bc

1825

book_age12+
94
IKUTI
1K
BACA
sensitive
independent
doctor
drama
sweet
bxg
city
weak to strong
addiction
wife
like
intro-logo
Uraian

Dikhianati kekasih dan ditinggalkan tanpa kabar di hari pernikahan, membuat Marlinda stress dan depresi, hingga ia harus menjalani hidup sebagai ODS (Orang Dengan Skizofrenia) seumur hidupnya. Ia harus dirawat secara intensif di panti rehabilitasi selama 2 tahun lebih. Cinta yang telah ia bina bersama kekasihnya, Arian, lebih dari 2 tahun ternyata kandas begitu saja. Kepulangannya dari panti rehabilitasi jiwa malah memberikannya kejutan sekaligus cobaan hidup yang lain. Kakek dan nenek yang selama 16 tahun merawatnya setelah kematian ayah dan ibunya, malah mengalami kecelakaan saat akan menjenguk Marlinda di panti. Dokter Radit yang berusaha membantu Marlinda untuk terus bertahan dan melawan penyakit mentalnya, membuat ia merasa memiliki semangat baru. Lalu Rama, sahabat masa kecilnya sewaktu masih tinggal di Banda Aceh, sebelum gelombang tsunami melanda dan memisahkan mereka, kini selalu muncul dalam mimpi Marlinda. Apakah sebuah pertanda bahwa Rama masih hidup? Akankah ia mampu bertahan sendirian dalam menghadapi berbagai cobaan dalam hidupnya? Akankah penyakit mental akan terus menghantui Marlinda sepanjang waktu?

chap-preview
Pratinjau gratis
Awal Mula
    Baiklah Kawan, akan kuceritakan bagaimana awal mula aku bisa sampai ada di panti ini. Di Panti Rehabilitasi Jiwa binaan Ibu Hajah Noor Paridah yang terletak di pinggiran Kota Jakarta inilah aku dirawat, dibimbing, diayomi, diikat tangan kaki, diberi obat dosis tinggi, diberi makan, diurus segala kebutuhanku, diperhatikan kesehatanku, hingga kemudian bisa sembuh sakit mentalku. Memang menyedihkan kedengarannya, tapi tak seburuk itu, Kawan.      Tak usah kalian tanya sebab musabab mengapa aku bisa tersasar di sini, kalian pasti akan anggap aku terlampau melankolis macam sinteron. Tetapi, hal apakah di dunia ini yang bisa membuat harapan yang sudah pupus menjadi bersemi lagi? Barang tentu jawabannya adalah cinta. Begitu pula sebaliknya. Hal apakah di dunia ini yang mampu mematahkan, memenggal, membelah, memotong, menguraikan, merantas, memutuskan, menghilangkan, menghancurkan, menghentikan, serta mematikan penghidupan dan pengharapan seorang anak adam? Tentu, cinta pula jawabannya.      Jadi, Kawan, karena cintalah aku merana, mengutuki nasibku seorang diri, hingga hilang akalku, dan terdamparlah aku di panti ini. Aih, sangat sentimental sekali.     Aku dirawat dalam sebuah kamar berukuran 3x3 meter, dengan dinding bercat putih bersih, tempat tidur dari besi, jendela tanpa kaca dari besi, lemari pakaian dari besi, bingkai cermin dari besi, meja dari besi, kursi dari besi, pintu dari besi, untung kasurku tak dari besi. Bersyukurnya aku masih bisa tidur beralaskan kasur per zaman sekarang, empuk nian, nyaman tidurku, indah mimpiku.     Setiap pagi ada perawat yang mendatangi kamarku pukul 5 pagi. Membangunkanku untuk solat subuh, lalu mandi. Jika kesehatan mentalku memungkinkan, aku diajak oleh perawat itu untuk berjalan-jalan menyusuri taman panti.      Sungguh indah tamannya, tanahnya ditumbuhi rumput gajah yang rapih, pohon-pohon yang rindang, berbagai koleksi bunga hias, udaranya sejuk, burung-burung saling berkicauan. Kutatap anggrek bulan yang tengah berbunga mekar di akhir tahun. Berwarna-warni, ada ungu terang, ungu gelap, putih, merah menyala. Terdapat sepasang kumbang moncong diatas kelopak bunga, seakan menari-nari bahagia penuh meriah, padahal jika kalian mau tahu kumbang moncong adalah hama yang merugikan tanaman anggrek.     Aku berjalan-jalan di taman sembari berjemur, menikmati vitamin D secara gratis dari sinar matahari pagi. Perawat yang merawatku bernama Nurlela. Sambil berjemur, dia menceritakan kehidupannya yang sama mirisnya dengan kehidupanku.      Dia gadis muda dengan senyum manis dan hati yang tulus, seumuran persis denganku─dua puluh tiga tahun. Meski masih muda, pengalamannya sudah cukup banyak dalam merawat pasien dengan gangguan mental. Sudah lima tahun ia malang melintang dalam merawat berbagai pasien, dan ini adalah tahun ketiganya bekerja di panti ini.     Nurlela adalah gadis asli Sumatera, tepatnya ia tinggal di Kota Bandar Lampung. Ia lahir di sana, tinggal di sana, sekolah di sana, kuliah di sana, makan tidur pun di sana. Di umurnya yang keenam belas tahun ia sudah menamatkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas, kemudian selama dua setengah tahun ia berkuliah diploma 3 mengambil jurusan keperawatan.      Lalu ia pindah bersama bibinya ke Kota Jakarta, bekerja selama hampir dua tahun di sebuah rumah sakit jiwa milik pemerintah, hingga akhirnya sekarang ia pindah bekerja ke panti ini. Konon, ia menjadi yatim piatu sejak umur empat tahun. Ibunya meninggal selepas melahirkannya tanpa bantuan dokter, bidan, mantri, atau dukun beranak sekalipun. Hanya ada suaminya yang setia menemaninya melahirkan seorang diri.      Kala itu di tahun 1997 keadaan perekonomian negara ini memang sedang morat marit. Krisis moneter mereka sebut, disebabkan membengkaknya utang luar negeri, belum lagi anjloknya nilai tukar rupiah, harga melambung tinggi, PHK merajalela, rakyat tercekik, kelaparan, mati perlahan. Para dokter di kota itu sudah pulang ke Jakarta, tak ada pengobatan gratis, keuangan ayah Nurlela menipis, tak mungkin sanggup menanggung biaya persalinan. Ibunya yang tengah meraung kesakitan karena ketubannya pecah, dan darah segar mengalir deras. Sambil meremas tangan sang suami kuat-kuat, dengan napas yang tersengal-sengal, peluh yang bercucuran dari pelipis, ngeden tiada henti, serta perjuangan panjang di atas dipan, maka lahirlah bayi perempuan mungil dari rahim ibunda.      Sang suami memberi nama bayi itu Nurlela, yang artinya gadis yang cantik. Tak lama setelah sang istri menatap mata bayi mungil mereka, malaikat maut mengambil nyawanya. Badannya terkulai lemah karena kehilangan banyak darah.     Ayah Nurlela mengurusnya seorang diri, dengan keadaan ekonomi yang serba morat marit, tak ada pekerjaan tetap, serabutan sana sini, hingga akhirnya ia stres, lalu hilang akal. Tiga tahun ayah Nurlela dipasung di tiang rumah, karena pihak keluarga tak mampu membawanya ke rumah sakit jiwa.      Di tahun 1998, bulan Mei tepatnya, terjadi demo besar-besaran oleh mahasiswa dan segelintir masyarakat. Penjarahan di mana-mana, toko dibakar, mall dibakar, makan sulit, bahan bakar sulit, rupiah makin anjlok, keadaan makin susah, uang tak ada.      Aparat keamanan bersitegang dengan rakyat sipil, konon semua keadaan itu diakibatkan karena pemimpin negara ini sudah memimpin terlalu lama─tiga puluh dua tahun lebih tepatnya─hingga rakyat sudah gerah dan butuh perubahan.      Pada tanggal 21 Mei 1998, pemimpin negara ini akhirnya turun dari kusri kepresidenannya, posisinya digantikan oleh wakilnya. Para rakyat sipil, mahasiswa, ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, pohon-pohon, bunga-bunga, dan segenap jajaran hewan-hewan mamalia, reptil, amfibi, dan ikan di kolam-kolam berangkulan bersama bersuka cita merayakan reformasi yang selama ini mereka idam-idamkan.     Tepat di tahun 2001, ayah Nurlela menghembuskan napas terakhirnya. Tubuhnya kurus, hanya tampak tulang tanpa daging. Wajahnya lusuh, senyumnya sudah lama terhapus karena akalnya yang hilang, merana seorang diri.      Setahun terakhir sebelum ayahnya meninggal, keadaan mentalnya terlihat cukup membaik, tak pernah mengamuk lagi. Rantai besi yang mengikat kuat tangan dan kakinya sudah dilepas. Tatapan matanya hanya lurus ke depan, diam seribu bahasa, sulit makan, hingga tubuhnya kurus kering. Keluarganya hanya bisa mengurusnya semampunya. Tiada penanganan dari dokter maupun ahli medis lainnya.      Nurlela kecil diurus oleh bibinya yang juga seorang janda karena ditinggal mati oleh suaminya, hidup dalam keadaan serba melarat.      Sekali waktu Nurlela diajak bibinya untuk mengunjungi ayahnya yang hilang akal, sedih dia menatap kaki dan tangan ayahanda dipasung. Kesedihan Nurlela memuncak ketika menerima kenyataan bahwa satu-satunya orang tua kandung yang ia miliki malah mati tersia-sia.      Atas semua masa lalu yang pahit itulah ia membulatkan tekadnya untuk menjadi perawat rumah sakit jiwa jika sudah dewasa nanti. ***       “Hei, Marlin! Bangun, Nak. Sadar kau! Cucuku tersayang, kenapa kau jadi begini? Ayolah sadar, Nak ….” Air mata mengalir di pipi kakekku, Hasan namanya.      Beliau menangis tersedu menatapku terbaring lemah di atas kasur. Suara nenekku, Maryam, sudah sekitar dua jam yang lalu melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dibacanya dengan suara yang parau, sambil menahan isak tangis, cemas penuh khawatir, karena cucu semata wayangnya telah genap tujuh kali bangun pingsan, mengigau, mengamuk, meraung keras-keras tanpa ampun.     “Marlinda! Tenangkan dirimu cucuku … kenapa kau!? Kerasukan setan di jembatan Ancol kah rupanya!?” Nenek Maryam berteriak tak kalah histeris mengalahkan raunganku.      “Sudah … sudah … mengaji saja kau istriku, biar aku yang mengurusnya.”     “Sudah bagaimana maksudmu suamiku? Sudah hampir dua bulan cucu kita begini terus, tak ada yang berubah. Dikasih obat tak mau, makan susah, diajak bicara tak bisa. Sudah menyerah aku, Bang ….”     “Hei, tak boleh lah kauberkata demikian. Berdoalah terus, mengajilah, semoga Allah Yang Maha Pengasih memberi kesembuhan bagi cucu kita.”     “Uhuk … uhuk …” Aku terbatuk, mataku mulai terbuka perlahan. Kulihat ada sepuluh laki-laki berbadan besar dengan jubah hitam-hitam mengelilingi tempat tidurku.     “Marlin, akhirnya sadar lagi kau, Nak ….” Nenek mengusap bahuku dengan lembut.     “Marlin sayang … makan ya, Nak. Mari kita minum obat, agar kau lekas sembuh. Kalau kau sembuh, kakek janji kita akan makan enak lagi ke Mall Pasific Place, ke Lotte Avenue, ke Gandaria City, ke Sudirman, ke manapun yang kau suka. Kau harus sembuh cucuku ….” Suara kakek makin parau.     “Ulah ganggu abdi! Abdi teh lapar! Ulah ganggu abdi!” Aku berteriak histeris, mengamuk, mataku melotot, menangis, kemudian pingsan lagi.     “Bang, lihatlah yang Marlin alami barusan. Entah makhluk apa yang bersarang di tubuhnya. Kita tak bisa hanya berpangku tangan begini. Kita harus bawa dia ke rumah sakit, sekarang!”     Kakek Hasan panik bukan buatan, berlari ia tunggang langgang menuju garasi. Segera ia menyalakan mesin mobil, menggendongku menuju jok mobil belakang. Kakek dan nenek membawaku menuju rumah sakit yang jaraknya paling dekat dari kediaman kami.      Sesampainya di sana aku langsung dibaringkan ke atas tempat tidur yang beroda, dibawanya aku ke dalam ruangan Unit Gawat Darurat.      Dokter yang sedang bertugas dalam ruangan itu bertanya kepada kakek mengenai duduk perkara apa yang terjadi padaku. Kakek menjelaskan awal mula apa yang aku alami hampir selama dua bulan belakangan ini.     “Awalnya cucu saya ini tak mau makan, Dok. Kemudian lama-lama dia sering mengigau diwaktu tidur. Jika ditanya dia tak mau jawab, kupikir dia sakit gigi, tapi sepertinya tidak. Cucu saya ini memang sangat pendiam, Dok. Entah apa yang ia alami sebenarnya.”     “Maaf sebelumnya, siapa nama cucu Kakek ini?” Dokter bertanya pelan.     “Marlinda, Dok. Marlinda binti Saifudin.”     “Berapa usia Marlin, Kek?”     “Dua puluh satu tahun lebih satu bulan, Dok.”     “Ada keluhan apa lagi, Kek, selain itu?”     “Dia sering tiba-tiba mengamuk, Dok. Berteriak histeris, seperti orang ketakutan, menutup kedua telinganya dengan tangan, lalu menyuruh diam padahal tak ada yang bicara. Kalau sudah lelah berteriak kemudian ia pingsan, lalu terbangun lagi, lalu menangis, lalu pingsan lagi, lalu bangun lagi. Dalam dua jam bisa bangun pingsan hingga tujuh kali, Dok.”     “Apa dia juga suka berbicara sendiri?”     “Terkadang, Dok. Biasanya untuk menenangkannya saya beri saja dia obat tidur.”     “Apa ada kejadian mengkhawatirkan yang ia alami sebelum sakit seperti sekarang?”     “Ada, Dok.”     “Kejadian apa, Kek, kalau boleh tahu?”     “Batal kawin, Dok.”     Aih, miris memang. ***     Terbangun aku dari tidur. Kulihat sekeliling kamar, kaget tak tahu ada di mana aku sekarang. Arah jarum jam menunjukkan pukul 9 pagi. Sinar matahari masuk dari balik jendela.      Kutengok kanan kiri tak ada satu orang pun. Tangan kiriku diinfus, cairan bening masuk melalui jarum menuju pembuluh vena. Kuperhatikan pakaianku, seragam berwarna biru terang. Rupanya aku terdampar di rumah sakit.     “Tok … tok … tok …!” Suara pintu diketuk. Tak lama ada sesosok wanita paruh baya terlihat dari balik pintu.     “Aih … cucuku, Marlin. Sudah sadarkah, kau? Alhamdulillah … Masya Allah …. Nenek baru saja tiba dari rumah, mengambil pakaian untukmu.” Nenek Maryam tersenyum senang.     “Memangnya aku kenapa, Nek? Kakek di mana?”     “Kau pingsan berkali-kali, Nak. Kakek sedang makan di kantin. Usahlah risau, kita semua akan baik-baik saja setelah ini.”     Tak lama masuklah seorang pria muda berjas putih bersih, berkulit putih, berwajah tampan rupawan, memakai kacamata dengan frame tipis, manis pula senyumnya. k****a emblem nama di d**a kanannya, dr. Radit Ramadhan, Sp.KJ. Entah apa arti gelar di belakangnya itu.     Dokter Radit memperkenalkan dirinya pada kami, ia dokter yang akan menanganiku selama di rumah sakit. Dan dia bilang aku harus dirawat di sini selama kurang lebih satu pekan.     “Jadi begini Nek Maryam, saya butuh waktu satu minggu untuk observasi keadaan pasien. Sambil kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya, baru setelah itu saya bisa memberikan diagnosis mengenai penyakit apa yang diderita Ibu Marlin.”     Sebenarnya aku tak paham betul apa yang dibicarakan oleh dokter Radit, tapi mengapa ia memanggilku ibu? Apakah aku sudah terlihat seperti ibu-ibu beranak pinak? Kurasa minus matanya nambah, kacamatanya sudah harus diganti.     “Baiklah kalau begitu, Dok. Aku ikut saja, yang terbaik bagi cucuku apapun akan aku lakukan.” Nenek pasrah. ***       Aku berteriak histeris, suaraku melengking bertalu-talu dari dalam kamar. Dari lantai dua hingga menuju lantai tiga, semua orang terkaget-kaget mendengar suaraku. Berbisik-bisik mereka, dikiranya aku sedang kesurupan.     Dokter Radit datang ke kamarku, matanya melotot melihatku yang tengah berusaha membebaskan diri dari ikatan di kedua tangan dan kakiku, bahkan para perawat pria juga ikut memegangi tanganku. Aku melawan dengan tenaga yang cukup kuat. Suasana kacau balau, seisi kamar centang perenang.     “Mati kau, b*****t! Mati kau laki-laki b******n! Jangan kausentuh aku!” Aku berteriak, menjerit, mencabik, mendengking, memekik, berkoar, berseru tak karuan.     Akhirnya dokter mengambil keputusan cepat, ia memberikan cairan bening berisikan obat antipsikotik melalui jarum suntik tepat di lengan kiriku.       Tak lama aku terdiam, tenang, lalu pingsan. Kakek sangat mengkhawatirkan keadaanku. Nenek saat itu sedang berada di rumah karena sedang istirahat, berganti shift dengan kakek untuk menjagaku.     Wajah kakek pucat pasi, matanya kuyu, mulutnya seakan terkunci, pipinya basah karena jatuh air matanya. Ia adalah kakek sekaligus orang tua laki-laki yang kumiliki satu-satunya. Kasih sayang darinya tak ada beda dengan ayah kandung. Dan aku, juga satu-satunya cucu yang tersisa di keluarga ini. Aku sangat menyayanginya, wajar pula ia tak mau kehilanganku sedikit pun. Kejadian yang aku alami memang sangat memukul jiwanya.     Dokter Radit berusaha menangkan kakek. Ia begitu baik hati. Ia mengusap punggung kakek, dan berkata dengan lirih. “Tidak perlu khawatir, Kek. Aku yakin Bu Marlin akan baik-baik saja. Ia hanya butuh dukungan dari keluarga serta teman-temannya, dengan rajin minum obat keadaan akan segera membaik. Percaya padaku, Kek, aku kan dokternya.”     Seketika kakek merasa tenang, hatinya seperti disiram embun pagi, sejuk rasanya. Kakek yakin aku masih memiliki harapan sembuh dan bisa hidup seperti sedia kala.     Tapi membalikkan keadaan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tak hanya kali itu saja aku mengamuk di rumah sakit, tapi hingga empat kali selama satu pekan. Dan diakhir minggu, akhirnya dokter Radit memberikan diagnosa kepadaku, ia bilang gejalaku mengarah pada penyakit mental. Ia bilang aku menderita Skizofrenia.     Skizofrenia adalah suatu gangguan kejiwaan kronis ketika pengidapnya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan dalam berpikir dan perubahan sikap. Umumnya, pengidap skizofrenia mengalami gejala psikosis, yaitu kesulitan membedakan antara kenyataan dengan pikirannya sendiri. Kata dokter, penyakit ini sulit disembuhkan, namun dengan penanganan medis yang tepat, rutin minum obat antipsikotik, serta adanya dukungan dari keluarga dan teman-teman, keadaan ini bisa membaik.     Aku dirujuk oleh dokter Radit ke sebuah panti rehabilitasi jiwa guna mendapatkan perawatan secara intensif agar mentalku cepar pulih. Ia menunjuk sebuah panti yang tak terlampau jauh dari rumahku: Panti Rehabilitasi Jiwa binaan Ibu Hajah Noor Paridah, dan di sinilah aku sekarang.      Aku perlahan berusaha berdamai dengan masa lalu, menerima diriku apa adanya. Dan inilah aku, Marlinda binti Saifudin, penderita ODS (Orang Dengan Skizofrenia).   ***     Aku tak ingat betul sejak kapan bayangan itu selalu menghantuiku, menghampiriku, mengikutiku, menakutiku, mengancamku, bahkan mau membunuhku. Ini bukan sekedar halusinasi maupun delusi bagiku, tapi sungguh nyata.      Aku memang bukan tipe orang yang mudah bercerita dan berkeluh kesah pada orang lain, bahkan aku tak mudah percaya pada siapa pun. Tentu aku sangat percaya pada kakek dan nenek, tapi tidak untuk bercerita, selain karena takut mereka menjadi khawatir, aku juga tak akan nyaman.      Aku juga kurang suka menulis curahan hatiku pada buku diary seperti anak perempuan kebanyakan, aku lebih suka merahasiakannya, memendamnya, berdoa pada Allah Yang Maha Pengasih agar aku bisa melupakan semua kesedihanku, kemudian menutupnya rapat-rapat.      Sahabat karibku juga tak banyak, mungkin jika dihitung tak sampai lebih dari empat orang. Aku cukup dekat dengan sahabatku, kami sering bertemu, berjalan-jalan bersama, menceritakan kehidupan mereka kepadaku, tapi tidak demikian denganku.     Aku memang baru putus cinta beberapa bulan yang lalu dengan kekasihku. Kami sudah menjalin kasih kurang lebih dua tahun belakangan ini. Ia adalah laki-laki yang nyaris sempurna, dengan senyum paling sempurna. Ia merupakan teman seangkatanku saat masih berkuliah strata 1.      Aku lulus dari SMA saat usiaku enam belas tahun, dan lulus pula dari S1 saat berusia genap dua puluh tahun. Selepas lulus dari bangku kuliah kami berniat untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Kami memutuskan untuk menikah, membina rumah tangga bersama, mengarungi kehidupan bersama seumur hidup, berlayar bersama dalam kapal disaat laut tenang maupun badai.       Tapi sayang sungguh disayang, kapal yang 70% hampir jadi, berlayar pun belum, tapi sudah karam di bibir pantai tersia-sia. Sungguh s**l nasibku.     Kakek dan nenek menghiburku, takut sekali mereka bahwa aku telah menelan kecewa dan pahitnya kenyataan.     “Cucuku Marlinda, mari kita bersenang-senang. Kita akan makan malam bersama ke Restoran Remboelan di Mall Grand Indonesia. Tak usahlah kau bersedih berlarut-larut.” Kakek berusaha menghiburku.    “Iya, Nak. Dunia tak kan berhenti berputar hanya karena dia tak jadi milikmu.” Nenek menimpali.     Tak sekali dua kali mereka berusaha menghiburku, bahkan hampir setiap hari mereka mengajakku pergi. Bahkan kakek berencana membuat liburan ke luar kota selama sebulan penuh, menginap di hotel berbintang paling tinggi hingga tak nampak bintangnya, makan di restoran paling nikmat di sana, pergi naik pesawat milik BUMN (Badan Usaha Milik Negara), pulang juga naik pesawat. Main ke pantai, naik banana boat di pantai, berenang di pantai, bermain pasir di pantai, memancing ikan juga di pantai persis seperti orang udik. Semua mereka lakukan hanya untuk menyenangkan hatiku.     Selepas putus dari mantan kekasihku, aku memang sering mimpi buruk. Aku sering bermimpi dikejar-kejar nenek lampir, gondoruwo, pocong, kuntilanak, setan kaki satu, serta berbagai jajaran anak buah jin ifrit. Biasanya selepas terbangun dari mimpi buruk napasku pasti tersengal-sengal, peluh bercucuran, rasa khawatir merajai hati ini.      Jika waktu malam tiba, aku jadi merasa takut untuk tidur, entah takut karena mimpi buruk, ataukah takut akan bertemu dengan berbagai bentuk dedemit, apa bedanya.     Lama-kelamaan aku jadi sering mendengar suara-suara aneh. Suara orang-orang sedang bertengkar, suara lonceng terjatuh, suara tembakan, suara bom atom Hiroshima Nagasaki, suara mobil tertabrak dengan keras, suara kereta tertabrak, suara Trans Jakarta tertabrak, suara motor tertabrak, suara sepeda tertabrak, suara pesawat tertabrak, suara bajaj tertabrak, suara becak tertabrak, bahkan suara planet Neptunus tertabrak. Dan ikan-ikan di kolam rumahku pun saling bertabrakan.      Aneh tapi nyata. Suara itu sungguh nyata, tak peduli waktu, entah malam, pagi, siang, sore, saat aku mau makan, mau duduk, mau menonton film, mau mandi, mau nonton vidio Youtube, mau nonton sinetron azab sekalipun, suara itu muncul bertalu-talu. Lelah aku mendengarnya.      “Diam kalian semuanya!!! Gue bilang diam!” Aku berteriak sejadi-jadinya. Tak tahan telingaku mendengarnya. Dalam sekejap semua suara itu ikut berhenti. Nenek yang tanpa sengaja mendengar teriakanku segera bergegas menghampiri dan ia terlihat cemas.     “Kenapa kau cucuku? Siapa yang kau suruh diam? Tak ada suara apapun di sini, Nak. Banyak-banyaklah kau beristighfar, agar Allah mengampuni dosa-dosa kita semuanya.” Nenek berucap sambil berlalu begitu saja.     Kukira semuanya hanya sampai di situ, ternyata penderitaan masih panjang. Semua suara itu makin manjadi, makin sering menghampiriku. Yang lebih parahnya lagi, aku mulai berhalusinasi. Kulihat segerombol orang berjubah hitam-hitam, badannya tinggi dan besar-besar, setengah wajahnya tak terlihat, mulutnya komat-kamit, mereka mendekatiku, makin lama makin dekat, aku ketakutan, tapi mereka makin dekat dan mebisikkan sesuatu di telingaku, “mati kau, gadis!” begitu umpat mereka. Bahkan, mereka sering mampir ke mimpiku, lalu menyuruhku bunuh diri.     “Hei, kenapa kalian mampir ke mimpiku? Terlaknat kalian semua!”     “Gadis, ini ada pisau, kau tak pantas hidup, tiada guna kau hidup. Gunakan pisau itu dan akhirilah hidupmu!”     “Heh, tak mau aku! Tak usah, ya. Aku tak sudi menerima pisau murahan.”     “Gadis udik, sombong sekali kau!”     “Kalian yang udik! Rupa kalian buruk sekali, pantas tabiat kalian tak kalah buruk! Dasar dedemit hitam!”     “Kemari kau gadis udik, rasakan pembalasan kami!”     “Sudah, ya. Aku lapar, aku mau makan. Minggir kalian! Atau kalian semua yang akan kumakan!”     “Hai, tunggu gadis udik … asdfgghjk … nguing … nguing … kresek … kresek ….” Sesaat suara mereka perlahan timbul tenggelam, mereka hilang begitu saja dalam mimpiku. Begitu aku menengok ke belakang, mereka seperti tersedot oleh lorong waktu.     “Ulah ganggu abdi! Abdi teh lapar! Ulah ganggu abdi!” Aku terbangun dari tidurku, ternyata aku mengigau. Aku menatap kakek dan nenek yang ada disebelahku, wajah mereka terlihat cemas. Nenek mendekap Al-Qur’an di dadanya.      Perutku berbunyi, sungguh aku sangat lapar dan tubuhku lemas. Kemudian, aku pingsan. Aku bangkit kembali, kemudian pingsan lagi.     Percayalah, Kawan, yang aku alami sungguh seperti nyata, dan sangat menyiksaku lahir batin. Jangan kalian sangka aku mengkonsumsi obat-obatan terlarang, atau kebanyakan menghirup lem aibon, sehingga aku bisa berhalusinasi tingkat tinggi, sungguh bukan begitu. ***       “Drem … drem … drem …!” Seseorang mengetuk pintu besi di depan kamarku.     “Siapa di luar?”     “Perawat Nurlela, Kak ….”     “Masuklah.”     Terdengar Nurlela membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.     “Sudah bangun dari tadi kau, Kak?” Nurlela bertanya sambil terkekeh-kekeh.     “Tentu sudah, Nur. Sudah mandi pula aku. Kenapa kauterkekeh begitu? Habis melihat setan, kah?”     “Ada dokter baru, Kak. Tampan rupawan dia.”     “Aih, centil juga kau, Nur. Siapa namanya?” Aku jadi penasaran.     “Manis kali senyumnya, Kak. Pakai kacamata dia. Ramah pula orangnya. Kalau tidak salah tadi k****a namanya itu … Dit … Dit … Dit siapa ya, lupa aku, Kak. Pokoknya ada kata Dit-nya, Kak.”     “Bagaimana kau, Nur. Suka tapi tak tahu namanya. Percuma lah.” Aku jadi sewot. Tapi sepertinya nama itu tak asing, entah pernah k****a di mana.     Selanjutnya Nurlela memberikanku sarapan pagi, dan kami membicarakan tentang rencana kepulanganku ke rumah. Iya, Kawan, kalian tak salah baca. Sebentar lagi aku sudah bisa pulang ke rumah. Kata dokter keadaan mentalku sudah cukup pulih, setelah dua tahun aku bersusah payah mengobati diriku sendiri, ditemani Nurlela tentunya.       