Cinta Rembulan

3915 Kata
Aku berbaris paling akhir bersama para murid di muka kelas, hendak menunggu giliran untuk mencium tangan Ibunda Guru Atikah. Jam belajar telah usai, kami akan pulang ke rumah masing-masing. Sudah dari setengah jam yang lalu aku menengok kanan kiri ke arah jendela, ibundaku tak nampak juga batang hidungnya. Aku gelisah, takut, tertunduk, lalu menangis. Sebentar lagi adalah giliranku mencium tangan ibunda guru, berpamitan hendak pulang.     “Aih … Marlin, kenapa kaumenangis begitu? Apa ada pelajaran yang belum kaupahami?” Aku terdiam, masih menunduk dan menangis. Ibunda guru keheranan. “Kau kenapa, Marlin? Nilai matematikamu sudah bagus.” Tangisanku malah makin menjadi. “Iya, Marlin. Besok kau akan menang dalam lomba cerdas tangkas. Usah kaumenangis sekarang, nanti saja menangisnya.” Ibunda guru berusaha menghiburku, tapi tak ada hasil.     “I … i … ibundaku tak kunjung terlihat, aku tak tahu jalan pulang, Bu.” Aku menjawab sambil menahan tangis.     “Aih … ternyata itu pokok masalahnya. Tenang, Nak, usah khawatir. Duduk lah dulu, nanti biar ibu yang antar kau pulang.” Seketika tangisanku mereda. Ibunda guru Atikah memang baik hati, padahal beliau sendiri masih harus mengajar hingga pukul 5 sore.     Seorang anak laki-laki kecil berumur sekitar dua belas tahun, mengintip dari balik jendela. Rambutnya berwarna cokelat bergaya potongan penyanyi The Beatles, berbadan tinggi berisi, kulitnya putih bersih, alisnya tebal, matanya teduh, manis pula senyumnya. Mataku memperhatikannya tanpa mengedip, sepertinya aku kenal betul siapa anak laki-laki itu.     “Hei, Rama. Ke sini, Nak!” Ibunda guru memanggilnya. Ternyata benar, ia adalah tetanggaku. Rumahnya persis di depan rumahku. Anak laki-laki itu masuk ke dalam kelas, dan mencium tangan ibunda guru.     “Ada apa dengan Marlin, Bu?” Ia bertanya.     “Ibunya belum menjempunya, Nak. Antarlah ia pulang.”     “Marlin … usah kaumenangis terus. Tenang, ya! Kau akan pulang bersamaku.” Anak laki-laki itu membujukku dengan lembut.     “Baiklah kalau begitu. Ayo Marlin, pulanglah kalian. Tak usah mampir ke mana-mana, ya! Nanti orang tua kalian khawatir. Hari sudah semakin siang, tak baik kalian berlama-lama di sekolah.” Demikian pesan ibunda guru.     Tak lama kami berdua bergegas keluar kelas lalu pulang. Kami pulang dengan menaiki sepeda kumbang miliknya, aku dibonceng duduk manis di belakang, kupegang perutnya erat-erat, takut terjatuh. Perjalanan kami berjarak tak kurang tak lebih sekitar 1 kilometer.     “Marlin, apa kau suka permen?”     “Suka.”     “Kalau begitu, nanti kita berhenti dulu di toko kelontong Etek Ramlan, ya!”     “Oke.”     Dua menit kemudian kami berhenti, anak laki-laki itu turun dari sepeda kumbangnya, dan aku masih duduk termenung di jok belakang. Ia masuk ke dalam toko kelontong, ada papan nama kayu di atas pintunya bertuliskan: Toko Kelontong Murah Meriah. Ia terlihat berbincang dengan seorang pelayan toko, memilih beberapa permen dari dalam toples bening, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang.      Setelah transaksi selesai ia keluar toko dengan semangat, menghampiriku, dan menatap mataku.     “Aku punya lima permen lolipop, kau mau warna apa?”     “Aku mau warna … kuning!” Wajahku masih sembap, tapi dia malah banyak tanya.     “Kuning saja?”     “Iya.”     “Baiklah, aku berikan kau empat permen lolipop milikku.”     “Benarkah?” Aku cukup terkejut.     “Asal kau jangan menangis lagi, ya!” Serunya. Aku mengambil empat buah permen itu dari tangannya, kemudian aku masukkan ke dalam tas ranselku.     Ia kembali mengayuh sepeda kumbangnya, senyumku mengembang mengingat telah memiliki empat buah permen lolipop. Membayangkan akan mengunyah permen seharian di rumah nanti sudah cukup membuatku senang.     Sesampainya di depan rumah, ia mengajakku untuk bermain sepeda bersama nanti sore, kebetulan kakekku baru saja membelikanku sepeda baru.     Aku segera masuk ke dalam rumah, mencium tangan ibunda, berganti pakaian, makan siang, mengerjakan tugas sekolah, solat, tidur siang, bangun, mandi sore, solat, lalu pergi bermain.     “Marlin, ayo kita bermain sepeda! Di mana sepeda barumu?” Anak laki-laki kecil itu sudah tak sabar ingin melihat sepeda baruku. Ia terlihat begitu antusias.     “Marlin …! Inikah sepedamu? Sangat modern!” Sepeda Wim Cycle milikku berwarna warni, ada warna ungu, merah muda, dan kuning, membuat ia takjub bukan main. Aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya.     “Ayo Marlin, mari kita bersepeda hingga ke Pantai Ulee Lheue!” Melihat ia begitu bersemangat, tanpa pikir panjang aku pun mengiyakan ajakannya.     Pantai Ulee Lheue memang tidak begitu jauh dari rumah kami. Hanya sekitar lima belas menit dari Masjid Raya Baiturrahman. Aku sangat senang, ini pertama kalinya aku kembali bersepeda setelah enam bulan lamanya aku berhenti. Sepeda lamaku rusak, ayahku berjanji akan membelikannya, tapi ternyata hanya wacana. Hingga akhirnya aku merengek pada kakek meminta dibelikan sepeda baru.     “Marlin, sebentar lagi kita sampai. Bagaimana jika kita beli minuman dulu, lalu lanjut lagi. Aku sangat haus.” Anak laki-laki kecil itu terlihat kelelahan, keringat bercucuran dari pelipis kanan kirinya.     “Ambil ini, Marlin! Aku membelikanmu gulali kapas. Kita bisa makan ini begitu sampai di pantai.”     Perjalanan kami tak lama, hanya butuh waktu kurang dari lima menit kami sudah sampai di bibir pantai. Kami senang bukan buatan, tertawa lepas melihat air. Udara sore itu cukup sejuk, angin berhembus cukup kencang, ombak laut terlihat dari kejauhan. Kami duduk di atas batang pohon besar yang sudah mati di pinggir pantai. Kami membuka bekal makanan─gulali kapas dengan ukuran yang cukup besar dan berwarna ungu muda─dan memakannya dengan lahap.     “Aku punya sesuatu untukmu. Ini, ini untukmu! Aku khusus memetik Jasminum sambac ini untukmu. Terimalah!” Aih … tetanggaku ini sok romantis sekali. Gaya sekali menyebut bunga melati dengan nama ilmiah. Mentang-mentang sudah kelas 2 SMP, sombong sekali dia. Meski aku masih kelas 3 SD, aku sudah diajarkan Ilmu Pengetahuan Alam oleh Ibunda Guru Atikah.     Aku menerima bunga melati hasil colongannya itu dengan senyum kaku, takut tak halal. Karena bagaimana pun, ibunda pernah bilang padaku, apapun itu selama milik orang lain dan kita mengambilnya tanpa izin, sudah barang tentu itu namanya mencolong.     Angin berhembus terasa semakin kencang, dahan pohon bergerak ke kanan, kiri, depan, belakang, tak karuan. Ombak yang sebelumnya terlihat dari kejauhan makin lama makin terlihat jelas, seakan ada di depan mata. Air laut mulai pasang, tapi kami tahu itu adalah hal biasa karena hari memang semakin sore.     Kami berdua memutuskan untuk segera pulang ke rumah karena setengah jam lagi maghrib akan tiba. Kami mengayuh sepeda dengan perasaan yang mulai gelisah. Kami percepat kayuhan sepeda kami. Yang semula enam puluh kali kayuh per menit, menjadi seratus dua puluh kali kayuh per menit, lalu bertambah menjadi dua ratus empat puluh kali kayuh per menit. Wajah kami panik bukan main. Jantung kami berdegup kencang. Keringat mulai bercucuran dari pelipis, dahi, pori-pori kepala, atas bibir, bawah bibir, bawah mata, ketiak, punggung, d**a, lipatan lengan, lipatan kaki. Kami mengayuh sepeda sangat cepat, bagai  dikejar jajaran anak buah jin ifrit.     Angin makin kencang, seperti mengamuk rupanya. Kami melihat semua orang berlari tunggang langgang, panik. Ada juga yang tergopoh-gopoh segera mengendarai mobil dan sepeda motornya dengan kecepatan batas maksimum, tapi harus berkali-kali mengerem mendadak karena jalanan sudah penuh oleh kendaraan lain. Bunyi klakson bertalu-talu, tanpa jeda, saling sahut-menyahut. Terdengar suara kucing mengeong seakan memohon belas kasih. Suara anjing salak-menyalak seakan tak mau kalah. Burung-burung beterbangan dengan tergesa.     Aih … ada apakah ini? Kawanan berbaju tentara berteriak dengan lantang, “air laut naik! Air laut naik! Air laut naik! Lari ke arah masjid! Lari ke arah masjid!” Wajah mereka pucat bercampur panik bercampur merah padam.     Aku dan tetanggaku saling beradu tatap. Aku berhenti mengayuh sepeda dan menangis, tapi ia terus membujukku untuk terus mengayuh.     “Marlin, tenang, ya. Ada aku di sini. Kita harus terus mengayuh sepeda sampai masjid. Hanya lima menit lagi, aku janji, hanya lima menit lagi.” Suaranya timbul tenggelam dengan suara klakson mobil. Aku mengiyakan permintaannya.     “Sini, biar aku yang mengayuh sepedamu! Kau kubonceng. Kita tinggalkan saja sepedaku di sini.”     “Tapi ….”     “Sudah Marlin, kaudengar saja perkataanku, ya!”     Tanpa ambil tempo ia bergegas membuang sepedanya ke pinggir jalan, meraih sepedaku, dan aku duduk di jok belakang.     “Peluk tubuhku kuat-kuat, ya, Marlin!” Aku segera memeluknya, aku takut, panik, air mataku mengalir dan membasahi kain bajunya.     Ia terus mengayuh sepeda, terus mengayuh, tanpa henti, tanpa lelah, tanpa menyerah, dan tanpa menangis sedikit pun.     Aku mendengar suara besi-besi saling bertabrakan, seakan terbawa oleh angin. Tak lama aku malah mendengar gemuruh air yang sangat deras. Aku takut, tanganku dingin, kakiku dingin, bibirku biru. Aku memberanikan diri untuk menengok ke belakang, seketika itu aku melihat air berwarna cokelat tua setinggi tujuh meter membawa ribuan potongan kayu, besi, atap rumah, mobil, motor. Arus air begitu deras seakan tak sabar ingin menghantam tubuh kecilku.     “Mas Rama …! Air …! Air …! Air …!”     Aku, Mas Rama, dan sepeda Wim Cycle baruku secepat kilat ikut hanyut bergulung-gulung terbawa oleh air laut. Aku pingsan, terombang-ambing, dan sendirian. Di tanganku masih kugenggam erat-erat bunga Jasminum sambac pemberiannya. Pemberian dari kawan terbaikku di masa kecil.     “Mas … Mas … Mas Ram─”     “Marlinda … kau kenapa, Nak? Mimpi buruk kah? Sudah jam berapa ini?” Aku terbangun dengan napas tersengal-sengal. Nenek panik mendengarku mengigau. Ternyata aku hanya bermimpi. Tapi perlu kalian tahu, Kawan, ini bukan hanya sekedar bunga tidur, ini adalah potongan dari kejadian nyata yang pernah aku alami di masa lalu, tepatnya sepuluh tahun lalu di Banda Aceh. ***     Aku segera meraih kunci mobil dari atas meja televisi. Jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi, jika aku tak bisa tiba di kelas dalam waktu setengah jam, maka dosen s***s itu barang tentu akan mengusirku lagi.     “Marlin, ini kotak makanmu, bawalah! Sudah nenek siapkan dari subuh tadi.”     “Marlin, ada baiknya kauperhatikan jam tidurmu mulai sekarang. Jika kauterlambat terus, kapan kau bisa lulus?” Kakek menimpali, memperburuk mood-ku pagi ini.     “Baiklah, Kek. Aku sudah terlambat, aku harus buru-buru.”     “Hati-hati di jalan ya, Nak!” Aku terlebih dulu mencium tangan nenek dan kakek, yang kemudian mereka balas dengan mencium keningku.     Aku berjalan menuju garasi, membuka pintu mobil, menyalakan mesinnya, dan membuka pintu pagar. Aku memang terbiasa menyetir mobil seorang diri, sudah sedari SMA kakek melatihku, agar mandiri katanya. Aku memulai perjalananku menuju kampus, melewati sepanjang Jalan Daan Mogot, melewati Gedung Indosiar, melewati Mall Taman Anggrek, melewati lampu merah, melewati Jalan Susilo, melewati Jalan Tawakal, melewati Jalan Tanjung Duren, melewati jembatan, melewati selokan, melewati Warung Padang 99, melewati Universitas Tarumanagara, dan akhirnya tiba jualah aku di kampus reformasi tercinta ini.     Tak sampai dua puluh menit aku sudah tiba, berarti masih ada sepuluh menit lagi untukku agar bisa berada di kelas tanpa telat barang sesaat pun. Awalnya aku mau pakai jasa parkir valet, tapi ternyata petugasnya sedang tidak hadir. Aku segera memutar otak, karena gedung fakultasku cukup jauh dari lokasi pintu gerbang utama, jadi aku harus mencari parkir yang paling dekat dari gedung. Aku segera mengarahkan setirku ke parkir bawah tanah, di sana tersedia lift yang segera mengantarku langsung ke lantai 7 di mana kelasku berada. Sungguh sebuah ide cemerlang, pikirku.     Begitu mobilku sampai di parkiran, aku menengok kanan kiri, mencari lahan kosong. Terlihat di sebelah mobil sedan Lexus berwarna ungu ada tempat yang masih tersedia. Aku segera mengarahkan mobilku ke sana. Dan secara mengejutkan, melajulah sebuah mobil dengan kecepatan tinggi, berlawanan arah, persis depan moncong mobilku, ia mengerem secara mendadak. Aku kaget bukan main. Bocah udik mana yang menyetir di lahan parkir tak pakai otak?     “Heh, bos! Mundur, lu! Gue duluan yang mau parkir di sini.” Seorang laki-laki berambut hitam potongan model Tintin, wajahnya terlihat murka, berkata tanpa tahu adat, keluar dari mobil Ford miliknya.     “Heh, cumi! Ogah ya gue mundur. Nggak akan mau! Gue duluan yang mau parkir di sini.” Aku menggertaknya tak mau kalah.     “Gue nggak mau tau, ya! Lu mundur sekarang!”     “Gue juga nggak mau tau! Lu aja yang mundur!”     “Lu yang mundur!”     “Lu aja, gih! Ogah gue!” Aku setengah berteriak dari dalam mobil.     “Lu yang ngalah!”     “Lu aja, kan lu laki! Kecuali kalau lu banci!”     “Ngomong apa lu barusan?” Wajahnya mulai memerah.     “Lu banci!”     “Lu cabe-cabean!”     “Lu terong-terongan!” Aku masih tak mau kalah.     “Gue tabrak, nih!”     “Gue tabrak juga mobil lu!”     Kami bertengkar tanpa jeda, dia menunjuk, aku pun ikut menunjuk, dia menggertak, aku juga ikut menggertak tak mau kalah. Ingin rasanya kutabrak mobilnya, untung akal sehatku masih jalan. Akhirnya aku memutar otak, dari dalam mobil aku melihat ke arah spion kiri, ternyata ada mobil yang baru keluar dari parkir. Tanpa ambil tempo, tanpa buang-buang waktu, segera ku mundurkan mobilku, serong ke kiri sedikit, langsung masuk dalam lahan parkir tanpa tersalip.     Segera aku keluar dari dalam mobil. Berlari aku menuju lift, kutekan tombol naik, lift terbuka, aku masuk, lift tertutup rapat, kutekan angkat 7. Lift mulai bergerak, naik ke atas. Lift terbuka, aku segera keluar. Kucari ruang kelasku, aku masuk ke dalam. Betapa bersyukurnya aku tak kena usir bu dosen, aku tak terlambat, senang hatiku, bahagia hidupku, nyenyak tidurku.     Tak usah kalian tanya bagaimana kabar laki-laki tak tahu adat itu. Aku tak peduli sedikit pun. Hari ini kegiatan perkuliahanku berjalan lancar. Aku akan makan siang bersama dua temanku di kantin teknik. ***     “Marlin, gimana kuliah lu tadi? Kena usir Bu Gani lagi, nggak?” Nesya bertanya dengan mulutnya yang penuh karena sedang mengunyah seblak ekstra pedas level 15. Aku pun heran mengapa penduduk ibu kota senang sekali membahas soal level, bahkan hingga urusan lidah pun, urusan pedas pun, mereka juga membahas soal level.     “Lagian lu, sih. Kenapa bisa telat mulu? Lu udah diusir 2 kali, kan, sama Bu Gani, masa iya masih santuy gini. Heran. Abis nonton drama korea ya semalem? Makanya, kalau begadang ya lu nyalain alarm, lah!” Mulut Ririn mulai merepet-repet tak karuan. Padahal dia sendiri juga pernah diusir dosen dari dalam kelas karena menelepon pacarnya saat perkuliahan sedang berlangsung.     “Gue nggak telat, ya. Sorry, nih. Abis makan siang selesai, kita solat dzuhur dulu ya di masjid.”     “Oke, Mar!”     “Sip, Mar!”     Selepas makan kami segera bergegas ke masjid. Kami mengambil air wudhu, dan tak lama adzan dzuhur mulai berkumandang. Entah mengapa, setiap kudengar gema adzan di masjid kampus, semakin rindu aku akan kampung halaman. Makin kudengar, makin kusayang, makin kucinta, makin kurindu. Suara muadzinnya sungguh merdu, nyaring, sedap, empuk, enak, lembut, lantang. Adzannya menggunakan irama jiharkah, persis di Masjid Raya Baiturrahman. Rasanya ingin pulang aku ke kampung halaman, tapi buat apa. Sudah habis sanak saudaraku ditelan ombak, tak bersisa sedikitpun.     Kami bertiga melaksanakan solat secara berjamaah dengan orang-orang seisi masjid, mengikuti imam yang berada di lantai 2. Jamaah laki-laki memang bertempat di lantai 2, dan jamaah perempuan di lantai 1.     Imam memimpin solat dengan khusyuk, bersungguh-sungguh, dan penuh dengan kerendahan hati. Dari mulai takbiratul ihram, ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, hingga salam, genap sudah kami menyelesaikan solat dzuhur siang itu.     Setelah solat aku berdzikir, membaca ayat kursi, serta berdoa memohon diampunkan segala dosa-dosa. Tak lupa kudoakan pula ayahanda dan ibundaku yang telah lama tiada, juga beribu handai taulan yang telah lama gugur digulung ombak saat tsunami beberapa tahun lalu.     Aku, Nesya, dan Ririn segera berjalan keluar masjid. Dua temanku itu masih harus menyelesaikan perkuliahannya hingga pukul tiga sore nanti, sedangkan aku sudah tak ada jadwal.     “Marlin, lu mau pulang duluan atau nungguin kita, nih?” Ririn bertanya sambil merapikan ikatan rambutnya.     “Tapi, kalau lu mau pulang duluan juga nggak masalah, sih. Takut macet juga jalan ke arah Daan Mogot kalau udah sore.“ Nesya sungguh sangat pengertian.     “Mar, Nes, gue kayaknya harus ke kelas duluan, deh. Gue lupa ada tugas yang harus dikumpulin di meja dosen. Gue cabut duluan, ya! Bye semuanya!” Tanpa basa-basi Ririn berlalu begitu saja. Tinggal aku dan Nesya masih berdiri mematung di muka masjid.     Tak lama handphone milik Nesya berbunyi, ia segera mengeluarkan Iphone 5s dari dalam tas miliknya, dan seperti sedang membaca sebuah pesan singkat.     “Mar, gue baru dapet kabar dari koordinator kelas, katanya dosen gue masih di Australi, jadi gue nggak ada kuliah lagi hari ini.”     “Wah, asyik! Enaknya kita ke mana dulu ya, Nes?” Aku merasa senang.     “Uhhh … hmmm … gimana kalau kita mampir ke TOGA dulu?”     “Ide bagus! Yuk, cusss …!” Aku dan Nesya begitu bersemangat menuju ke sana.     Kawan, jika kalian bertanya TOGA itu nama tempat macam apa, sesungguhnya itu adalah sebuah toko buku kecil. Nama TOGA sendiri sebenarnya adalah sebuah singkatan dari Toko Gunung Agung, yang diberikan oleh para mahasiswa, entah sejak kapan. Letaknya tidaklah terlalu jauh, masih di dalam halaman kampus, persis di depan gedung fakultasku.     Kami berjalan ke sana melewati sebuah tempat fotokopi, melewati beberapa toko buku kecil, melewati kantin, melewati sebuah taman yang luas, melewati berbagai pohon-pohon tinggi besar, melewati burung-burung kecil, melewati berbagai bunga hias, melewati berbagai serangga dan para jajarannya, hingga sampailah kami ke tempat tujuan.     Di depan TOGA, aku melihat sebuah papan kayu yang dilapisi kaca bening, dan ditempeli berbagai puisi. Feeling-ku mengatakan puisi itu ditulis oleh berbagai mahasiswa yang telah lolos seleksi untuk menampilkan tulisan masterpiece-nya di muka umum. Aku sering membaca dan memperhatikan puisi-puisi itu. Harus kuakui indah nian memang isinya, mampu menyentuh hati, mengalihkan pikiran, menguras emosi, dan menggugah selera. Tapi dari sekian banyak puisi yang ditempel di papan itu, ada salah seorang penulis yang menjadi jagoanku. Karyanya paling sering ada di situ. Tapi sayang sungguh disayang, aku tak tahu namanya, aku hanya tahu nama pena miliknya. Di akhir puisinya, ia hanya menuliskan Mr. AR di pojok kanan bawah. Bisa jadi AR juga merupakan inisial namanya, entahlah. Tetapi di hari itu, selain inisial, ia juga menambahkan tulisan lain: -FK-. Aih … barang tentu maksudnya adalah Fakultas Kedokteran. Ah! Aku sangat senang, kini aku bisa tahu pujanggaku itu berasal dari fakultas mana, bisa jadi setelah ini dengan mudah aku akan menemukan siapa dirinya.     “Mar …? Lu dari tadi serius banget baca puisinya. Gue udah selesai, nih, nyari bukunya. Lu nggak mau beli sesuatu dulu di dalem?” Nesya mengagetkanku.     “Eh, iya, Nes! Lu baca, deh, puisi di sini. Bagus-bagus, tau!”     “ Hmmm … tapi Mar, gue nggak ngerti soal puisi.” Nesya menatap ke arah papan dengan dahi yang mengerut.     “Coba Nes, lu baca puisi yang ini!” Aku menunjuk sebuah puisi karya Mister AR di papan.   Cinta Pertama Berucap sesal kau sudah hilang Berucap cinta kau punya dia Merindumu pun tiada guna Mengingat-ingat kisah yang lalu Tidak! Aku tidak mencinta Hanya termenung menatap bayang Aroma kebaikanmu terekam jelas Tiada lagi telinga tempat mengadu Tiada lagi hati untuk menyayang Tiada lagi bahu untuk bersandar Sesal … Apa masih ada yang sebaik kamu? Mr. AR -FK-       “Bagus ya, Mar. Tapi siapa, ya, nama penulisnya?” Nesya mulai berkomentar.     “Nggak tau, deh, Nes. Cuma ada inisial namanya.”     “Mungkin juga FK itu maksudnya Fakultas Kedokteran.” Nyatanya Nesya pun sepaham, sepakat, sependirian, setuju, sepemikiran, seiya, sekata denganku.     “Mar, kita pulang sekarang, yuk! Tenang, nggak usah lu pikirin soal puisi itu. Gue punya banyak temen di FK, kita bisa cari tau tentang si Mister AR dengan mudah!” Aih, tanpa perlu aku bercerita panjang lebar, Nesya bisa paham maksud hatiku.      Berdebar jantungku setelah Nesya berucap, ingin rasanya saat itu juga aku meminta dan memohon agar ia segera bertanya pada teman-temannya yang berkuliah di fakultas kedokteran untuk mencari tahu siapa gerangan Mister AR.     Hai, Mister AR, siapakah gerangan dirimu?   ***       Sepulangnya dari kampus aku langsung lekas mandi, ganti baju, solat maghrib, makan malam, solat isya, membaca buku, mengerjakan tugas, membaca buku lagi, menonton serial drama Korea Utara, membaca buku lagi, kemudian bersiap tidur.     Aku membulatkan tekadku agar dapat terlelap sebelum pukul 12 malam. Tapi entah mengapa makin kupaksa tidur malah makin terjaga mataku. Beribu kali aku mengubah posisi tidurku, hadap kanan, hadap kiri, telentang, tengkurap, meringkuk, kemudian bangkit. Pikiranku mengawang ke mana-mana. Aku jadi teringat tentang kejadian tadi siang, lekas kuambil handphone-ku, kubuka ikon gallery. Aih … kalian pasti tak kan sangka bahwa semua puisi karya Mister AR sudah kupotret sejak jauh-jauh hari. Tak tanggung-tanggung totalnya ada lima puluh puisi. Apakah ini yang dinamakan secret admirer? Jangankan pengagum rahasia, orang yang aku kagumi juga tak kalah rahasianya.     Aku jadi menebak-nebak seperti apa wajahnya Mister AR, apakah ia lebih tinggi dariku, seperti apa model rambutnya, apakah kulitnya putih bersih ataukah hitam kelam, bagaimana bentuk dagunya, apakah alisnya lebat seperti hutan liar ataukah sepi sunyi senyap seperti hutan gundul, apakah hidungnya mancung ke luar atau mancung ke dalam, apakah makanan kesukaannya, apakah ia juga suka makan bubur ayam di tempat fotokopi depan gedung teknik, apakah akhlaknya baik, apakah ia rajin solat, apakah ia pandai mengaji dengan irama jiharkah, apakah ia sudah punya pacar, apakah matanya seindah rembulan? ***       Pagi itu aku tiba di kampus lebih awal. Bukan, bukan, bukan karena aku belum mengerjakan tugas dari dosen, tapi sungguh aku hanya ingin menyontek tugas milik temanku sebanyak sepuluh halaman kertas folio. Hingga pegal tanganku, gemetar jari-jariku, pening kepalaku.     Setelah segala kegiatan perkuliahan selesai, aku segera berjalan ke arah TOGA, tak sabar ingin membaca puisi baru karya Mister AR, karena setiap dua hari sekali memang sudah jadwalnya puisi baru ditempel.     Mataku mencari-cari puisi sang pujangga, ke kanan, kiri, atas, bawah, pojok kanan, pojok kiri, pojok atas, pojok bawah, depan, belakang, dan … aha!   Surat Cinta Terakhir Surat cinta paling terakhir Tiada lagi setelahnya Seringnya kupikir ini cinta tiada akhir Nyatanya semua malah berakhir Andai boleh jujur Tak tahunya lagi aku cara jatuh cinta Bertahun lalu kujatuh cinta Benar jatuh aku dibuatnya Hingga habis berderai air mataku Benar habis jatah air mata yang kupunya Kini kudoakan kau dengan tulus Setulus cintaku yang telah lalu Kudoakan kau malam ini Moga-moga kita masih berjodoh! Mr. AR –FK-       Kutengok kanan kiri, sepi, tak ada orang yang memperhatikanku, segera kuraih handphone-ku, kupotret puisi Mister AR sambil terkekeh. Dapat kubayangkan betapa nyenyaknya tidurku nanti malam.     Hari ini hari Jumat, masih butuh tiga hari lagi untuk menuju ke hari Senin. Tapi rasanya aku sudah tak sabar ingin segera membaca lagi puisi baru karya Mister AR. Aih … apakah aku sudah hilang akal?     Tidurku jadi tak tenang, hatiku gelisah, resah, risau, cemas, gundah gulana, khawatir, apapun itu namanya. Aku jadi bingung sendiri akan kondisi hatiku. Kuraih remot televisi, kutekan tombol on, kulihat kartun anak kecil berkacamata tebal bernama Conan, cerita detektif rupanya. Haruskah aku menyewa detektif untuk menyelidiki siapahkah Mister AR sebenarnya? Sangat berlebihan kurasa. ***       Hari Senin yang ditunggu-tunggu tiba juga. Pukul 12 siang aku segera bergegas menuju TOGA. Mataku kembali mencari-cari puisi sang pujangga. Kutatap satu per satu, pelan-pelan, perlahan. Dari bagian paling atas kemudian turun ke bawah, dari bagian paling kanan kemudian ke paling kiri. Kubesarkan bola mataku, aku melotot, tak yakin dengan penglihatanku. Kucari lagi pelan-pelan, perlahan, sekali lagi, ini sudah kali ketujuh aku mencari puisi karya sang pujangga belahan hatiku, belahan jiwaku.     Apa yang terjadi dengan Mister AR, mengapa puisi karyanya sampai tak ada. Apakah ia sudah berhenti menulis? Ataukah ia tahu bahwa aku selalu memotret hasil karyanya, hingga ia merasa takut aku akan memata-matainya? Mengapa aku jadi overthinking begini.     Gema adzan dzuhur mulai berkumandang. Aku memutuskan untuk menghentikan pencarianku tentang Mister AR sementara waktu. Aku akan melanjutkannya lagi setelah makan siang.     Seperti biasa, aku mengambil air wudhu, memakai mukenah, menggelar sajadah, lalu duduk sembari menunggu adzan usai. Entah pendengaranku yang salah, ataukah mungkin toa masjid yang sedang rusak, ataukah mungkin speaker masjid yang sudah uzur, ataukah bisa jadi mikrofon masjid yang tak suka dengan sang muadzin, aku menerka-nerka bahwa kumandang adzan hari ini memang tidak seperti biasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN