19 - Rumus Macetmatika

1352 Kata
Hujan + Jam pulang kerja + Long weekend = Sengsara pangkat tiga. Hujan + Jam pulang kerja + Long weekend + Bareng kamu = Anugerah tak terhingga. -anonymous *** Melody mengerjapkan kedua matanya saat sinar matahari berusaha menerobos masuk ke indra penglihatnya. Pandangannya langsung berhadapan dengan langit-langit kamar, kemudian berganti menyusuri kamar yang bernuansa monokrom. Barang-barang didalamnya juga hanya beberapa. Khas lelaki. Ia ingat jika ini bukanlah kamar tidurnya. Ia sedang tidur di kamar Damar. Diatas ranjang kekasihnya. Lalu, dimanakah sang pemilik kamar? Bangun dari tidurnya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Tangannya meraih tas kerja yang ia letakkan diatas nakas tepat disamping ranjang yang ia gunakan. Merogoh ponsel yang berada di dalam untuk melihat apakah ada pesan/tlp pada nomornya. Nihil. Melody kembali mengunci ponselnya setelah sebelumnya ia melihat jam yang terpampang di ponselnya. Pukul 08.00. Setelah meraih kesadaran penuh, Melody perlahan menurunkan kedua kakinya, mencepol rambutnya dan beranjak menuju toilet yang ada di kamar itu. Setelah cukup waktu untuk membasuh wajah dan menggosok gigi, Melody keluar dari toilet dan menuju ke dapur. Sepanjang jalan menuju dapur, Melody merasa jika apartemen Damar sangat sepi. Ia tidak menemukan jejak Damar dimanapun. Setelah sampai di dapur, pandangan Melody langsung tertuju pada lemari es. Ia ingin melihat ada bahan masak apa saja didalamnya. Namun sebelum membuka, kedua mata Melody menangkap sebuah memo yang sengaja Damar tempek disana. Hon, aku ke kantor. Ada meeting dadakan. Sarapan udah aku bikin di meja. Jangan lupa dimakan ya :) P.S. Jangan kemana-mana & tunggu aku pulang :* -Mas Damar ❤ Blush. Pipi Melody merona seketika sesaat setelah membaca memo tersebut. Apa katanya? Mas Damar plus emot love? Aneh-aneh aja bujang satu ini, pikirnya. Mengingat ucapan Damar tentang sarapan, Melody akhirnya tidak jadi memasak. Ia hanya mengambil segelas air hangat dan membawanya menuju meja makan minimalis. Dibukanya tudung saji dan terpampanglah sepiring nasi goreng, segelas s**u putih dan buah-buahan sebagai pelengkap sarapan kali ini. Disentuhnya gelas yang berisi s**u. Hangat. Berarti dia belum lama pergi, batin Melody. Melody mengambil sendok yang terisi nasi goreng kemudian ia suapkan ke dalam mulutnya. Mengerjapkan kedua mata saat mulutnya asyik merasakan racikan bumbu nasi goreng ala Damar. Satu kata mewakili sarapan pagi ini. Enak. Sungguh enak. Rasanya bisa dibilang sama dengan masakan ala koki resto terkenal. Atau mungkin hotel berbintang? Entahlah. Yang jelas, ada perbedaan rasa nasi goreng ala Damar ini dengan nasi-nasi goreng biasanya. Mungkin bagi Melody, hal ini luar biasa menurutnya. Lain halnya dengan teman-teman Damar yang cukup lama bersahabat dengan lelaki itu. Karena sejak lama Damar memiliki bakat memasak. Dan semenjak lelaki tersebut melanjutkan pendidikannya di luar negeri, mau tak mau Damar menyalurkan bakatnya. Beda jika sedang di Indonesia, Damarnya hanya akan memasak jika dirinya ingin. Dan itu semua yang tidak diketahui oleh Melody. Namun khusus pagi ini, Damar memasak bukan karena ingin, terlebih ini adalah hari Minggu, waktunya orang-orang berlomba untuk bermalas-malasan. Alasan Damar memasak adalah untuk kekasih hatinya. Seseorang yang spesial, yang menjadi ratu di hatinya. Melody menikmati sarapannya dengan mata yang menyusuri area dapur. Ia berpikir jika apartemen Damar sangatlah rapi untuk ukuran laki-laki. Menurutnya, meski Damar seorang pimpinan perusahaan, nyatanya ia masih memperhatikan kehidupan pribadinya. Disela-sela sarapannya, ponsel Melody berdering. Ia tinggalkan sejenak sarapannya dan melangkahkan kakinya menuju kamar, karena ponselnya sengaja ia letakkan di nakas. Terpampang nama si penelepon, Mas Damar ❤. Seulas senyum Melody terbit. Langkahnya kembali menuju meja makan dengan ponsel di telinganya. "Halo," "Ya?" "Udah bangun, hon?" "Hm," "Udah baca pesen aku?" "Udah," "Sekarang lagi ngapain?" "Sarapan nih," Melody kembali duduk di tempat semula dan melanjutkan acara sarapannya. "Gimana rasanya masakanku? Jarang-jarang loh, hari Minggu gini aku masak," "Hm, not bad lah," "Seriously? Hanya itu?" "Hm," "Padahal, ku pikir lebih," Damar menggumam tapi masih tertangkap oleh telinga Melody. Seulas senyum kembali terbit. Faktanya, Melody sengaja menggoda Damar. "Ng? Kenapa?" "Ah, nggak. Bukan apa-apa," "Oh," Hening beberapa saat. Melody masih asyik mengunyah sarapannya hingga tandas. Sedangkan dilain tempat, Damar hanya mendengarkan ASMR Melody yang membuatnya semakin ingin cepat-cepat pulang. "Dam?" "Hm?" "Aku mau pulang," "No. Istirahat sayang dan tunggu aku pulang," "Tapi, badanku lengket-" "Nurut, honey. Bentar lagi aku beres," Melody memutar bola matanya jengah. "Fine," ketusnya. "Kamu mandi aja. Sementara pakai baju aku, cari di lemari coba," "Hm," "Jangan coba-coba kabur. Aku selalu awasin kamu," Ucapan Damar membuat Melody bergidik. Kedua matanya berkeliling menyusuri apartemen tersebut. Siapa tahu ada cctv tersembunyi. "Kamu pasang CCTV?" "Nggak," "Terus?" "Feeling aja," Padahal, Damar memang sengaja memasang CCTV di setiap sudut ruangan apartemennya, kecuali toilet. Letaknya sangat tersembunyi, namun daya tangkap lensanya menyeluruh. Sengaja Damar pasang untuk berjaga-jaga. Dan CCTV tersebut langsung terhubung dengan device milik Damar. Seperti saat ini. Damar sengaja memantau Melody melalui CCTV yang terpasang di apartemennya. Feeling? Oh, ayolah. Damar nggak ada garis keturunan cenayang, indra ke-6 ataupun indigo. Dirinya masih manusia biasa tanpa kejeniusan batin. Huft. Melody menghela napas. Dalam hati, ia sangat ingin menikmati waktu me time-nya di apartemen pribadinya. Harapan tinggallah harapan. Saat ini dirinya bukan lagi perempuan single. Ia memiliki seorang lelaki yang protektif cenderung posesif tapi masih sewajarnya. "Aku bersih-bersih dulu kalau gitu," Melody pamit pada Damar setelah menandaskan sarapannya dan mencuci piring kotor. "Oke. Kamu mau nitip apa?" "Terserah kamu deh," "Baiklah," "Inget, jangan nekat kabur. Atau aku hukum kamu lebih parah seperti pagi tadi," Pagi? Melody mencoba mengingat apa yang dilakukan Damar padanya pagi tadi. Blush. Pipinya menghangat setelah Melody ingat apa maksud Damar. Butterfly effect menyerangnya kala itu. "Hon?" "Eh, ya. Kenapa?" "Are you okay?" "Ya," "Aku tutup ya, hon. Mau meeting," "Hm," "I love you," Tut. Damar menutup panggilannya begitu saja tanpa menunggu balasan dari Melody. Melody yang sejak tadi masih berada di dapur, kini mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Damar untuk ritual pagi. Tak perlu waktu lama, Melody terlihat lebih segar dengan kaos oversized milik Damar dan celana pendek yang ia temukan didalam lemari pakaian Damar. Namun tetap saja, kaosnya mampu menutupi celana pendek hingga bisa dipastikan jika ia seperti tidak memakai celana. Sambil menunggu kepulangan Damar, Melody menghabiskan waktunya dengan menonton Netflix yang ada di kamar. Jemarinya mulai memencet tombol remote dan memilih jenis film yang akan ditontonnya. Gotcha! Melody berhasil menemukan film yang ia inginkan. Sebelum mengklik play, terlebih dulu dirinya memeriksa ponsel yang ia letakkan diatas nakas. Apakah ada yang menghubunginya selama ia mandi. Nihil. Kembali ia meletakkan ponsel di tempat semula. Ody's time, here we go! Waktu terus berjalan dan entah berapa banyak film yang Melody tonton. Berulang kali ia menekan tombol pause karena harus ke toilet ataupun ke dapur untuk mengambil minum dan cemilan. Beruntungnya, di lemari es ada beberapa cemilan. Rasanya, tak lengkap saja menonton tanpa mengunyah. Sampai akhirnya Melody tertidur ditengah film berputar. Jadilah, bukan Melody yang menonton Netflix, tapi Netflix yang menonton dirinya tidur. Melody terlalu nyenyak dalam tidurnya, sampai-sampai ia tidak menyadari kepulangan Damar. Damar mengulas senyum melihat Melody yang jatuh tertidur.  Ia biarkan saja. Tangannya meraih remote tv yang tergeletak disamping Melody kemudian meng-off-kan tayangan tvnya. Lebih baik dirinya membersihkan badan sekaligus shalat dhuhur. Tak perlu waktu lama untuk Damar membersihkan badan dan menjalankan kewajibannya. Sebenarnya, meeting sudah selesai sejak jam 10, namun apa daya masih ada beberapa hal yang harus diurusnya. Saat mengendarai mobil menuju apartemennya, terjadi macet karena kecelakaan. Lengkap sudah. Setelah cukup lama menikmati kemacetan, akhirnya Damar bisa terbebas dan sampai di basement dengan selamat. Tak lupa ia bawakan paper bag berisi makan siang bersama Melody nanti. Tapi apalah daya, Melody justru tertidur saat dirinya datang. Mau tak mau, Damar menyimpan makanan tersebut di meja makan. Biarlah nanti bisa dipanaskan. Lebih baik, ia kini bergelung bersama dengan Melody. Ikut merebahkan dirinya disamping Melody. Sejenak ia menatap wajah damai milik kekasihnya tersebut. Wajah yang dulu pernah ia sakiti dan patahkan hatinya. Tapi tidak untuk kali ini. Sekuat apapun penolakan Melody, Damar akan terus berjuang sampai Melody kembali ke pelukannya. Ditariknya badan Melody untuk masuk ke dalam dekapan Damar. Sempat terusik, mungkin karena dirinya merasa bergerak. Didekapnya begitu hangat dan erat, seolah-olah tidak akan melepasnya. Melody membalas dekapan Damar dan menyusupkan wajahnya di leher Damar. Cup. "I love you," Damar berbisik setelah meninggalkan ciuman hangat pada kening Melody. Setelahnya, ia mulai menutup mata dan menyusul Melody ke alam mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN