Cinta Tak Bermata 9

1109 Kata
Mobil Lusi berhenti tepat di depan rumah yang tak terlalu besar, rumah yang memiliki desain minimalis. Di dalam pagar, ada sebuah mobil SUV yang terparkir indah di sana. "Kamu serius mau tidur di sini?" tanya Lusi sesaat setelah ia melihat kondisi rumah itu. "Iya, ini rumah temen kuliah aku. Tenang aja, temenku cowok, kok." Soni kembali menggoda sang kekasih. "Aku malah lebih curiga kalo kamu deket sama cowok," sahut Lusi yang tak ingin kalah. "YAH! Kamu pikir aku hom0?!" Soni menyeringai, Lusi malah tertawa cekikikan. "Temenmu ada di rumah?" "Ada, tadi udah kirim WA, suruh masuk aja, nggak dikunci, kok." Soni mengangkat ponselnya, memperlihatkan percakapannya dengan sang teman melalui aplikasi pesan itu. Lusi mengangguk. Wanita itu lalu mengambil dompetnya, mengeluarkan salah satu kartu dari dalam sana. "Pake ini dulu aja. Kamu butuh uang cash juga?" Soni enggan menerima pemberian sang kekasih. Ia berpikir cukup lama, tangan Lusi menggantung di udara cukup lama. Pria itu lalu mendorong tangan Lusi, menolak pemberian wanita itu. Direbutnya dompet sang kekasih dan mengambil selembar uang berwarna merah. "Aku ambil ini aja, cukup buat makan sama ongkos ke kampus besok." "Cukup?" "Aku akan cari kerja secepetnya. Kamu pun." Lusi mengerucutkan bibirnya. "Mau cari kerja di mana? Aku juga nggak tahu apa bisa cari kerja yang gajinya gede kek di restoran kamu." "Kenapa? Kamu nyesel? Kamu nggak mau kehilangan pekerjaan kamu demi aku? Jangan-jangan yang Papa pikir tentang kamu bener, kamu cuma mau sama aku karena aku ini anak Papa?" tanya Soni, tentu saja dengan nada menggoda. "Soni, ih, nyebelin. Mana ada? Aku serius sama kamu. Cuma ... ya aku nggak nyangka aja harus dipecat dengan tidak hormat." "Dih, dikira abdi negara." Lusi mencubit paha Soni. Pria itu menatap Lusi dengan mata yang melotot. "Oh, sekarang udah berani cubit-cubit, ya? Oke, aku juga akan cubit-cubit kamu." Soni berlagak seolah ia akan mencubit Lusi, tangan kanan dan kirinya bergerak bergantian, membuat Lusi merasa takut. Wanita itu memegang kedua tangan sang kekasih, hingga sebuah kecupan mendarat di pipinya. Soni mengecup pipi Lusi, lembut. "Udah malem, sana pulang. Maaf karena aku nggak bisa anter kamu, hati-hati di jalan." Lusi seperti sedang terbang, hatinya tengah berbunga-bunga, layaknya remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya. "Kalo ada apa-apa, hubungi aku." "Aku yang harusnya bilang begitu!" Soni mencolek hidung kekasihnya. . . Ketika pagi menyapa, Lusi enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Ia mengecek ponselnya, memastikan kalau sang kekasih tak menghubunginya. "Syukurlah, artinya dia tidur nyenyak semalem." Gadis itu lalu menyeret kakinya untuk masuk ke kamar mandi, ia perlu menyiapkan dirinya karena hari itu mungkin ia akan menjadi hari yang berat untuknya. Lusi berangkat ke restoran dengan mantap, tanpa keraguan. Sesampainya di restoran, para pelayan sudah menyapanya dengan tatapan aneh, bukan lagi sapaan hormat seperti biasa. Gadis itu tersenyum, sudah tahu apa yang terjadi. "Pagi, semuanya." Lusi menyapa dengan lugas. Tak ada satu pun orang yang membalas ucapannya. "Kalian ada dendam sama saya?" tanyanya menggoda, semua orang lalu berkumpul mendekatinya. "Pak Ruslan udah dateng dari tadi, Bu. Sama pria yang katanya akan jadi manajer baru di restoran ini. Lalu gimana dengan Ibu?" tanya Tina dengan mimik wajah sedih. Lusi mengangguk. Gadis itu lalu mengangkat tangan kanannya yang sedari tadi sudah memegang amplop berwarna cokelat, amplop yang berisi surat pengunduran dirinya. "Aku bukan lagi manajer di sini, jadi kalian pasti seneng, karena nggak akan dapet omelanku lagi," ucap Lusi dengan nada bercanda. Namun, tak ada satu pun orang yang tertawa. Semua orang di sana malah menunduk sedih. "Apa ini ada hubungannya dengan video kemarin, Bu?" tanya Tina lagi. Lusi menggeleng mantap. "Enggak. Aku nggak bisa jelasin lebih rinci, tapi aku jamin, ini bukan karena masalah itu. Kalian tenang aja, jangan murung begitu, dong." "Gimana nggak sedih, Ibu mau pergi dari sini," sahut yang lain. "Aku kan cuma kerja di sini, aku bisa dateng dan pergi kapan aja. Begitu juga dengan kalian, jangan terlalu dibesar-besarin. Kalo kangen, silakan telepon aja, kita bisa makan bareng di luar." Lusi berusaha tegar, walaupun sebenarnya ia sedang rapuh. Ia juga tak ingin melepaskan jabatannya itu. Walaupun pekerjaannya itu menguras waktu, karena ia harus berangkat pagi dan pulang malam setiap harinya, gaji yang ia terima sangat besar. Selain itu, restoran itu menyimpan banyak kenangan, yang mungkin sulit untuk ia lupakan, baik dengan para pelayan di restoran itu, ataupun dengan Soni yang kini sudah menjadi kekasihnya. Lusi kemudian pergi meninggalkan rekan kerjanya itu, menuju ke ruang Soni, di mana saat ini Ruslan berada. Gadis itu mengetuk pintu, lalu masuk dan kemudian menunduk sesaat. Senyumnya mengembang sempurna, seolah ia benar-benar berbahagia. "Selamat pagi, Pak!" seru Lusi, sengaja menyapa Ruslan dengan suara yang lantang. Ruslan tak menjawab sapa dari Lusi, dan pria yang kini berdiri di dekat Ruslan lah yang menjawab. "Selamat pagi." Pria itu tampak canggung berada di sana, tetapi ia memilih diam karena sebenarnya ia tak tahu duduk permasalahan yang sebenarnya. Lusi berjalan dengan tegap, menyerahkan surat pengunduran dirinya di atas meja tanpa ragu. "Ini surat pengunduran diri saya, Pak." Ruslan masih diam, tak menatap Lusi sama sekali. "Kalau begitu, saya permisi dulu." Lusi membalikkan badan, tepat saat itu Ruslan membuka mulutnya. "Ini belum terlambat! Putusin Soni, dan kembalilah jadi manajer di restoran ini. Kalau kamu mau uang, aku akan bayar kamu dengan gaji 2 kali lipat. 3 kali lipat kalau perlu! Asal kamu putusin Soni!" Ruslan berteriak, membuat harga diri Lusi terinjak-injak. Lusi membalikkan badannya, kali ini ia menghadap Ruslan kembali. Tanpa ragu, ia menatap pria tua itu dengan sorot mata tajam. "Saya mencintai Soni bukan karena dia kaya, bukan karena dia siapa. Saya mencintainya karena dia Soni, pria yang juga mencintai saya. Kalau pun sekarang dia nggak punya apa-apa, bukan berarti saya akan meninggalkannya. Maafkan saya, Pak, saya mengaku saya salah, sudah lancang mencintai Soni. Tapi ... kami akan buktiin, kalau tuduhan Bapak kepada saya itu tidak benar. Saya permisi." Lusi kembali membalikkan badannya, melangkah meninggalkan Ruslan yang sedang naik darah. "Aku akan lihat, sejauh mana kamu akan terus bersandiwara!" Langkah kaki Lusi sempat berhenti ketika Ruslan meneriakinya kembali, gadis itu menoleh dan lagi-lagi tersenyum untuk membalas sikap kasar dari orang yang pernah menjadi bosnya itu. "Terima kasih karena sudah mendidik Soni dengan baik, hingga dia tumbuh menjadi pria yang bertanggungjawab." Lusi kemudian pergi. Suara hak sepatunya terdengar jelas, mengisi lorong yang tak terlalu panjang itu. Beberapa pelayan sudah menunggu wanita itu, menyambut kepergiannya dengan mimik wajah sedih. Lusi menghentikan langkahnya di depan orang-orang itu. "Ingatlah pesanku, jangan membicarakan atasan kalian di tempat kerja. Yang semangat kerjanya, semoga manajer baru kalian lebih baik dari aku." Lusi keluar dari restoran, sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobil, ia menoleh dan menatap bangunan mewah itu untuk beberapa saat. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN