"Sempurna...."
Dalam ruangan bernuansa gold, dua wanita yang masih cantik diusianya menyeringai bersamaan. Keduanya sedang memantau berita kecelakaan yang menimpa salah satu pengusaha sukses beserta istrinya. Senyum puas yang tersungging di bibir mereka adalah gambaran sukacita yang memenuhi hati mereka.
Diketahui kerap ikut serta dalam berbagai acara amal menjadi salah satu alasan mengapa berita kecelakaan itu menyedot perhatian banyak pasang mata. Terlebih, berita tersebut memenuhi hampir seluruh halaman media eletronik. Robert Alexander merupakan salah satu pengusaha sukses yang cukup dikenal dan berhasil melebarkan sayapnya hingga melampaui Benua Amerika, dan Shara selaku istrinya tentu saja ikut dikenal dampak dari kesuksesan suaminya. Kejayaan dan kekuasaan Alexander Group membawa nama Robert dan Shara mengudara hingga ke telinga para penguasa dunia bawah tanah.
"Kira-kira, bagaimana kondisi mereka?" Seorang wanita berambut coklat bergelombang menyesap wiski nya. Tatapannya lurus ke depan, mengarah pada layar televisi yang sedang menayangkan berita kecelakaan tersebut
"Aku harap mereka sudah tiba di neraka." Wanita berambut pirang menyahut sinis. "Well, aku tidak sabar mendengar kabar duka diumumkan."
Wanita berambut coklat tertawa anggun. Ia kemudian menoleh, ditatapnya lekat-lekat si wanita berambut pirang. "Sepertinya, kau sangat bersemangat menanti kabar baik itu."
"Tentu saja!" Sahut si wanita berambut pirang begitu cepat. "Bukankah kau juga menginginkan kehancuran keluarga itu? Dan, ya. Rencanamu berjalan dengan sempurna." Kekehnya dengan wajah puas.
"Kau benar." Angguk wanita berambut coklat. "Melihat wajah mendung mereka adalah kebahagiaan tersendiri untukku. Dan aku ingin segera melihat kehancuran wanita itu." Rahang wanita berambut coklat mengetat. Kilatan amarah dan dendam terpancar jelas dari sepasang bola mata birunya.
Wanita berambut pirang terkekeh renyah. "Kau akan segera mendengar kehancurannya. Bukankah nasibnya terlalu baik? Sementara kau? Ck, jika bukan karena Andrean memungut 'mu dari rumah bordir itu, mungkin kau akan tetap menjadi jalang seumur hidupmu."
"Sialan!" Wanita berambut coklat tergelak, alih-alih merasa tersinggung.
"Apa yang membuat kalian terlihat begitu gembira?" Seorang pria gagah berparas tampan memasuki ruangan bernuansa gold tersebut.
Suara bariton tersebut berhasil menarik atensi Eleanor. Wanita berambut coklat yang memiliki sepasang bola mata indah tersebut menoleh seraya memberikan senyum terbaiknya.
Andrean West merupakan salah satu pemasok narkotika yang cukup dikenal di dunia bawah tanah. Otaknya yang cemerlang serta ketampanannya mampu memikat hati Eleanor West, wanita yang sebelumnya berprofesi sebagai pemuas ranjang panas p****************g akhirnya terjerat dalam lingkaran cinta yang Andrean ciptakan. Kegagahan serta kharisma Andrean begitu kuat. Rahang tegas serta tatapannya yang setajam elang mampu membuat jantung Eleanor berdebar hebat sewaktu mereka bertemu untuk yang pertama kalinya, dan love at the first sight adalah ungkapan hati Eleanor kala itu.
Berjalan mendekati Eleanor, Andrean lalu mencium bibir merah merekah itu. "Kau belum menjawab pertanyaanku, baby." Tuntutnya setelah ciuman mereka terlepas.
Ditengah deru nafasnya yang memburu, Eleanor tersenyum. "Kami sedang menonton berita kecelakaan itu." Beritahunya seraya melirik wanita berambut pirang.
"Apa kalian menyukai cara kerja anak buahku?" Andrean tersenyum sembari menatap Eleanor dan wanita berambut pirang secara bergantian.
"Tentu saja, dan aku harap mereka tidak mencurigai sabotase yang telah kita lakukan." Wanita berambut pirang menyahut santai sembari mengangkat kedua bahunya. "Akan lebih baik lagi jika mereka tidak pernah mengetahui identitas kita."
Kata-kata wanita berambut pirang itu mengusik ego Andrean. Dikenal cukup kejam di dunia bawah tanah membuat Andrean tidak segan-segan menghabisi musuhnya dengan cara yang paling kejam. Dan ucapan wanita berambut pirang itu seolah-olah meragukan kredibilitas nya sebagai salah satu pemimpin yang cukup disegani di dunia bawah tanah.
"Apa kau meragukan kami, Grace?" Tanya Andrean dengan intonasi rendah dan penuh penekanan.
Aura gelap serta kilatan amarah dari kedua bola mata Andrean membuat Grace menelan ludahnya susah payah. Ia merasa telah salah bicara. "Bukan. Bukan seperti itu maksudku." Grace berusaha tersenyum, meski wajahnya terasa kaku.
"Lalu?" Andrean belum puas dengan penjelasan wanita bernama Grace itu.
"Begini." Grace meraup udara sebanyak-sebanyaknya demi menenggelamkan rasa gugup yang masih menyerangnya. "Siapa yang tidak mengenal Kartel Darkness? Mereka dikenal kejam dan ambisius saat menghabisi musuhnya. Dan aku percaya, dibawah kuasamu tidak ada yang mustahil."
Seringai Andrean terbit, merasa senang akan sanjungan itu. "Jadi, bisa dibilang kau tidak memiliki keraguan sedikitpun, bukan?" Sekali lagi Andrean memastikannya.
"Tentu saja." Grace mengangguk cepat. "Aku tidak pernah sekalipun meragukannya." Ucapnya penuh keyakinan.
"Sebaiknya kata-kata itu memang keluar dari hatimu, Grace. Karena aku tidak akan mengampuni siapapun yang berani merendahkan kekuasaan 'ku."
Seringai iblis itu nyaris membuat jantung Grace merosot ke dasar perut. Grace memalingkan wajahnya, menghindari tatapan setajam elang yang membuat dirinya terintimidasi. Tidak pernah sedikitpun Grace berniat meremehkan apalagi merendahkan kinerja Kartel Darkness. Bagi Grace Kartel Darkness layaknya pintu neraka dimana letak lembah kematian berada. Kekejaman dan kekuasaan Andrean telah menyebar dan diakui oleh beberapa penguasa dunia bawah tanah. Dan Grace tidak ingin mati konyol hanya karena salah berucap.
Merasakan aura gelap di sampingnya, Eleanor mengusap lengan kekar Andrean membuat pria itu beralih menatapnya. "Kau membuatnya takut, honey."
Senyum cerah sang wanita mampu memadamkan amarah yang sebelumnya membakar hati Andrean. Pria itu kembali menyerbu bibir Eleanor, bibir merekah yang selalu membuatnya candu.
"Aku hanya mengingatkannya, baby." Ucap Andrean setelah melepas ciumannya.
Eleanor tersenyum dengan wajah memerah. "Jangan menyudutkannya seperti itu. Dan berhenti mencium 'ku!" Tatapan Eleanor kini mengarah pada Grace. "Bagaimana dengan putrimu? Apa dia berhasil memikat hati pria muda itu?"
Grace menyeringai seraya mengangguk. "Aku tidak pernah sekalipun meragukan kemampuannya."
Mendengar itu Eleanor tertawa anggun. Ia mengapit lengan Andrean kemudian membawa pria itu duduk di sofa, tepat di sampingnya. "Yeah, bukankah dia begitu mirip denganmu?"
"Oh Tuhan." Grace tertawa kecil. "Yeah, aku tidak menampik akan hal itu. Lalu, bagaimana dengan gadis bodoh itu? Sepertinya dia berhasil memainkan perannya dengan baik."
"Aku masih menunggu kabar darinya. Gadis ambisius itu akan bersaing dengan putrimu nantinya." Sahut Eleanor.
Grace mengangkat kedua bahunya, acuh. "Aku tidak akan menghalangi mereka. Tujuanku hanya satu, menghancurkan keluarga sialan itu!" Kilatan dendam begitu kental dari kedua bola mata Grace.
Amarah dan dendam yang selama ini ia pupuk tumbuh begitu subur dalam sukmanya. Sampai kapanpun Grace tidak akan pernah melupakan wajah dua wanita yang telah berhasil membuat hidupnya hancur tak bersisa. Rasa sakit itu masih terasa nyata tiap kali Grace mengingat masa-masa sulitnya saat terkurung dalam jeruji besi. Dan Grace tidak akan pernah rela melihat dua wanita tersebut bahagia di atas deritanya.
"Yeah, tujuan kita memang sama. Itu sebabnya kita bekerjasama, bukan?" Eleanor mengangguk sependapat.
Keras dan kejamnya alur kehidupan yang telah dijalani Eleanor menimbulkan rasa dengki yang menyelimuti jiwanya. Perasaan pasrah yang biasanya ia genggam kini terhempas begitu saja ketika mengetahui saudari kembarnya hidup bahagia dengan pengusaha kaya raya. Sementara dirinya harus pontang panting demi memenuhi kebutuhan hidup. Keadilan yang tidak pernah berpihak padanya membuat Eleanor memendam rasa benci pada saudari kembarnya sendiri.
Awalnya Eleanor tidak pernah tau jika ia memiliki saudari kembar. Kehidupan perekonomiannya yang sulit membuatnya tidak memiliki waktu walau sekedar melihat atau membaca berita yang sedang tren kala itu. Sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan Grace dan wanita menceritakan kebenaran yang membuat emosinya mendidih. Dan pada akhirnya, Eleanor tenggelam dalam lautan kebencian.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Gadis bermanik coklat masuk dengan wajah heran.
Eleanor menoleh, begitupun dengan Andrean dan Grace. "Kau sudah tiba rupanya. Bagaimana? Apa kau membawa kabar baik untuk kami?"
Gadis bermanik coklat itu duduk dengan dagu terangkat angkuh. "Mereka sudah tiba di neraka." Lapor gadis itu selaras dengan riak bahagia yang terpancar jelas dari kedua bola matanya.
Senyum bahagia terukir di wajah Grace. Wanita itu bersorak senang dalam hatinya kemudian ia menatap Eleanor yang juga tengah memamerkan senyum yang sama dengannya.
"Apa kau tidak menyesalinya? Maksudku, bukankah keluargamu juga menjadi korban?" Satu alis Grace terangkat naik, menanti jawaban gadis itu.
Eleanor mengangguk, setuju dengan ucapan Grace. "Apa kau tidak mengasihani mereka?" Tanya heran.
Grace menilik wajah gadis muda yang duduk persis dihadapannya. Wajah itu mengingatkannya pada salah satu wanita yang paling ia benci. Salah satu wanita yang telah merenggut haknya.
Gadis bermanik coklat itu berdecak seraya mengibaskan tangannya. "Apa yang harus aku sesali? Mereka pantas mendapatkannya."
Senyum Grace semakin lebar. Setidaknya ia tidak perlu mengotori tangannya sendiri untuk membalas segenap dendam yang telah merasuki sukmanya. Gadis bodoh itu yang akan menjadi pion utamanya. Ia hanya cukup mengawasi semua rencananya berjalan sempurna.
Andrean menyeringai. "Kau terlalu ambisius, Nona. Berhati-hatilah karena ambisimu bisa menghancurkan dirimu sendiri."
Tawa renyah gadis bermanik coklat itu menggema dalam ruangan. "Kau tenang saja Paman Andrean. Aku tau betul cara kerjanya." Tatapan gadis itu kini mengarah pada Grace. "Lalu, dimana putri kebanggaanmu itu?" Tanyanya cukup sinis.
Grace mengangkat kedua bahunya, santai. "Entahlah, mungkin dia sudah tiba di kediaman mereka. Ck, rasanya aku ingin sekali menginjakkan kakiku disana, sekedar menertawakan kesedihan mereka."
"Dan kau akan membuat mereka curiga dengan gerak gerik 'mu, bodoh!" Hardik Andrean.
Andrean tidak mengerti dari mana asalnya wanita bodoh ini. Dan lagi, mengapa Eleanor bisa berteman dengannya. Andai saja putri Grace bukan seorang model terkenal mungkin Andrean enggan menjalin kerjasama dengan wanita berotak tumpul itu. Rekan sesama model serta lingkaran pertemanan putri Grace sudah menjadi target utamanya. Dengan bantuan putri Grace, Andrean dengan mudah memperluas jaringan bisnis narkotikanya hingga menyebar ke benua lainnya.
Grace memutar bola matanya. "Aku bisa menyamar, oke? Dan lagi, kau terlalu meremehkan kemampuanku!" Grace benar-benar kesal diremehkan seperti itu. Ia tidak sebodoh yang Andrean pikirkan. Mana mungkin Grace mendatangi wilayah musuh wajah aslinya.
"Ya Tuhan. Sepertinya aku kalah start darinya." Gadis bermanik coklat itu tidak menghiraukan aura mencekam disekitarnya. Baginya bersaing dengan model papan atas itu lebih penting dari segalanya. "Sepertinya aku harus segera datang kesana. Sialan! Aku tidak ingin kalah saing dengan d**a implan itu!" Dengan tergesa-gesa gadis bermanik coklat itu meninggalkan ruangan, mengabaikan pelototan tajam Grace.
"Gadis bodoh itu benar-benar!" Grace menatap nyalang punggung gadis i***t yang baru saja menghina putrinya.
"Sudahlah, Grace. Dia hanya gadis bodoh yang terlalu berambisi mendapatkan cinta seorang pria, oke? Lagipula, putrimu lebih unggul dari segi apapun dibandingkan dengannya." Eleanor mencoba menenangkan Grace dari amukan emosi yang sepertinya masih membakar hati wanita itu.
Grace menyentak nafas keras. Eleanor benar, putrinya tidak mungkin gagal bersaing dengan gadis i***t itu sekalipun gadis i***t itu mengerahkan seluruh kelicikannya. Selain cantik putrinya juga berbakat memainkan drama, oleh karena itu Grace tidak terlalu memusingkan masalah percintaan segi empat mereka. Sebetulnya, Grace enggan menyetujui hubungan putrinya dengan pria muda itu. Yang benar saja, tujuannya ingin membalaskan dendam atas semua rasa sakit yang selama ini bercokol di dalam hatinya, bukan untuk berbesanan dengan keluarga itu apalagi menjadi bagian dari keluarga sialan itu.
"Kau benar. Hanya saja, aku sedikit geram mendengar penghinaannya." Ungkap Grace apa adanya.
Eleanor tertawa, "Bukankah itu memang kenyataannya? Putrimu melakukan operasi itu karena tuntutan pekerjaannya."
Grace berdecak. "Sejak awal aku tidak menyetujui ide bodoh itu. Kau tau? Anak itu terlihat mengerikan dengan ukuran dadanya."
Tawa Eleanor kembali mengudara. "Kau benar-benar aneh, Grace. Bukankah itu merupakan daya tarik putrimu? Lagipula, selama tidak ada yang mengetahuinya, itu bukan masalah besar."
"Demi Tuhan, dia tidak perlu melakukan operasi sialan itu jika tujuannya hanya untuk menarik perhatian pria kaya. Wajah dan tubuhnya sudah menjual, oke?"
Grace benar-benar kesal. Bagaimana mungkin Eleanor bisa berpikir demikian? Karena menurutnya, putrinya memiliki segala hal yang diinginkan oleh banyak pria. Dan Grace pun yakin akan kemampuan putrinya, terutama memuaskan pria di atas ranjang. Sejauh ini Grace tidak melihat adanya kekurangan dari putrinya, meskipun hanya satu.
"Sebetulnya dia bisa mendapatkan pria yang lebih hebat dari pada anak ingusan itu." Andrean ikut mengomentari. "Aku memiliki teman yang masih single dan tak kalah kaya dari pria ingusan itu. Dan aku yakin mereka akan cocok jika disandingkan. Selain harta dan tahta, putrimu juga bisa mendapatkan perlindungan darinya."
Seringai iblisnya kembali terbit kala melihat Grace tampak menimang-nimang gagasannya. Andrean tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Ia bisa melempar model ternama itu ke tangan temannya yang merupakan pembunuh berdarah dingin. Dan tentu saja akan ada imbalan besar yang akan ia terima jika berhasil membuat model ternama itu jatuh ke pelukan temannya. Hal ini juga lah yang menjadi salah satu alasan Andrean bersedia bekerja sama dengan Grace karena ada beberapa keuntungan yang bisa ia raih.
"Aku akan memikirkannya."
Pada akhirnya Grace mengangguk. Ia tidak melihat ada yang salah dengan ide itu. Menurutnya ide itu bisa dipertimbangkan, dan Grace juga tidak perlu repot-repot untuk menghasut putrinya. Jika Eleanor bisa bahagia hidup bersama Andrean, putrinya pasti juga bisa merasakan hal yang serupa. Tidak masalah jika teman Andrean lebih tua atau memiliki profesi yang sama dengan Andrean. Yang terpenting ia dan putrinya bisa menikmati hidup dengan gelimang harta.
"Oke, Oke. Berhenti membicarakan perjodohan itu. Lebih baik sekarang kita merayakan keberhasilan kita." Eleanor mengangkat tinggi-tinggi gelas berisi minumannya.
Tanpa dikomando, Grace dan Andrean melakukan hal yang serupa. Suara dentingan gelas beradu di udara, menandakan pesta di mulai.
"Cheers...."
Sukacita menggema dalam hati Eleanor. Wanita bermanik biru terang itu begitu puas dengan keberhasilan rencana awal mereka. Menghancurkan satu demi satu kebahagian Cecilia adalah misi utamanya.
'Aku akan menghancurkan 'mu lebih dari ini, Cecilia. Akan 'ku pastikan kau mendapatkan penderitaan yang serupa denganku.'
Sudut bibir Eleanor terangkat naik membentuk seringai tajam. Kematian Robert dan Shara akan menjadi titik awal penderitaan untuk Cecilia. Dan rasanya ia sudah tidak sabar ingin menyaksikan Cecilia menerima penderitaan yang lebih keji dari ini. Bekerja sama dengan Grace adalah suatu keberuntungan untuknya. Eleanor tidak perlu turun tangan membuat Cecilia membayar seluruh kekecewaannya. Dengan kekuatan Andrean dan batuan Grace, ia hanya tinggal duduk diam dan menyaksikan kekejaman itu membakar habis jiwa Cecilia.