“Wah … cantik sekali, Nak!”
“Aih … cantik kau cucuku, Marlin!”
“Pas sekali, kamu sangat cocok dengan gaun ini, Nak!”
“Sangat cantik kau dengan gaun ini, Mar!”
Calon ibu mertuaku beserta nenek berkali-kali memujiku tiada henti. Aku sedang fitting pakaian pengantin bersama dengan kekasihku, di sebuah sanggar yang letaknya tak jauh dari gedung yang rencananya akan menjadi tempat kami menggelar pesta pernikahan.
Aku mengamati bayanganku sendiri di depan cermin berkali-kali, takut tak yakin aku dengan gaun ini, bingung aku hendak memilih gaun yang mana sebenarnya, semuanya cantik-cantik.
“Sudah yang ini saja, ya , Nak. Kau juga setuju, kan, jika Marlin pakai gaun yang ini?” Beliau bertanya kepada anaknya. Kekasihku menunduk pertanda setuju. Ia memandangiku penuh cinta, aku jadi malu.
“Ini gaun untuk acara resepsinya ya, Kak. Kalau untuk acara akadnya, mau pakai kebaya, atau bagaimana, Kak?” Pegawai sanggar bertanya padaku.
“Uhhh … hmmm … aku akan pakai─”
“Dia akan pakai kebaya, Mbak! Coba saya mau lihat ada kebaya apa saja di sini?” Calon ibu mertuaku berkata pada pegawai itu, bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
“Oh, baik, Bu. Saya ambilkan sebentar, ya!” Pegawai itu berlalu dari pandangan kami, masuk ke dalam sebuah ruangan, kemudian keluar lagi dengan membawa beberapa potong kebaya.
Nenek dan calon mertuaku memandangi kebaya-kebaya itu, mengamatinya satu demi satu, dan memilihkannya untukku.
“Nak, coba pakai kebaya yang ini!” Calon mertuaku mengambil sebuah kebaya berwarna cokelat muda, kemudian menyerahkannya padaku. Harus kuakui sebenarnya selera beliau cukup bagus, namun mengapa beliau tidak bertanya terlebih dahulu padaku untuk memastikan apakah aku suka dengan kebayanya. Namun aku tak mau beliau tersinggung, kuturuti saja keinginannya, dan aku masuk ke dalam ruang ganti pakaian.
Aku keluar ruangan dengan mengenakan kebaya itu, agak sedikit sempit di bagian dadanya. Calon mertuaku mulai mengamatiku dari atas hingga ke bawah.
“Nak, kamu agak gemukan, ya? Kebaya ini sangat bagus, sayang jika tidak bisa dipakai olehmu. Bagaimana kalau kamu diet sedikit saja? Paling hanya tinggal diturunkan 5 kilo aja, gimana? Mau, kan?” Calon mertuaku bertanya terang-terangan padaku, aku tak enak jika menolak permintaannya. Dan lagi-lagi, ku iyakan saja permintaan beliau.
“Iya, bisa, kok, Tante.”
***
Aku mulai membuka-buka vidio di YouTube, mencari tentang bagaimana cara diet, cara menurunkan berat badan hingga 5 kilogram. Dari mulai diet hanya dengan meminum jus sayur dan buah, diet hanya dengan meminum air putih selama 7 hari 7 malam, diet tanpa makan karbo, diet mayo, diet keto, dan lain-lainnya.
“Sudahlah, Mar. Tak usah kau diet-diet berlebihan begitu. Cukuplah kau makan secukupnya, berpuasa Senin-Kamis, berolahraga, dan tidur yang teratur.” Nenek menceramahiku ketika melihatku yang makan siang tanpa nasi sama sekali.
“Iya, Nek.”
“Nanti kalau kau sakit, bagaimana? Siapa yang peduli? Siapa yang akan repot? Nenek juga, kan!?”
Aku sebenarnya agak heran dengan nenek, kemarin saat di sanggar, kenapa beliau hanya diam saja saat calon mertuaku memintaku untuk diet, agar aku tetap bisa menggunakan kebaya cokelat muda itu saat hari pernikahanku nanti.
“Iya, iya, iya, Nek! Aku akan puasa Senin-Kamis saja kalau begitu.” Aku segera pergi ke kamar meninggalkan nenek di meja makan tepat setelah makan siangku habis.
Aku kembali membuka laman YouTube, mencari-cari vidio tentang cara diet. Setelah sekitar satu jam aku menonton berbagai vidio, aku pun mengantuk, tak terasa mataku mulai terpejam.
***
“Halo … selamat siang!” Sapaku di ujung telepon.
“Halo … siang! Iya, Mbak Marlin.”
“Iya, Mbak Ellen. Jadi, bagaimana dengan pembayaran gedungnya?”
“Oh, iya. Mbak Marlin sudah masuk ke pembayaran tahap kedua, ya. Jadi Mbak sudah bisa langsung transfer saja ke rekening kami, nanti bukti pembayarannya akan segera kami buatkan.”
“Begitu, ya. Baik kalau begitu, Mbak Ellen. Terima kasih, ya, atas infonya!”
“Sama-sama, Mbak Marlin.”
Setelah kumatikan teleponku, aku pun menelepon kekasihku untuk membicarakan mengenai hal ini. Awalnya nada sambung terdengar jelas dari handphone-ku, namun tidak diangkat sama sekali. Mungkin kekasihku memang sedang sibuk, nanti malam saja akan kutelepon lagi. Kemudian kukirimi ia pesan singkat, agar bisa ia baca jika sudah tak sibuk lagi.
Malamnya, aku cek kembali handphone-ku. Namun, tak kunjung ada balasan dari kekasihku. Kuputuskan untuk meneleponnya kembali.
“Tuuut … tuuut … tuuut ….” Terdengar nada sambung dari handphone-ku, namun juga tak diangkat sama sekali. Hingga 7 kali aku berusaha meneleponnya, tetap tak diangkat. Hingga akhirnya nomor handphone-nya malah tak aktif. Sebenarnya aku cukup kesal, tapi aku berusaha berpikir positif, mungkin saja kekasihku memang sudah tertidur karena terlalu lelah bekerja.
Sebenarnya cukup tak enak merasakan hubungan jarak jauh begini, kami jadi jarang bertemu, juga jarang berkomunikasi. Dia juga jarang membalas pesan singkatku, maupun mengangkat telepon dariku.
Aku pun menatap langit-langit kamar, berpikir sejenak, sembari berusaha tidur.
***
“Dreeet … dreeet … dreeet ….” Handphone-ku bergetar, aku segera meraihnya.
“Iya, halo …. Kamu ke mana aja, Sayang? Kok semaleman kamu nggak ada kabar, sih? Oh, gitu, ya. Iya, aku mau ngabarin soal pelunasan sewa gedung, kan kita udah pembayaran tahap kedua. Iya. Hah? Pake uang aku dulu, nih? Iya, soalnya bayar katering kan juga udah pake uang aku. Oh, gitu. Yaudah, deh.”
Sebenarnya perasaanku berkata bahwa ada yang aneh dengan kekasihku, ada yang tak beres. Aku merasa ada kejanggalan, namun segera kutepis perasaan itu. Tak ada bukti apapun, aku tak mungkin menuduhnya secara membabi buta.
Aku segera pergi ke ATM terdekat untuk mentransfer dan melunasi pembayaran gedung dan katering. Setelah selesai, aku kembali ke rumah.
Sesampainya aku di rumah, kulihat ada sebuah sepatu di teras, segera kutahu siapa yang datang.
“Assalamu’alaikum …. Sayang, kok kamu udah nyampe di sini lagi. Kapan kamu pulang? Kenapa nggak ngabarin aku dulu?”
Kekasihku ternyata sudah tiba di rumahku. Entah sejak kapan dia pulang dari Bandung, tiba-tiba sudah sampai lagi di Jakarta. Kami membicarakan tentang segala rencana pernikahan kami, tentang pekerjaannya, tentang dia yang kini sangat sulit dihubungi, tentang dia yang sudah jarang membalas pesan singkatku, sudah tak pernah lagi meneleponku dan mengangkat telepon dariku.
Berbagai alasan ia lontarkan untuk meyakinkanku, dan aku begitu percaya pada dirinya, sepenuhnya.
“Jadi, kamu ke sini mau ajak aku pergi? Ke mana? Nonton film? Abis itu mau kulineran juga? Yaudah, tunggu sebentar, ya. Aku mau siap-siap dulu!” Aku segera masuk ke dalam kamar, mengganti bajuku, dan bersiap-siap.
“Sayang, mari kita let’s go!”
Jalanan di sekitar kawasan Sudirman sore itu cukup padat merayap. Kami segera menuju bioskop Hollywood XXI yang terletak di area Hotel Kartika Chandra. Untunglah film yang ingin kami lihat masih akan diputar sekitar beberapa jam lagi.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam, kami baru saja tiba di gedung bioskop. Kami segera membeli tiket, dan film yang akan kami lihat baru mulai diputar sekitar pukul 8 malam. Itu artinya kami masih punya waktu kosong sekitar 1 jam. Kami berencana akan makan malam terlebih dahulu di restoran yang berada di sekitar sana.
Pilihan kami pun jatuh pada sebuah restoran cepat saji. Saat aku dan kekasihku sedang mengantre untuk membeli makanan, ada seorang laki-laki menyapanya. Kelihatannya laki-laki itu adalah kawan sepermainannya. Jujur, aku memang jarang sekali dikenalkan pada kawan-kawannya, yang kukenal hanya 2 orang kawan terdekatnya.
“Hey, Yan! Eh, lu 3 hari lalu ikut nongkrong bareng anak-anak, ya? Lu nggak ngajak gue, tumben. Lah, ini cewek siapa lagi? Bukannya kemarin lu baru aja jalan sama─”
Lelaki itu berbicara tanpa jeda, dan agak kaget setelah melihatku. Sepertinya yang ia katakan secara spontan barusan adalah hal yang jujur.
“Aw …! Sakit, Yan!” Laki-laki itu terlihat kesakitan, karena ternyata kekasihku secara diam-diam telah mencubit lengannya.
Tak lama setelah laki-laki itu pergi, terjadi perdebatan sengit antara aku dan kekasihku. Aku bertanya padanya ke mana sebenarnya selama ini ia pergi, apakah benar bahwa selama ini sebenarnya ia memang tidak sedang melakukan perjalanan dinas ke Bandung, dan siapakah perempuan yang kemarin malam jalan bersamanya.
“Lu ke mana kemarin, hah? Siapa cewek yang lu ajak jalan semalem? Jadi selama ini sebenernya lu nggak pergi dinas ke Bandung!? Hah!? Terus sebenernya lu ke mana aja selama ini, hah!? Pantesan selama beberapa bulan ini lu udah susah buat dihubungin! Udah nggak pernah lagi angkat telepon gue!! Nggak pernah lagi nanya kabar gue!! Udah jarang bales chat gue!!! Jadi lu selama ini … apa jangan-jangan lu itu … LU SELINGKUH DIBELAKANG GUE, YA!!?” Semua yang kukatakan padanya, selalu ia tepis, ia mengelak, ia lawan, ia tak mau mengakuinya, padahal sudah jelas kawannya telah berkata demikian di depan mataku, bahkan kekasihku malah membalikkan keadaan seolah aku yang berlebihan.
Kami bertengkar hebat di dalam mobil, dan aku memutuskan untuk tidak jadi menonton film. Aku meminta untuk segera diantarkan pulang, dan ingin menenangkan diri sejenak beberapa waktu.
“Gue mohon, jangan lu ganggu gue dulu. Gue butuh waktu buat mikir, mau dibawa ke mana hubungan ini!” Aku berbicara penuh dengan emosi. Kubanting pintu rumahku tepat di depan batang hidungnya.
Aku menangis hebat, meraung, tersedu, terisak, di sudut kamar, hingga pagi tiba, hingga air mataku habis, kering, hingga tak ada lagi.
***
Aku, kakek, nenek, kekasihku, serta kedua orang tuanya, kami berkumpul di rumahku untuk membicarakan mengenai kelanjutan pernikahan kami. Kekasihku sudah sebulan ini memohon maaf padaku atas semua kesalahannya. Ia mengaku sangat menyesal atas apa yang telah terjadi, dan ia bilang bahwa wanita itu hanyalah kawan lamanya, tak perlu dianggap serius, apalagi dipikirkan terlampau jauh.
“Nak, sayang sekali jika pernikahan kalian dibatalkan. Biaya sewa gedung dan katering juga sudah dilunasi, kan. Apalagi undangan kalian juga sudah disebar sejak dua bulan lalu. Ayolah, Nak. Tante dan om mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan anak kami.”
Calon ibu mertuaku mengiba padaku, aku tak tega. Lagi pula, aku masih sangat mencintai kekasihku, ada baiknya memang jika aku memaafkan segala kekhilafannya, dan memulai lagi lembar yang baru.
“Baiklah, Om, Tante. Aku terima permohonan maaf kalian semua.” Seiring dengan jawabanku barusan, hubungan kami pun berlanjut kembali.
Tinggal sebulan lagi pernikahan kami akan digelar. Semua persiapan hampir selesai 100%. Kami semua juga makin sibuk. Seminggu sebelum waktu pernikahan tiba, aku dan kekasihku harus melakukan fitting baju secara ulang, kalau-kalau ada yang kurang.
Kebaya yang akan kupakai pada akad nikah nanti, sudah pas ditubuhku, tak kesempitan seperti kemarin-kemarin. Beskap yang akan digunakan oleh kekasihku juga sudah cukup, tak kebesaran, tak kekecilan, sudah pas, mantap.
Sepulangnya kami dari fitting baju, kekasihku mohon diri, dan minta izin padaku untuk menemui kawan terdekatnya, Gery dan Andi.
***
Malam itu tidurku tak bisa pulas, lima menit sekali ubah posisi, hadap kanan, hadap kiri, telentang, kemudian tengkurap. Tak bisa tenang sama sekali. Akhirnya aku pergi ke ruang makan, kucari obat tidur, kemudian kuteguk obat itu. Akhirnya mataku pun bisa terpejam.
“Marlin, bangun, Nak!” Nenek membangunkanku. Kulihat jam dinding di kamarku, waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi rupanya. Sedangkan akad nikahku akan dimulai pada pukul 9 pagi.
Aku segera bergegas untuk mandi, kemudian berangkat ke gedung. Semua persiapan memang akan dilakukan di gedung, mulai dari merias wajahku, rambutku, hingga pakaianku, semua akan dilakukan di sana.
Sesampainya aku di sana, semua orang telah menungguku. Diperkirakan aku akan dirias sekitar 2 jam lebih, dan saat ini waktu sudah menunjukkan hampir pukul 7. Penata rias segera melaksanakan tugasnya, meriasku dengan cermat, cepat, namun tetap teliti.
“Coba, Kak, wajahnya menghadap ke sini. Iya, begitu. Coba matanya lihat ke atas, Kak. Nah, iya. Coba merem dulu sebentar, Kak. Iya, sebentar, ya.”
Waktu sudah berjalan hampir 2 jam, dan kini aku sudah berpakaian lengkap. Mulai dari sanggul, riasan wajah, kebaya berwarna cokelat muda dan kain batik yang kupakai. Sudah genap seluruhnya.
“Tok … tok … tok ….” Suara pintu diketuk dari luar ruangan riasku.
“Masuk aja! Udah selesai, kok.” Seseorang masuk ke dalam ruanganku secara terburu-buru.
“Marlin!” Seseorang menyapaku dari belakang. Etek Marfi rupanya.
“Etek rupanya, ada apa, Tek? Kenapa panik begitu?” Etek Marfi kemudian mendekatiku, wajahnya mendekati telingku, kemudian ia berbicara dengan pelan dan berbisik.
“Arian, belum datang juga. Kakek panik, dan nenek menangis terus dari tadi.”
Terkaget-kaget aku bukan main, segera aku beranjak dari kursi riasku. Keluar aku dari ruangan itu menuju ruangan rias untuk keluarga calon mempelai. Kubuka pintunya tanpa permisi terlebih dahulu. Kulihat nenek sudah berlinang air matanya, kupeluk erat tubuhnya. Tersedu-sedu ia, hancur hatinya.
Mataku mencari-cari di mana kakek berada, dan ke mana keluarga besar Arian, kenapa tak kunjung kulihat batang hidungnya sama sekali. Ke mana kah mereka?
Sebuah suara kaki yang tergesa-gesa terdengar di belakangku, kemudian mendekatiku, aku menengok ke belakang dengan posisi masih memeluk nenek. Kemudian orang itu berkata dengan lantang di depan keluarga besarku, keluarga besar kami, dan di depan kawan-kawan terdekatku.
“PERNIKAHAN INI BAIKNYA DIBATALKAN SAJA!!!” Kakek berbicara dengan suaranya yang penuh emosi, murka, terlihat jelas kekecewaan yang teramat besar di pelupuk matanya.
Aku masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Aku bingung, aku bingung harus bertanya pada siapa. Nenek menangis makin terisak, kemudian beliau bicara padaku, persis di depan telingaku.
“Arian, telah menghamili perempuan lain.”
Hancur hatiku detik itu juga, aku sampai tak tahu harus bersikap seperti apa, harus bagaimana, harus menangis ataukah bahagia, harus marah ataukah tertawa. Aku benar-benar merasa masih tak paham dengan semua yang terjadi, rasanya masih seperti mimpi.
Kurasakan tubuhku lemas, dadaku sesak, semakin lama semakin terasa lemas, kemudian pandanganku kabur, dan aku pun pingsan di tempat.
“Mar … Marlin … Marlinda!”
***
Aku segera berlari dari orang itu, dari laki-laki itu. Laki-laki yang telah menyakitiku sepenuh hati, sepenuh jiwa, sepenuh-penuhnya. Rasa sakitnya sungguh masih amat terasa, sesaknya masih ada, pedihnya tak kan terbayarkan hingga kapan pun. Laki-laki mantan calon pengantinku, mantan kekasihku, mantan calon suamiku, laki-laki yang telah pergi meninggalkanku seorang diri pada hari pernikahan kami. Laki-laki paling pengecut, laki-laki yang mengambil seluruh hidupku, seluruh kebahagiaanku. Hingga aku harus dirawat di pantai rehabilitasi jiwa selama 2 tahun lebih.
Aku telah kehilangan segalanya, kehilangan hidupku, kehilangan waktuku, kehilangan kebahagiaanku, kehilangan nenek.
Sudah cukup semuanya, aku jijik melihat wajahnya lagi, aku menganggap tak pernah kenal dengan dirinya.
“Mar … Marlin … Marlinda!”
Di dalam mal Gandaria City, tepat di depan sebuah toko es krim, saat ia memanggil-manggil namaku kembali. Aku segera berlari sekencang mungkin, secepat mungkin, secepat ia menghancurkan kehidupanku waktu dulu.