Widuri-ibunda Soni, menangis tatkala melihat anaknya harus pergi dari rumah dengan kemarahan seperti itu.
"Pa, Soni masih kuliah, bisa-bisa dia putus di tengah jalan kalo begini caranya."
Mendengar tangisan sang istri, Ruslan memilih pergi, masuk ke kamar, karena ia tak tahan melihat istrinya menangis. Pria itu tak menyangka kalau anaknya akan nekat meninggalkan rumah tanpa uang sepersen pun, demi memilih mempertahankan hubungannya dengan Lusi.
Soni berjalan kaki tanpa tujuan. Ia tak punya uang untuk naik taksi atau ojek, ia benar-benar kebingungan.
Pemuda tampan itu berhenti di pinggir jalan, duduk menatap jalanan yang ramai lalu-lalang dengan perasaan kesal.
"Beg0 banget, kenapa aku nggak nyisain duit sedikit aja, buat ongkos. Lagian aku mau ke mana juga nggak tahu."
Pria itu merogoh saku celananya, berharap ada beberapa lembar uang yang tersisa, tetapi hasilnya nihil. Ia kemudian mengambil satu-satunya benda yang ia miliki saat ini-ponsel.
Soni enggan menelepon Lusi, tetapi pria itu tak memiliki tempat tujuan.
Setelah menimbang-nimbang, ia akhirnya menghubungi Lusi yang saat itu masih berada di restoran.
"Halo." Soni menyapa dengan nada datar.
Lusi mengerutkan keningnya ketika ia mendengar suara Soni yang bercampur dengan suara kendaraan, sangat bising.
"Kamu di mana?" tanya Lusi penasaran.
"Aku di jalan."
"Jalan mana?"
"Jalan Senopati."
"Bukannya itu deket sama rumah kamu? Kamu mau pulang?"
"Aku mau ketemu kamu."
"Aku di restoran, Son. Kamu ke sini aja, aku harus selesaiin laporan mingguan."
Soni diam untuk beberapa saat.
"Son?"
"Kamu harus ke sini, jemput aku."
"Maksud kamu?!" Lusi menaikkan volume suaranya.
"Kamu nggak usah kerja, besok kamu akan dipecat."
"Maksud kamu apa, sih, Son?"
"Aku memilih bertahan sama kamu, jadi Papa akan pecat kamu, cepat atau lambat."
Lusi menghentikan pekerjaannya, tangan yang sebelumnya berada di atas keyboard, kini meremas pelan dan berkeringat dingin.
"Jadi ... Pak Ruslan nggak kasih restu sama hubungan kita?" tanya Lusi dengan suara lemah.
"Heem."
Lusi dan Soni sama-sama diam.
"Terus ... kenapa kamu minta jemput? Kamu pergi dari rumah? Karena aku?" Lusi membulatkan matanya.
Soni tak langsung menjawab.
"Son?!"
"Iya, aku pergi, tanpa motor ataupun uang. Aku nggak punya apa-apa, Lus. Kenapa? Kamu nggak mau sama cowok kere?" tanya Soni dengan nada menggoda. Pemuda itu yakin kalau kekasihnya bukan orang yang seperti yang dituduhkan ayahnya.
"Ngomong apa, sih kamu, Son? Kamu tunggu di situ, aku ke sana sekarang!"
Tak lama kemudian Lusi pergi meninggalkan restoran meski ia belum selesai mengerjakan pekerjaannya.
.
.
Lusi menemui Soni dan lalu mengajak pria itu ke kafe, berbicara serius di sana.
"Kamu bener pergi dari rumah? Karena aku?"
Soni menyeruput kopi dengan santai, lalu mengangguk.
"Iya, aku keluar dari zona nyaman demi kamu, kamu harus tanggung jawab. Aku nggak akan biarin kamu lepas dari hidupku, selamanya." Kembali Soni berbicara dengan nada menggoda.
"Son, aku serius." Lusi mengerutkan keningnya.
"Apa kamu pikir aku main-main?" Soni masih terlihat tenang, walaupun sebenarnya ia sudah mulai bingung, harus di mana ia tinggal malam ini.
Lusi memejamkan matanya, mencoba mengatur napasnya yang tak teratur itu.
"Kenapa kamu pergi dari rumah? Kamu bisa aja putus dariku." Lusi menundukkan kepalanya, ia tak berani melihat sang kekasih.
Soni menatap kekasihnya dengan tatapan datar.
"Jadi, kamu maunya kita putus?"
"Bukan itu!" Lusi mengangkat pandangannya, menatap lurus ke arah sang kekasih.
"Aku ngerasa bersalah kalo kamu pergi dari rumah karena aku. Aku nggak mau ngasih kesan buruk sama orang tuamu. Aku nggak mau kamu korbanin masa depanmu buat aku."
"Masa depan yang mana? Kamu masa depanku, Lus!"
Lusi dan Soni kembali saling bertatapan.
"Jangan menyesali keputusanmu ini, Son. Karena aku nggak akan pernah ngelepasin kamu." Wanita itu merasa bahagia, walaupun ada perasaan tak nyaman di hatinya.
"Aku malah takut, kamu yang akan menyesal. Karena aku bukan lagi Soni Wiguna yang dulu, sekarang aku nggak lebih dari gembel. Jangankan rumah, mobil, ataupun motor, uang sepersen pun aku nggak punya."
Lusi merasa tersentuh.
"Terus, apa rencana kamu selanjutnya?"
Soni mengendikkan bahunya.
"Kamu mau tidur di mana malam ini?"
"Tidur sama kamu, dong."
"Son!!!"
"Apa?"
"Bisa serius, nggak, sih?!"
"Aku serius, Lus. Aku nggak punya siapa-siapa, aku cuma punya kamu. Kamu harap aku mau tidur sama siapa malam ini?"
Lusi membuka mulutnya, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia memang memiliki rumah, tetapi ia tak pernah membiarkan pria masuk ke rumahnya. Apalagi sampai menginap, rasanya terlalu canggung dan takut jika harus tinggal satu atap dengan pria yang belum resmi menjadi suaminya.
"Son ...." Lusi sengaja memanggil nama itu dengan nada memanjang.
"Apa ...?" Soni mengikuti apa yang kekasihnya lakukan, pria itu benar-benar senang menggoda kekasihnya.
Lusi tak bisa berkata-kata, ia menarik napas dalam-dalam dan lalu mengembuskannya lewat mulut.
"Tempat tinggal aja nggak ada, terus, gimana kuliah kamu? Kamu mau berhenti kuliah?"
Soni mengangguk. "Untuk semester ini, karena aku udah bayar, aku masih bisa terus kuliah. Nggak tahu kalo untuk semester selanjutnya. Itu pun aku harus buru-buru cari kerja, aku ke kampus butuh ongkos, aku juga harus makan. Aku harus cari pekerjaan secepatnya."
Lusi memandang Soni dengan tatapan malas. "Kamu mau kerja apa? Emang kamu pernah kerja apa selama ini?"
"Aku pernah ngurus restoran."
"Selain itu?" Lusi meragukan kemampuan sang kekasih.
"Kamu kerja di restoran karena kamu anaknya Pak Ruslan. Restoran lain nggak akan nerima kamu, apalagi kamu nggak punya kualifikasi sama sekali."
Soni mengembangkan mulutnya.
"Aku pernah jadi sopir pribadi."
Lusi mengerutkan keningnya. "Serius?"
Soni mengangguk.
"Oke, kita pikirin kamu akan kerja apa nanti. Sekarang kita balik lagi bahas kamu mau tinggal di mana. Nggak mungkin kita tinggal satu atap, kita bukan muhrim, Son."
Soni mengangguk.
"Jangan cuma ngangguk-ngangguk aja, dong."
"Terus? Kamu maunya aku gimana?" Soni kembali menggoda Lusi.
Lusi mengepalkan tangannya, sembari memejamkan matanya, sejenak.
"Aku nggak bisa ngajak kamu tinggal di rumah aku, kita belum resmi jadi suami istri."
"Ya udah, kalo gitu kita resmiin aja sekarang. Biar aku bisa tidur sama kamu secepetnya."
"Son ...." Lusi kembali mengepalkan tangannya, kali ini ia menggertakkan giginya.
"Tolong serius, aku bener-bener pusing ini." Mata Lusi berkaca-kaca.
"Maaf." Soni meraih tangan sang kekasih, lalu tersenyum.
Gemuruh di d**a Lusi tiba-tiba mereda.
"Aku nggak bisa tenang. Aku bingung kamu mau tinggal di mana, gimana kuliah kamu, gimana bisa tenang kalo semua ini terjadi karena aku?" Lusi menundukkan kepalanya.
"Kan kita udah berjanji buat hadepin ini sama-sama. Terus, apa yang buat kamu takut begini?"
"Kamu itu Soni Wiguna, pria yang dari lahir udah biasa hidup enak. Nggak mungkin kan karena aku, kamu harus hidup susah."
"Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, Lus." Kali ini Soni terlihat serius.
Lusi menatap Soni dengan matanya yang berkaca-kaca. "Kamu yakin akan hidup susah, demi aku?"
"Bukan demi kamu, sih sebenernya."
"Terus?"
"Tentu aja buat masa depan kita." Soni tersenyum dan lalu mengedipkan mata kirinya.
Lusi tersenyum. "Duh, gini amat ya, pacaran sama brondong. Nggak ada serius-seriusnya, berasa momong anak kecil."
"Yah!! Anak kecil ini udah bisa buatin kamu anak, loh. Mau bukti?" Soni menggoda.
Kening Lusi berkerut indah. "Nggak usah gila, ya!"
"Gimana, dong, aku terlanjur tergila-gila sama kamu."
Lusi tertawa terbahak-bahak. Pria yang dulu pernah jual mahal padanya, kini malah menjadi pria yang selalu merayunya dengan rayuan maut. Benar-benar tak disangka, gadis itu merasa bahagia.
"Apa kamu mau tinggal di rumah sakit jiwa? Ide bagus itu." Lusi balik menggoda Soni.
Soni terkekeh.
"Boleh juga. Mau ke rumah sakit mana? Bentar, aku search dulu di mbah google."
"Ih, dasar gila!"
"Ya iya aku gila, makanya aku cari rumah sakit jiwa yang sesuai sama seleraku."
Malam itu, Lusi dan Soni saling tertawa, bercanda bersama, sekalipun keduanya tengah diterpa masalah yang tak bisa dianggap sepele. Tawa Lusi terlihat tertahan, gadis itu tak tega melihat kondisi kekasihnya saat ini. Soni tahu sang kekasih merasa terbebani karenanya. Ia merasa sedikit menyesal karena sudah pergi begitu saja dari rumah orang tuanya. Namun, tamparan ayahnya membuatnya emosi karena itu adalah tamparan pertama ayahnya, untuknya.
Walaupun begitu, keduanya sepakat untuk menghadapi masalah mereka bersama-sama.