Di Ujung Tanduk (2)

1277 Kata
    Setelah lebih dari 2 minggu kakek koma dan melewati berbagai masa kritisnya, akhirnya sekarang kakek sudah sadarkan diri. Beliau sudah dipindahkan ke ruang Intermediate Care, yaitu ruang peralihan untuk pasien dari ruang ICU ke kamar rawat inap biasa. Kakek akan dikontrol terlebih dahulu selama beberapa hari di ruang Intermediate hingga keadaannya dinyatakan pulih dan bisa dipindahkan ke ruang rawat inap biasa.     Di ruang Intermediate keadaannya memang tak sehoror jika dibandingkan dengan ruang ICU, namun lumayan mengerikan juga sebetulnya. Karena pada dasarnya kita memang tak tahu kapan persisnya ajal akan menjemput, dan di ruang Intermediate ini, yang awalnya terdapat 7 orang pasien, lambat laun satu per satu mereka tiada, wafat, dipindah ke kamar jenazah. Kakek yang kondisinya sudah sadar, jadi ikut panik jika malam hari tiba, pasalnya para pasien selalu kritis kemudian meregang nyawa, persis pada tengah malam.     “Mar … kakek … kakek … takut …,” beliau berkata padaku dengan terbata-bata.     “Takut? Kenapa, Kek?”     “Semalam kakek melihat, tempat tidur yang berada di sebelah kiri, ada pasien yang sedang tertidur.”     “Hah!? Yang benar, Kek? Ah, Kakek pasti salah lihat!” Jujur aku kaget, karena yang kutahu baru kemarin selepas maghrib, pasien yang di sebelah kiri kakek itu sudah meninggal, sudah dibawa pula ke kamar jenazah.     “Tak mungkin kakek salah lihat, Mar …. Orang itu tersenyum pada kakek saat jam 3 pagi, sebelum subuh.”     “APA!? YANG BENAR, KEK!?” Bulu kudukku seraya ikut berdiri.     “Aih … kenapa kauberteriak begitu, Mar. Malu didengar perawat nanti.”     “Uhhh … hmmm … tak … apa-apa, Kek.”     “Karena saat menjelang maghrib kemarin, kakek baru bangun tidur, dan kakek sudah tak lihat lagi di mana orang itu. Lalu, kenapa dia tidur di sini lagi saat tengah malam, ya?” Kakek seperti tengah berpikir.     “Eh … itu … mungkin …,” aku tak sanggup berkata-kata. Bulu kakiku pagi itu merinding hebat.     “Jadi, sekarang orang yang di sebelah kakek, ada di mana, Mar?” Kakek masih bertanya.     “Uhhh … Kek, kita makan dulu aja, ya!” Aku segera memotong pembicaraan agar tak terlampau jauh. Lalu kusuapi kakek untuk sarapan di pagi itu.     Aku masih merinding setiap melihat ke arah tempat tidur yang berada di sebelah kiri kakek. Tak tahu apa yang dilihat kakek itu nyata atau bukan, tapi yang jelas aku merasakan aura yang tak enak di pojok situ. Dan itu baru kejadian pertama, masih ada enam kejadian lagi saat pasien satu persatu meregang nyawa, dan kakek melihat kejadian itu di depan matanya.     Waktu itu pukul 1 malam, aku ingin sekali pergi ke kamar mandi, hendak buang hajat. Saat aku tengah berada di dalam kamar mandi, kurasakan hembusan angin dari sela-sela bagian bawah pintu. Awalnya aku berpikir positif, mungkin saja itu angin dari AC karena terlalu rendah suhunya dinyalakan. Tapi setelah dipikir ulang, angin AC mana yang keluarnya dari bawah, hah? Aih … terburu-buru aku keluar dari kamar mandi. Tak lama berselang, dua orang perawat tengah keluar dari ruang Intermediate, dan menggiring sebuah tempat tidur berisikan pasien yang telah tiada.     Aku bergantian dengan Etek Marfi dan Paman Haikal untuk menjaga kakek di rumah sakit. Namun entah mengapa, setiap giliran aku yang bertugas, selalu ada saja pasien yang meninggal. Entah apa hubungannya, apa mungkin malaikat maut merasa senang dekat denganku, tah tahu lah.     “Tek, aku takut di ruangan ini. Banyak sekali pasien yang meninggal, kayaknya di sini juga ada hantunya, deh,” aku mengeluh pada Etek Marfi.     “Sssttt …. Mar, kau tak boleh bicara demikian. Nyawa itu ada di tangan Allah, tak usah kau hubung-hubungkan dengan hantu-hantu apalah itu.” Mendengar etek bicara demikian, aku jadi urungkan niat untuk bercerita lebih jauh.     “Jadi, kapan kakek bisa keluar dari ruangan ini, Tek?”     “Doakan saja, Mar. Kalau keadaan kakekmu sudah membaik, tentu beliau bisa dipindahkan ke ruangan lain.”     “Baiklah, Tek. Aku pulang dulu, ya!”     “Hati-hati di jalan, ya, Mar!”     Seperti biasa, aku pulang dengan menaiki taksi online. Supirnya adalah seorang laki-laki muda yang sepertinya sebaya denganku. Ia bercerita padaku mengenai pengalamannya saat tengah menjaga salah seorang sanak saudaranya yang dirawat di ruang Intermediate di rumah sakit itu.     “Iya, Mbak. Jadi waktu itu, saya lagi gantian buat jagain saudara saya yang lagi dirawat di ruang Intermediate itu. Terus pas malemnya, saya ke kamar mandi yang di luar ruangan.”     “Yang di sebelah kiri, ya? Yang di sebelah ruang prakter dokter spesialis?”     “Iya betul, Mbak. Masa pas saya lagi di dalam kamar mandi, tiba-tiba ada suara cewek teriak gitu, Mbak. Teriaknya kenceng banget, tapi cuma sekali.”     “Serius!?” Aku cukup merinding mendengarnya.     “Iya, Mbak. Suara teriakannya emang cuma sekali, tapi bikin telinga saya sakit. Pas saya keluar kamar mandi, nggak ada apa-apa sama sekali, sepi banget malahan.”     “Terus, terus?” Aku jadi penasaran.     “Terus, nggak lama ada dua orang perawat yang lagi dorong tempat tidur keluar ruangan, ternyata baru ada pasien yang meninggal di ruang Intermediate itu. Hih … serem, deh, Mbak.”     “Oh, gitu ya, Mas.” Setelah itu, aku jadi merinding selama perjalanan pulang. ***       “Tok … tok … tok ….” Terdengar suara di muka pintu rumahku. Padahal sudah pukul 12 malam. Segera kutengok dari balik jendela, tak ada orang sama sekali. Aih … seketika bulu kudukku berdiri, aku bergidik, ngeri. Segera kumasuk lagi ke dalam kamar, tak lupa kukunci pintu rumahku. Aku tutup seluruh tubuhku dengan selimut, takut aku jika melihat sesuatu yang menyeramkan.     “Tok … tok … tok ….” Terdengar kembali suara pintu diketuk. Aku diam saja, pura-pura tak dengar.     “Tok … tok … tok … tok … tok … tok ….” Suara itu muncul lagi, makin panjang ketukannya. Kubuka selimutku, kutengok kanan kiri dengan perasaan was-was, kemudian kulihat bayangan dari balik jendela kamarku. Bayangan itu maju mundur, kemudian hilang, pergi entah ke mana. Segera kuraih sapu lidi dengan gagang kayu yang panjang, macam sapu terbang punya Bang Harry Potter.     Kubawa sapu itu hingga keluar kamar, kududuk di sofa ruang tamu. Takut kalau-kalau suara ketukan itu muncul lagi.     “Tok … tok … tok … tok … tok … tok ….” Suara ketukan pintu yang cukup panjang terdengar lagi, aku makin bergidik. Namun aku harus berani, maju terus pantang mundur. Segera aku bangkit dari tempat dudukku, kupegang sapu lidi itu erat-erat. Kutarik napas panjang, kemudian buang. Kutarik lagi napasku, kemudian kubuang lagi. Kuulangi hingga 5 kali. Dengan penuh percaya diri, dengan penuh keyakinan, dengan bermodalkan sapu lidi warisan dari nenek, kuberanikan diri membuka pintu rumah.     Kuputar kuncinya ke kanan, dua kali putaran, kutarik gagang pintu, dan kemudian kulihat sosok itu. Seorang driver ojek online tengah berdiri di muka pintu rumahku, dengan sebuah plastik putih bertuliskan McD.     Lega sekali hatiku saat itu, aku baru ingat, sekitar setengah jam yang lalu aku memang telah  memesan makanan melalui aplikasi karena tiba-tiba merasa lapar. Namun entah mengapa, setelah mengingat cerita yang tadi siang diceritakan oleh supir taksi, aku jadi membayangkan yang aneh-aneh, dan aku lupa bahwa telah memesan makanan. Malunya aku di depan driver itu karena tengah memegang sebuah sapu lidi.     “Mbak? Pesan … makanan … kan … tadi?” Tanya driver itu dengan tatapan yang aneh karena melihatku.     “Eh … iya … Mas ….”     “Oke, ini ya, Mbak, pesanannya. Sudah dibayar lewat aplikasi, ya. Terima kasih, Mbak!” Driver itu segera berlalu, namun aku masih mematung di muka pintu, malu sekali rasanya.     Aku segera memakan dua potong ayam goreng tepung yang rasanya cukup pedas, beserta satu nasi putih, dan segelas minuman ringan bersoda. Aih … kenyang sekali rasanya, puas, tak lama aku merasa mengantuk, kemudian lekas ke kamar dan tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN