Siang itu, Soni tak fokus mendengarkan penjelasan dosen di depan kelas. Pria itu masih saja memikirkan ucapan sang ibu, walaupun Lusi sudah mengatakan kalau Soni bukanlah beban baginya. Hingga kelas usai, Soni masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri, bingung harus bagaimana untuk selanjutnya.
"Sekalipun Lusi bilang enggak, kondisi aku seperti ini tetep akan jadi beban buat dia." Soni berbicara dalam hati.
"Yud," panggil Soni kepada salah satu teman kuliahnya.
Salah seorang pria yang duduk di barisan bangku belakang menatap Soni dengan berani.
"Kamu jadi mau beli HP? Beli punyaku aja."
Soni berniat menjual ponselnya, transaksi pun dilakukan dengan cepat karena ia menjual dengan harga yang lebih murah dari harga pasaran.
Malamnya, Soni menemui Lusi, di rumah gadis itu. Lusi sangat terkejut dengan kedatangan Soni yang tiba-tiba.
"Kok nggak telepon?"
"Aku nggak disuruh masuk, nih?"
"Oh, ya, masuk dulu."
Soni mengedarkan pandangan, mengamati kondisi rumah Lusi yang tentunya tidak ada siapa-siapa itu. Gadis itu memang tinggal seorang diri, selama ini ia tak merasa kesepian karena sejak pagi hingga malam, ia berada di restoran untuk bekerja.
"Duduk, Son."
Soni kemudian duduk di salah satu sofa, di ruang tamu. Lusi masuk ke dapur, mengambil sebotol air dingin dan satu gelas kosong. Gadis itu lalu kembali ke ruang tamu, ia menatap sang kekasih yang sudah berganti pakaian dengan kening yang berkerut.
"Kamu beli baju baru?" tanya Lusi sembari mendudukkan dirinya di sofa yang berbeda dengan soda yang digunakan Soni untuk duduk.
Soni mengangguk.
"Uang dari mana?"
"Jual HP."
"Ha?! Kamu jual HP?"
Soni mengangguk.
"Terus, sekarang kamu nggak ada HP?"
Soni kembali mengangguk.
"Terus, gimana kita komunikasi nanti kalo kamu nggak ada HP?"
Soni menghela napas berat. "Aku butuh duit buat cari kamar kos, aku juga butuh duit buat beli baju, buat makan juga. Cuma HP itu aja yang aku punya, ya udah aku jual untuk keperluan aku sampe beberapa hari ke depan."
Lusi menekuk wajahnya.
"Kenapa nggak bilang sama aku dulu? Aku masih ada uang kalo kamu mau pinjem dulu."
"Aku nggak mau jadi beban buat kamu, Lus." Soni menatap Lusi tanpa berkedip.
"Beban, beban, beban terus! Siapa sih yang nganggep kamu itu beban?" Lusi menaikkan volume suaranya.
"Aku ini cowok, Lus. Aku nggak mungkin make duit kamu, apalagi sekarang kamu juga nggak kerja. Seharusnya aku yang tanggung jawab karena udah buat kamu kehilangan pekerjaan, bukan malah aku yang jadi beban buat kamu." Soni terlihat begitu serius.
"Terus, apa bedanya kalo kita putus atau begini? Sama-sama nggak bisa saling berhubungan. Gimana aku bisa telepon kalo aku lagi kangen. Gimana aku bisa ngabarin pas aku lagi kesusahan. Ha? Gimana? Kalo sama-sama nggak bisa komunikasi, mending kita putus aja. Aku nggak perlu kehilangan pekerjaan, kamu juga nggak perlu hidup susah!" Lusi berbicara panjang lebar.
Soni membenarkan ucapan Lusi, walau tak seratus persen. Pria itu kembali teringat dengan mantan kekasih Lusi-Samuel, takut kalau sang kekasih terlibat masalah, sementara dirinya tak memiliki ponsel untuk saling berkomunikasi.
Soni diam.
Melihat Soni diam, Lusi merasa bersalah karena sudah berbicara seenaknya sendiri, padahal ia tahu sang kekasih mungkin sedang tertekan saat ini.
Soni dan Lusi saling bertatapan, cukup lama.
"Gimana kalo aku tinggal di sini aja." Soni berbicara lirih.
"Jangan gila, kita belum menikah."
"Ya kita menikah dulu lah, Lus." Soni kembali berbicara dengan nada bercanda.
Lusi melotot pada Soni. "Kamu pikir menikah itu main-main?!"
Soni menyandarkan tubuhnya ke badan sofa. "Jangan marah-marah aja, nanti cepet tua."
"Emang aku udah tua."
"Ya udah, makanya ayo menikah, sebelum ajal menjemput."
Lusi geram pada tingkah kekasihnya yang menurutnya tak serius dan hanya bercanda. Gadis itu menatap sang kekasih tanpa berkedip.
"Iya, maaf. Aku janji nggak lama," ucap Soni dengan suara pelan.
"Apanya?"
"Nggak punya HP-nya. Ini ada sih uang, cukup kalo cuma beli HP kentang aja. Cuma aku mikirnya ini buat makan. Kalo aku beliin HP, aku nggak ada simpanan untuk makan dan kebutuhan lain." Soni mencoba menjelaskan kondisinya.
"Kan bisa pake uangku dulu, Son."
Embusan napas cukup panjang terdengar, Soni menatap sang kekasih dengan mimik wajah serius. "Aku tahu apa yang kamu pikir, Lus. Tapi, biarin aku usaha sendiri dulu. Nanti kalo udah terpaksa, aku bakal pinjem kamu. Sekarang ... biar aku usaha sendiri dulu, ya." Pria itu berbicara dengan serius, Lusi akhirnya melunak.
"Bener, ya?"
"Iya."
Soni tersenyum, Lusi akhirnya ikut tersenyum.
"Kamu udah cari kamar kos?"
Soni mengangguk. "Aku udah bayar buat sebulan ke depan."
"Di mana?"
"Nggak jauh dari kampus, biar kalo ke kampus aku bisa jalan kaki."
Lusi mengangguk. "Nanti pulangnya aku anter, ya. Aku mau tahu kamu tinggal di mana. Seenggaknya aku bisa ke sana kalo ada apa-apa."
Soni mengangguk.
"Kamu udah ada pandangan mau kerja di mana?" tanya Soni setelah meneguk segelas air putih.
"Aku udah cari-cari lowongan di internet, aku juga udah buat surat lamaran kerja. Besok aku coba masukin ke beberapa restoran."
"Ke restoran semua?"
Lusi menggeleng. "Aku masukin lamaran kerja ke mana aja, yang penting aku kerja."
Soni dan Lusi sama-sama terkekeh. Lalu keduanya saling bertatapan.
"Jangan ngelihatin aku." Soni berbicara lirih.
"Emang kenapa? Aku harus bayar?"
"Nggak."
"Terus?"
"Takutnya kamu jatuh cinta sama aku."
Lusi tertawa terbahak-bahak. "Emang kenapa kalo aku jatuh cinta sama kamu?"
"Bahaya."
"Bahaya kenapa?"
Soni menyeringai. "Nggak usah godain aku, bahaya loh kalo aku udah mulai beraksi."
"Apaan, sih?"
Lusi salah tingkah, Soni tersenyum puas melihatnya.
"Ayo makan," ucap Lusi yang ingin mengalihkan topik pembicaraan.
"Di mana?"
"Di Prancis." Lusi melempar bantal sofa ke Soni, pria itu menangkapnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Lusi beranjak dari tempat duduknya. "Aku ambil kunci mobil dulu."
Kedua sejoli itu lalu pergi ke rumah makan yang lokasinya tak terlalu jauh dari rumah Lusi.
"Di sini terkenal murah, banyak lagi porsinya." Lusi berbicara sembari melepas sabuk pengaman.
Soni hanya diam, pria itu mengikuti sang kekasih yang sudah turun dari mobil terlebih dahulu.
"Hmmm, baunya, enak banget." Lusi menarik napas dalam-dalam karena aroma makanan yang begitu menggoda.
Soni tersenyum, pria itu berjalan di belakang sang kekasih.
"Kamu mau makan apa? Aku mau nasi goreng aja, yang pedes." Lusi berjalan dengan langkah mundur, ia tampak begitu bahagia. Hingga secara tak sengaja kakinya menginjak kerikil, gadis itu hampir saja terjatuh ke belakang. Soni berlari, hendak menangkap tubuh kekasihnya yang hampir terjatuh itu. Telat, sudah ada tangan pria lain yang menangkapnya.
Soni membulatkan matanya lebar-lebar dan segera menarik tangan Lusi agar kekasihnya itu segera berada di sampingnya.
"Sam?" Lusi juga terkejut, pria yang menolongnya barusan ternyata adalah mantan kekasihnya.
Bagaimana bisa mereka bertemu di sana? Lusi merasa tak enak hati pada Soni, pria itu menatap Samuel dengan sorot mata tajam. Melihat tangan Samuel memegang tubuh kekasihnya, walau secara tak sengaja, hatinya tetap merasa sakit, seperti ada sesuatu yang mencabik-cabik di dadanya.
Cemburu? Mungkin saja.
Lusi sendiri sudah tak memiliki perasaan apa pun pada mantan kekasihnya. Termasuk dendam yang dulu pernah ia simpan di dalam hati, tetapi lama-lama hanya membuatnya merasa kesal dan ia memilih untuk merelakan sang mantan kekasih bersama sahabatnya. Mengingat bagaimana dulu ia pernah sakit hati pada Samuel, Lusi tak akan pernah bisa memaafkan pria itu sekalipun Samuel menangis darah dan berlutut di kakinya. Baginya, perselingkuhan adalah kesalahan fatal dan Lusi bersyukur Samuel menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya sebelum mereka menikah. Karena lebih baik putus ketika berpacaran dari pada bercerai, apalagi kalau sampai mereka sudah memiliki buah hati. Itu hanya akan membuat Lusi semakin sakit hati.
Bersambung...