Belinda menggeliat pelan, seluruh rasa lelah yang membebani tubuhnya seketika lenyap begitu saja. Otot-ototnya yang semula kaku kini terasa lemas, sangking lemas nya Belinda enggan bergerak kemanapun. Ia sudah terbangun, namun rasanya malas sekali walau hanya sekedar membuka matanya.
Kenyamanan ini membuat Belinda merasa damai. Ia kembali memeluk erat guling nya yang terasa hangat. Hingga keningnya mengernyit ketika tangannya meraba sesuatu yang terasa keras dan hangat seperti kulitnya. Dengan sangat terpaksa Belinda harus membuka matanya untuk melihat benda apa yang sebenarnya ia peluk. Secara perlahan kelopak matanya terbuka dan detik berikutnya Belinda membelalak saat mendapati d**a bidang shirtless yang menjadi objek pertamanya saat membuka mata. Kesadarannya terkumpul begitu cepat. Tanpa sadar Belinda menahan nafasnya saat ia reflek menarik tangannya menjauh.
Belinda memejamkan matanya erat-erat diiringi dengan jantung yang berdentum hebat. Bagaimana mungkin ia bisa merasa nyaman dalam dekapan Thomas? Tidak, ini lebih menyeramkan, sebab ia tidur di atas d**a Thomas! Ini benar-benar gila.
Setelah berhasil mengendalikan dirinya sendiri, Belinda menyingkirkan lengan Thomas yang melilit lehernya dengan gerakan sangat hati-hati. Setelahnya, perlahan-lahan ia menggeser tubuhnya menjauh. Belinda menghembuskan nafas lega seraya memegang dadanya begitu berhasil melepaskan diri dari pelukan Thomas. Sampai detik ini Belinda masih belum percaya bahwa ia baru saja tidur dengan nyenyak di atas d**a Thomas. Belinda menggeleng cepat guna mengusir pikiran konyol yang baru saja hinggap di kepalanya. Dengan segera, ia turun dari ranjang kemudian berderap cepat menuju kamar mandi.
Walaupun sebelumnya sudah mandi, namun Belinda merasa membutuhkan air dingin untuk membersihkan diri sekaligus otaknya. Dan Belinda berharap semoga saja Thomas belum bangun setelah ia selesai mandi. Karena sejujurnya Belinda tidak siap jika harus bersitatap dengan pria itu.
Bagaimana jika seandainya Thomas menyadarinya? Belinda menarik nafas dalam-dalam sebab ini adalah kejadian yang paling memalukan yang pernah ia alami seumur hidupnya. Tidur di atas d**a seorang pria? Oh, yang benar saja. Tidak sekalipun Belinda pernah membayangkannya.
Setibanya di dalam kamar mandi, Belinda langsung melepaskan seluruh kain yang membungkus tubuh indahnya barulah setelah itu ia berdiri di antara dinding kaca. Tangannya terulur, menyetel suhu shower kemudian menyalakannya. Rasa segar langsung menerjang sekujur tubuhnya begitu air menghujani kulitnya.
Beruntung Belinda tidak perlu memikirkan pakaian ganti. Ya, walaupun menurutnya semua pakaian sialan itu membuatnya risih karena terlalu banyak bagian yang terbuka. Sayangnya, ia tidak memiliki pilihan lain selain memakainya dengan pasrah. Itu lebih baik dibandingkan ia harus menggunakan kembali pakaiannya yang lebih layak disebut kain lap sangking kusut dan lusuhnya.
??
"Kau harus makan, sayang." Cecilia mencoba bersabar menghadapi Devan yang tengah dilanda duka. Pria manja itu enggan menyentuh makanan sejak pagi. Ini sudah sore hari dan belum ada satupun makanan yang masuk ke perut suaminya itu.
Devan menoleh dengan wajah sendu. "Aku tidak bernafsu, honey." Keluhnya dengan wajah memelas. Jangankan makan, untuk minum pun rasanya Devan tidak memiliki nafsu. Devan sadar apa yang Cecilia lakukan semata-mata demi menjaga kesehatannya. Namun, perasaannya yang sedang campur aduk saat ini membuatnya malas walau hanya membuka mulut saja.
"Sudahlah, biarkan dia mati kelaparan sekalian!" Barron yang duduk di samping Devan dibuat geram dengan tingkah sepupunya itu. "Jika dia ikut mati, kau memiliki kesempatan untuk mencari pengganti yang tidak pencemburu seperti dirinya." Katanya lagi dengan wajah kesal.
"Apa yang kau bicarakan? Kau membuatnya terlihat semakin buruk!" Ruby mengomel sembari mencubiti pinggang Barron.
Devan melotot dengan wajah garang. Ocehan Barron membuatnya naik pitam. "Tutup mulutmu, b******n!" d**a Devan naik turun karena terbawa emosi. Tidak bisakah Barron membiarkan hatinya damai sebentar saja?
Gabrielle yang duduk dekat dengan mereka secara spontan memutar bola matanya. Ia sudah cukup jengah melihat tingkah dua pria dewasa yang sejak kemarin tidak berhenti berdebat.
"Daddy..." Panggil Gabrielle, lembut.
Devan beralih menatap putrinya, lantas tersenyum tipis. "Yes, Princess?"
"Bisakah Daddy makan dan berhenti mencari perhatian Mommy?" Gabrielle tersenyum manis agar Devan tidak memarahinya, sebab saat ini sudah tidak ada Shara dan Robert yang selalu siap membelanya.
Senyum Devan langsung lenyap, ekspresinya berubah menjadi datar. "Daddy sedang tidak mencari perhatian Mommy, Elle." Bantahnya tidak terima. Ringan sekali mulut putrinya itu. Devan jadi bertanya-tanya mirip siapa sebenarnya Gabrielle itu, karena sering sekali berbicara seenak jidatnya.
Jika Barron sibuk menahan tawa sembari manahan sakit karena cubitan maut Ruby. Cecilia justru menghela nafas lelah seraya memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Sakit, Baby." Barron menangkap tangan nakal yang sepertinya belum puas memberi siksaan pada pinggangnya seraya menatap gemas sang istri. Ingin sekali ia terkam istrinya itu jika saja kondisinya memungkinkan.
"Kalau begitu diam!" Ruby semakin melotot membuat Barron semakin gemas.
"Sedikit saja, ayo buka mulutmu. Aku akan menyuapi 'mu." Cecilia mengangkat sendok yang sudah terisi oleh makanan, dan siap diarahkan ke mulut Devan.
Devan menyentak nafas kasar, pada akhirnya ia mengangguk dan membuka mulutnya lebar-lebar. Telinganya mulai sakit karena mendengar ocehan Cecilia yang tidak berubah sejak tadi.
"Bilang saja jika Daddy ingin dimanja!" Cibir Gabrielle yang kelewat sebal melihat kelakuan Devan. Menurutnya, Devan itu definisi pria tua yang tidak mengenal usia sebab selalu saja berusaha mencari perhatian Cecilia tiap kali ada kesempatan.
"Elle!" Peringat Cecilia. Ia hanya tak ingin Devan berakhir merajuk dan enggan melanjutkan makannya. Susah payah ia membujuk bayi besarnya agar mau makan walau harus disuapi.
"Dimana Kak Thomas dan Kak Belinda?" Michael yang sibuk mengunyah kue menatap Cecilia, mengabaikan tingkah dua pria dewasa yang tidak tau umur itu.
pertanyaan Michael spontan membuat Gabrielle terkekeh geli dengan binar senang dimatanya. "Mereka sedang tidur saling berpelukan." Pekiknya gemas. Ingatan membawanya kembali pada momen dimana ia menangkap basah pasangan pengantin baru itu yang tampak nyaman tidur berpelukan.
