18 - RABU

1439 Kata
Relakan masa lalu, semangat memulai kisah yang baru. -(at)penyambutsenja *** Dering alarm membangunkan Damar dari tidur lelapnya. Dengan mata terpejam, tangannya meraba-raba sisi kanan ranjangnya. Kosong. Mata yang sedari tadi terpejam, seketika terbuka. Damar bangun dari tidurnya dan duduk sebentar, sembari mengumpulkan kesadarannya. Setelahnya, ia bergegas membuka pintu kamar dan berjalan keluar menuju dapur. Siapa tahu, Melody tengah berada disana. Nihil. Dapur sunyi. Tidak ada tanda-tanda Melody disana. Damar berusaha tenang. Meninggalkan dapur, beralih ke ruang tamu sekaligus ruang tv. Sunyi. Tidak ada tanda-tanda Melody juga disana. Pikirannya mulai kalut. Gadisnya itu sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Dan sepagi ini, atau bisa dibilang subuh, Melody tidak ada bersamanya. Setelah dari ruang tamu, Damar kembali ke kamar tidurnya dan mencari ponsel. Tangannya bergerak lincah mencari nama kekasihnya di daftar kontak. Ody ❤ Calling Terdengar dering ponsel di kamar Damar. Damar mencari dimana bunyi tersebut. Ternyata bunyi tersebut berasal dari dalam tas kerja Melody. Damar merogoh tas tersebut dan menemukan ponsel Melody. Sial. Lebih sial lagi, nomor Damar sampai sekarang belum disimpan oleh Melody. Masih berupa deret angka. Tunggu hukuman dariku sayang, batin Damar licik. Tangan Damar bergerak lincah melakukan tugasnya diatas ponsel Melody. +6281243xxx 》(Add to Contacts) 》(Create new contact) Mas Damar ❤ 》(Save) Perfect. Damar tersenyum puas dan melupakan tujuan utamanya kembali ke kamar. Senyuman Damar hanya terjadi sesaat. Setelah mengingat apa tujuannya kembali ke kamar, dirinya kembali belingsatan. Mondar mandir sambil menggigiti kuku tangannya. Sayang, kamu dimana? batin Damar gelisah. Sedangkan dilain tempat, Melody tengah berada di supermarket dekat apartemen Damar. Ia sedang membeli pembalut (karena kebetulan dirinya hanya membawa satu pembalut baru) sekaligus s**u kotak dan roti sebagai pengganjal perut agar kejadian kemarin tidak terulang kembali. Dirasa cukup, Melody berjalan menuju kasir untuk membayar barang belanjaannya. Dirinya memang sengaja hanya membawa dompet dan meninggalkan ponsel beserta barang lainnya di kamar Damar. Melody berjalan keluar supermarket dan kembali ke unit Damar. Udara subuh memang segar. Maka tak heran, jika Melody hanya menggunakan kaos lengan panjang milik Damar dengan celana yang sama seperti kemarin dan sandal jepit yang untungnya pas di kakinya. Tak menghiraukan kaos yang berubah menjadi oversize jika dipakai olehnya. Tak membutuhkan waktu lama, Melody sudah sampai di depan pintu unit Damar. Karena jarak supermarket dengan apartemen hanya 200 meter. Bukannya langsung masuk, Melody masih setia berdiri. Dirinya lupa bertanya apa password unit Damar. Melody oon. Bisa-bisanya lo keluar tapi nggak bisa masuk lagi, gerutu Melody dalam hati. Disisi lain, Damar tidak dapat menunggu lagi di kamar. Merapikan penampilannya dengan memakai masker dan topi, tangannya meraih kunci mobil yang tergeletak diatas nakas. Langkahnya tergesa menuju pintu utama. Menarik kenop pintu dan seketika menampilkan sosok yang sedang membawa kantong belanja berdiri dihadapannya. Melody. Gadisnya. "Loh, mau keman-" "Kamu darimana aja? Kenapa pergi tanpa pamit? Kamu tahu, aku kayak orang gila keliling apartemen buat cari kamu. Kenapa kamu selalu seenaknya sendiri," Damar berteriak tepat di depan wajah Melody. Meluapkan rasa emosi dan gelisahnya yang terkumpul sejak tadi. Deg. Melody terdiam. Satu kalimat Damar sungguh membuat dirinya sadar diri. Selalu seenaknya sendiri. Seenaknya sendiri. Ucapan Damar terngiang-ngiang di kepala Melody. Dirinya tak menyangka, Damar sampai berucap seperti itu. Tidak tahukah Damar, efek dari ucapannya tersebut? Meski Melody akui, dirinya salah, tidak meninggalkan pesan apapun pada Damar. "Maaf. Aku lupa kasih kabar kamu," Melody berkata dengan nada dingin dan tampang datar. "Kalau begitu, aku sekalian pamit. Karena aku harus kerja," lanjutnya dengan langkah kaki menuju kamar Damar untuk mengambil barang miliknya, sampai-sampai melewati Damar begitu saja yang masih berdiri di pintu utama. Deg. Damar seakan tersadar dari keterdiamannya, mendengar Melody kembali berbicara dengan nada dingin dengannya. Oh, s**t. Nggak, nggak. Jangan sampai gue hancurin kepercayaan Ody, batin Damar. Badannya memutar dengan langkah kaki tergesa menyusul sang pujaan hati di kamarnya. Jangan lupakan raut penyesalan yang tercetak jelas di wajah Damar. Sesampainya di kamar, Damar melihat Melody sedang berkemas. Memasukkan barang bawaannya ke dalam tas kerja yang ia bawa. Tampak dari pintu kamar, Damar melihat punggung Melody penuh penyesalan. Grep. Melody berhenti dari aktivitasnya saat merasakan lengan Damar melingkari perutnya. Deru nafas hangat juga terasa menerpa tengkuknya. "Maaf," Melody acuh dan kembali melanjutkan aktivitasnya. "Maaf, sayang. Maaf," Damar kembali berbicara, namun lebih mirip sebuah gumaman. Kembali, Melody acuh. Setelah dirasa beres, Melody melepas belitan tangan Damar dan membalikkan badannya. Kini mereka berhadapan. Terlihat, raut wajah Melody sudah rileks, meski minim senyum. Berbeda dengan Damar yang sendu. "Terima kasih Dam, udah nolongin aku. Kapan-kapan aku traktir deh," Melody berbicara sangat lancar, seolah-olah tidak ada yang terjadi diantara keduanya. "Maaf sayang," Damar kembali berucap maaf. Kedua tangannya mencoba merengkuh Melody, namun ditahan oleh perempuan tersebut. "It's okay. Aku juga salah," Melody menjawab dengan tenang. Jangan lupakan senyum simpulnya dan usapan di lengan Damar. "No. It's not your fault," Damar masih tetap memohon ampun pada Melody. Ia takut jika Melody kembali membangun dinding tak kasat mata untuk dirinya. "Udah. Kita sama-sama salah," Melody kembali menenangkan Damar. "Aku pamit ya," lanjutnya dengan tas dan blazer yang sudah ia bawa di tangan kirinya. Entah sejak kapan Melody mengambil kedua barang tersebut. Yang jelas, Melody berjalan keluar dari kamar tersebut dan bergegas pergi dari apartemen Damar. Damar masih berdiri dengan keterdiamannya. Merutuk dirinya sendiri akan kesalahan yang diperbuatnya pada Melody dan efek yang akan ditimbulkan nantinya. Nggak, nggak boleh terjadi, batin Damar. Damar lantas memutar badannya dan mengejar langkah Melody. Semoga belum jauh, batinnya. Kedua mata Damar melihat siluet kekasihnya berdiri di pintu utama dan hendak keluar. Tak ingin membuang waktu, Damar lantas menghampirinya. Brak! Melody terkejut karena pintu tertutup akibat tendangan seseorang di belakangnya. Melody geram. Jika tadi ia berusaha meredam emosinya, saat ini tidak lagi. Disini bukan dirinya yang "seenaknya sendiri" seperti ucapan Damar, justru Damarlah yang begitu. "Kamu apa-apaan sih? Maksud kam-" Grep. Cup. Belum selesai Melody meluapkan emosinya, Damar justru membawanya ke dalam dekapan dan melumat rakus bibirnya. Melody melotot dan berusaha keluar dari kungkungan Damar. Kedua tangannya memukuli d**a bidang Damar. Tetap saja, usahanya sia-sia. Kekuatannya tidak sebanding dengan Damar. Bukannya melonggar, Damar semakin mendekapnya erat. Melody terus berontak dan Damar juga tetap melumat. Biarkan saja, pikir Damar. Disela-sela ciumannya, Melody beberapa kali mengerang dan mendesah karena aksi Damar. Pukulan Melody pun ikut berhenti, berganti rangkulan di leher Damar. Damar tersenyum disela aksinya. Gotcha! Damar terus melumat dalam tempo pelan, tidak lagi seperti di awal. Mereka saling bertukar saliva, pun dengan perang lidah. Merasa jika posisinya tidak nyaman, Damar menggendong Melody ala bayi koala dengan bibir berpagut. Kaki Melody ikut melingkari pinggang Damar. Melangkahkan kakinya menuju sofa ruang tamu.  Sesampainya di ruang tamu, Damar duduk dengan Melody yang kini berada di pangkuannya. Bibir mereka masih bertaut. Tangan Damar juga ikut membelai punggung Melody. Sesekali ia nakal, meremas p****t kekasihnya. "Aahh," Damar beralih menuju leher mulus milik Melody. Melody ikut mendongak, memberi akses Damar untuk beraksi. Tak tanggung-tanggung, Damar mengeksplorasi leher kekasihnya. Mencium, menjilat bahkan menggigit hingga meninggalkan jejak. Sengaja memang ia buat di tempat terbuka, meski tak berjumlah banyak. Puas dengan area leher dan diakhiri dengan gigitan kecil pada daun telinga, Damar kembali menuju candunya. Bibir Melody tampak menebal akibat ulahnya. Kembali melumat dengan salah satu tangan yang menahan tengkuknya. Dirasa cukup, Damar menyudahi aksinya. Ia melihat Melody terengah dan membiarkan kekasihnya tersebut menghirup oksigen sepuasnya. Tangan yang ia gunakan untuk menahan tengkuk Melody, beralih merapikan helai rambut Melody yang menjuntai di keningnya. Cup. "Maaf," Damar kembali memohon ampun. Cup. Cup. Cup. Cup. Cup. Cup. "Aku nggak akan berhenti cium kamu sampai kamu terima permintaan maafku," Damar berucap tegas dengan sorot mata tajam. Hal itu berhasil membuat nyali Melody ciut seketika. "Iya," cicit Melody. Cup. "Iya apa?" Damar berpura-pura tidak paham akan ucapan Melody. "Iya, aku maafin," Melody berkata lirih, namun masih tertangkap pendengaran Damar. "Good girl," Damar tersenyum puas akan jawaban Melody. Sekali lagi ia mencium Melody, bukan di bibir, melainkan di kening. Cup. "Sekarang kita istirahat," Damar berdiri dengan Melody yang masih berada di gendongannya. Melangkahkan kakinya menuju kamar. "Ta-pi a-ku harus ppu-lang," Melody berucap dengan terbata-bata dan kepala menunduk. "Kamu izin besok," Damar kembali berucap tegas hingga mampu membuat Melody mendongak dan melihat Damar tepat di matanya. Mengingat jika hari ini adalah hari Minggu dan kantor Melody juga libur. Jika biasanya Sabtu-Minggu, khusus minggu ini Nar.B Corp mewajibkan beberapa karyawannya untuk masuk di hari Sabtu, termasuk Melody, atas perintah Big Boss karena suatu hal yang bisa dibilang mendesak. "Aku udah izin ke Bang Bara," lanjutnya seakan tahu pikiran Melody. Hingga tak sadar, keduanya sudah sampai di kamar Damar. Damar menurunkan Melody diatas ranjang. Lebih tepatnya, merebahkan Melody dan menyelimutinya. "Aku subuhan dulu," Damar pamit karena takut akan semakin siang. Melody mengangguk. Cup. "Selamat istirahat sayang," Damar berucap sangat hangat setelah mencium dalam kening Melody. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN