan seulas senyum cantik terlihat dibibirnya. Beruntung, suasana kantin masih sepi dan dirinya tengah memakan masakan pedas, sehingga bisa dijadikan alibi. Dam❤ Kok read doang sih? 12.34 Dam❤ Oh, gitu Cuekin aja terus Lihat aja besok -__- 12.36 Sial! Melody baru ingat jika besok adalah akhir pekan. Pertama kali kesepakatan dengan Damar dimulai. Tak ingin memikirkan besok, ia segera meletakkan ponselnya dan melanjutkan makan siangnya. Setelahnya, ia akan menunaikan shalat dhuhur lebih dulu sebelum kembali ke ruangan. Siapa tahu, sedikit mengurangi kegusaran hatinya akan esok hari. Setelah melaksanakan kewajiban dan merapikan kembali penampilannya, kini  Melody tengah berjalan menuju ruangannya. Pas sekali dengan jam istirahat yang sudah berakhir. Teman-temannya pun sudah kembali ke kursi mereka masing-masing. Ceklek. Setelah menarik knop pintunya, kedua mata Melody disajikan dengan meja kerja yang bersih. Padahal sebelumnya, meja tersebut tampak berantakan dengan berbagai macam laporan, bungkus snack, kabel charger, dan bolpoin. Namun, lihatlah saat ini. Mejanya begitu bersih dan rapi. Seperti saat dirinya baru datang di pagi hari. Sesaat ia tersenyum, namun menjadi panik setelahnya. Ia khawatir karena laporan yang berserakan itu penting, takut-takut seandainya kertas-kertas tersebut dibuang atau bahkan dihancurkan. Langkah kakinya tergesa-gesa menuju meja kerjanya hingga ia merasakan tarikan dari belakang. Grep. "Aaaaaa," Melody menjerit namun tidak kencang. Ia merasakan badannya didekap dan keningnya terbentur benda keras. Mulutnya merintih pelan. Sampai hidungnya mencium parfum yang familiar dan menjadi favoritnya akhir-akhir ini. "Sayang," terdengar suara seseorang tepat disamping telinga Melody. "Kenapa chat aku dicuekin?" lanjutnya. Suaranya sekilas seperti rengekan seorang anak pada ibunya. Melody yang mendengar hal tersebut menahan senyumnya. Bisa gawat jika bayi besarnya alias Damar merajuk. "Lagi makan tadi," Melody menjawab dengan jujur. "Kamu kok tiba-tiba kesini?" tambahnya sembari melonggarkan pelukan mereka, tapi tidak dengan kedua lengan Damar yang masih melingkari pinggang Melody. "Emang kenapa? Nggak boleh?" Damar berucap dengan nada sinisnya, membuat Melody memutar bola matanya. "Ya, siapa tahu kan situ sibuk," Melody menjawab dengan jawaban aman agar tidak memicu perdebatan diantara mereka. "Kalau buat kamu mah, aku nggak sibuk. Hehe," Damar menyengir dan membuat Melody bernafas lega. Gombal mukiyo, batin Melody. "Duduk enak nih, hon. Daripada berdiri," lanjutnya diikuti kedua lengannya yang terlepas, berganti menarik Melody untuk ikut duduk bersamanya. Bruk! "E-eh? Apa-apaan?" Melody terkejut karena Damar menariknya duduk diatas pangkuannya, bukan duduk sendiri diatas sofa. Kedua lengannya langsung kembali membelit pinggang Melody. "Gini aja udah," Damar menjawab dengan suara teredam, karena kepalanya yang ia cerukkan ke leher Melody. Sesekali memberi kecupan sekedar untuk menggoda Melody. "Sshhh," Melody mendesis akibat ulah Damar. Sedangkan si biang masalah, tersenyum penuh kemenangan dan melanjutkan aksinya ke titik-titik sensitif Melody. Tangan kanannya pun tak tinggal diam, ikut mengusap punggung kekasihnya tersebut. "Adaw! Sakit tahu," Damar langsung menjerit dan menghentikan aksinya setelah mendapat cubitan dari Melody di pinggangnya. Bibirnya ikut merintih dengan tangan yang ikut menggosok bekas cubitan tersebut. "Kenapa sih?" lanjutnya dengan tangan yang masih menggosok-gosok bekas cubitan Melody. "Pinter banget cari kesempatan," Melody bersedekap dan mencibir Damar. "Kan kamu pacar aku. Dimana letak kesalahannya?" Damar masih membela diri, karena menurutnya aksinya tersebut wajar bagi sepasang kekasih seperti mereka. "Salahnya itu, aku mau cari laporan-laporan aku. Kenapa justru betah duduk sama kamu. Awas ah," Melody akhirnya turun dari pangkuan Damar menuju meja kerjanya dan mulai mencari kertas-kertas yang sebelumnya tergeletak diatas meja. Siapa tahu, ada orang baik hati menyimpan kertas-kertas tersebut. "Kertas-kertas itu udah aku beresin," suara Damar menginterupsi Melody yang sedang melakukan pencarian. "Kamu beresin kemana?" Melody berbalik dan menatap tajam Damar. Tak lupa tangannya turut bersedekap. "Udah aku kasih ke Bang Bara," Damar menjawab dengan luwes. Tubuhnya ikut beranjak dari sofa untuk menghampiri kekasihnya. "Kan itu belum beres semua laporannya? Gimana bisa kamu langsung kasih ke bos. Duh, gimana ini. Kenapa sih kamu ikut-" Cup. "Listen to me. Laporan kamu udah aku beresin semua, jadi kamu tenang aja. Aku nggak mau kalau sampai pacarku ini sakit karena hecticnya minggu ini. Biar kamu bisa istirahat, sebelum mata kamu berubah jadi mata panda," kecupan Damar dibibir Melody berhasil menghentikan semua  ocehannya. "Maaf ya, kalau aku lancang. Tapi ini semua demi kebaikan kamu," lanjutnya diikuti tangannya yang menarik tubuh Melody kedalam dekapannya. Melody pun ikut melingkarkan tangannya ke punggung Damar. Cup. "You know how much I love you," Damar melonggarkan dekapannya dan memberikan ciuman dalam pada kening Melody hingga membuat Melody turut memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN