3 hari berlalu. Mobil dan rumah Lusi masih belum terjual. Kafe pun masih sepi, hanya ada beberapa pembeli yang bisa dihitung dengan jari tangan selama 3 hari itu. Lusi terlihat begitu frustrasi, sejak pagi ia hanya murung dan banyak melamun. "Kenapa semua rencanaku nggak ada yang berhasil? Aku nggak pengen kaya, aku cuma pengen punya penghasilan yang cukup. Biar Soni mau menikah sama aku, tapi kayaknya Allah belum izinin aku nikah dalam waktu dekat. Sampe kapan pun Soni nggak akan mau nikah kalau kondisi kafe masih begini. Terus aku harus apa?" Gadis itu sibuk berbicara dalam hati. Kekasih Soni itu duduk di depan kafe, menatap jalan yang tampak ramai, banyak kendaraan lalu lalang. Namun, tak ada satu pun kendaraan yang belok dan berhenti di depan kafenya. Lusi mendesah panjang. "Aku y