"Wah.." Michael tercengang, "Kau mengintip mereka? Tidak bisa aku percaya." Michael sama sekali tidak menyangka kelakuan sepupunya seperti itu. Mengintip sepasang pengantin baru yang sedang tidur? Yang benar saja.
Gabrielle mendelik. "Aku tidak mengintip mereka! Aku sudah mengetuk pintu berulang kali, karena tidak adanya sahutan terpaksa aku membukanya." Kilahnya tak terima. Bisa-bisanya Michael menudingnya berbuat serendah itu.
"Bukankah Mom sudah mengatakan padamu jika mereka sedang beristirahat?" Devan mengangkat satu alisnya dengan mulut sibuk mengunyah. Dalam hati Ia berharap semoga saja mata putrinya masih suci.
"Benarkah?" Cecilia tersenyum senang. "Lalu, apalagi yang kau lihat?" Tanyanya antusias.
Ruby mengangguk, sama antusiasnya seperti Cecilia. "Apa mereka masih berpakaian lengkap?"
Pertanyaan konyol Ruby sontak saja membuat Michael menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke mulutnya. "Mom, bisakah kau tidak menanyakan hal itu?" Sepasang alisnya menukik hampir menyatu. Michael benar-benar tidak mengerti mengapa Ruby justru terlihat bahagia membahas hal yang seharusnya tidak orang lain ketahui.
Dengan wajah tak perduli Ruby melirik sang putra seraya mengibaskan tangannya. "Lebih baik kau tutup mulutmu sebab Mom sedang tidak bertanya padamu!"
Barron terkekeh, otak mesumnya terkoneksi dengan cepat. "Apa yang kau pikirkan, Baby? Apa kau ingin melakukan hal yang sama dengan mereka?" Tanyanya sembari menaik turunkan alisnya. Mungkin saja saat ini Ruby sedang memberikan kode untuknya, bukan?
Ruby mendengus kesal sebab otak pria tua tak tau umur ini selalu saja bekerja dengan cepat jika sudah menyangkut seluk beluk s**********n. "In your dream! Diam dan jangan menggangguku. Dasar tua bangka m***m!"
Mata Barron membelalak secara spontan. "Hei.. aku tidak setua itu!" Protesnya tidak terima. Mereka hanya beda delapan tahun saja, oke? Dan menurutnya usia tidak bisa menjamin kegagahan seorang pria di atas ranjang.
Devan tidak dapat menahan dirinya untuk tertawa kencang . "Akui saja jika kau memang sudah tua, Dude." Cibirnya dengan ekspresi menyebalkan, membuat Barron semakin meradang.
"Setidaknya aku lebih berpengalaman darimu, Dude." Balas Barron tak mau kalah.
Devan berdecih. "Percuma saja kau membanggakan pengalamanmu. Buktinya aku menghasilkan dua dari minimnya pengalamanku. Sementara kau? Hanya memiliki satu." Oceh nya dengan wajah bangga.
Barron menggeram kesal. "Aku memiliki alasan kuat tentang hal itu!" Sangkalnya tidak terima.
Devan mengibaskan tangannya dengan wajah mengejek. "Dan aku tidak perduli!"
Emosi Barron kian tersulut, bersamaan dengan itu duduknya pun menegak. "Dan aku adalah pria sejati yang memikirkan keselamatan istriku. Sementara kau?" Ia berdecih, "Kau justru membiarkan istrimu pergi karena cemburu buta." Sindirnya telak.
Devan ikut menegakkan tubuhnya. Dengan gesit kedua tangannya terulur mencekik leher Barron secara brutal. Ia sudah terlampau kesal dengan tingkah sepupu b******n nya itu, ditambah lagi Barron terang-terangan mengungkit masa lalunya.
"Apa yang kau lakukan?" Pekik Barron dengan mata melotot. "Lepas, sialan!" Sekuat tenaga Barron berusaha melepaskan tangan Devan dari lehernya.
Cecilia meletakkan piring yang sudah kosong di atas meja. Ia lalu melirik Ruby, memberikan isyarat agar wanita itu mengikutinya. Kedua wanita itu bergerak, duduk menghimpit Gabrielle dengan sorot mata yang membuat gadis itu merinding.
Taman bunga Shara yang mereka jadikan untuk rehat sejenak, kini terdengar bising akibat perdebatan dua orang pria yang sibuk mencekik satu sama lain. Sementara para wanita siap bergosip.
Michael satu-satunya pria muda yang terlihat tidak perduli dengan keadaan disekitarnya. Ia lebih memilih mengisi perutnya dengan kue-kue yang tersaji. Michael pun tidak berniat memisahkan dua pria dewasa yang sedang saling mencekik. Michael merasa Devan dan Barron memang perlu merilekskan urat yang sejak tadi menegang. Bukannya tidak menghargai suasana duka. Hanya saja, Michael merasa Devan membutuhkan sedikit hiburan. Setidaknya Devan tidak terus larut dalam kesedihan. Biarkan saja Barron menjadi korban. Memang sejak tadi Daddy-nya itu terlihat sekali gencar mencari keributan dengan Devan.
Belinda yang baru saja tiba dibuat menganga dengan kelakuan Devan dan Barron yang bertingkah seperti bocah. Ia bergegas menghampiri para wanita yang duduk merapat.
"Ada apa dengan mereka?" Belinda masih setia menatap Devan dan Barron dengan kening berkerut heran.
Cecilia mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, mungkin mereka sedang melampiaskan rasa rindu."
Ruby mengangguk seraya terkekeh. "Mereka memang seperti itu sejak dulu."
Teringat akan sesuatu, Cecilia menepuk pelan paha Ruby. "Bel, bagaimana istirahatmu? Kau terlihat lebih segar dari sebelumnya." Katanya seraya tersenyum lebar.
Ruby mengangguk semangat seraya tersenyum jahil. "Kau benar, lihatlah garis wajahnya. Kelihatannya tidurnya sangat nyenyak."
Mendadak, Belinda terserang gugup luar biasa. Dari sorot mata kedua wanita itu saja, Belinda tau jika mereka mengira ia dan Thomas melakukan hal yang lebih dari sekedar tidur saja.
Gabrielle memutar bola matanya. Menurutnya pembahasan ini kurang menarik jika Thomas tidak ada bersama mereka. "Dimana Kak Thomas?"
Netra coklat terang itu beralih menatap Gabrielle. "Hem, tadi dia masih tidur saat aku meninggalkannya."
"Kau tidak ingin menjawab pertanyaan kami?" Cecilia mulai mencerca.
"Eum.." Belinda menatap Cecilia dan Ruby. "Aku tidur cukup nyenyak. Mungkin karena semalaman aku tidak memiliki tidur yang cukup."
"Apa kau yakin hanya sekedar tidur saja?" Gabrielle menaik turunkan alisnya lengkap dengan binar menggoda.
"Tentu saja, memangnya apa lagi?" Belinda memalingkan wajahnya yang terasa panas. Apa-apaan ini? Kenapa mereka terlihat sengaja menggodanya.
Ruby mengangguk-anggukan kepalanya. "Jika memang lebih dari itu pun sebenarnya sama sekali bukan masalah. Kami cukup memahaminya."
Belinda tertunduk, wajahnya terasa semakin panas.
"Kau benar, Devan bahkan tidak memberiku istirahat yang cukup setelah kami menikah dulu." Cecilia tertawa renyah, bukan karena mengingat masa lalunya tapi karena wajah Belinda yang semakin merah hingga ke telinga.
Ruby mendengus seraya melirik sinis Barron yang sudah duduk tenang. "Kau pikir bagaimana si m***m itu memperlakukanku? Ck, setelah menikah kelakuannya semakin menjadi!"
Sontak saja Gabrielle tertawa mendengarnya. Ruby memang selalu gamblang jika sedang menjelekkan nama Barro. "Seharusnya kau tidak memaafkan Uncle Barron saat itu, Aunty."
"Apa maksudmu?" Protes Michael tak terima. Jika Ruby tidak memaafkan Barron, mungkin mereka benar-benar akan tinggal terpisah.
Gabrielle mengangkat kedua bahunya, santai. "Aku hanya memberi pendapat saja."
"Sudah cukup!" Cecilia geleng-geleng kepala. "Kemarilah, Bel. Duduk di samping, Mom." Pintanya seraya menepuk kursi kosong disampingnya.
Belinda mengangguk, untung saja pembahasan tentang dirinya tidak berlanjut. Dengan sedikit sungkan, ia mendaratkan bokongnya di kursi yang dimaksudkan oleh Cecilia.
"Kau pasti belum makan, lebih baik kau mengisi perutmu sebelum Thomas bangun." Cecilia menatap maid yang sedang membereskan piring kotor. "Anne, bisa kau mengambilkan makanan untuk menantuku?"
Anne menoleh, lantas mengangguk pelan. "Saya akan menyiapkannya, Nyonya."
"Terimakasih." Cecilia tersenyum pada maid yang paling muda di mansion mertuanya.
Selagi menunggu Anne menyiapkan makanan, mereka kembali membuka obrolan. Namun, keseruan mereka harus terhenti saat Marc datang bersama seorang wanita cantik.
"Selamat sore, Tuan, Nyonya. Nona ini ingin bertemu dengan Tuan Muda Thomas." Marc menunduk sopan, membiarkan wanita muda itu berdiri di sampingnya.
"Selamat sore, Aunty, Uncle." Selena tersenyum manis sembari bergerak mendekati Cecilia kemudian mencium kedua pipinya.
"Terimakasih sudah datang, Selena." Cecilia menepuk pelan lengan Selena sebagai bentuk formalitas.
"Aku pasti akan datang untuk menghibur Thomas, Aunty." Selena beralih menatap Devan dan Barron, lantas mengangguk sebagai sapaan formal.
Jika Ruby berdiri seraya tersenyum tipis. Lain halnya dengan Gabrielle yang terlihat tidak perduli dengan kedatangan Selena. Gadis itu lebih memilih menghampiri Michael kemudian duduk disebelah sepupu kakunya itu.
"Kau meninggalkanku?" Thomas tiba-tiba saja muncul dengan wajah protes. Meskipun sudah membasuh wajahnya, namun sepasang matanya yang terlihat sayu menunjukkan bahwa ia masih sangat mengantuk.
Tubuh Selena berputar cepat saat mendengar suara bariton yang sangat ia kenali. Dengan gerakan cepat, ia menghampiri Thomas dan langsung memeluk pria itu. "Aku turut berduka, Thom. Aku begitu terkejut saat melihat berita pagi ini. Ini pasti sulit untukmu." Selena mempererat pelukannya sembari mengusap punggung tegap Thomas.
Belinda yang menyaksikan semuanya hanya diam ditempatnya. Tadinya, ia ingin menjawab pertanyaan Thomas. Namun segera ia urungkan begitu melihat Selena menghampiri Thomas dan langsung memeluknya. Kenyataan ini membuat hatinya semakin dilanda keraguan yang teramat besar. Rasa bersalah tiba-tiba saja menghampirinya, Belinda tidak ingin menjadi orang ketiga diantara hubungan yang sebelumnya sudah tercipta. Meskipun Thomas sudah menjelaskan padanya secara detail, akan tetapi bahasa tubuh Selena menjelaskan segalanya. Dan Belinda meyakini bawasannya Selena menaruh harapan besar pada Thomas.