4 - Hai, apa kabar?

1423 Kata
(n.) Sebuah kalimat yang sering menggagalkan proses move on yang telah mencapai 99,9999% -Kompilasi Kamus Slebor *** Tiga minggu berlalu begitu cepat setelah 'makan siang tidak sengaja' antara Melody, Nada, Andra dan Damar. Ralat. Mungkin Nada dan Andra memang sudah terencana, tapi tidak dengan Damar bak mystery box. Kedatangannya yang begitu tiba-tiba mampu meresahkan hati Melody. Bagaimana tidak, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, secara tiba-tiba Damar bersikap seolah-olah mereka teman kampus yang 'cukup akrab'. Apalagi sikapnya sewaktu mengantar-jemput Melody di kantor, tampak 'akrab sekali' bahkan orang yang tidak tahu history mereka menganggap Damar dan Melody pasangan yang sedang dimabuk asmara. Hell! Tidak tahukah mereka akan history yang berakhir menyedihkan? Atau bisa dibilang tragis bagi Melody. Bersyukurlah Melody selama tiga minggu ini tidak terusik dengan tingkah laku Damar. Dirinya bisa melakukan aktivitas sehari-harinya dengan lancar. Meski setelah kejadian 'Damar jemput Melody ke kantor', keesokan harinya para lambe alias bigos kantor langsung menjadikan aksi Damar sebagai hot news, sampai-sampai ada yang berani klarifikasi ke Melody langsung perihal kejadian tersebut. Tapi kalian tahu, bagaimana respon Melody saat itu? Cuek dan jawab apa adanya, kalau mereka berdua tidak ada hubungan apa-apa. Seketika itu juga, mereka dicap sebagai pasangan gimmick. Case closed. Hari ini Melody bekerja dengan santai karena pekerjaannya sudah ia selesaikan semua sebelumnya. Saking santainya, ia melakukan pekerjaan sambil memutar musik yang terhubung dengan komputer kerjanya menggunakan earphone. Mulutnya bergerak mengikuti alunan musik yang sedang diputar. Ting! Satu notifikasi pesan muncul di layar ponsel Melody membuat atensinya beralih. +6281243xxx Morning sun :) 11.00 Gila nih cowok, jam 11 kok pagi. Ck! batin Melody. Siapa dia? Yup, dia adalah Damar Eka Wiratama a.k.a Damar. Laki-laki yang telah dilabeli "Playboy cap Kampret" oleh Melody. Meski tanpa nama, tapi Melody hafal pemilik nomor tersebut. Karena pesan terakhir mereka masih tersimpan di ponsel Melody. Dibiarkan saja pesan Damar tersebut tanpa membalasnya. Ting! Satu pesan muncul di notification bar. Kembali Melody melihat ponselnya. Ck, kembali Melody berdecak. +6281243xxx Apa kabar, Dy? 11.10 Baik, batin Melody. +6281243xxx Jangan lupa makan siang :) 11.11 +6281243xxx Kalo makan saiang, Aku jawab, "iya sayang" :)) 11.12 +6281243xxx Receh ya, Dy? 11.13 +6281243xxx Receh krn utuhnya cintaku padamu :D 11.14 Melody yang menerima pesan gombalan receh tersebut hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Ia biarkan saja pesan dari Damar yang masuk secara beruntun ke ponselnya. (Andai saja Damar melihat senyuman itu) Ting! Lagi dan lagi pesan masuk dari orang yang sama. +6281243xxx Kalau makan jangan lupa baca berdoa 11.16 +6281243xxx Kali ini beneran, nggak ngereceh lagi :3 See you, hon :* 11.17 Kembali Melody tersenyum tipis membaca pesan dari Damar. Dalam hati, Melody sebenarnya sudah tidak mempermasalahkan kisahnya dengan Damar yang telah usai. Dirinya bukan perempuan pendendam. Yang lalu biarlah berlalu. Memasuki jam makan siang, Melody memilih makan di ruangannya sehingga ia mengandalkan aplikasi pesan antar makanan. Karena siang ini begitu terik, membuatnya malas untuk berjalan keluar kantor. Sembari menunggu makanannya datang, Melody memainkan ponselnya. Tok! Tok! Tok! "Masuk," suara Melody dari dalam membuyarkan lamunan si kurir yang berdiri di depan pintu ruangannya. Ceklek. "Permisi. Pesanan atas nama Kak Melody Anjani, benar?" Suara kurir mengalihkan atensi Melody dari ponselnya. "Iya mas," sahutnya. "Saya taruh sini ya kak pesanannya," kurir meletakkan pesanan Melody diatas meja kerjanya. "Makasih ya mas," ucap Melody sambil memeriksa pesanannya. "Oke, udah lengkap mas. Bayarnya pake Oh-Pay ya mas," lanjutnya. "Baik mbak, terima kasih. Saya permisi," pamit si kurir pada Melody. "Oh iya kak, ini ada bonus dari saya," si kurir kembali ke hadapan Melody sambil mengangsurkan sebungkus coklat. "Ha?" Melody cengo tapi tetap menerima coklat tersebut. "Mari kak," suara si kurir disusul langkahnya meninggalkan pemilik ruangan yang linglung karena coklat pemberiannya. Seperginya kurir tersebut, Melody akhirnya tersadar dan menatap coklat yang ia pegang. Sewaktu dibalik, terdapat tulisan pada bungkusnya. Karena coklat kali ini dibungkus dengan kertas coklat kayu yang biasa digunakan untuk membungkus paket. Semoga aku bisa menjadi moodboostermu seperti coklat. -D Tulisannya terletak di pojok kanan atas dan ukurannya cukup kecil. Beruntunglah Melody masih bisa membacanya. Senyum tipis terurai dari bibir seksinya. Ssmoga, batinnya. Setelahnya ia menikmati makan siang yang terasa begitu nikmat saat ini bagi Melody. Entah karena rasanya atau si kurir pengantar makanan. Eh? Mikir apa aku ini, batinnya. Kembali Melody melanjutkan acara makan siangnya hingga tandas. Hari ini waktu terasa begitu cepat. Entah mengapa Melody sedang tidak ingin cepat-cepat pulang ke apartemen. Dirinya masih ingin menikmati after office hour lebih dulu. Maka, ia memutuskan memesan ojol daripada taksi. Didukung hari yang cerah dan setelan kerja dengan celana sebagai bawahannya. Setelah menunggu beberapa menit di lobby kantornya, ojol yang dipesan Melody akhirnya datang. Kendaraan yang dibawa driver kali ini terlihat mahal. Motor sport berwarna hitam dengan postur tubuh driver yang tinggi besar. Melody melongo. Bukan hanya Melody saja, tapi karyawan yang lain yang juga sedang menunggu jemputan di lobby. Melody segera menghampiri ojol tersebut setelah menyesuaikan plat nomor di aplikasi dengan motor di depannya. "Dengan Mbak Melody?" driver memastikan dengan informasi penumpang yang memesan di aplikasi ponselnya. "Ha? I-iya mas," Melody terbata karena merasa aneh dengan ojol kali ini. "Yuk mbak," driver mengajak Melody agar menaiki jok penumpang di belakangnya sambil menyerahkan helm. Melody menerima helm tersebut dan lekas naik. "Sudah mbak?" driver sekali lagi memastikan Melody telah nyaman dan duduk dengan benar. "Sudah mas," sahutnya. Tak lama, motor pun meninggalkan lobby kantor Melody, meninggalkan tatapan orang-orang yang berdecak kagum dan iri karena ojol pesanan Melody. Melody begitu menikmati jalan-jalan sore mereka. Yah, walaupun ditemenin ojol, pikirnya. Begitu menikmati perjalanan sampai tidak sadar kalau si driver menghentikan motornya di sebuah taman yang mulai ramai karena pasar malam sedang singgah. "Loh, mas? Kok berhenti? Mogok apa habis bahan bakar?" tanya Melody beruntun disusul dirinya yang turun dari boncengan. "Nggak kok mbak, saya lagi pengen ngadem aja. Nggak apa-apa kan mbak? Atau mbaknya buru-buru pulang?" Driver memberi tawaran tanpa memberi tahu dulu Melody sebelumnya. "H-ha? E-enggak kok mas," sahut Melody terbata karena merasa tidak enak hati jika dirinya menolak dan meninggalkan pulang dengan kendaraan lain. Nggak apa-apa lah, itung-itung ikutan ngadem dulu sebelum pulang ke apartemen, batinnya. Mereka berdua duduk di bangku taman sambil menikmati keramaian dan lalu lalang orang di pasar malam. Begitu pun dengan para penjual jajanan lawas dan mainan berjejer disana. "Mbak, saya boleh curhat nggak sih?" suara mas-mas driver tersebut mengalihkan atensi Melody. "Boleh aja sih mas. Curhat ke saya gratis, nggak pake bayar kayak biro jodoh," canda Melody berusaha mencairkan suasana. "Emang mau curhat apa mas?" lanjutnya. "Jodoh mbak," sahut mas-mas driver sendu. Berat euyy, batin Melody. "Kenapa sama jodohnya mas?" Melody mulai kepo. "Ya gitu. Kenapa bukan mbak aja yang jadi jodoh saya?" suara mas-mas driver terdengar tidak jelas lantaran wajahnya tertutup masker. "Ha?" "Duh mbak, cantik-cantik kok bolot sih," suara lirih mas-mas driver disusul kekehan yang masih terdengar oleh Melody. Wah, driver sompret, batin Melody sambil melirik sinis mas-mas driver disampingnya. "Sebenernya saya lagi clbk mbak," lanjutnya. "Clbk? Cinta lama bersemi kembali?" tebak Melody. "Bukan, mbak. CLBK = Chatan Lama Balikan Kagak," mas-mas driver menjawabnya sambil tertawa puas. Wah, makin sompret nih mas-mas, batin Melody kesal karena merasa tertipu dengan ucapan driver tersebut. "Tapi kita udah jadi mantan mbak," lanjutnya. "Wah, susah sih kalau gitu mas," Melody berempati. "Ya, nggak dong mbak. Mantannya ini beda. Manis dalam ingatan," mas-mas driver sekali lagi terkekeh. "Receh mas," Melody membulatkan bola matanya. Jengah. "Justru yang receh kayak saya gini ini yang bikin kangen mbak," ucap mas-mas driver masih terkekeh. Melody yang mendengarnya ikut terkekeh. "Kalau mbak sendiri, udah ketemu jodohnya?" lanjutnya. "Belum, mas. Jodoh saya masih belum lahir," canda Melody. Mas-mas driver pun tertawa kencang sampai-sampai orang-orang menatap ke arahnya. Sedangkan Melody merasa malu menjadi pusat perhatian. "Saya tebak, mbak tipikal perempuan yang disapa 'hai, apa kabar' langsung ambyar," mas-mas driver memicingkan mata saat menatap Melody. Kok nih driver bisa tahu, batin Melody. "Mas ini dukun freelance ya?" Melody membalas picingan mata mas-mas driver. "Saya antar pulang yuk, mbak. Udah mau malem ini, kasihan mbaknya pengen cepet-cepet tidur," mas-mas driver mulai berdiri dari bangku taman setelah melihat jam tangannya. "Tahu aja masnya. Kasur sama saya nggak terpisahkan," Melody ikut berdiri dan merapikan setelan kerjanya. "Bener, mbak. Apalagi kalau ada yang kelonin, bukan 'nggak terpisahkan' lagi, tapi 'nggak mau dipisah'. Sampai mager turun dari kasur," goda mas-mas driver sambil menaik turunkan kedua alisnya disusul kekehan. "Dasar m***m!" Melody sedikit berteriak didepan wajah mas-mas driver sambil memelototinya. Tangannya juga turut memukul lengan mas-mas driver tersebut. Setelahnya, ia berjalan lebih dulu meninggalkan si pemilik motor dengan bersungut-sungut. Mas-mas driver? Tertawa kencang. Beruntung dia memakai masker saat itu. Tak lama, dirinya menyusul Melody yang berjalan lebih dulu ke arah motornya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN