Cinta Tak Bermata 5

1153 Kata
Tak lama kemudian Lusi tersenyum. "Kenapa? Kamu cemburu?" tanyanya dengan nada menggoda. Soni mengembuskan napas panjang. "Emang salah aku cemburu sama pacar aku sendiri?" Lusi tersenyum senang, hatinya berbunga-bunga. Gadis itu lalu duduk di bangku, mencoba menjaga sikap tenangnya. "Buat apa cemburu? Bukannya kamu udah kenalin kamu sebagai pacar aku di depan dia? Dia udah tahu, kan?" Soni tersenyum ringan dan lalu mengangguk lemah. "Tapi ...,-" ucap Soni menggantung, Lusi mendengarkan dengan baik. "Nyatanya di masih dateng ke sini, sepertinya dia nggak takut sama aku. Baiknya, aku harus gimana?" tanya Soni yang kini membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lusi. Debar jantung Lusi semakin cepat, gadis itu merasa gugup karena ulah sang kekasih. Sementara Soni, ia malah menikmati aksinya itu untuk menggoda sang kekasih yang kini diam seperti patung. Kedua sejoli itu lalu saling tatap, sangat intens. Beberapa saat kemudian, Lusi mendorong tubuh Soni agar memberinya jarak. Ia tak ingin ada yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan memergoki mereka dengan situasi seperti itu. "Jaga sikap Bapak, kita lagi di restoran, kita nggak seharusnya begini." Soni tersenyum. "Emang seharusnya kita begini di mana?" goda pria muda itu. Lusi melirik Soni dengan tajam. "Kamu seneng banget sih ngegoda aku?!" "Yang konsisten, dong, Lus. Kalo mau formal ya formal, enggak ya enggak. Jangan sekarang bapak terus semenit kemudian jadi kamu." Soni semakin bersemangat menggoda Lusi. Lusi berdiri, hendak mengambil jarak yang lebih jauh dari itu. Namun, buru-buru Soni menarik tangan gadis itu sampai keduanya saling berdempetan. Posisi Lusi dan Soni saat ini layaknya dua orang yang siap berdansa. "Lepasin!" Lusi mencoba melepaskan dirinya dari pelukan sang kekasih. Ia tak ingin ada orang yang akan memergoki mereka berbuat seperti itu di kantor. "Sssssttttt!" Soni mendekatkan bibirnya ke wajah Lusi, gadis itu memundurkan kepalanya seketika. "Kamu harus tanggung jawab." Soni berkata pelan. "Untuk apa? Masalah kedatangan Samuel?" "Bukan." "Lalu?" "Masalah hatiku. Kamu yang dulu sering goda aku, masuk ke dalam hidup aku meski aku suka sama wanita lain. Giliran sekarang, di saat aku mulai tertarik sama kamu, mulai suka sama kamu, kamu mau sok jual mahal? Pake minta aku jaga sikap, bukannya kamu maunya seperti ini?" Lusi membuka mulutnya, bengong, tak percaya dengan ucapan sang kekasih. "Aku nggak pernah ngegoda kamu, ya!" Lusi tak ingin mengakui tuduhan sang kekasih. Tentu saja karena ia merasa malu jika harus mengingat bagaimana dirinya yang memang mengejar cinta pria yang lebih muda darinya itu. Soni menyeringai. "Oh, ya?" "Lepasin," ucap Lusi mengiba. Gadis itu memasang wajah memelas agar Soni mau melepaskan tubuhnya. Soni akhirnya melepaskan tubuh kurus itu. Lusi segera mengambil jarak karena tak ingin ada sentuhan fisik lagi di ruangan itu. "Kenapa, sih, kamu seperti yang takut banget kalo kita deket-deket di sini. Karena video di gudang? Lagian kita nggak bener-bener ciuman, kenapa kamu harus marah saat para pelayan melihatnya?" Soni mulai berbicara serius. Pria itu lalu duduk di singgasananya. "Iya juga, sih. Kita kan nggak bener-bener ciuman waktu itu." "Terus, kenapa kamu sampe marah-marah? Biarin aja." "Aku nggak marah karena video itu, aku marahnya karena mereka gosipin kamu. Kamu kan bos di sini." "Yang mereka gosipin tuh bukan bos di restoran ini, Lus. Yang mereka gosipin itu cowok yang udah nyium manajer di restoran ini, di gudang." Soni kembali menggoda sang kekasih. Lusi membenarkan ucapan Soni. "Bener juga. Siapapun yang ada di gudang itu, orang itu yang akan menjadi bahan gosip. Jadi, mereka nggak salah?" Soni mengangguk. "Ya! Jadi nggak usah marah sama mereka." Lusi mengangguk. "Aku udah balikin ponsel mereka, sih. Aku juga udah minta maaf karena aku nggak bisa kerja secara profesional. Pacaran di tempat kerja, bahkan mantan pacar aku buat keributan sampe 2 kali." "Aku akan nambah satpam untuk berjaga. Kamu jangan khawatir." Lusi membulatkan matanya. "Buat apa? Pak Ruslan bisa curiga kalo kita cari satpam yang baru." "Maksudnya?" "Restoran kan baik-baik aja, nggak ada masalah serius. Kalo nambah satpam, aku juga harus buat laporan untuk pengeluaran biaya tambahan. Dan gaji satpam kan nggak kecil, Son." Soni menatap Lusi dengan tatapan kesal. Lusi sadar kalau Soni sudah merubah mimik wajahnya. "Maaf kalau aku salah ngomong." Soni kembali berdiri dan lalu kembali duduk di atas meja. "Yang pertama, urusan satpam, biar aku yang jelasin sama papa. Kamu nggak perlu takut, aku jamin papa nggak akan keberatan." Lusi mengangguk lemah, tak berani membuka mulutnya. "Yang kedua, berani banget kamu panggil aku dengan nama aku. SON? Kamu panggil aku 'Son'?" Lusi semakin merasa takut. "Maafkan saya, Pak." Buru-buru ia meminta maaf karena ia sadar ia sudah melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan. Soni mendengus kesal. "Aku nggak suka kamu panggil aku pak pak pak, apa aku kelihatan tua?!" Lusi menggeleng. "Itu karena saya menghormati Bapak, ini di tempat kerja." "Tapi kita lagi berdua! Aku sama kamu udah komitmen mau menikah, artinya kita punya hubungan spesial. Dan kamu manggil aku dengan sebutan itu waktu kita cuma berdua?" Lusi sempat bingung, ia sampai bengong karena tak tahu harus berkata apa. "Terus .... Aku mesti panggil apa? Kalo bapak nggak boleh, Soni juga nggak boleh." Lusi memasang wajah memelas, terlihat manja. Melihat Soni marah, itu memang bukan kali pertamanya. Namun, kali ini adalah kali pertama bagi Lusi menyandang status sebagai kekasih pria itu dan mendapatkan kemarahan karena urusan pribadi mereka. "Kalo kamu panggil aku bapak, rasanya kamu kayak jaga jarak sama aku, kayak kita ini bukan siapa-siapa. Tapi bukan berarti juga kamu boleh manggil aku dengan nama aku. Apa karena aku lebih muda dari kamu, jadi kamu panggil aku begitu?" "Bukan," jawab Lusi dengan malas. Soni berdiri dan lalu mendekat ke Lusi, tangan kanannya lalu membelai pipi mulus gadis itu. "Silakan panggil aku dengan sebutan apa pun kalo kita di depan umum. Tapi ... kalo kita berdua begini, bukannya kamu harus panggil aku dengan sebutan yang spesial. Bukankah aku orang spesial buat kamu?" Soni berbicara dengan suara yang begitu lirih. Lusi bergeming, ia memikirkan ucapan sang kekasih berulang kali. "Maksudnya, kamu mau ada panggilan spesial di antara kita?" tanya Lusi kemudian. Soni mengangguk. "Hm!" "Apa?" "Apa apanya?" "Ya panggilan itu, yang kamu bilang panggilan spesial, aku nggak tahu." "Ya kamu harus buat, dong." "Kamu sendiri juga nggak panggil aku dengan panggilan spesial," ucap Lusi yang lalu memajukan bibirnya. "Kamu mau panggilan apa? Sayang? Honey? Bunny? Swety? Baby?" Soni menggoda sang kekasih, perlahan melangkah mendekat, membuat gadis di depannya perlahan mundur. Setiap Soni melangkah maju, di situ pula Lusi melangkah mundur, begitu terus hingga tubuh Lusi membentur dinding. Soni menyeringai, tatapan nakalnya membuat Lusi merasa sedikit kesal. Gadis itu mendorong tubuh pria yang kini berada di depannya itu agar tak melakukan hal yang tidak ia inginkan. Ketika kedua tangannya mendarat di d**a Soni, kedua tangan Soni lalu memegangi tangannya dan kemudian pintu ruangan yang sebelumnya tertutup itu, terbuka selebar-lebarnya. Kedua sejoli itu serentak menoleh ke arah pintu, melihat orang yang datang di depan pintu. 2 pasang bola mata itu seperti akan terlepas dari tempatnya, degup jantung mereka juga menjadi tak terkontrol tatkala melihat sosok yang kini menatap mereka dengan tatapan tajam. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN