Musim penghujan di awal tahun 2014 terasa mengkhawatirkan. Pasalnya, sudah dua tahun berturut-turut hujan yang melanda ibu kota mampu mengakibatkan banjir hingga bermeter-meter. Rumah tenggelam, atap hanyut, perabotan rumah rusak, mobil-mobil rusak karena mesinnya dimasuki lumpur, motor-motor hilang terbawa arus banjir, ratusan orang mengungsi, lalu kelaparan, lalu pemerintah setempat malah menggelapkan dana BLT (Bantuan Langsung Tunai). Sungguh patut disyukuri bagi para penduduk ibu kota yang tempat tinggalnya tidak dihampiri banjir.
Kakek menggenggam remot televisi erat-erat, berulang kali beliau mengganti salurannya mencari berita mengenai banjir. Kami amat bersyukur karena kediaman kami aman, tentram, damai sentosa, tak seujung kuku pun terkena dampak banjir.
Dua temanku, Nesya dan Ririn, rumah mereka juga sangat aman, tak ada banjir, tak ada becek, tak ada air tergenang. Beribu syukur dan segala puji-pujian kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Pemurah.
Kakek masih terobsesi dengan berbagai berita banjir di televisi, masih sibuk memencet tombol remot ke atas dan ke bawah.
“Aih … Marlin, ke sini, Nak! Lihatlah, kampusmu banjir!” Aku yang sedang duduk di kursi makan segera menghampiri beliau.
“Bagaimana bisa!? Habislah kampusku!”
Mataku terperangah melihat layar televisi, karena nun jauh di sana, pagar besi kampusku sudah tak terlihat, terbenam oleh air berwarna cokelat tua setinggi hampir 3 meter, yang tersisa tinggal beberapa huruf di tiangnya bertuliskan: Kampus Reformasi.
Aku melanjutkan sarapanku, menghabiskannya, lalu bergegas menuju kamar. Aku jadi berpikir bagaimana akan nasib papan kayu yang ditempeli berbagai puisi karya sang pujangga─Mister AR. Aku masih belum menemukan siapa dia sebenarnya, seperti apa sosoknya, bagaimana rupa wajahnya. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan saat ini.
Sebagai seorang secret admirer yang baik dan budiman, aku tak mau hanya duduk berpangku tangan, diam seribu bahasa, lalu pasrah dirundung nasib. Ku bulatkan tekadku untuk mencari tahu mengenai Mister AR─si mahasiswa fakultas kedokteran itu─tentang segala seluk beluknya, hingga tindak tanduknya. Akan kukerahkan segala daya upayaku, ide-ide cemerlangku, dan segala yang kupunya.
Aku menghubungi Nesya melalui nomor telepon rumahnya, bertanya padanya apakah sudah ada jawaban dari teman-temannya yang berkuliah di jurusan FK (Fakultas Kedokteran). Nesya berkata bahwa ada satu juta kemungkinan mengenai siapa sosok Mister AR, karena kenyataannya terdapat begitu banyak nama yang berinisial AR di fakultas itu. Namun, semangatku yang sudah terlanjur membara ternyata tak dapat surut begitu saja. Aku tetap teguh pada pendirian, dan Nesya atas nama kesetiakawanan, ia secara pasrah sekaligus murka harus merelakan diri menjadi bulan-bulananku.
“Mar, mantan pacar gue yang kuliah di FK inisial namanya juga AR. Kalau lu mau tau, ada bejibun mahasiswa yang punya inisial itu!” Nesya terdengar sedikit emosi.
“Kalem, Nes, kalem …. Masih ada sejuta kemungkinan, kan, kata lu?”
“Iya, Mar … tapi, kan ….”
“Kalau begitu, coba lu sebutin daftar nama mahasiswa laki-laki di jurusan FK!”
“Iya, deh. Gue sebutin nih, ya. Dari absen pertama sampai terakhir, ada Aryo, Argi, Argha, Arsyi, Arkana, Ardilla, Arfandi, Ardani, Ario, Arfian, Arif, Aref, Arian, Arfa, Areez, Ardam, Arbaaz, Araiz, Arkha, Ar─”
“Stop … stop … stop!” Aku memberikan aba-aba agar Nesya berhenti sejenak.
“Lah … kenapa, Mar?” Nesya protes.
“Bukan inisial yang kayak gitu, maksud gue tuh inisial AR, berarti kan nama depannya berawalan huruf A, terus nama belakangnya berawalan huruf R. Coba, kira-kira ada nggak yang punya inisial begitu?” Aku menginstruksi ulang.
“Uhhh … Hmmm … nggak ada, Mar.” Terdengar Nesya sibuk membulak-balik sebuah kertas di tangannya.
“Coba lu baca ulang, deh.”
“Uhhh … Hmmm … sumpah nggak ada.”
“Coba lu baca ulang lagi, Nes! Sekali lagi. Baca satu-satu, Nes, pelan-pelan!”
“Nggak ada, Mar!”
“Ayolah, Nes. Mungkin lu salah lihat.” Aku memohon pada Nesya.
“Tapi emang nggak ada, Mar.”
“Coba lagi, Nes!” Aku tetap memohon.
“Nes …? Nes …? Nesya …?” Aku memanggil kawanku, tetapi tak ada jawaban. Seketika keadaan menjadi sepi, sunyi, senyap.
Namun, kudengar sebuah tarikan napas panjang di ujung telepon, seketika itu, di detik itu pula, Nesya berkata dengan suara yang lantang yang belum pernah aku dengar sebelumnya. “GUE BILANG NGGAK ADA, YA NGGAK ADA! LU CARI AJA SENDIRI!!! Tut … tut … tut ….” Kudengar suara gagang telepon dibanting.
Ternyata ia benar-benar murka.
Ririn mengetahui segala rencanaku bersama Nesya, dan secara kejam ia malah menolak ideku mentah-mentah.
“Bagai pungguk merindukan bulan! Marlin, udah, deh. Lu lupain aja soal si Mister AR itu. Lagian kenapa, sih, lu bisa yakin banget mau nyari tau siapa dia? Apa lu yakin dia mahasiswa? Kalau ternyata dia dosen, gimana? Kalau ternyata dia bapak-bapak, atau kakek-kakek yang perutnya buncit, kumisnya mirip tukang sate, gimana? Apa lu akan tetep penasaran sama dia? Tetep suka sama dia? Please, deh, logis dikit, dong!” Seperti biasa mulut Ririn merep-repet tak karuan. Tapi kalau boleh jujur, apa yang dia katakan cukup menamparku. Dan aku, tersadar oleh realita yang ada.
Baiklah, Kawan, karena keadaan secara mendakak terjadi di luar prediksiku, maka dengan ini, kembali ku bulatkan tekad, untuk berhenti mencari tahu tentang Mister AR, yang berarti juga aku undur diri menjadi secret admirer-nya.
Sungguh miris.
***
Banjir di segala penjuru ibu kota telah surut. Rumah-rumah kembali terlihat ujung atapnya, atap-atap yang hanyut tak nampak lagi, mobil-mobil yang rusak telah diperbaiki di bengkel, motor-motor yang hanyut telah terbawa arus banjir menuju sungai. Hujan perlahan mulai berhenti, matahari bersinar kembali, udara menjadi hangat, burung-burung beterbangan di langit yang biru, bunga-bunga bermekaran, merekah, indah, seindah senyumku pagi itu.
Kegiatan perkuliahan telah dimulai kembali. Dua temanku, Nesya dan Ririn, sudah tak lagi tersulut emosinya disebabkan ulahku tempo hari. Kami berbaikan, mengobrol, belajar bersama, makan siang bersama, keadaan kembali berjalan normal seperti sedia kala.
Di kampus aku tergabung dalam sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa, yaitu sebagai biduanita alias penyanyi, lebih tepatnya … paduan suara mahasiswa.
Berhubung di bulan April nanti akan diadakan kegiatan wisuda bagi para mahasiswa yang telah selesai menamatkan pendidikannya, maka aku bersama para anggota paduan suara lainnya diharuskan untuk mulai berlatih kembali secara aktif, tiap tiga kali dalam seminggu. Kami akan tampil untuk menghibur para wisudawan nanti.
Setelah segala kegiatan perkuliahan selesai, aku segera berjalan menuju ruang latihan paduan suara. Letaknya berada di luar gedung fakultasku, di sebelah gelanggang mahasiswa lebih tepatnya.
Aku melewati sebuah toko buku kecil yang biasa mahasiswa sebut sebagai TOGA. Aku menengok ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, tak sedikit pun aku menemukan tanda-tanda keberadaan papan kayu itu. Sebuah papan kayu berlapiskan kaca bening yang biasa berada di depan TOGA. Di papan kayu itulah biasanya ditempeli berbagai puisi yang tulis oleh para mahasiswa, termasuk puisi karya sang pujangga pujaanku, belahan jiwaku, yaitu Mister AR.
Entah di mana rimbanya papan kayu itu. Bisa jadi telah terbawa arus air yang deras akibat banjir tempo hari. Seketika aku jadi teringat akan kebiasaanku yang sering berdiri mematung seorang diri sembari membaca puisi-puisi karya si Mister AR. Aih … betapa mirisnya mengidolakan seseorang yang bahkan kita sendiri tak tahu keberadannya, nihil.
Aku mencoba membangkitkan kembali semangatku, senyumku, serta niatku untuk berlatih paduan suara. Aku berjalan dengan langkah yang lebar, berharap latihan hari itu akan begitu menyenangkan.
***
Aku menyanyikan sebuah lagu berjudul Mars Universitas Reformasi dengan suara sopranku, dari C4 sampai satu setengah oktaf, dengan semangat empat lima, di dalam kamar mandi. Tak usah kalian heran, Kawan. Aku hanya berusaha menampilkan keahlian terbaikku sebagai seorang biduanita kamar mandi, menuju ke level selanjutnya yaitu sebagai biduanita di muka umum.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa tinggal sebulan lagi acara wisuda akan digelar. Aku berlatih makin giat. Tak hanya latihan saat bersama para rekan paduan suara, aku juga latihan saat sedang belajar di kelas, saat sedang makan siang, saat di perjalanan pulang, saat berangkat ke kampus, saat tiba di rumah, saat mengerjakan tugas, saat makan bersama kakek dan nenek, saat menonton televisi, saat menonton serial drama Korea Utara. Di mana pun, kapan pun, aku terus berlatih. Aku ingin menjadi yang terbaik, guna menggapai masa depan yang gilang gemilang.
Semua kegiatan perkuliahanku dapat berjalan beriringan dengan berbagai latihan paduan suara, berjalan dengan lancar jaya, dan serba seimbang. Tak ada hambatan yang berarti. Aku makin semangat, dan perlahan bisa melupakan segalanya tentang Mister AR.
Siang itu aku hendak latihan, dan aku sudah tiba di muka ruangan lebih awal. Seorang teman memberitahuku bahwa latihan akan dipindahkan ke gelanggang mahasiswa untuk satu bulan ke depan. Kami semua bergegas menuju ke gelanggang mahasiswa, di sana sudah ada beberapa orang dosen yang akan membimbing kegiatan kami di hari itu. Terlihat seorang dosen perempuan sedang berbicara dengan lantang di muka para mahasiswa, sembari menggunakan pengeras suara.
“Anak-anakku yang ganteng-ganteng, dan cantik-cantik, harap perhatian semuanya!”
Seketika semua yang ada di ruangan itu diam serentak. Aku kenal betul siapa dosen yang sedang berbicara di muka. Beliau adalah Gani Giani, SE., MM. Beliau mengajarkan mata kuliah Manajemen Pemasaran II. Tubuhnya kurus tinggi, pakaiannya modis, dan wajahnya cantik. Beliau terkenal bersahabat dalam memberikan nilai pada para mahasiswa, tapi dengan catatan: disiplin nomor 1! Jika barang sedetik saja kau terlambat masuk ke kelasnya, maka tanpa segan beliau akan mengusirmu, seperti yang telah aku alami sebelumnya.
“Sebulan lagi acara kita akan digelar, dan saya berharap kalian semua bisa mempersembahkan penampilan yang terbaik. Dengan berlatih terus menerus, kita … nguing … akan … nguing … kresek … kresek … bisa … tuuuut … menjadi yang terbaik!” Suara beliau timbul tenggelam diakibatkan kabel mikrofon yang menyangkut ke sana ke mari. Tak lama tepuk tangan dari para mahasiswa mulai bergemuruh.
Setelah kurang dari sepuluh menit beliau berpidato di muka, kami kembali latihan seperti sedia kala. Mataku tertuju pada segerombolan mahasiswa laki-laki yang tengah berdiri di sudut kanan gelanggang. Di antara mereka ada satu orang yang tinggi badannya melebihi yang lainnya. Aku merasa kenal dengan laki-laki itu. Kukedipkan mataku berulang kali, kuusap dengan punggung tanganku, takut salah kulihat. Kupejamkan mataku sepersekian detik, lalu kubuka lagi, kemudian kucoba melotot. Kuyakinkan diri, memang tak salah yang kulihat barusan. Seorang laki-laki berambut hitam potongan model Tintin, berwajah menyebalkan, takkan pernah kulupa akan kejadian di parkiran bawah tanah tempo hari. Dialah si laki-laki yang tak tahu adat itu, si pemilik mobil Ford, yang dengan lancangnya berani bertengkar dengan perempuan. Dasar laki-laki udik! Untuk apa dia bergabung di sini?
Segera kututupi wajahku dengan kipas plastik. Malas aku beradu pandang dengannya. Aih … kau tunggu pembalasanku, bujang!