Kami berdua sudah seperti kakak beradik tak terpisahkan. Nurlela sangat sabar merawatku, mendengarkan berbagai rupa keluh kesahku, jika aku sedang kumat tak mau minum obat lalu berteriak histeris, dialah orang pertama yang menghampiriku, menenangkanku, dan memanggilkan dokter untukku.     “Sepulang dari sini, tak usah kaurisaukan masa depanmu. Aku yakin kau akan dapatkan laki-laki setia, baik hati, dan tampan rupawan. Jangan kauingat lagi laki-laki sableng itu, Kak.” Nurlela menasihatiku.     “Barang tentu, Nur. Tak usah kaurisau. Bisa jadi jodohku adalah dokter baik hati.”     “Optimis kali kau, suka aku, Kak. Mantap!” Nurlela mengacungkan jempolnya sambil terkekeh.     Aku jadi ingat kejadian di tahun pertama saat aku baru masuk ke panti ini. Penghuni dua kamar yang terletak di sebelah kanan dan kiriku adalah dua perempuan yang diuji dengan keadaan yang lebih parah dariku. Mereka berdua tak kunjung sembuh, bertahun-tahun, wajah mereka sama lusuhnya, matanya seolah tiada harapan, senyumnya tak pernah lagi terlihat, keluarganya pun sudah tak pernah berkunjung.      Di hari itu, perempuan yang di sebelah kanan kamarku bunuh diri dengan cara menggantung diri. Keesokannya, perempuan yang di sebelah kiri kamarku juga bunuh diri, ia memutuskan urat nadinya dengan pecahan kaca. Sungguh sangat mengerikan, mereka berdua memilih untuk game over, menyerah, hengkang dari dunia persilatan.     Dari kejadian itu aku menjadi lebih bersyukur. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku harus sembuh. Masih ada kakek dan nenek yang menyayangiku, mengharapkan aku sembuh, menungguku pulang, mengunjungiku di sini. Kakek dan nenek memang selalu menjengukku, membawakan aku lauk-pauk yang kusuka. Jika sedang tak bisa berkunjung, mereka pasti meneleponku melalui handphone milik Nurlela.     “Nurlela, mengapa sudah lebih dari tiga hari kakek dan nenekku tak berkunjung ke sini?”     “Iya, Kak. Aku tak tahu pula.”     “Apa mereka menghubungimu melalui handphone-mu?”     “Tidak pula, Kak.” Nurlela terlihat mulai berpikir. “Bagaimana jika kucoba telepon ke rumah kakak saja, ya?”     “Boleh, Nur.”     “Mari kita coba telepon, Kak.”     Nurlela mulai menghubungi ke nomor telepon rumahku, tapi tak ada yang mengangkat. Kami juga mencoba menghubungi ke nomor handphone kakek maupun nenek, tetap tak ada jawaban. Hingga seratus kali kami mencoba menghubungi ke tiga nomor itu, hasilnya nihil, tetap tak ada yang mengangkat.      Kakek, nenek, ke mana kalian? Mengapa tak ada kabar? Siapa yang akan menjempuku besok? Aku cucu kalian, Marlinda binti Saifudin, sudah sembuh, besok aku sudah boleh pulang. Tidak biasanya keadaan seperti ini, aku mulai khawatir.      Malam itu tidurku tak nyenyak, lima menit sekali ubah posisi, hadap kanan, hadap kiri, telentang, kemudian tengkurap.     Besok paginya, aku sudah bersiap di halaman panti, ditemani Nurlela. Menunggu kedatangan kakek dan nenek untuk menjemputku. Kutengok kanan kiri, mereka tak kunjung datang. Nurlela dan pihak panti mencoba menghubungi nomor handphone kakek maupun nenek, tetap tak ada jawaban, semua percuma.      Aku makin gelisah, di mana mereka? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi? Tak lama, terlihat mobil kakek masuk ke halaman panti, hatiku jadi sedikit lega. Tak sabar, tanpa ambil tempo kuhampiri mobil itu, kaget aku melihat orang yang keluar dari dalam mobil.     “Etek Marfi?”     “Marlinda, kau kah itu?”     “Iya, tentu ini aku, Etek. Di mana kah Nenek Maryam dan Kakek Hasan?”     Etek Marfi adalah adik perempuan dari ibuku. Anak ketiga dari kakek dan nenek. Mendengar pertanyaanku, kemudian ia menunduk, pilu.       

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook