Cinta Tak Bermata 7

1305 Kata
Kedatangan Ruslan ke restoran kali itu adalah karena ia ingin mengambil kacamatanya yang tertinggal di ruangan Lusi. Pria itu melihat sepeda motor anaknya sudah terparkir rapi di depan restoran ketika ia kembali ke sana. Ia sengaja masuk ke ruangan itu berniat ingin memberi pujian pada sang anak karena sudah rajin bekerja, siapa sangka ia yang malah terkejut karena perbuatan anaknya. Soni mengajak Lusi duduk di bangku. Pria itu bahkan mengambilkan air minum untuk sang kekasih. "Jangan diem aja, ngomong, Lus." Soni menatap Lusi dengan tatapan mengiba. "Aku nggak tahu mau ngomong apa." Soni lalu mendengus kesal. "Baru aja kita pacaran, ini hari pertama jadian kita. Bukannya seneng-seneng, malah dateng petaka. Pacaran model apa yang di hari pertama langsung diminta putus?" gerutu Soni dengan mimik wajah kesal. Lusi tertawa getir. "Aku juga nggak nyangka bisa pacaran sama kamu." Soni menatapnya sinis. "Nggak nyangka? Nggak usah sok jual mahal, kan kamu yang ngejar-ngejar aku. Sampe nyamperin aku ke kampus, ngaku-ngaku jadi pacarku,-" ucap Soni terpotong karena tangan Lusi sudah lebih dulu membungkamnya. "Bisa serius dikit, enggak, sih?" Soni menyingkirkan tangan Lusi dari mulutnya. "Aku selalu serius, Lus." Lusi menghentakkan kakinya pelan. "Argh. Entahlah. Aku pusing." Soni menyandarkan tubuhnya di badan kursi. "Terus?" "Apanya?" "Kamu mau kita putus, nih?" tanya Soni menggoda. Lusi terdiam, ia memasang wajah manja. "Ya udah, kita putus aja." Soni memainkan intonasi nada bicara, demi menggoda gadis itu. "Jangan ...," sahut Lusi manja. Soni tersenyum senang. "Ya udah, dong, semangat. Kita akan lalui ini bersama." "Tapi aku takut." "Takut kenapa?" "Pak Ruslan pasti mecat aku kalo kita masih berhubungan." Lusi menunduk malu. Soni menganggukkan kepalanya lemah, sembari memikirkan cara untuk keluar dari masalah yang ia hadapi itu. Benar saja, selama ini ia hanyalah anak manja yang selalu mengandalkan orang tua. Ia pernah bekerja sekali sebagai sopir pribadi, bukan karena masalah uang, tetapi karena ia ingin dekat dengan wanita yang ia sukai. Jika membahas uang, tentu saja ia tak punya apa-apa kalau harus keluar dari rumah orang tuanya dengan kondisi saat itu. Namun, ia tak ingin menyerah atas hubungannya dengan Lusi yang baru saja ia mulai itu. "Kamu tahu, berapa lama aku jatuh hati sama seniorku itu? Lama! Aku dulu mikir kalo aku mungkin nggak akan bisa suka sama cewek lain. Sampe akhirnya aku mulai tertarik sama kamu." Soni berbicara dengan sangat serius. Lusi menekuk wajahnya, ia tak suka jika sang kekasih membahas masa lalunya. "Kamu masih suka sama cewek itu?" tanya Lusi dengan mimik wajah kesal. Soni menyeringai. "Kamu mau aku jujur, atau bohong?" Lagi-lagi Soni berbicara dengan nada menggoda. Lusi semakin kesal. "Jadi bener, kamu masih suka sama cewek itu? Ya udah, kita putus aja sekarang. Buat apa aku mempertahankan pria yang suka sama cewek lain? Padahal pekerjaannya dipertaruhkan!" Lusi mengalihkan wajahnya, melipat kedua tangannya di depan d**a. Soni meraih dagu sang kekasih dan lalu menariknya agar kembali menatapnya. "Nama Mbak Kila mungkin masih ada di hati aku. Nggak semudah itu aku ngelupain dia, aku pernah begitu mengharapkannya. Makanya aku butuh kamu, aku ingin kamu hapus nama itu dan gantilah dengan nama kamu. Sekarang ... aku sukanya sama kamu." Soni dan Lusi saling bertatapan. "Aku juga nggak main-main sama hubungan ini, Son. Kalau kamu memang serius sama aku, serius akan menikahiku kelak, aku nggak masalah kalau aku harus mengundurkan diri dari jabatanku sekarang." Lusi serius dengan ucapannya. Setelah hidup sendirian selama ini, Lusi ingin ada seseorang yang bisa ia jadikan sandaran ketika sakit. Ia juga ingin ada seseorang yang bisa berbagi canda dan tawa dengannya. Ia memang hidup berkecukupan selama ini, dalam hal materi, tetapi tidak dengan hati. Hatinya terlalu kosong, sejak ia memutuskan untuk berpisah dengan Samuel karena pria itu sudah mengkhianatinya. "Baiklah kalo begitu. Kita hadapi ini sama-sama. Aku akan yakinin Papa sama Mama kalo aku serius dengan hubungan kita. Aku harap Papa nggak serius mau pecat kamu." Soni tahu bagaimana sang ayah yang selalu memuji kinerja Lusi selama ini. Gadis itu bekerja sangat baik selama ini hingga membuat penjualan di restoran itu naik dari sebelumnya. . . Soni pulang ke rumah orang tuanya, menemui sang ayah dan ibunya yang ternyata sudah menunggunya. Kini, ia diminta untuk duduk di ruang keluarga di depan kedua orang tuanya itu. "Mama mau kamu jelasin semuanya, duduk permasalahan yang sebenarnya. Apa benar kamu pacaran dengan manajer di restoran kita? Kamu serius denagnnya? Atau hanya main-main saja?" tanya wanita itu dengan gugup. Sejak kepulangan sang suami yang terlihat marah siang tadi, wanita itu akhirnya menanyakan apa yang membuat suaminya marah. Sang suami akhirnya menceritakan semuanya, termasuk kekecewaannya pada Lusi dan pada Soni. Ibunda Soni sebenarnya tak masalah jika anaknya memang serius pada hubungan anaknya itu, terlepas status sosial Lusi dan umur gadis itu. Namun, ia tetap merasa takut kalau sang anak hanya dipermainkan oleh Lusi, seperti yang suaminya pikirkan. "Aku sama Lusi memang pacaran, Ma. Baru aja semalem kami jadian." Soni mengakui tanpa ragu. Ibu dan ayahnya terlihat terkejut dengan pengakuannya. "Semalem?" "Iya. Aku juga udah berjanji akan menikahi dia kalo aku udah mapan nanti." "Kamu pikir pernikahan itu main-main?!" Ruslan meneriaki anaknya. "Itu sebabnya aku bilang sama dia, nanti, kalo aku udah mapan. Kalo sekarang, jelas dia yang punya duit, aku selama ini cuma jadi anak manja yang apa-apa masih minta sama kalian." Soni tak ada takut-takutnya sama sekali. "Jangankan menikah, pacaran saja papa nggak akan kasih restu buat kalian!" Ruslan masih marah pada keputusan anaknya yang dianggapnya sebagai keputusan ceroboh, tak memikirkan banyak hal. "Kenapa? Karena Lusi cuma yatim piatu? Papa mau Soni menikah dengan anak kolega Papa? Dengan cewek yang berasal dari keluarga yang sederajat dengan keluarga Papa?" "Kalau kamu tahu, harusnya kamu nggak akan berani berhubungan dengan Lusi!" Soni tertawa sumbang. "Pa, Soni kecewa. Soni nggak tahu ternyata Papa orang yang picik." Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Soni. Ruslan murka ketika anaknya menyebutnya sebagai orang yang picik. Sang istri menutup mulutnya menggunakan kedua tangan karena itu adalah kali pertama sang suami memukul anaknya. "Picik kamu bilang?!" Soni berdiri, tepat di depan ayahnya yang kini juga berdiri. Keduanya saling berhadapan, saling bertatapan dengan sorot mata tajam. "Soni pikir Papa adalah orang yang sangat baik selama ini. Soni pikir Papa adalah orang yang nggak memandang orang lain hanya dari kasta saja. Nyatanya Soni salah! Papa sama kek orang-orang di luaran sana! Yang memandang orang hanya dari status sosialnya aja! Papa harusnya inget, semua ini cuma titipan Allah. Kalau Allah ambil semuanya, kita nggak punya apa-apa. Apa yang mau kita sombongkan?! Soni bener-bener kecewa sama Papa!" Ruslan membeku, bibirnya terasa kelu. "Soni serius sama hubungan Soni dengan Lusi. Soni akan nikahi Lusi suatu hari nanti. Terserah Papa mau beri restu atau enggak. Papa mau coret nama Soni dari daftar ahli waris? Silakan, Pa. Bagi Soni, harta bukan segalanya. Soni akan buktiin kalo Soni akan bahagia meskipun Soni nggak bisa sekaya Papa." Soni mengeluarkan dompetnya, mengambil KTP dan SIM, lalu melemparkan dompet itu ke atas meja. Ia merogoh saku celananya, lalu melempar kunci sepeda motornya, tepat di samping dompetnya. "Soni pergi, Pa." Soni menatap ayahnya dengan tatapan frustrasi, lalu menatap sang ibu yang tak lama. Wanita itu menangis melihat sang anak pergi, ia berlari mengejarnya. "Soni, jangan begini." Wanita itu menangis. "Biarkan dia pergi! Dia lebih memilih wanita itu dibanding orang tuanya sendiri! Untuk apa kamu tangisi anak durhaka seperti dia?!" Ruslan meneriaki istrinya. "Tapi, Pa,-" "Lepasin dia! Biar dia tahu gimana susahnya mencari uang! Tunggu saja sampe dia menyeret kakinya ke mari lagi. Wanita itu nggak akan mau dengan pria yang nggak beruang!" Soni menyeringai, sembari meneteskan air mata kesedihan. Ia begitu kecewa pada ayahnya, pria yang ia anggap sempurna selama ini. "Lusi, Pa. Papa tahu namanya Lusi, jangan panggil dia 'wanita itu'! Lusi nggak seperti yang Papa kira! Assalamualaikum." Soni melepaskan tangan ibunya dari tangannya, dan lalu pergi meninggalkan rumah itu tanpa uang sepersen pun. Namun, ia sama sekali tak menyesali keputusannya dan berharap Lusi akan menerimanya dengan kondisi seperti itu. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN