16 - Hey :)

1054 Kata
(n.) Sedikit cemas, banyak rindunya. -Comma Wiki *** Setelah kemarin Damar 'membuat onar' di ruangannya, Melody kembali menjalankan rutinitasnya yang semakin padat. Jika kemarin dirinya hanya merasa pening dan hilang sekejap dengan sambal super pedas, lain halnya dengan hari ini. Tubuhnya sungguh tidak bisa diajak kerja sama. Pasalnya, sepulang kantor kemarin, malam harinya Melody sempat menggigil. Itulah sebabnya, ia menyudahi acara chatting dengan Damar lebih cepat. Sebab, ia tidak ingin Damar mengetahui kondisinya yang sedang drop. Beruntungnya, Melody menyimpan obat-obatan yang sering menyerang tubuhnya. Pagi ini, Melody memasuki kantornya dalam kondisi buruk. Tubuhnya masih merasa demam, ditambah dengan flu dan batuk. Kedua matanya juga tampak sayu, khas orang sakit sekali. Tapi dirinya tetap memaksakan diri untuk bekerja karena merasa masih kuat untuk bekerja. Jika ia memilih cuti, pekerjaannya akan menumpuk yang berujung lembur. Itu bukan hal yang diharapkan Melody. Ia ingin pulang teng go seperti karyawan lain. Ting! Suara dentingan berasal dari ponsel Melody, mengalihkan atensinya dari dokumen-dokumen dihadapannya. Tangannya meraih ponsel tersebut dan terpampanglah pop up pesan dari kekasihnya. Dam ❤ Morning, honey :* Jangan lupa sarapan ya :) 07.15 Melody tersenyum saat membacanya. Meski dirinya belum 100% yakin dan percaya pada Damar, tapi ia tetap menghargai segala bentuk perhatiannya selama ini. Jari-jarinya dengan lincah bergerak untuk membalas pesan tersebut. Me Morning too, sayang :* Aku sarapannya di kantor 07.18✔✔ Dam ❤ Calling Melody terkejut saat kekasihnya menelepon secara tiba-tiba. Langsung saja ia menekan tombol reject. Dirinya tidak ingin Damar mengetahui kondisinya saat ini dari suaranya. Dam ❤ Kok direject sih, sayang? ☹ 07.21 Me Sorry, lagi ribet nih :)) 07.22✔✔ Dam ❤ Tumben pagi banget ke kantornya. Are you okay? 07.23 Nah, kan. Untung aja nggak gue angkat tadi, batin Melody. Me I'm totally fine Don't worry, hon :* 07.25✔✔ Dam ❤ Ok. Jangan lupa sarapan Happy working pacarku :* :* 07.27 Melody sampai terkekeh saat membaca pesan terakhir Damar. Semoga aja kali ini kita memang berjodoh, batinnya. Me Happy working too :* 07.29✔ Selesai mengirim pesan balasan pada kekasihnya, Melody kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula dan kembali berkutat dengan dokumen-dokumen dihadapannya. Perihal sarapan, Melody tidak sepenuhnya bohong. Ia hanya membeli s**u kemasan rasa coklat dan sandwich untuk mengisi perutnya. Dirinya kurang nafsu makan akibat kondisi tubuhnya yang kurang fit. Satu lagi, ia juga tak lupa membeli ion water dan vitamin C. Waktu terus berjalan. Melody yang terlalu asyik dengan pekerjaannya, sampai tak menyadari jika kantor mulai ramai dengan kedatangan karyawan lainnya. Ia begitu menikmati aktivitasnya, ditambah telinganya tersumpal air pods yang terhubung dengan ponselnya memutar playlist Spotify pilihannya. Setelah sebelumnya ia menikmati sarapan paginya, tapi tetap penampilannya terlihat kacau. Sungguh. Jika orang lain yang melihat penampilannya saat ini, mengira jika ia sedang mengalami patah hati hebat. Padahal, bukan seperti itu faktanya. Jam istirahat tiba. Para karyawan berbondong-bondong keluar dari kubikel mereka, tapi ada pula yang masih stay dan memilih jasa antar makanan, seperti Melody. Ketiga temannya sempat menawari dirinya untuk ikut bergabung makan siang, tapi ia tolak. Ia lebih memilih stay karena kondisi tubuhnya yang tidak fit, disamping penampilannya yang juga terlihat berantakan. Ketiga temannya pun memaklumi dan menawarkan apakah ia ingin membeli  makanan/minuman untuk mengganjal perutnya. Dan Melody akhirnya berpesan  pada Wulan untuk membelikannya s**u kemasan rasa coklat dan roti. Kebetulan, Melody sedang period dan hal itu menambah rasa lelah di tubuhnya. Kembali berkutat dengan pekerjaannya,  setelah Wulan yang kembali lebih dulu untuk memberikan titipannya. Nampak di luar, cuaca mendung dan udara dingin berhembus, semakin menandakan hujan akan turun. Merasa tubuhnya menggigil membuat Melody mematikan AC di ruangannya. Kepalanya juga terasa pening. Ia tinggalkan pekerjaannya dan mengambil s**u plus roti pesanannya untuk makan siang, setelah sebelumnya ia meminum air putih. Melody membuka bungkus roti dan menggigitnya sedikit demi sedikit. Ia kunyah perlahan dan berusaha menelannya, meski faktanya perutnya merasa mual tapi tetap ia paksa. Setelah gigitan kedua, Melody menusuk s**u kemasannya menggunakan sedotan dan mulai meminumnya. Namun, tiba-tiba kakinya berlari menuju toilet yang berada dalam ruangannya. "Hoek, Hoek," Melody langsung memuntahkan makanannya ke wastafel. Mulutnya masih mengarah ke wastafel,  takut-takut kembali muntah sembari mengatur nafasnya yang terengah. "Hoek, Hoek," Melody kembali muntah dan seluruh isi perutnya ikut keluar. Setelah merasa sudah cukup, ia membasuh mulutnya dengan air. Menegakkan badannya dan bercermin untuk merapikan penampilannya. Sewaktu berdiri, dirinya merasa sempoyongan. Oleh karenanya, tangannya berpegangan pada dinding untuk menahan beban tubuhnya. Setelah cukup merapikan penampilannya, Melody memutar tubuhnya dan keluar dari toilet menuju kursi kerjanya dengan tangan yang masih tetap berpegangan pada dinding. Bertepatan dengan pintu ruangannya terbuka dan muncullah wajah kekasihnya, Damar. "Dy, kamu kemana? Aku chat, calling, nggak diangkat. Ak-" Bruk! Belum selesai Damar berbicara, tubuh Melody ambruk. Damar terkejut dan bergegas menghampiri kekasihnya. "Sayang, Melody, bangun," Damar mengangkat kepala Melody ke pangkuannya dengan tangan lainnya yang menepuk-tepuk pipi kekasihnya berniat menyadarkan. Cukup lama, tapi mata Melody masih belum terbuka. Damar memutuskan membawa Melody pulang ke apartemennya. Tapi, sebelumnya ia akan menghubungi Bara untuk mengizinkan kekasihnya pulang. Bang Bara Calling "Halo," "Bang, gue izin bawa Melody ya," "Ngg-" "Melody pingsan, Bang. Dia sakit," "Oke," Tut. Selesai menghubungi Bara, Damar bergegas membopong Melody ala bridal style dan bergegas keluar dari ruangan tersebut menuju mobilnya. Langkah kakinya sungguh cepat, bahkan bisa dibilang berlari, karena tak ingin kekasihnya semakin parah.  "Sabar ya sayang," Damar berbicara disela-sela langkahnya yang tergesa. Sesampainya di lobby kantor, Damar meminta tolong pada salah satu security yang berjaga untuk mengambil alih mobilnya dan mengantarkan ke apartemennya. Awalnya, security ber-name tag Yusuf tersebut menolak karena takut dipecat oleh bosnya, namun Damar menjamin jika dirinya tidak akan dipecat dan ia akan mengurus izinnya ke Bara selaku pemilik perusahaan. Akhirnya, Yusuf pun setuju dan segera mengambil mobil Damar dengan Damar dan Melody yang menunggu di lobby. Tak lama, mobil milik Damar menghampiri pemiliknya. Yusuf pun turun untuk membantu Damar masuk ke dalam mobil. Setelahnya, ia kembali ke kursi kemudi dan mulai berjalan meninggalkan lobby kantor. Di dalam mobil, Melody ia sandarkan di dadanya dengan tangan yang ikut merengkuh memberi kehangatan ke tubuh kekasihnya. Berulang kali, bibir Damar juga singgah di puncak kepala Melody, meninggalkan kecupan hangat disana. Hatinya resah dan merasa sakit melihat kondisi Melody yang lemas. "Sayang," "Kuat ya," Damar merengkuh Melody dengan erat. Tangannya turut memberi usapan di punggung Melody, begitu juga matanya yang turut terpejam. Seolah-olah ia ingin memindahkan rasa sakit kekasihnya ke tubuhnya. I love you so much, batin Damar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN