Cinta Tak Bermata 6

1017 Kata
Orang yang baru saja membuka pintu ruang kerja pemimpin restoran itu ikut terkejut dengan apa yang ia lihat. Soni segera mengambil jarak dari Lusi. Begitu pula dengan Lusi, wanita itu merapikan penampilannya seketika dan lalu berdiri tegak dengan kepala yang menunduk. "Papa?" Soni terkejut setengah mati ketika ayahnya datang ke restoran dan memergokinya berduaan dengan sang kekasih di ruang kerjanya. Ruslan melangkah masuk dengan langkah berat, seperti menyeret kedua kakinya, memaksa dirinya untuk masuk ke ruangan itu. Ia tak menduga, kedatangannya itu malah membuat kejutan untuk dirinya sendiri. "Kamu ... kamu punya hubungan sama dia?" tanya pria tua itu dengan suara yang sedikit terbata. Ayah Soni itu merasa kecewa pada apa yang sudah ia lihat, dan semakin kecewa ketika Soni mengangguk mantap. Ya, Soni memilih mengakui hubungannya dengan Lusi dari pada menutupi kenyataan itu. Sejak awal, ia memang sudah berkomitmen, bersiap untuk bertanggung jawab dengan hubungan yang sudah ia mulai dengan Lusi. "Ya, Lusi dan aku pacaran, Pa." Soni menjawab dengan lugas. Sontak saja Ruslan mengepalkan tangannya, menggertakkan giginya dan melotot tajam pada anaknya. Pria itu hampir saja terjatuh ketika tubuhnya melemas seketika. Soni mencoba membantu sang ayah untuk tetap berdiri, tetapi pria tua itu tak ingin anaknya membantunya. Tangan yang sudah berkeriput itu menghempaskan tangan sang anak dengan sangat kasar. Ruslan lalu duduk di bangku yang sebelumnya Lusi gunakan. Lalu menghadap pada dua sejoli yang masih berdiri itu. Semua orang terdiam. Ruslan membisu, tetapi matanya melotot tajam pada sang anak dan sesekali menatap pada Lusi yang masih berdiri di ujung ruangan itu. Soni sendiri tak merasa gentar sekalipun kemarahan sudah terlihat jelas di wajah ayahnya. Ia malah merasa kasihan pada sang kekasih-Lusi, yang sama sekali tak berani mengangkat pandangannya karena takut pada pemilik restoran itu. Ya, Lusi merasa bersalah pada Ruslan karena sudah membuat pria tua itu kecewa, yaitu dengan menjadikan Soni yang tidak lain adalah anak dari pemilik restoran itu sebagai kekasihnya. Sementara sejak awal ia bekerja di restoran itu, ia sudah dipercaya sebagai orang yang berkompeten. "Keluarlah, aku mau bicara dengan Lusi." Ruslan berbicara pelan, walaupun emosinya belum surut. Soni berjalan mendekat ke ayahnya. "Bicara sama Soni aja, Pa. Atau bicara selagi ada Soni di sini. Soni nggak akan ninggalin Lusi begitu aja." Ruslan menatap tajam ke arah sang anak. "Aku mau bicara dengan manajer di restoran ini, silakan kamu keluar dulu." Pria itu berjalan dengan sangat tegas. Suasana di ruangan itu semakin tegang, Lusi tak ingin membuat hubungan ayah dan anak itu merenggang karenanya. Ia memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya, lalu berjalan mendekat ke pemilik restoran itu. "Keluarlah," ucapnya lirih. Soni menoleh dan menatap wajah sang kekasih dengan tatapan sayu. "Aku nggak akan keluar! Aku nggak akan ninggalin kamu sendirian!" Ruslan semakin kesal melihat ulah sang anak, ia semakin kecewa pada pemuda tampan itu. "Apa sekarang kamu lebih memilih wanita itu dibanding orang tuamu sendiri?!" "Ini bukan tentang siapa yang aku pilih, Pa,-" ucap Soni yang terhenti ketika tangan Lusi meraih lengannya. Pria muda itu menoleh, dilihatnya sang kekasih yang kini menatapnya dengan tatapan sayu sembari menggeleng pelan. Lusi memberi tanda kalau sebaiknya kekasihnya itu menjaga sikapnya di depan orang tuanya. "Tolong, keluar. Ini nggak akan lama, Son." Lusi berbicara begitu lirih, membuat Soni merasa tersentuh dan mau tak mau harus menuruti permintaan kekasihnya itu. Lusi tersenyum sembari menatap Soni yang kini melangkah keluar dari ruangan itu. Ditutupnya pintu ruang kerjanya dari luar, lalu ia berdiri di depan pintu untuk menguping pembicaraan ayah dan kekasihnya itu. Setelah Soni keluar, Lusi menatap Ruslan dengan berani, ia sudah bertekad akan bertanggung jawab untuk perbuatannya. "Silakan bicara, Pak." Ruslan menyeringai. "Aku sangat kecewa dengan kamu." Lusi menatap Ruslan tanpa ragu, walaupun ada ketakutan di matanya. "Maafkan saya, Pak." "Kamu tahu apa kesalahanmu?" "Karena saya sudah berani menjalin hubungan dengan anak Bapak." "Bagus kalau kamu tahu. Bisa kamu jelasin kenapa kamu berbuat seperti itu?" "Saya dan Pak Soni saling suka, Pak." Ruslan mengembuskan napas kasar. "Berani sekali kamu bicara seperti itu?!" "Maafkan saya, Pak." Lusi menunduk, meminta maaf dengan tulus. "Aku sangat kecewa karena aku begitu percaya dengan kamu. Sejak awal aku sudah minta kamu buat bimbing Soni biar dia bisa kerja dengan bagus, bisa ngurus restoran ini dengan baik sampe jadi restoran nomor satu di kota ini. Tapi, kamu malah mendekatinya dan berhubungan dengannya? Apa jabatan sebagai manajer dan gaji yang aku beri masih kurang?!" Lusi mengangkat pandangannya, menatap Ruslan dengan kening yang berkerut. "Apa maksud Bapak? Bapak berpikir saya mendekati anak Bapak karena saya hanya ingin uangnya saja?" "Bukannya memang iya? Apa yang diharapkan wanita sepertimu? Cinta? Soni masih terlalu muda untuk kamu, Lus. Aku yakin kamu cuma menjadikan dia sebagai boneka mainanmu saja!" Pintu ruangan itu terbuka dengan keras, suara benturan antara daun pintu dan dinding itu membuat Ruslan dan Lusi terhentak. Soni berjalan dengan begitu gagah dan lalu memegang tangan sang kekasih, di depan ayahnya. "Pa, aku sama Lusi saling cinta. Kami bahkan berkomitmen untuk menikah suatu saat nanti. Dan Lusi juga nggak seperti yang Papa pikir, dia wanita baik-baik, Pa!" Soni menegaskan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Cinta? Papa tahu itu cuma cinta monyet! Papa nggak mau tahu, kamu harus akhiri hubungan kalian. Atau, Papa akan coret kamu dari ahli waris!" Ruslan melangkah pergi dengan emosi yang menggebu. Namun, tepat ketika di depan pintu, ayah Soni itu berhenti dan menoleh pada dua orang yang masih berpegangan tangan. "Dan untuk kamu, silakan serahkan surat pengunduran diri, kalau kamu masih berani menjalin hubungan dengan Soni!" Sorot mata tajam Ruslan seolah menusuk Lusi, membuat gadis itu gemetar ketakutan. Selepas kepergian Ruslan, Lusi melepas genggaman tangan sang kekasih dan duduk berjongkok dengan debar jantung yang tak terkendali. Soni ikut berjongkok dan mencoba menenangkan gadis itu. "Kamu nggak kenapa-napa?" Lusi diam, bibirnya terlalu kelu untuk berbicara. "Aku akan mencoba ngeyakinin Papa kalau hubungan kita nggak main-main. Aku harap kamu nggak menyerah di hari pertama hubungan ini." Lusi yang awalnya menatap lantai, kini menatap mata sang kekasih dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Aku nggak berniat menyerah, Son. Tapi aku nggak mungkin berani ngelawan perintah Pak Ruslan." "Aku tahu Papa cuma salah paham aja sama kamu. Aku akan ngeyakinin Papa, aku akan buat Papa ngerestui hubungan kita." Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN