Pertama kali Rama melihat mata gadis kecil itu, yakin betul ia bahwa itu adalah jodohnya. Entah telah dirasuki dedemit dari mana, ataukah dirasuki anak buah jin ifrit yang mana pula, seorang anak laki-laki kecil berumur 10 tahun bisa begitu yakin apa yang tengah ia rasakan adalah sebuah perasaan jatuh cinta.
Gadis kecil itu tengah berjalan bersama ibunya, kemudian menyeberang, dan mampir di sebuah toko kelontong milik Koh Ahok. Rama masih memperhatikan gadis itu dari jauh, diamatinya seragam gadis itu, dari atas sampai ke bawah, dari ujung rambutnya sampai ke ujung sepatunya. Lalu ia lari ke seberang jalan dan menghampiri ibunya.
“Kau lihat siapa tadi, Rama?”
“Uhhh … hmmm … bukan apa-apa, Bu!” Rama mengelak. Malu ia, wajahnya jadi memerah.
Sejak kejadian itu, Rama jadi menunggu-nunggu kapan akan bertemu gadis kecil itu lagi. Kadang jika sedang beruntung, ia akan dengan mudah bertemu dengannya di tepi jalan yang tentu bersama juga dengan ibunya. Tapi jika dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya, bisa berhari-hari ia tak menjumpai gadis itu.
“Ke mana rimbanya gadis kecil itu?” Rama bergumam dalam hati.
Ia kemudian berpikir dan terus berpikir bagaimana caranya agar bisa bertemu lagi dengan gadis kecintaannya. Semula ia menyusun rencana, agar setelah bertemu lagi di tepi jalan semuanya tak menjadi sia-sia. Dia sudah harus tahu nama gadis kecil itu, entah dengan cara berpura-pura pernah kenal, atau bertanya langsung pada ibunya. Bahkan jikalau memungkinkan, ia ingin mengikuti gadis itu dari belakang secara diam-diam, agar tahu di mana rumahnya. Terdengar nekat dan konyol memang untuk anak laki-laki sekecil itu.
Sudah 3 hari berlalu, tapi gadis kecil itu tak kunjung nampak batang hidungnya. Cemas Rama dibuatnya. Haruskah ia berhenti berharap, atau haruskah ia mengejar cintanya mati-matian.
Dari buku novel karya Buya Hamka yang pernah ia baca, dikisahkan tentang cinta abadi dua sejoli: Hayati dan Zainuddin. Zainuddin yang gagal meminang sang kekasih hati menjadi stress, hingga hampir hilang akal, namun ia tetap menjaga cintanya pada Hayati, bahkan hingga tak menikah sampai kapan pun.
Disebabkan oleh tak maunya Rama menanggung cinta seorang diri, maka ia memutuskan untuk tetap memperjuangkan cintanya pada si gadis kecil. Kemudia ia berdoa di malam hari, memohon pada Allah Yang Maha Pengasih agar diizinkan untuk dapat bertemu lagi dengan si gadis.
***
“Rama … hari ini kau berangkat sekolah sendiri saja, ya?”
“Kenapa, Yah? Hari ini aku tak ke sekolah, tapi aku ada lomba cerdas tangkas di kecamatan.”
“Begitukah? Baiklah, ayah akan mengantarmu ke kecamatan.”
“Terima kasih, Yah!”
“Tapi pulangnya ayah tak bisa menjemputmu, ya. Kaupulang saja bersama guru-guru dan kawanmu yang lain.”
“Baiklah, Ayah!”
“Mari kita berangkat. Kau jangan lupa berdoa, ya, Nak!”
“Tentu, Yah.”
Kemudian mereka bergegas pergi ke kecamatan. Agak tegang Rama hendak menghadapi perlombaan di hari itu. Sesampainya di sana para guru dan kawan-kawannya sudah tiba terlebih dulu. Diciumnya tangan para ibunda dan ayahanda guru satu persatu, disalaminya semua kawan-kawannya.
Berdetak cepat jantungnya, peluh sebesar biji jagung keluar dari pelipisnya, pikirannya fokus penuh konsentrasi, bergetar tangannya setiap akan unjuk jari demi menjawab soal demi soal, dijawabnya semua pertanyaan dengan suaranya yang lantang dan penuh yakin. Setelah selesai gilirannya, Rama segera keluar dari ruangan, dan meraih bekal makanan dari ibunya. Terlalu keras berpikir ternyata membuat perutnya lapar.
Tepat pukul 1 siang pengumuman perlombaan pun dibacakan. Semua guru-guru, murid-murid, orang tua murid yang ikut mendampingi, semuanya berdoa, berharap-harap cemas agar anak didiknyalah yang akan menjadi juara.
“Yang menjadi juara untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yaitu ….” Semuanya terdiam, menunggu kata-kata selanjutnya yang meluncur dari mulut seorang bapak guru muda berkumis tipis.
“Yaitu ….”
Setelah bapak guru muda itu mengumumkan nama pemenangnya, semua hadirin ikut bertepuk tangan atas kemenangan sang juara. Guru-guru dan kawan-kawan Rama ikut bangga atas prestasi yang selalu ia torehkan. Tak sia-sia Rama rajin belajar, membahas soal-soal seorang diri setelah pulang sekolah, rajin sholat malam, berdoa memohon kemudahan pada Allah.
Saat Rama hendak pulang bersama guru-guru dan kawan-kawannya, ia secara tak sengaja berpapasan dengan seorang gadis kecil bermata indah. Gadis itu menatapnya sambil tersenyum. Rama tak habis pikir, hari ini akan bertemu dengan gadis kecintaannya itu, setelah sudah genap tiga hari tak melihatnya. Yang membuat Rama semakin tercengang adalah gadis itu rupanya juga bersekolah di tempat yang sama dengannya.
Rama duduk persis bersebelahan dengan gadis itu, dipandanginya lekat-lekat, seakan tak mau luput gadis kecil itu dari pandangannya.
“Kamu namanya siapa?” Terkaget-kaget Rama mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut kecil gadis itu.
“Kamu anak kelas 6, ya?” Belum sempat ia menjawab, sudah ditanya lagi oleh gadis itu.
Akhirnya tanpa mau melewatkan kesempatan emas, dan mengingat tak ada kesempatan yang bisa datang dua kali, Rama pun menjawab pertanyaan gadis kecil itu dengan yakin, hanya dengan satu tarikan napas, mereka pun saling kenal.
***
Rama sibuk menyisir, menaruh secuil gel di barisan jambulnya, menata rambutnya, kemudian disisirnya lagi, sambil bergaya di depan cermin tak keruan. Hatinya berbunga-bunga, langkahnya penuh yakin. Disemprotinya parfum ke kerah kemeja putihnya, ke celana merahnya, bahkan hingga ke tas ranselnya. Sudah siap ia berangkat ke sekolah dengan percaya diri. Tak lupa ia mengenakan jam tangan mahal merek Swatch, pemberian dari ayahnya karena ia telah memenangkan lomba cerdas tangkas tempo hari.
Ia raih sepedanya, dikayuhnya dengan penuh semangat ’45 macam pahlawan nasional, bersiul ia sepanjang perjalanan menuju sekolah. Terbayangkan olehnya bagaimana pertemuannya di sekolah nanti dengan si gadis kecil pujaannya itu. Telah dibawanya sepotong roti sobek berisi selai strawberry untuk diberikan pada gadisnya. Tersenyum-senyum Rama di atas jok sepedanya penuh halu.
“Aih … indah nian senyumnya!” Gumamnya dalam hati.
Sesampainya Rama di sekolah, ia tengok ke kanan dan ke kiri, depan belakang, atas bawah, ia telusuri seluruh kelas, dari ujung ke ujung. Tetap tak dapat ia jumpai gadis kecil itu. Kecewa hatinya, terhapus sudah segala bayangan indah di pelupuk matanya. Entah ke mana lagi gadis kecil itu.
Usut punya usut, Rama lupa bertanya tentang kelas berapakah gadis itu. Ia hanya menebak-nebak, mungkin saja gadis itu kelas 3, tapi tak mungkin badannya terlalu kecil. Bisa jadi gadis itu kelas 2, tapi kalau memang kelas 2 harusnya ia ada di kelas yang paling ujung. Setelah lama berpikir, akhirnya Rama yakin, mungkin saja gadis itu adalah anak kelas 1. Hanya anak kelas 1 yang masuk siang di bulan itu. Maklum saja, sekolah Rama memang tak terlampau besar, kelasnya tak terlalu banyak, jadi terkadang bagi siswa kelas 1, 2, dan 3 harus rela berganti giliran untuk masuk pagi atau masuk siang.
Setelah kelas usai, Rama segera membereskan buku-bukunya. Ia keluar kelas, setelah sebelumnya mencium tangan ibunda guru terlebih dahulu. Bergegas ia menuju parkiran, diraihnya sepeda hitam miliknya, dikayuhnya dengan pelan-pelan, sudah tak semangat lagi rupanya.
Di tengah jalan, teringat ia akan janji dengan ibunya. Ia berhenti sebentar di toko kelontong milik Koh Ahok, dan memarkirkan sepedanya di depan. Ibu menyuruhnya membeli beras beberapa liter, sudah habis katanya. Penjaga toko memberikan plastik berisi beras pesanan Rama, dan ia mengeluarkan beberapa lembar rupiah dari kantongnya.
“Bang, mau beli cokelat, ada? Cokelat ayam jago, sama ….”
Rama berhenti sebentar saat merogoh uang dari kantongnya, ia merasa kenal dengan suara perempuan itu. Seperti suara seseorang. Menengok ia ke arah suara itu, dilihatnya seorang gadis kecil dengan mata yang sangat indah dan sedang tersenyum ke arahnya.
Teramat senang Rama mendapati dewi fortuna hari itu tengah berpihak kepadanya sekali lagi. Segera ia bayar beras yang dibelinya, beserta dua buah cokelat ayam jago belanjaan si gadis pujannnya itu.
Keluar dari toko, mata Rama mencari-cari, menengok ke kanan dan ke kiri.
“Ibumu ke mana?”
“Sudah pulang duluan, sekarang aku baru mau ke sekolah. Kenapa?” Gadis kecil itu bertanya heran.
“Eh … nggak … apa-apa … kok.” Rama jadi tergagap.
“Sudah, ya, aku mau ke sekolah dulu, hampir terlambat.”
“Tunggu …!” Rama menghentikan langkah gadis kecil itu.
“Ada apa?”
“Ini …!” Gadis kecil itu kaget, Rama memberikan sepotong roti sobek yang telah ia siapkan di rumahnya tadi pagi.
“Wah, roti? Aku suka sekali roti.” Gadis itu tersenyum. Kemudian mohon diri.
Dalam kayuhan sepedanya yang perlahan, dengan siulannya yang semakin mirip dengan burung camar, Rama pulang ke rumahnya dengan hati yang riang gembira.