Pagi itu ayahanda sudah membangunkanku pukul 6 pagi. Beliau masuk ke dalam kamarku, dan mengguncangkan tubuhku yang tengah tertidur lelap. Aku bangun terkaget-kaget, padahal belum kelar mimpiku pagi itu. Indah nian mimpinya. Aku bersepeda berkeliling komplek Masjid Raya Baiturrahman bersama kawan-kawan.
“Iya … ayo … main … lagi … ya ….”
“Nak, ayo bangun. Sudah jam 6 pagi, kita mau lari pagi, kan?”
“Nggak mau pulang … mau main sepeda lagi .…”
“Marlin … bangun sayang. Mengigau kau rupanya, hah?” Ayahanda mulai mengguncangkan tubuhku, dan tak lama aku pun terbangun.
“Ayo Marlin, bangunlah, Nak! Lekas kau mandi, kita akan lari pagi bersama ibumu ke gelanggang olahraga.”
“Iya, ayah … iya, iya, iya ….” Tak tahan aku mendengar ayahanda mulai merepet, bergegas aku masuk ke kamar mandi dengan langkah yang gontai.
Kubasuh tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Brrr…! Dingin sekali airnya, macam air dari kaki gunung. Mataku yang semula masih buka tutup karena tak puas tidur, kini terbuka lebar. Segar bukan main mandiku pagi itu.
Selepas mandi kupilah pilih baju olahraga mana yang paling cantik, tanganku meraih setelan baju training berwarna merah muda. Aih … warna kesukaanku!
“Marlin, sudah siapkah kau, Nak? Sudah jam berapa ini!?” Ibunda berteriak di muka pintu kamarku. Lekas aku keluar kamar menuju meja makan.
Aku, ayahanda, dan ibunda sarapan bersama di meja makan dalam waktu singkat. Tak lama, ayahanda berjalan menuju garasi, dan menyalakan mesin mobil. Kemudian, aku dan ibunda menyusul ke dalam mobil. Kami sekeluarga siap berangkat menuju gelanggang olahraga yang berlokasi tak jauh dari tempat tinggalku.
Kutengok kanan kiri selama perjalanan, banyak pula orang yang sedang jogging meski hanya di sekitar komplek perumahan. Dalam waktu tak lebih dari 15 menit, mobil kami sudah tiba di tempat tujuan. Aku dan ibunda keluar terlebih dulu dari dalam mobil, sementara ayahanda tengah mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobilnya.
“Ayo kita … let’s go!” Ayahanda dengan semangat mulai memimpin kami untuk berlari pagi. Kami memulai perjalanan dari parkiran, melewati lapangan sepak bola, melewati lapangan bulu tangkis, melewati lapangan basket, melewati jogging track, melewati taman, hingga perlintasan terakhir kami yaitu pedagang makanan kaki lima.
“Udah … dulu … larinya … ayah … laper …!” Ayahanda berkata dengan terputus-putus dan napasnya yang tersengal.
Kami bertiga duduk di salah satu lapak penjual mie ayam. Gerobaknya berwarna cokelat, meja dan kursi di situ semuanya berwarna serba cokelat, pakaian penjualnya, celananya, hingga topinya pun nyaris seragam berwarna cokelat pula.
Ayahanda menyantap mie ayam dengan lahap, tak tanggung-tanggung 2 porsi sekaligus beliau makan. Mie ayamnya terbilang cukup enak untuk ukuran kaki lima. Tekstur mienya lebih kecil, pipih, dan lengket. Kuahnya sedikit, cukup kental, dan berminyak, namun sangat gurih.
“Ayah, sudah jam setengah 11, nih! Kapan kita pulang?” Ibunda mulai bertanya, pertanda sudah waktunya kembali ke rumah.
Ayahanda segera membayar semua pesanan kami, lalu berjalan menuju parkiran.
Selama di perjalanan pulang, ayahanda berhenti beberapa kali di toko penjual sepeda. Beliau turun sendiri dari dalam mobil, melihat-lihat semua sepeda yang berada di toko itu, berbincang dengan penjaga toko, kemudian masuk lagi dalam mobil, begitu seterusnya hingga toko yang kelima.
“Ayah mau beli sepeda baru, ya?” Aku penasaran dan bertanya pada ayahanda yang tengah mengemudi mobil.
“Kamu kepo, ya! Ada, deh … mau tau aja kamu.”
“Ih, kok ayah mulai rahasia-rahasiaan, sih, sama aku?” Aku cemberut, namun ayahanda makin menggodaku.
“Ayah, aku kan sebentar lagi ulang tahun, aku minta dibeliin sepeda, dong! Kayak punyanya Mas Rama. Biar aku nggak dibocengin terus. Aku kan malu, Yah!” Aku memelas, tapi ayahanda malah diam seribu bahasa.
Sebenarnya aku sudah punya sepeda sebelumnya, namun karena sudah terlalu tua, sepeda itu sering rusak, yang berujung dengan memberikannya secara cuma-cuma pada penjual barang bekas.
***
“Kriiing … kriiing … kriiing ….” Telepon rumahku berbunyi, terdengar suara ibunda mengangkat gagang telepon.
“Marlin …! Kakek mau bicara, nih ….” Ibunda memanggilku. Aku bergegas keluar kamar menuju ruang tamu.
“Halo … Assalamu’alaikum! Kakek … Nenek ke mana? Aku sehat, Kek. Kakek dan Nenek sehat juga?” Seperti biasanya, seminggu dua kali memang jadwal kakek meneleponku, menanyakan kabarku, dan berbincang cukup lama denganku. Kakek dan Nenek memang sangat dekat denganku, mereka sering menanyakan bagaimana sekolahku, bagaimana kawan-kawanku, dan lain-lainnya. Tetapi hari itu berbeda, hari itu adalah hari ulang tahunku. Kakek dan nenek mengucapkan selamat ulang tahun untukku yang ketujuh, lalu berjanji akan memberikan hadiah sepeda baru jika aku rajin mengaji.
“Aku udah pinter, kok, Kek, ngajinya! Serius, deh … aku nggak pernah bolos. Pak Ustadz Rahmat juga bilang kalau aku ngajinya udah jago. Beneran, deh …. Jadi kapan, Kek, sepeda barunya dikirim dari Jakarta?”
Sebagai anak tunggal dan cucu tunggal saat itu, tentu kakek dan nenek teramat sayang padaku. Dan sebagai anak kecil yang belum paham banyak hal, tentu diberikan hadiah ulang tahun sepeda baru adalah hal yang amat dinanti-nanti.
“Hore …! Beneran ya, Kek? Aku tunggu, ya. Dadah, Kakek …!” Aku meletakkan gagang telepon dengan hati yang berbunga. Langkahku semangat, terhitung delapan hari lagi dari sekarang sepeda pemberian dari kakek akan tiba di rumahku.
***
“Marlinda … kring … kring …!” Aku mengintip dari balik jendela, ternyata Mas Rama sudah berada di muka rumahku, dan mengajakku untuk berangkat ke sekolah bersama.
“Tunggu sebentar …!” Aku segera bergegas keluar rumah, setelah sebelumnya mencium punggung tangan ibundaku dan berpamitan terlebih dahulu.
“Mas Rama … kan sebentar lagi aku bakal punya sepeda baru, tau!” Aku berkata saat diboncengi olehnya.
“Oh, ya? Sebentar lagi kita akan main sepeda bareng lagi, dong!” Ia tertawa kecil.
Aku dan Mas Rama bersekolah di sekolah islam terpadu milik swasta. Di sekolah kami terdapat pendidikan untuk Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Jadi kami masih satu sekolah, meski saat itu aku masih SD dan dia sudah SMP.
Sesampainya di sekolah, aku segera berjalan menuju kelas. Kutengok Ibunda Guru Atikah tengah mempersilahkan ketua kelas untuk memimpin barisan di muka kelas. Segera aku merapatkan barisan dan berdiri di belakang kawanku. Kami semua masuk ke dalam kelas satu persatu secara teratur.
Ibunda Guru Atikah membuka kelas pagi itu, dan memulainya dengan pelajaran matematika. Pelajaran dimulai dengan menghitung perkalian, pembagian, dan bilangan pecahan.
“Siapa yang tau jawabannya, silahkan maju ke muka kelas!”
Tak ada yang berkutik, semua murid diam seribu bahasa, sunyi senyap, detak jarum jam terdengar jelas. Aku dengan gagah berani bersiap maju ke muka kelas, hendak menjawab pertanyaan perkalian di papan tulis dari ibunda guru.
“Aih … Marlinda! Ayo maju, Nak. Beri tahu kawan-kawanmu jawabannya.”
Kuraih spidol hitam dari genggaman ibunda guru, hendak kutorehkan jawaban di papan tulis putih atas pertanyaan 300x5= …. Kutulis dengan yakin angka 1, kemudia titik, kemudian angka 5, kemudian angka 0, disambut angka 0 lagi berikutnya.
“Aih … 1.500! Jawaban yang tepat Marlin. Pandai kau!” Ibunda guru memujiku, disambut dengan tepuk tangan dari kawan-kawan sekelas. Senang hatiku, tak sia-sia kubawa kalkulator kerja milik ayahku tanpa sepengetahuannya.
Tepuk tangan makin bergemuruh, kurasa kepalaku mulai pusing, sempoyongan, langkahku jadi gontai, pelan-pelan aku berjalan menuju tempat dudukku.
“Anak-anak, semua keluar kelas, SEKARANG …!” Ibunda Guru Atikah memberi instruksi. Kami semua berhamburan ke lapangan dengan panik.
Di tengah lapangan sudah ramai, penuh sesak, semua guru, semua siswa siswi, kepala sekolah, penjaga sekolah, semuanya sudah lengkap di sana. Langit terlihat sedikit mendung.
“Anak-anakku, guru-guru, dan semuanya. Saya harap semuanya bisa tenang, ya! Seperti biasa ada gempa, kita harus tenang dan jangan panik!” Kepala sekolah kami, Drs. Moh. Haikal, memberikan aba-aba dan berbicara melalui pengeras suara. Beliau berusaha menenangkan kami. Maklumlah, tempat tinggal kami yang berlokasi di ujung Pulau Sumatera, memang cukup sering mengalami guncangan akibat gempa bumi. Tetapi memang dua minggu belakangan ini gempa cukup sering kami rasakan, tak biasanya, apalagi guncangannya cukup keras.
Setelah kelas usai, Mas Rama menghampiriku dan mengajakku pulang bersama, setelah sebelumnya aku menangis di dalam kelas karena ibundaku tak kunjung menjemput.
“Marlin, nanti sepedamu warna apa?” Ia bertanya saat kami dalam perjalanan pulang.
“Uhhh … hmmm … belum tau.”
“Apa nanti kakekmu bertandang ke sini lagi?”
“Katanya, setelah tanggal 26 Desember kakek akan datang ke Banda Aceh naik pesawat.” Aku masih ingat dengan janji kakek di ujung telepon tempo hari.
“Asiiik … nanti kita bisa main sama kakek lagi!”
“Iya, Mas. Nanti kita main sama kakek. Makanya, Mas jangan ke mana-mana dulu, ya!”
Itulah perjanjian kami siang itu selepas pulang sekolah, akan bermain bersama kakekku setelah tanggal 26 Desember 2004.