Jasminum Sambac

1602 Kata
    Hamparan rumput gajah yang hijau dan rapih terdapat di halaman rumah pemiliknya. Terdapat berbagai pohon-pohon yang tinggi, tegap, menjulang, akarnya kuat, berumur sekian puluh tahun, seolah ingin mencengkram langit. Daun-daunnya yang besar, kecil, hijau, menambah asri bila dipandang. Ranting-rantingnya, dahan-dahannya, menjadi tempat lepas landas dan mendarat bagi burung-burung kecil.     Tak hanya itu, berbagai tanaman hias juga tumbuh, mekar berseri, berwarna-warni, dalam pot besar-besar. Konon si pemilik rumah merupakan insinyur pertanian di Pulau Jawa sana. Lelaki asli Jawa Tengah itu kini tinggal bersama istri dan anaknya di Pulau Sumatera paling ujung, hijrah mereka mengadu nasib menjadi Pegawai Negeri Sipil.     Sang istri yang merupakan kawan lamanya saat berkuliah di pertanian dulu, juga seorang pecinta berbagai tanaman hias. Saat hamil, si istri pun mengidam tanaman hias. Hingga usia kandungan mencapai trimester ketiga, di tengah malam yang sepi dan basah oleh guyuran hujan, si istri merengek minta dibelikan tanaman bunga hias Jasminum sambac. Pontang-panting sang suami mencari ke sana ke mari, pening kepalanya bukan main.     Sesampainya sang suami di rumah, ternyata si istri sudah melahirkan. Dibantu oleh para tetangga yang juga dokter di puskesmas, lahirlah dua orang anak laki-laki kembar rupawan, kulitnya putih bersih, sehat-sehat, gemuk-gemuk.     Saat genap usia mereka 2 tahun lebih 3 hari, salah satu dari si kembar yang paling pendiam secara tiba-tiba badannya panas tinggi, kejang dia, suhu tubuhnya mencapai 38° celcius. Sang ayah panik, dibawanya si anak ke puskesmas, namun sayang sungguh disayang, dokter pun angkat tangan. Dengan sangat menyesal dokter harus berkata bahwa si anak telah tiada.     Kedukaan meliputi keluarga kecil mereka. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, mereka larut dalam lara. Saat sang ayah hendak menggendong si kembar yang masih hidup untuk pergi ke halaman rumah, tertawa ia dengan gembira, geli, senyumnya merekah, seindah bunga Jasminum sambac yang juga tengah merekah.     “Hai, Rama! Mengapa kau tertawa geli? Suka kau dengan si melati?” Sang ayah memetiknya untuk sang anak.     Sejak saat itu, kebahagiaan keluarga kecil mereka yang semula padam kini hidup kembali. Senyum mereka semakin hari semakin merekah, seiring pertumbuhan anak kembar mereka yang kini menjadi tunggal.     Sang ayah sering mengajak si anak pergi ke toko tanaman hias, dibelinya berbagai bunga-bunga yang indah dan berwarna-warni, senang hatinya. Kini hobi keluarga mereka seragam, sama, sealiran: berkebun bunga hias. ***       Wajah Rama terlihat merengut menatap Jasminum sambac kesayangannya mati. Entah apa sebab musababnya, tanaman itu layu, daun-daunnya kering, bunga-bunganya tak tumbuh lagi. Sedih hatinya.     “Sayang … kau kenapa, Nak?” Ibunya bertanya lembut.     “Melatiku mati, Bu.”     “Usah sedih, Rama. Masih banyak bunga-bunga yang lain di sini.”     “Aku sukanya melati, Bu.”     “Masih banyak yang lebih cantik dari sekedar melati, Nak.”     “Tak sama, Bu.” Air mata Rama mulai tergenang.     “Masih ada bunga mawar, Nak, berwarna-warni pula. Masih ada anggrek bulan, masih ada bunga matahari, masih ada─”     “Aku hanya mau melati, Bu!”     Berkeras ia hanya menginginkan bunga melati. Sedih hati ibunya, menjadi teringat akan saudara kembar Rama yang telah tiada.     Tak lama ayahnya datang, baru pulang dari kantor. Dari dalam mobil pick up miliknya, ia membawa satu buah pot besar berwarna merah bata. Diangkutnya sendiri, dibawanya pot itu di depan mata anak lelaki tercintanya.     