Menemukan Rembulan 2

2410 Kata
     Siang itu di kantin teknik, aku dan dua temanku, Nesya dan Ririn tentunya, tengah melahap makan siang kami. Udara begitu panas, sinar matahari tajam hingga mampu menyilaukan pandangan mata. Kami bertiga lekas-lekas menghabiskan makanan kami, tak kuat berlama-lama di sana bermandikan keringat.     “Ayo, cepetan. Gue udah kepanasan banget, nih! Kita ngadem aja di masjid, yuk!.” Nesya mulai mengipasi lehernya dengan kipas portable.     “Bentar, gue belum bayar, nih!” Aku panik, segera beranjak ke meja kasir.     “Gue juga mau beli air mineral dulu. Tungguin, dong!” Ririn ikut panik.     Tanpa ambil tempo, setelah segala urusan kami di kantin selesai, kami bertiga berhamburan ke masjid.     Adzan dzuhur belum berkumandang, tak ingin terlambat kami pun segera mengambil air wudhu, dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan solat berjamaah.     Namun, ketika gema adzan mulai terdengar, aku diam, diam seribu bahasa, mendengarkan dengan khusyuk, dan menyadari satu hal, bahwa adzan di kampusku memang sudah tak sama lagi.     Selepas solat kami bertiga berencana untuk duduk-duduk terlebih dahulu di taman kampus. Lokasinya persis di depan gedung fakultas kami, dan hanya berjarak lima meter di sebelah TOGA. Aku memandangi toko buku itu, berharap papan kayu yang ditempeli berbagai puisi itu akan ada lagi tepat di depannya.     “Kita duduk di sini aja, nih! Pas banget, kan, di bawah pohon. Udahlah adem, bisa dengerin siaran MS Tri pula!” Seperti biasa, Ririn lah yang memimpin perjalanan kami.     “Iya, pas banget, nih! Hari ini MS Tri bakal puterin lagu apa aja, ya, kira-kira?” Nesya tampak bersemangat.       Kami bertiga duduk di kursi taman yang terbuat dari semen. Di taman kampus terdapat banyak pohon, berbagai tanaman, dan juga bunga hias. Tamannya selalu bersih, karena sering disapu oleh pihak yang bertugas. Pepohonannya rindang, asri, sejuk, indah dipandang mata.     Bicara soal MS Tri fm, itu adalah siaran radio yang ada di kampus kami. Radio itu mengudara mulai dari pagi hingga pukul 5 sore, memutar berbagai lagu-lagu yang sedang hits pada zamannya. Banyak pula mahasiswa yang request untuk diputarkan lagu favoritnya, tak hanya itu, berbagai pengumuman penting, atau sekedar titip salam antar mahasiswa juga biasa dilakukan.     Tak lama, terdengar sebuah alunan musik dangdut, aku dan Nesya saling tatap sembari mengerutkan dahi.     “Lu berdua pasti belum pernah denger lagu ini, ya? Seru, tau! Lagu dangdut masa kini, nih!” Ririn bicara sambil terkekeh, lalu ia ikut berdendang. Tak pahamnya aku bagaimana seorang Ririn bisa sampai hafal lirik lagu dangdut bait demi bait. Ke sana kemari membawa alamat Namun yang kutemui bukan dirinya Sayang …  yang kuterima alamat palsu     Terlihat senang bukan kepalang, Ririn makin menjadi, ia berdendang sembari menggoyangkan badannya bak biduanita. Entah kerasukan anak buah jin ifrit yang mana dan dari mana. Ia tertawa hingga wajahnya memerah, kutengok Nesya wajahnya juga merah, sama merahnya.     “Nes, kenapa muka lu ikutan merah juga? Yang lagi nyanyi kan si Ririn.” Kutanya padanya.     “Muka gue merah karena gue malu punya temen kayak dia!” Nesya menjawab sambil tangan kanannya menunjuk. Kami bertiga saling tatap, terdiam tiga detik, kemudian tertawa terbahak bersama. Karyawan TOGA yang melihat kami juga ikut tertawa, mahasiswa mahasiswi yang lewat juga ikut tertawa, burung-burung, lalat, belalang, kupu-kupu juga ikut tertawa. Betapa meriahnya suasana siang itu.     MS Tri memutarkan lagu kedua, ketiga, hingga keempat. Tak lama terdengar suara yang cukup merdu dari balik mikrofon. Seorang wanita memulai siarannya siang itu.     “Hai, gaes! Apa kabar kalian semua? Masih di one zero four point two fm, MS Tri! Radionya mahasiswa reformasi! Di siang yang cerah ceria ini, gue mau ngasih pengumuman, nih, kalau mulai sekarang kalian semua bisa ngirim─” Aku tak mendengar kalimat apa yang selanjutnya wanita muda itu ucapkan, suara Ririn terlalu keras dan berisik, hingga aku jadi tak fokus.     “Lu tau nggak gosip baru soal Rapi Amat? Dia kan selingkuh sama penyanyi dangdut! Iya, kan? Ih … parah emang! Betul! Betul banget! Ih … emang! Sama penyanyi lagu alamat nyasar tadi, loh!”     Jika Ririn bicara denganku, maka akan terjadi sebuah drama perbincangan singkat macam mertua menceramahi menantu. Ia bisa mengoceh hingga mulutnya berbusa, dan aku diam seribu bahasa, mematung, atau minimal akan menjawabnya dengan kata iya, iya, dan iya, hingga seterusnya. Akan tetapi, jika Ririn bicara dengan Nesya, maka kejadian yang berbeda akan nampak terlihat. Bagai drama pertemuan antara wartawan tabloid gosip dengan pembawa acara infotaimen, mereka menggunjing bersama, seru. Ririn merepet, kemudian Nesya meracau. Nesya mengoceh, gantian Ririn mengecoh. Ririn merongrong, Nesya balas meneror. Sungguh, ini bukanlah pantun tak berima.     Jujur, aku tak tertarik dengan gosip murahan tak bermutu macam itu. Aku baru akan tertarik jika si artis sudah tertimpa tangga, tertimpa kulit durian, jatuh pula, jatuh miskin, hingga sejadi-jadinya.     Aku masih terdiam sembari telingaku berusaha mencuri dengar apa yang dikatakan penyiar radio wanita itu.     “Jadi, gue akan membacakan sebuah puisi. Menurut gue, sih, puisi ini cukup menyentuh, ya! Oke, oke, gue akan mulai bacain buat kalian semua!     “Judulnya … menyublim …. Waw, cukup menarik, ya!” Si penyiar terdengar cukup antusias.     Aku mulai menyiapkan pendengaranku. “Menyublim Datang bertamu membawa mimpi Disambut salah, diacuhkan makin salah Bertanya-tanya tentang mimpi yang tinggi Bermulut manis tanpa berotak Mereka kata, pakai logika jika jatuh cinta! Cinta bersemi otak pun tumpul Tak paham kah mereka? Patah-patah hatiku dibuatnya kini Kenangan manis tertinggal di ingatan Janji tinggallah janji Si bujang lapuk, menyublim bersama hatinya yang rapuh         “Wah … ini, sih, keren banget puisinya! Oh, ya, ada nama penulisnya, nih. Inisialnya … uhhh … hmmm … sebentar, ya! Inisialnya … mister AR, FK!”     Aku terdiam beberapa saat, jantungku terasa berhenti, napasku terhenti, mulutku terkunci, pikiranku mencari. Apa telingaku tak salah dengar? Aih … beginikah rasanya jatuh hati? ***     Aku masih sibuk berlatih paduan suara, hampir setiap hari, mulai pukul 4 sore hingga pukul 7 malam. Tinggal seminggu lagi timku akan tampil dalam acara wisuda, dan aku belum sempat mencari kebaya untuk dipakai nanti.     Hari itu hari Minggu, aku menghabiskan hari liburku dengan membantu kakek di kebun belakang rumah kami. Kakek dan nenek juga mengajakku pergi untuk makan malam di Restoran Remboelan yang berada di dalam sebuah mall. Kakek memang sangat senang sekali berjalan-jalan ke sana. Di akhir pekan, penduduk ibu kota senang sekali mengunjungi pusat perbelanjaan, pengunjung selalu membludak, mall penuh, parkiran penuh.     “Mar, apa kau yakin tak perlu membeli kebaya baru untuk kaupakai di acara hari Sabtu nanti?” Nenek bertanya padaku saat perjalanan pulang.     “Tak usahlah, Nek. Akan kupakai yang kupunya. Tak baik hanya menghambur-hamburkan uang.”     “Tapi, apa kau sudah tahu akan pakai kebaya yang mana?”     “Belum, Nek. Nantilah.”     “Kau ini … kalau begitu biar nenek nanti yang akan carikan untukmu.”     “Baiklah, aku menurut saja, Nek.”     Di dalam mobil saat perjalanan pulang, nenek terlihat sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang dipikirkannya, aku juga tak tahu.     Sesampainya di rumah, aku lekas mandi, dan berganti pakaian. Dari dalam kamarnya, aku mendengar nenek memanggil-manggil namaku.     “Mar … Mar … Marlin … ke sini kau, Nak!”     “Iya, Nek. Sebentar!”     Aku segera berjalan keluar kamarku menuju kamar nenek. Kuketuk pintu kamarnya pelan-pelan.     “Nek ….”     “Masuk saja, Nak!”     Kubuka pintu kamar itu. Kulihat tangan kanannya menggenggam sebuah kebaya berwarna kuning emas. Tampak cantik, dengan banyak payet dibagian d**a dan lengannya.     “Cucuku, kemarilah! Lihatlah ini, kebaya peninggalan ibumu, sangat cantik, bukan?”     “Tentu, Nek. Cantik sekali!” Kupegang bagian lengan kebaya itu.     “Coba, kaupakai ya, Nak! Kau akan pakai ini di acara hari Sabtu nanti, agar kau makin cantik. Kau tahu tentang sejarah kebaya ini?”     “Uhhh … hmmm … tak tahu, Nek.”     “Kebaya peninggalan dari ibundamu ini, adalah kebaya yang ia pakai di hari pernikahannya dengan ayahandamu. Kau pasti akan sangat bangga bila memakainya!” Kulihat mata nenek mulai berkaca-kaca.     Kubuka kancingnya satu demi satu, kukenakan kebaya itu. Bercermin aku di depan mata nenek yang mulai basah.     “Cantiknya kau cucuku, Marlinda binti Saifudin.” Nenek berkata sambil memeluk tubuhku erat. Terasa ada kehangatan, kerinduan, dan segenap kepiluan menyergap batinnya.     Air matanya mengalir rintik-rintik, kemudian mulai gerimis, kemudian menjadi deras. Air mata kerinduan dari seorang ibunda yang ditinggal mati anak perempuannya tepat di hari ulang tahunnya. Hampir sepuluh tahun lalu.     Ibunda, aku juga rindu padamu! ***       Aku diantarkan kakek untuk pergi ke acara wisuda kampusku, yang diadakan di gedung Jakarta Convention Center. Acara akan dimulai pada pukul 7 pagi hingga pukul 2 siang. Karena aku di sana hanya bertugas sebagai biduanita alias paduan suara, maka aku hanya akan tinggal di sana setelah acara bernyanyiku selesai.     Aku tiba di gedung pukul 06.30, ternyata di sana sudah banyak para wisudawan yang telah hadir. Mereka terdiri dari berbagai jurusan, dan warna tali pada topi toga yang mereka kenakan menandakan dari fakultas mana mereka berasal. Wisudawan laki-laki mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana bahan berwarna hitam, dan sepatu pantofel hitam yang mengkilat. Sedangkan para wisudawati mengenakan kebaya modern, bawahan kain batik, dan kebanyakan dari mereka memakai high heels, tak lupa pula mereka mengenakan beragam model sanggul yang cukup menyita kepala.     Sejauh mataku memandang, terlihat tak ada yang aneh pada para wisudawan yang hadir. Saat acara hampir dimulai, mereka bergegas mengenakan pakaian wisudanya. Mereka mengenakan jubah hitam yang menutupi bagian tubuh mereka sampi lutut, terdapat kalung yang terbuat dari kain di dadanya, dan lengkap dengan topi toga. Mereka masuk ke dalam ruangan acara satu per satu. Jika dihitung, mungkin jumlah mereka hampir empat ribu orang.     Kampusku memiliki sekitar sembilan fakultas, dan yang mengikuti wisuda di hari itu tak hanya program pedidikan strata 1, tapi juga ada beberapa wisudawan strata 2.     Acara dibuka dan dimulai oleh seorang pemandu acara, laki-laki tegap berumur sekitar 40 tahun, mengenakan jas hitam yang rapih, dan dengan suaranya yang bulat dan lantang segera mempersilahkan pak rektor untuk memberikan kata sambutan.     “Dan … saya persilahkan kepada Bapak Rektor yang terhormat, Dr. Tobi, SH., SE., S.Si., ST., M.Ak., MM., untuk memberikan kata sambutan bagi para wisudawan dan wisudawati. Kepada yang terhormat, saya persilahkan!”     Tepuk tangan bergema dalam ruangan. Baru tahu aku ada orang yang memiliki gelar pendidikan hingga berderet-deret, apa tak panas otaknya seumur hidup hanya diisi untuk sekolah terus menerus. Entahlah.     Setelah beberapa kata sambutan selesai dibawakan oleh pak rektor, para dosen, serta jajarannya lengkap tanpa absen, maka kini giliranku dan kawan-kawanku dari tim paduan suara untuk tampil di muka, bernyanyi dengan semangat di atas panggung.     Suara sopranku dapat kuatur dengan baik, begitu juga dengan kawanku yang lain. Kami menyanyikan lagu Mars Universitas Reformasi dengan sempurna. Tak hanya itu, kami juga menyanyikan beberapa lagu kebangsaan: Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Indonesia Pusaka, Halo-halo Bandung, Rayuan Pulau Kelapa, Ibu Kita Kartini, Berkibarlah benderaku, Syukur, Garuda Pancasila, Gubahanku, Sepasang Mata Bola. Aih .. banyak kali rupanya, macam upacara bendera 17 Agustus di Istana Negara.     Selepas tim paduan suara bernyanyi, sorak sorai dan tepuk tangan menggema dalam ruangan. Bangganya aku ditepuki oleh para wisudawan, wisudawati, lengkap dengan para tamu undangan lainnya.     Pemandu acara mulai membacakan satu persatu nama para wisudawan yang akan maju ke atas panggung, untuk bersalaman dengan pak rektor, bu dosen, dan pak dosen. Kemudian disampirkan tali pada topi toga dari arah kiri ke kanan, sebagai tanda bahwa wisudawan sudah lulus, sudah mampu menggunakan ilmunya untuk bekerja dan terjun ke masyarakat luas.     Ada salah satu jurusan yang cukup menyita perhatianku. Salah seorang dari mereka membawa sebuah tiang kayu, lengkap dengan bendera yang berkibar berwarna biru laut, dan terdapat lambang universitas kami ditengahnya. Mereka menyanyikan yel-yel jurusan mereka dengan begitu semangat, kemudian mereka berhamburan ke muka panggung, berbaris dengan rapih, dan siap untuk dipanggil satu persatu untuk diwisuda.     Setelahnya, acara berhenti sejenak. Disela-sela istirahat ada sebuah hiburan, aku menanti-nanti hiburan macam apa yang akan dibawakan.     “Inilah dia, sebuah pembacaan puisi dari salah seorang mahasiswa fakultas kedokteran gigi. Mari, kita persilahkan untuk naik ke atas panggung … Arian Ridwan!”     Semula posisi dudukku nyaman, santai, relax, tenang, tapi begitu kutatap ke arah panggung, dan kulihat siapa laki-laki yang naik ke atasnya, seketika perutku menjadi mulas tak karuan.     Kalian pasti bertanya-tanya siapa laki-laki yang naik ke atas panggung. Tak lain dan tak bukan ia adalah laki-laki bongsor, berambut hitam potongan model Tintin, yang tak tahu adat itu, yang tempo hari bertengkar denganku di parkiran bawah tanah. Iya, itu dia. Ingin tahu aku puisi macam apa yang bisa dia buat.     Kupasang telingaku baik-baik, melotot mataku melihat betapa angkuhnya dia naik ke atas panggung. Banyak gaya betul!   “Surat Cinta Terakhir Surat cinta paling terakhir Tiada lagi setelahnya Seringnya kupikir ini cinta tiada akhir Nyatanya semua malah berakhir Andai boleh jujur Tak tahunya lagi aku cara jatuh cinta Bertahun lalu kujatuh cinta Benar jatuh aku─”       Belum selesai kudengar puisi yang ia baca, tiba-tiba lututku lemas, mataku berkunang-kunang, pening kepalaku, kesal kurasa. Kuyakinkan diriku bahwa aku pasti sedang bermimpi. Pasti! Tak mau aku terima kenyataan bahwa pujangga yang kupuja puji selama ini, yang selalu ada dalam pikiranku, Mister AR, ternyata tak lebih hanyalah seorang bujang berambut Tintin yang minus akhlak dan kelakuan. Hancur berkeping-keping harapanku dibuatnya. Sakit hatiku.     Handphone-ku berdering, ternyata kakek mengabari bahwa ia telah tiba di lobi gedung. Tanpa berlama-lama, aku segera beranjak dari kursi. Pemandu acara masih berbicara, entah apa yang ia bicarakan, aku sudah tak mau dengar, dan tak peduli.     “Mari, kita panggilkan, wisudawan paling berprestasi tahun ini. Saya persilahkan kepada Radit Ramadhan, S.Ked., untuk naik ke atas panggung!”     Sungguh aku tak mau dengar lagi basa-basi di acara itu. Aku bergegas berjalan ke arah pintu keluar, kemudian mencari di mana letak pintu lift. Kutengok ke sebelah kiri, ternyata sepi tak ada orang, aku lekas masuk ke dalam lift, memencet tombol G, pintu mulai tertutup perlahan dan lift bergerak turun ke bawah.     Tak lama pintu lift terbuka, dan aku keluar berjalan menuju lobi. Kupercepat langkahku, dan … kreeek … aku mendengar sebuah suara sobekan kain, aku terdiam mematung, berpikir sejenak, lalu kucari dari mana arah datangnya suara itu.     Kutengok kebaya yang kupakai dari atas sampai bawah, tak ada yang terkoyak, kemudian aku diam lagi, berpikir. Seorang anak kecil berumur sekitar enam tahun tersenyum, lalu tertawa kecil, melihat ke arah pakaianku dari atas sampai bawah sambil menunjuk-nunjuk dengan jari jemari kecilnya, kemudia aku diam lagi, mematung lagi, berpikir lagi.     Kulihat ke bagian bawah pakaianku, aih … tercabik rupanya kain batikku di samping kiri, tampak sebagian betisku hingga paha, malunya aku. Kulihat dari balik pintu kaca mobil kakek sudah tiba di muka lobi, kuperlambat jalanku, pelan perlahan, macam Putri Solo. Lekas kuhampiri mobil kakek, kubuka pintu, terduduk aku di jok depan sebelah kakek sambil menunduk.     “Marlin, cucuku … kenapa kau, Nak?”            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN