Terdengar embusan napas berat di dalam mobil. Lusi mencebikkan bibirnya, bertahan dari rasa sedih karena sudah kehilangan pekerjaannya. Sekuat hati ia mencoba untuk tak menangis, nyatanya air mata itu tetap terjatuh.
Pelan.
Lusi menepikan mobilnya, menyeka air matanya sembari menatap bayangan wajahnya di kaca spion.
"Kamu bisa, Lus. Kamu bisa."
Di tempat lain, Soni baru saja tiba di kampus. Pria itu berangkat bersama temannya, untuk menghemat ongkos pikirnya. Semalaman ia juga sudah mencari pekerjaan sampingan, bertanya ke teman dan mencari lowongan pekerjaan di internet. Ada beberapa pekerjaan yang menurutnya cocok dijadikan sebagai pekerjaan sampingan dan gajinya lumayan besar untuk mahasiswa sepertinya.
Soni sudah bersemangat untuk kuliah sambil bekerja, sangat bersemangat malah.
"Dulu Mbak Kila aja bisa kuliah sambil kerja, aku pun harus bisa. Dia cewek, aku cowok, aku nggak boleh kalah sama cewek." Soni menyemangati dirinya sendiri.
Pria itu lalu merogoh saku celananya, mengambil ponselnya untuk menghubungi sang kekasih.
Soni menelepon Lusi tepat ketika wanita itu baru saja menyeka air matanya.
"Halo."
"Halo, Son."
"Di mana?"
"Di mobil."
"Masih di jalan?"
"Iya, tapi ini lagi berhenti."
"Kenapa? Kamu udah ke restoran?"
"Udah."
"Udah ngajuin surat pengunduran diri kamu?"
"Heem."
Soni tersenyum sesaat. "Bau-baunya ada yang lagi nangis ini."
"Enggak."
"Alah, ngaku, deh."
"Ya wajar, dong. Aku habis kehilangan pekerjaan aku, emang salah kalo aku sedih? Lagian aku juga nggak yang heboh gitu nangisnya." Lusi mencebikkan bibirnya lagi.
"Kamu boleh balik lagi ke restoran, ambil surat pengunduran diri kamu tadi, sobek. Terus bilang sama Papa kalo kita udah putus."
"Ngomong apa, sih? Nyebelin banget."
Soni tertawa terbahak-bahak.
"Udah-udah, jangan sedih. Kamu mau ke mana sekarang?"
"Nggak tahu. Kamu di mana sekarang."
"Aku di kampus. Kenapa? Mau ketemu?"
"Boleh?"
"Nggak gratis, tiketnya mahal."
"Apaan, sih, Son?"
Soni kembali tertawa. "Iya, ke sini aja, nanti telepon kalo udah sampe. Kebetulan aku masuk kelas siang."
"Ya udah, aku ke sana sekarang."
Soni memasukkan ponselnya ke dalam saku, matanya menangkap sosok wanita yang begitu ia kenal, berjalan menghampirinya. Pria itu sedang duduk di bangku yang ada di halaman kampus, di bawah pohon besar. Wajah yang sebelumnya tersenyum senang karena akan bertemu sang kekasih, kini sudah ditekuk.
"Mama."
Ibunda Soni datang ke kampus pria itu demi menemui sang anak. Ia khawatir pada anak bungsunya, takut kalau anaknya itu kelaparan dan tak bisa tinggal dengan nyaman dan aman.
Soni lalu mengajak ibunya untuk pergi ke kafe yang tak jauh dari kampus. Kini, keduanya duduk saling berhadapan.
Soni memilih menunduk sedari tadi, sementara sang ibu menatap anaknya dengan tatapan iba.
"Kamu nggak ganti baju?"
"Mama kan tahu Soni nggak bawa apa-apa dari rumah."
"Kamu udah makan?"
Soni menggeleng, ia masih enggan untuk menatap wajah sang ibu.
Widuri menatap anaknya dengan nanar. "Kamu tidur di mana semalem?"
"Di rumah temen."
"Di rumah pacarmu itu?"
Soni akhirnya mengangkat wajahnya, menatap sang ibu dengan berani.
"Bukan. Rumah teman cowok, Ma."
Melihat ibunya berkaca-kaca, Soni merasa bersedih. Ia tak pernah melihat ibunya seperti itu, apalagi saat ini dirinya yang sudah membuat ibunya bersedih, ada penyesalan yang menggerogoti dadanya.
Widuri lalu mengeluarkan amplop kecil berwarna cokelat. Diletakkan amplop itu di atas meja, lalu didorongnya hingga ke depan Soni.
Soni menatap ibunya dengan mata yang membulat sempurna.
"Soni nggak mau terima uang dari Mama dan papa lagi. Soni akan buktiin kalo Soni bisa hidup tanpa uang kalian!" Soni tahu isi amplop itu adalah uang. Melihat ketebalan isi amplop, sepertinya jumlahnya tidak sedikit.
"Terima aja, kamu nggak akan bisa bertahan dengan kondisi seperti itu. Kamu cuma akan jadi beban buat pacar kamu. Kamu mau itu?" Widuri menaikkan volume suaranya.
Soni terdiam.
"Mama ini perempuan, sebagai sesama perempuan, mama tahu apa yang pacarmu sekarang rasakan. Sekalipun dia terlihat tegar, belum tentu hatinya kuat. Kamu cuma anak kuliahan yang nggak punya penghasilan, sedikit pun. Dia pasti merasa terbebani sama kamu."
Soni tak bisa menjawab apa-apa dan mulai memikirkan apa yang ibunya katakan.
"Terima saja uang ini, mama nggak akan bilang sama papamu."
Soni menatap amplop itu dengan tatapan kosong. Ia memikirkan bagaimana jika semua ucapan ibunya itu benar, bagaimana jika Lusi memang menganggapnya beban karena ia tak punya apa-apa sekarang.
"Son?" panggil Widuri ketika melihat anaknya melamun.
Tiba-tiba saja Soni beranjak, berdiri dan menatap ibunya dengan sangat berani.
"Biar Soni cari jalan keluar sendiri, Mama hati-hati pulangnya. Assalamualaikum." Soni lalu pergi begitu saja, tanpa menunggu jawaban ibunya.
Widuri mengela napas panjang, ia menatap kepergian anaknya dengan perasaan kacau. Ia hanya ingin memberi anaknya kehidupan yang layak, setidaknya memiliki tempat tinggal dan uang untuk makan. Namun, niat baiknya ditolak mentah-mentah oleh sang anak.
Soni berniat kembali ke kampus, tetapi ponselnya bergetar, ada panggilan telepon masuk.
Nama Lusi tertera di layar ponsel itu, dijawabnya panggilan itu tanpa ragu. "Halo."
"Kamu di mana? Aku udah di depan kampusmu ini."
"Masih di mobil?"
"Iya."
"Maju lagi, aku tunggu."
"Ha?"
"Maju aja. Aku ada di pinggir jalan."
Lusi menurut, gadis itu menginjak pedal gas mobilnya, pelan. Hingga sosok Soni terlihat, Lusi akhirnya menepikan mobilnya, membiarkan sang kekasih masuk.
"Ayo, jalan." Soni mengenakan sabuk pengaman.
"Mau ke mana?"
"Ke mana aja." Soni menekuk wajahnya, Lusi mengerutkan kening, merasa aneh, tetapi memilih menurut.
Lusi kemudian mengajak sang kekasih ke kafe yang cukup jauh dari kampus kekasihnya itu.
"Kamu nggak pesen makan? Emang udah makan?" tanya Lusi ketika Soni hanya memesan kopi hitam.
Pria itu masih menekuk wajahnya.
"Makanlah, nanti habis ini kita beli baju." Lusi berkata lirih, merasa iba pada sang kekasih karena masih mengenakan pakaian yang sama sejak kemarin.
"Apa kamu nganggep aku ini cuma beban?" Soni menatap Lusi dengan sorot mata tajam.
Kening Lusi kembali berkerut. "Beban? Ngomong apa, sih kamu?"
"Aku cuma cowok kere sekarang. Untuk makan aja susah, apalagi buat keperluan lain. Kamu pasti ngerasa aku ini cuma beban buat kamu."
Lusi terkekeh sesaat.
"Son, kamu tahu apa yang aku pikirkan saat ini?" Lusi menatap Soni dengan mata yang terbuka lebar.
"Aku kasihan sama kamu, Son. Aku ngerasa bersalah! Kamu biasa hidup enak, serba ada, serba mewah. Dan sekarang? Kamu harus hidup seperti ini karena aku. Beban apa yang kamu maksud? Kalau malah aku sebenernya yang seharusnya tahu diri. Kamu nggak akan hidup seperti ini kalo nggak pacaran sama aku."
Lusi menatap Soni dengan berani, perlahan air matanya menetes.
Soni menyesal karena sudah termakan ucapan ibunya, tak seharusnya ia mengatakan itu semua seperti yang ibunya pikir.
"Jangan nangis."
"Aku nggak tahu kamu dapet pikiran seperti itu dari mana. Tapi asal kamu tahu, yang aku pikirin itu cuma kamu. Aku takut kamu nggak bisa bertahan dengan kehidupan seperti ini, aku takut tiba-tiba kamu minta putus. Aku nggak mau ...."
Soni menghela napas panjang.
"Aku nggak akan mutusin kamu, udah, nggak usah nangis."
Lusi menyeka air matanya.
"Emang nggak malu dilihatin orang-orang. Ntar dikiranya aku habis ngapain kamu." Soni mulai mengajak Lusi bercanda.
Gadis itu terkekeh pelan. "Ya emang kamu yang udah buat aku nangis."
Bersambung...