Kaget Rama, tak menyangka apa yang dilihat di depannya kini. Berbinar-binar matanya, lebar sekali senyumnya, melebihi lebar pipinya hingga tak mampu berkata-kata.     “Rama, kenapa diam kau, Nak?” Sang ayah menepuk bahunya.     “Aih … melati ini untukku, Yah?”     “Bukan, Nak, ini untuk nenekmu.” Wajah Rama berubah kesal.     “Hehehe … lucu kali wajahmu, Rama! Tentu ini untuk dirimu, buah hatiku seorang!” Rupanya sang ayah menggodanya, menjadi cemberut wajahnya.     Rama memeluk erat sang ayah dan ibunya, tersenyum mereka, bahagia, sakinah, mawaddah, dan warahmah.     Tidur Rama malam itu nyenyak, pulas, nyaris tanpa gangguan, indah mimpinya, indah khayalannya.     Usut punya usut, ternyata kecintaan Rama terhadap bunga melati juga ada sebab musababnya. Jatuh cinta ia dengan salah seorang kawan sekolahnya. Gadis kecil itu selalu wangi, persis aroma bunga melati. Sering dipandanginya gadis kecil itu dari jauh, tak berani ia untuk mengutarakan perasaannya. Rama dibuat bingung oleh perasaannya sendiri, hanya mampu berbasa-basi ia dengan gadis kecil itu.     Entah sejak kapan Rama menyukainya, yang jelas, yang ia ingat, ia sempat tak bisa tidur berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, dikarenakan akan berpisah dengan gadis kecil itu. Saat Rama hendak lulus dari Sekolah Dasar, diadakan pesta perpisahan di sekolah, dipandanginya gadis pujaannya itu, tak mampu berkata-kata dia.     “Kamu mau lanjutin sekolah SMP di mana?” Secara mengejutkan gadis kecil itu memergoki Rama yang sedang memandanginya dari jauh.     “Oh … uhhh … hmmm … itu ….” Tergagap-gagap Rama menjawabnya.     “Itu …? Di mana?” Mata gadis kecil itu tajam seakan menyelidik maksud dari kata-kata Rama.     “Iya, itu …. Nanti kita pulang bareng, yuk!” Entah mengapa kata-kata macam itu yang meluncur dari mulutnya, lancar bukan main, sangat spontan.     Acara perpisahan pun berjalan lancar. Dimulai dengan kata-kata sambutan dari kepala sekolah, berbagai hiburan dari para siswa dan siswa kelas 1 hingga kelas 6, pembacaan puisi, nyanyian, tarian, bermain musik, hingga acara berakhir dengan pengumuman murid paling berprestasi di tahun itu.     “Dan, murid paling berprestasi di tahun ini adalah ….” Ibunda Guru Atikah memberikan pengumuman di atas panggung dengan suaranya yang lantang, disertai mikrofon di depan bibirnya.     Semua murid, wali murid yang hadir, guru-guru, kepala sekolah, hingga penjaga sekolah, semua bersorak-sorai, bertepuk tangan, memberikan selamat kepada sang murid paling berprestasi itu. Rama bahagia, senang, dengan bangga maju ke atas panggung. Diraihnya piala itu dari genggaman Ibunda Guru Atikah. Berkata-kata ia di depan mikrofon dengan hati yang penuh syukur.     Terbayang-bayang Rama, apakah sang gadis kecil pujaan hatinya akan suka juga padanya karena ia telah meraih prestasi yang paling membanggakan ini? Entahlah, yang jelas ia sudah tak sabar ingin berbincang dengan gadis itu saat pulang bersama nanti. ***       “Ayah, kumohon, aku ingin pindah sekolah. Aku tak suka sekolah di situ!”     “Hei, kau kenapa, Rama? Kau ini anak pintar, pantasnya memang sekolah di sekolah negeri, sekolah unggulan pula!”     “Jadi maksud Ayah, anak-anak di sekolah swasta tak pantas masuk sekolah negeri, dan tak sepintar aku? Begitukah?”     “Tentu bukan itu maksudnya!” Si ayah bingung menanggapi pertanyaan dari anaknya.     “Lalu, apa maksudnya? Kenapa aku tak boleh pindah ke sekolahku yang lama? Lagi pula banyak kawan-kawan SD-ku yang juga melanjutkan ke SMP itu!”     “Rama … dengarkan kata-kata Ayahmu, Nak ….” Si ibu mencoba menengahi perdebatan ini.     “Menurut Ibu, apa buruknya jika aku minta pindah sekolah? Bukankah sekolah yang kuminta lebih dekat dari rumah? Lebih mudah bagiku untuk berangkat sendiri dengan bersepeda!”     “Kan ayah sudah biasa mengantarmu, jadi biarkan ayah─” Si ayah mencoba merendahkan suaranya, namun langsung disergap oleh pernyataan lain dari si anak.     “Aku hanya ingin mandiri, Ayah!”     Sudah hampir setengah jam perdebatan sengit itu tak mereda, tiada ujung, si ayah merasa paham betul apa yang terbaik bagi anaknya, namun si anak juga tak kalah merasa yakin bahwa pilihan hidupnya haruslah ia perjuangkan sampai titik darah penghabisan.     Perdebatan itu disebabkan oleh hal sepele yang amat teramat kurang penting sebenarnya, yang tak lain dan tak bukan hanyalah oleh karena gadis kecil pujaan hatinya itu yang tak ingin ia tinggalkan begitu saja. Padahal Rama juga tak yakin, apakah gadis kecil itu suka juga padanya atau tidak.     Jadilah tidur Rama tak pulas bermalam-malam, merajuk ia akan kerasnya pendirian sang ayah yang tak kunjung luluh untuk menuruti permintaannya. Berbagai macam cara telah dicoba olehnya untuk membuat sang ayah berubah pikiran, berubah haluan, agar kemudian menurut padanya.     Kesal Rama pada ayahnya, semula ia mogok makan, namun baru 3 jam ia sudah merasa tak sanggup, tak mampu ia menahan rasa lapar, dan betapa menggodanya masakan sang ibu, seakan membujuknya untuk makan berpiring-piring.     Kemudian Rama mencoba cara lain, ia tak mandi-mandi berhari-hari. Ibunya merepet-repet tak tahan akan baunya, ayahnya bahkan tak berkomentar apapun. Rama tak peduli akan semua itu, sampai pada hari keempat ketika ia hendak mengaji di Masjid Raya Baiturrahman, ia kena gaplok pak ustadz karena bau busuk yang keluar dari keringat tubuhnya. Ia pun mengaku sudah 4 hari tak mandi.     “Hei, Rama! Tak tahunya kau bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman? Apa guna mulutku hingga berbusa-busa menceramahi kalian akan pentingnya kebersihan?” Spaneng kepala pak ustadz dibuatnya.     Akhirnya Rama bergegas pulang, mandi, menggosok tubuhnya dengan sabun hingga 4 kali. Ia pun memutuskan untuk menghentikan sejenak tajuk rencana yang telah ia buat dari jauh hari agar ayahnya menyerah.     “Rama … keluar kamar dulu, ibu mau bicara padamu!” Sang ibu berteriak di muka pintu. Ia bergegas keluar, dilihatnya rapot sekolahnya tepat digenggaman ibunya.     “Ibu … maafkan aku, itu ….”     “Begini Rama, ibu sangat yakin kau adalah anak yang pandai. Tapi kenapa bisa nilai Ilmu Pengetahuan Alam kau dapatkan angka 6?”     “Aku … aku ….”     “Begini saja, kalau kau masih mau sekolah, maka belajarlah yang rajin!” Ibunya menghela napas panjang.     Rama kembali ke kamarnya. Pilu hatinya melihat sang ibu menjadi kecewa karena dirinya. Berpikir ia semalaman atas apa yang terjadi pada dirinya belakangan ini. Sebegitu cintanya kah ia pada gadis kecil itu?     Ia buka sebuah buku tebal berukuran agak kecil, dengan tulisan Catatan Punya Rama disampulnya yang berwarna hijau terang. Ditorehkannya huruf demi huruf pada kertas itu, diungkapkannya segala isi hatinya, kegelisahannya, kerinduannya, kecintaannya pada gadis itu. Ketika ia hendak menutup kembali buku itu dan memasukkannya ke dalam laci, jatuhlah selembar kertas, sebuah potret gadis kecil berkulit putih, berambut panjang, bermata kecil. Dialah gadis kecintaannya, yang membuat hatinya galau, gundah gulana, yang membuat tidurnya jadi tak pulas, yang membuat dirinya menjadi serba salah sebagai seorang anak laki-laki kecil berumur 11 tahun.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN