Samuel menyeringai karena akhirnya bertemu dengan Lusi dan Soni, secara tak sengaja. Pria itu masih terobsesi dengan mantan kekasihnya, berharap bisa kembali seperti dulu kala.
"Aku tadi dateng ke restoran, mereka bilang kamu udah nggak kerja di sana." Samuel berbicara pelan, tetapi sorot matanya tajam.
Lusi kemudian berdiri di samping Soni, pria yang sebenarnya lebih muda darinya, tetapi memiliki tubuh yang tingi, cocok untuknya berlindung dari mantan kekasih yang tak ingin ia temui.
"Apapun yang terjadi sama Lusi, sudah bukan urusan Anda lagi." Soni berbicara dengan tegas.
Samuel menyeringai. "Bukannya kamu bilang kamu pemilik restoran itu? Bisa ceritain gimana ceritanya cewek yang kamu bilang pacar kamu ini udah nggak kerja di sana lagi?" Pria itu terlihat begitu menyepelekan Soni, apalagi penampilan Soni yang jelas-jelas memiliki wajah yang lebih terlihat masih muda.
Lusi geram pada mantan kekasihnya itu. "Sam, sebenernya kamu mau apa, sih? Kenapa harus cari aku lagi setelah sekian lama? Hubungan kita berakhir udah dari lama, tapi kenapa kamu baru dateng sekarang?"
"Karena aku masih punya perasaan yang belum tuntas sama kamu. Aku maunya kita balikan seperti dulu."
"Jangankan sekarang pas aku udah punya pacar, dulu pun seandainya kamu minta balikan, aku tetep nggak akan mau balikan sama kamu. Bagiku, sekali main tikung, selamanya kamu akan menjadi tukang tikung. Dan aku nggak mau punya pasangan yang nggak bisa setia!"
"Aku udah nggak ada hubungan sama Lela. Aku pernah berbuat kesalahan, dan aku janji nggak akan ngulangin lagi, Lus." Samuel terlihat serius.
"Sam, kamu bilang kemarin kalau kamu nggak akan maksa aku buat balikan sama kamu. Kenapa sekarang begini? Omonganmu tiap detik berubah terus, ya? Bener-bener buaya! Udah lah, aku udah nggak mau berhubungan sama kamu, mau pacaran, mau temenan, pokoknya aku nggak mau. Aku udah ada Soni, kamu pergi aja, cari cewek lain!" pekik Lusi.
Soni yang sedari tadi diam memperhatikan, kini ia berdiri tepat di depan sang kekasih, sengaja tak membiarkan Samuel melihat kekasihnya.
"Kamu udah denger, kan? Dia udah punya aku, dia udah nggak mau sama kamu. Nggak budeg kan?" tanya Soni yang berusaha merendahkan mantan kekasih Lusi.
Samuel menyeringai lagi, pria itu lalu mendorong pundak kanan Soni. "Yah, kamu tuh masih bocah. Tahu apa? Lusi udah nggak kerja di restoran kamu, jangan-jangan karena orang tuamu yang pecat Lusi? Iya, kan? Jangan-jangan cinta kalian itu cinta yang nggak direstui." Samuel juga berusaha menjatuhkan harga diri Soni di depan Lusi.
"Itu bukan urusan kamu!!!" Soni melotot pada Samuel, marah pada pria itu karena ucapan yang memang benar adanya.
Samuel tertawa sumbang. "Kamu tuh masih bocah, bisa apa kamu? Kalo bener cinta kalian nggak direstui, artinya kamu udah bukan siapa-siapa lagi."
"Hei, Lus, kalo kamu mau cari penggantiku, cari yang bener, dong. Anak kecil begini, bisa apa? Jangan bilang, makan aja kamu yang bayar. Jangan naif! Bahagia butuh uang, Lus. Silakan kamu nikmati cinta tanpa restu ini sekarang, tapi kalo kamu muak sama bocah kere ini, hubungi aku." Samuel menatap Lusi dengan tatapan tajam, ia merasa dendam karena Lusi menolaknya mentah-mentah.
"Dan buat kamu, apa kamu punya uang? Mau aku kasih uang saku?" Samuel menatap Soni dengan tatapan merendahkan.
"Jaga mulut kamu, Sam!!!" Lusi marah.
"Apa?!" Samuel seolah menantang Lusi.
Soni yang sudah mencoba bersabar dari tadi, kini sudah habis rasa sabarnya. Ia memberi hadiah pada mantan kekasih Lusi itu, sebuah pukulan keras yang mendarat tepat di bawah mata Samuel. Tak hanya sampai di situ, Soni menarik kerah kemeja Samuel dan lalu kembali memberi pukulan secara beruntun, tanpa memberi waktu bagi Samuel untuk melawannya.
Soni benar-benar marah.
Lusi ketakutan setengah mati. "Soni, udah!" teriaknya.
Samuel sudah tergeletak di tanah. Kembali tangan kiri Soni memegang dan mencengkeram kerah kemejanya. "Gimana rasanya dipukuli sama anak kecil yang kere ini?! Apa gunanya jadi tua dan banyak uang kalo sama anak kecil aja kalah!" Soni akhirnya melepas Samuel, dan lalu menggandeng tangan Lusi, mengajak gadis itu pergi dari sana.
Soni mengajak Lusi pergi begitu saja, meski mereka belum jadi makan malam. Tanpa tujuan, pria itu hanya ingin pergi dari tempat itu secepatnya.
Di dalam mobil, Soni memasang wajah garang, tangan kanannya terlihat memar, Lusi merasa tak enak hati pada kekasihnya itu. Diraihnya tangan kiri Soni dan lalu digenggamnya dengan erat. "Jangan marah," ucap gadis itu dengan suara merdunya.
Soni masih memasang wajah garang. Lusi berinisiatif untuk mencium tangan pria itu, setelahnya Soni terkekeh lirih. Mobil yang melaju tanpa tujuan itu akhirnya menepi.
Soni melepas sabuk pengamannya, lalu ditatapnya sang kekasih dengan intens.
"Apa kamu juga nganggep aku anak kecil?" tanya Soni dengan mimik wajah serius.
Lusi tak langsung menjawab, ia memasang wajah menggemaskan sebelum akhirnya menggeleng.
"Nggak usah bohong," ucap Soni lantang.
"Apa bedanya aku bilang iya atau enggak? Bukannya yang penting perasaanku ke kamu? Nggak peduli aku nganggep kamu anak kecil atau bukan, yang penting kan aku cinta sama kamu."
"Ya nggak bisa gitu, dong, Lus. Kalo kamu nganggep aku anak kecil, harga diri aku rasanya jatuh gitu aja."
"Kamu kok nggak ngerti, sih, Son?!"
Soni menatap Lusi dengan bingung.
"Apa arti sebuah kata-kata? Kalo aku bilang aku cinta sama kamu, artinya aku tuh nganggep kamu sebagai pria, bukan lagi anak-anak. Jelas-jelas aku cinta sama kamu, apa yang kamu raguin?" Lusi menjawab dengan tegas.
Soni tersenyum senang, dan lalu menarik tangan Lusi yang sedari tadi masih menggenggam tangannya, dituntunnya hingga menyentuh bibirnya. Tangan gadis itu dikecpup dengan mesra. "Aku juga cinta sama kamu."
"Kalo gitu jangan marah lagi." Lusi memainkan kedua alisnya.
Soni tersenyum semakin lebar. "Emang aku marah sama kamu?"
Lusi menggeleng pelan. "Nggak tahu, kan dari tadi diem."
Soni mencolek ujung hidung Lusi. "Dasar bod0h! Aku tuh marah sama mantan kamu yang brengsekk itu."
Lusi terdiam untuk beberapa saat, lalu menatap sang kekasih dengan lekat. "Maafin aku, gara-gara aku, kamu harus dapet hinaan seperti tadi."
Soni mengembuskan napas panjang. "Cuma itu aja?"
Lusi bingung. "Apanya?"
"Kalo serius minta maaf, kasih aku sesuatu, dong." Soni menunjuk pipi kirinya, membuat Lusi tertawa malu-malu.
"Nggak mau, nih?" tanya Soni dengan nada bercanda.
"Apanya?"
"Dih, sok polos."
"Ya apanya?" tanya Lusi dengan senyum yang mengembang.
"Oh, gitu cara mainmu? Oke, aku ikutin."
Soni dan Lusi lalu bercanda di dalam mobil. Ketegangan yang dilalui sebelumnya kini sudah berubah menjadi perasaan yang berbunga-bunga. Walaupun sebenarnya di dalam hati keduanya, sama-sama masih memikirkan ucapan Samuel yang begitu tajam tadi.
Bersambung...