“Kriiing … kriiing … kriiing …!” Aku segera keluar kamar dan menuju ruang tamu.
“Assalamu’alaikum … ini siapa? Halo? Ini Kakek, bukan?” Tak ada suara di ujung telepon. Aku kembali meletakkan gagang telepon pada tempatnya. Sudah sejak sepulang sekolah aku menunggu telepon dari kakek, aku sangat ingin berbicara dengannya. Sepeda Wim Cycle-ku sudah sampai, dan aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kakek atas pemberiannya.
“Marlin, sudahlah, Nak. Ayo makan siang dulu, setelah ini kau masih harus mengerjakan tugas dan tidur siang. Katamu nanti sore kauakan bersepeda, kan, bersama Mas Rama?” Ibunda sepertinya paham betul bahwa aku gelisah menunggu telepon dari kakek.
“Iya, Bu.” Langkahku gontai. Aku makan siang tak semangat. Aku merasa gelisah, dan sangat ingin berbicara dengan kakek di telepon.
“Bu, katanya kakek akan datang ke Banda Aceh setelah tanggal 26 Desember, ya?”
“Iya, Nak. Kakek pasti akan menepati janjinya untuk menjemputmu. Kau sangat ingin ke Jakarta, kan? Sudah, ayo habiskan dulu makananmu!” Mendengar kata Jakarta aku jadi semangat lagi. Kakek memang berjanji akan mengajakku liburan ke sana saat tahun baru nanti.
Aku segera menghabiskan makananku, masuk ke dalam kamar, mengerjakan tugas, dan tidur siang. Nanti sore, untuk pertama kalinya, aku akan berjalan-jalan dengan sepeda baruku!
***
Suara gemuruh ombak masih terngiang-ngiang di kepalaku. Suara orang-orang meminta tolong, suara klakson mobil, suara klakson motor, suara dentuman keras, suara besi-besi yang saling beradu, suara kayu-kayu yang terseret arus air yang maha dasyat, semuanya merupakan mimpi buruk bagiku.
Aku terbangun saat adzan subuh mulai berkumandang melalui pengeras suara. Kutengok kanan kiri, kagetnya aku, beragam manusia dengan keadaan tubuh yang penuh luka memar dan berdarah tengah tertidur pulas di ruangan tempatku terjaga saat itu.
Aku di mana? Apa yang tengah terjadi? Sungguh, aku tak ingat apapun. Aku berusaha mengubah posisi tidurku, tetapi aku merasakan betis kiriku agak sakit. Kubuka selimutku, kulihat betisku memar, kaki kananku terdapat luka goresan yang cukup panjang. Kuperhatikan tangan kanan dan kiriku, penuh memar di mana-mana. Aku merasa tubuhku lemas, kemudian aku tertidur lagi.
“Dek, bangun … sudah pagi … ayo, makan dulu.” Seorang wanita muda berpakaian serba putih persis seperti perawat rumah sakit, tengah membangunkanku pagi itu. Terdengar dari logat bicaranya sepertinya ia bukan berasal dari daerah sini.
Ia memberikanku sarapan, kemudian memberikanku beberapa butir obat. Kutengok ada banyak laki-laki berpakaian seperti tentara tengah berlalu lalang. Banyak pula orang-orang berpakaian kemeja rapih dengan name tag yang dikalungkan, tengah bicara menggunakan mikrofon sambil melihat ke arah kamera.
“Selamat pagi, Pemirsa! Saya Teguh Atmoko, ingin memberikan informasi mengenai perkembangan situasi terkini setelah terjadinya tsunami kemarin sore di Aceh. Untuk itu, saya beserta para rekan di sini─”
Selanjutnya aku tak mendengar lagi apa yang reporter itu sampaikan. Dan aku berpikir, terus berpikir, apa iya kemarin sore telah terjadi tsunami? Apa aku tak salah dengar?
Aku mulai mengingat-ingat apa yang telah aku alami kemarin sore. Mulai dari berangkat sekolah, menangis di kelas sebab ibunda tak menjemput, pulang sekolah bersama Mas Rama, membeli permen lolipop di Toko Kelontong Murah Meriah, makan siang, tidur siang, berjalan-jalan sore menggunaka sepeda baru ke Pantai Ulee Lheue, makan gulali kapas, dan ….
Aku tersentak akan teringat sesuatu. Ibunda, ayahanda, Mas Rama, di mana kalian?
“Dek, nama kamu siapa? Kamu ingat namamu?” Seorang perawat mendekatiku. Aku terdiam, bingung, seketika air mataku jatuh. Sebagai anak perempuan yang saat itu baru berusia 7 tahun, aku tak tahu apa yang harus kuperbuat.
“Ibu sama Ayah aku di mana, Kak?” Aku betanya sambil menangis. Perawat itu terlihat panik. Ia mengusap air mataku dengan selembar tisu, kemudian menenangkanku.
Aku dibawa kembali masuk ke dalam sebuah ruangan besar, dan dibaringkan kembali ke tempat tidur untuk beristirahat. Aku sangat takut. Apa ayahanda dan ibundaku masih ada? Di mana mereka?
Malam itu hujan turun cukup deras, petir saling menyambar. Aku ketakutan, dan aku sendirian. Kemudian tak terasa aku mulai tertidur. Pulas.
***
Kakek Hasan dan Nenek Maryam sangat panik melihat berita di televisi malam itu. Beliau berusaha menghubungi kawan-kawannya yang berada di Banda Aceh, namun semua sia-sia. Tak ada jaringan telepon untuk tersambung ke sana. Listrik di sana pun mati. Bahkan kakek mengambil tindakan untuk menelepon ke salah satu kantor berita televisi, namun hasilnya nihil. Belum ada yang bisa mengakses ke sana.
“Bang, mengajilah dulu. Biar tenang hati kita.” Nenek berusaha membujuk kakek.
“Tak mungkin bisa hatiku tenang, sementara anak dan cucuku tak tau di mana rimbanya!” Kakek hampir meninggikan suaranya. Tapi kemudian air matanya bercucuran, tak tahan ia menahan hatinya yang penuh sesak. Nenek ikut menangis.
Kemudian mereka mengaji bersama, dan berdoa. Berharap cemas pada Illahi, semoga anak-anak serta cucunya bisa selamat dan sehat.
Pukul 9 pagi kakek pergi keluar rumah, mau mencari kabar katanya. Entah kabar apa yang dimaksud. Nenek menunggu di rumah bersama seorang asisten rumah tangga.
“Nek … koran …!” Seorang penjual koran langganan kakek hendak mengantarkan Koran itu ke rumah, yang kemudia ia selipkan di sela pagar.
“Biar saya aja yang ambil korannya, Bu.” Asisten rumah nenek bergegas keluar dan mengambil koran itu.
“Ini, Bu, korannya.”
“Iya, terima kasih, Mbak!” Nenek meraihnya, dan meletakkannya begitu saja di bawah rak meja.
Kemudian nenek melanjutkan menonton berita, dan menghabiskan sarapannya.
“Selamat pagi, Pemirsa! Saya Teguh Atmoko, ingin memberikan informasi mengenai perkembangan situasi terkini setelah terjadinya tsunami kemarin sore di Aceh. Untuk itu, saya beserta para rekan di sini akan mewawancarai salah seorang dokter yang sedang bertugas di rumah sakit ini.”
Nenek mengambil remot dan menaikkan volume suara, mendengarkannya dengan seksama, dan kemudian terdengar suara pagar dibuka. Ternyata kakek sudah pulang, dan membawa beberapa jajanan pasar.
“Aku belum sarapan, jadi tadi aku berhenti sebentar dan membeli beberapa makanan kecil, lalu kubungkus juga untuk di rumah.” Terlihat keadaan hati kakek mulai membaik.
“Tadi aku mendengar berita di televisi, katanya 3 hari ke depan pemerintah akan mulai memberikan fasilitas Pesawat Hecules untuk para korban atau keluarga korban tsunami yang ingin terbang dari Aceh ke Jakarta atau sebaliknya.”
“Maksudmu?”
“Iya, Bang. Jadi, kalaulah tak kunjung ada kabar dari anak kita, sebagai pihak keluarga korban tsunami bolehlah kita terbang ke Aceh dengan menumpang Pesawat Hercules!” Nenek menjelaskan dengan penuh semangat.
“Baiklah, akan kucari tau terlebih dulu.” Kakek terlihat sedikit berpikir.
Beliau merebahkan tubuhnya di atas kasur, ingin istirahat sebentar katanya. Dilihatnya koran terbaru hari itu. Seketika matanya terbelalak, darah dalam tubuh terasa mengalir, jantungnya berdegup kencang.
“Aih … tak salahkah yang kulihat ini!?” Suara kakek terdengar hingga ke ruang makan, nenek segera menghampirinya.
“Ada apa, Bang? Kenapa kauberteriak begitu?”
“Ini, lihatlah! Lihatlah apa yang kupegang ini!”
“Itu …! Itu …!” Nenek berbicara sambil mendekap mulutnya sendiri. Air matanya jatuh, napasnya tersengal.
“Dek … Dek Maryam! Kenapa kau?”
Nenek pingsan di atas kasur, kakek pun panik. Tubuhnya terasa makin lemas, dadanya makin sesak, air matanya tak mampu ia tahan lagi.
“Cobaan macam apa ini, Ya Allah ….” Kakek berkata dengan suaranya yang parau.
***
Pukul 3 dini hari, kakek sudah bersiap untuk menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Beliau pergi dengan menaiki taksi, seorang diri. Salah seorang kawan kakek yang merupakan anggota TNI Angkatan Darat, memberikan fasilitas Pesawat Hercules pada kakek, untuk terbang ke Aceh.
Sesampainya di Bandara Halim, sudah nampak ramai oleh orang-orang yang juga ingin terbang menuju Banda Aceh, padahal masih pukul 4 pagi. Mereka juga merupakan keluarga korban tsunami yang ingin menjemput sanak saudaranya.
Orang-orang di sana hanya terdiam, menunduk, melamun, dengan pandangan mata lurus ke depan, terlihat sedih wajahnya, pilu hatinya, remuk redam.
“Selamat pagi, semuanya! Di sini saya selaku anggota TNI Angkatan Udara, hanya ingin mengucapkan turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya, atas apa yang telah terjadi─”
Kakek tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh tentara itu. Beliau merasa gelisah, tak sabar ingin segera sampai di Banda Aceh. Sesekali beliau menyeruput kopi panas miliknya yang telah ia persiapkan sendiri di rumah, sembari memakan roti dengan selai cokelat di dalamnya.
Pukul setengah 5 pagi, Pesawat Hercules telah siap lepas landas dari Bandara Halim menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Perjalanan kurang lebih memakan waktu selama 3 jam 55 menit. Selama di dalam pesawat, hanya dzikir, sholawat, serta iringan doa yang dapat kakek lantunkan dalam hati, untuk mengusir rasa gelisahnya, rasa sepinya, rasa sedihnya.
Sesampainya kakek di Bandara Sultan Iskandar Muda, beliau telah di jemput oleh kawannya yang tengah bertugas di rumah sakit tempat Marlinda dirawat. Berpelukan ia dengan kawan lamanya itu, teman sebangku saat masih bersekolah sewaktu SMA.
“Hasan … bagaimana kabarmu? Masya Allah …!”
“Benny, Alhamdulillah aku sehat! Bagaimana kabar anak dan istrimu?”
“Alhamdulillah, mereka semua juga sehat. Mari, langsung saja kita menuju mobilku!”
Kawan kakek sungguh sangat baik hati. Di tengah kesibukannya bertugas, ia masih mau membantu dan menjemput kakek hingga ke bandara.
***
Pagi itu seorang perawat membantuku untuk membereskan barang-barangku, dan memasukkannya ke dalam sebuah tas yang telah diberikan oleh seorang dokter kepadaku. Sungguh baik hati sekali dokter muda itu, Rania namanya. Ia rela memberikan tas miliknya padaku, “ini untukmu, Marlin! Anggap saja kenang-kenangan dariku.” Begitu katanya.
Aku menengok ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang. Aku diam termenung seorang diri. Setelah kuhabiskan sarapanku, aku terduduk di koridor rumah sakit. Kata seorang anggota TNI, kakekku akan menjemputku hari ini.
“Hai, Marlin! Kenapa kau duduk sendirian?” Dokter Rania menghampiriku sambil tersenyum.
“Aku lagi nunggu kakek, Dok.” Aku menunduk.
“Oh, ya? Wah, dokter senang mendengarnya. Jadi kamu akan pindah ke Jakarta, dong?”
“Iya, Dok.”
“Kamu kenapa lesu begitu, Marlin? Dokter juga tinggal di Jakarta, loh. Nanti kita bisa ketemu lagi.” Dokter Rania terlihat berusaha menghiburku. Tak ingin usahanya merasa sia-sia, aku pun berusaha tersenyum lebar semampuku.
“Nah, begitu, dong! Marlin kalau senyum jadi makin cantik. Nanti kalau kakek udah─”
“Kakek …!” Aku melihat seorang lelaki paruh baya, dengan mengenakan topi hitam dan pakaian seadanya, menoleh ke arahku begitu aku memanggilnya. Dialah Kakek Hasan. Hanya beliau yang kupunya saat ini.
Kupeluk kakek erat-erat, basah jaketnya oleh air mataku.
“Marlin sayang … sudah ya, Nak. Kakek di sini sekarang. Sudah ada kakek, ya.” Kakek memelukku tak kalah erat. Suaranya parau, pasti beliau menahan sesak dan air mata terlalu lama selama di pesawat tadi.
“Aku menemukannya di sudut sebuah warung, ia tertimpa oleh sebuah sepeda. Aku yang membawanya ke mari. Begitu kau meneleponku, dan kau sebutkan siapa nama cucumu serta ciri-cirinya, aku langsung bertanya pada anak ini siapa namanya. Dan aku langsung yakin, kemungkinan besar ia adalah cucumu.” Pak Benny, kawan kakek, bercerita pada kakek perihal apa yang terjadi padaku.
“Sekali lagi kuucapkan banyak-banyak terima kasih padamu, Benny!”
“Tak usah berlebihan, Hasan. Ini perkara mudah.”
Pak Benny mengantar aku dan kakek ke Bandara Sultan Iskandar Muda. Dari sana kami langsung terbang kembali menuju Jakarta dengan menaiki Pesawat Hercules.
Selama di perjalanan, aku tak bertanya apapun pada kakek. Aku tak berani menambah beban dan pilu di hatinya.
***
“Nenek …! Aku kangen sama nenek ….” Sore itu aku dan kakek menjemput nenek di rumah sakit untuk pulang ke rumah. Nenek terkejut dan syok setelah melihat gambar di koran tempo hari. Pada gambar itu terlihat wajah ayahandaku yang seluruh bagian tubuhnya tengah ditutupi oleh koran. Iya, ayahandaku telah tiada. Jika dilihat dari lokasi di mana mayatnya ditemukan, sepertinya saat itu beliau hendak dalam perjalanan pulang dari kantor. Dan ibundaku, jasadnya juga telah ditemukan terbujur kaku, tertimpa atap rumah. Kini, aku hanya seorang yatim piatu, saat umurku genap 7 tahun lebih sepuluh hari.
Aku tinggal bersama kakek dan nenek di Jakarta. Merekalah pengganti orang tuaku. Mereka yang mendidikku, menyekolahkanku, memberikanku makan, memberikanku kasih sayang dengan sepenuh hati.
“Marlin …! Bangun, Nak. Ayo sekolah.” Nenek Maryam membangunkanku. Aku segera bergegas ke kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamaku ke sekolah. Sekolah baruku tak terlalu jauh sebenarnya dari rumah, tapi kakek ngotot ingin mengantarku dengan mobil.
“Sudah siap kau, Nak? Ini hari pertamamu bersekolah. Kau harus semangat, ya!”
“Tentu, Kek!” Aku segera masuk ke dalam mobil. Kami berdua berdendang bersama selama di perjalanan.
Begitu masuk ke pekarangan sekolah, aku melihat ada tanaman bunga melati. Aku jadi teringat akan sahabatku, Mas Rama.
“Ayo Marlin, masuk, Nak. Kawan-kawanmu sudah menunggu di kelas!” Kakek memergokiku yang tengah memandang bunga melati.
Aku masuk ke dalam kelas dengan tulisan angka romawi II C pada sebuah papan kecil di muka pintu. Ibunda guru mempersilahkanku untuk memperkenalkan diri.
“Nama saya … uhhh … hmmm … saya … nama saya Marlinda Aisyah, pindahan dari Aceh.” Seketika kelas menjadi ricuh. Ibunda guru mempersilahkan semua murid di kelas untuk berkenalan dan berjabat tangan langsung denganku.
Mereka maju satu persatu ke muka kelas, menjabat tanganku, dan menyebutkan nama mereka. Ada seorang anak lelaki berambut berantakan, dengan kemejanya yang tak pernah mau ia masukkan ke dalam celana. Ia melototiku dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian mengulurkan tangannya, menjabat tanganku, dan menyebutkan namanya.
“Aku Marlinda .…”
“Gue Arian!”