Cinta Tak Bermata 4

1132 Kata
Lusi dan Soni masih belum tahu apakah hubungan mereka akan direstui oleh kedua orang tua Soni atau tidak. Namun, keduanya sepakat untuk berjuang bersama demi tujuan utama mereka-menikah di saat sang pria sudah mapan. Tak hanya mapan secara finansial, tetapi juga mapan secara lahir dan batin, karena menjadi suami adalah tugas yang tak bisa dibilang mudah. Apalagi Lusi adalah wanita yang 5 tahun lebih tua dibanding Soni, wanita itu mungkin memiliki pemikiran yang sedikit berbeda darinya. Lusi tersenyum, lesung pipinya terlihat begitu cantik di mata Soni. "Semoga orang tua kamu setuju dengan rencana baik kita." Lusi berkata lirih. Soni mengangguk. "Kenapa? Kamu mau buru-buru nikah?" ledek pria itu. Lusi menyeringai. "Apaan, sih? Udahlah, aku mau balik kerja lagi." Wanita itu melangkah meninggalkan Soni yang masih tersenyum senang melihat ekspresinyanya yang malu-malu kucing itu. Lusi kembali ke meja kasir, kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Soni menuju ke ruangannya, tetapi sebelum ia masuk ke dalam ruangannya, ada Tina yang kebetulan muncul dari ruang gudang. "Selamat pagi, Pak." Soni tersenyum. "Pagi." Tina berniat pergi begitu saja, sebelum akhirnya Soni menghentikan langkahnya. "Masuk ke ruanganku sebentar." Tina masuk dengan perasaan cemas. Wanita itu tak tahu alasan kenapa ia diminta masuk ke ruangan pemimpin restoran itu. Ia meremas tangannya beberapa kali karena gugup. "Gimana kalo Pak Soni marah karena kami ketahuan bergosip tentang dia sama Bu Lusi?" tanya Tina dalam hati. Wanita muda itu menggigit bibirnya beberapa kali, ia tak berani menatap Soni secara langsung. "Duduklah," ucap Soni setelah dirinya sendiri duduk di bangku kerjanya. Tina ragu-ragu untuk duduk, tetapi ia tak berani menolak permintaan sang bos. "Nggak usah takut, aku cuma mau tanya-tanya sedikit aja." Soni tersenyum, ia tahu wanita di depannya itu tengah gugup karenanya. Tina ikut tersenyum, walaupun itu hanya senyum terpaksa. "Ah, iya, Pak." "Apa bener kalo ayahku ke sini, tadi?" tanya Soni yang akhirnya membuat Tina bisa bernapas lega. Ia begitu ketakutan jika harus kena marah sang bos karena ikut bergosip ria dengan pelayan lainnya mengenai hubungan asmara sang bos. "Iya, Pak. Tapi cuma bentar, cuma keliling terus langsung pulang." Tina menjawab dengan lugas. "Serius?" tanya Soni dengan santai. Tina mengangguk. "Iya, Bu Lusi yang menemani Pak Ruslan berkeliling melihat restoran." Soni mengangguk. "Apa ada masalah?" tanya Soni ketika melihat raut wajah Tina yang berubah secepat kilat. Wanita itu menggaruk lehernya yang bahkan tak gatal itu. "Anu ...." Tina ragu untuk mengatakannya, tetapi ia juga ingin Soni tahu apa yang ingin ia katakan itu. "Katakan saja, jangan buat aku penasaran." Soni bersikap sebaik mungkin di depan bawahannya itu. "Selain Pak Ruslan, ada orang lain yang dateng ke sini." Tina akhirnya berbicara tentang apa yang membuatnya merasa khawatir. "Siapa?" tanya Soni penuh curiga. Pria itu mengerutkan keningnya, menatap Tina dengan lekat. "Mantan pacarnya Bu Lusi." Soni membulatkan matanya. "Apa?!" "Tadi orang itu datang ke sini lagi. Untung saja masih pagi, jadi belum rame pengunjung." Tina melanjutkan aduannya. "Nggak diusir sama satpam?" tanya Soni yang kini mulai memasang wajah datar. Ia mulai kesal, membayangkan ada pria lain yang mengganggu kekasihnya. "Diusir, Pak. Bu Lusi juga sempet nemuin, marah juga sama orang itu." Soni mengepalkan tangannya, memukulnya pelan di atas meja kerja di depannya. Pria itu diam, memikirkan cara untuk mengatasi hal yang tak bisa ia hindari itu. "Orang itu akan terus dateng ke sini, nemuin Lusi kapan pun dia mau. Dan aku bisa aja nggak di sini karena aku harus kuliah. Apa yang harus aku lakuin?" batin Soni. Tina hanya diam selama Soni diam, ia tak berani berbicara satu patah kata pun, takut kalau bosnya marah. "Baiklah, aku akan cari cara untuk mencegah orang itu balik lagi ke sini. Kamu boleh pergi." Tina mengangguk. Lalu berdiri dan perlahan melangkah meninggalkan Soni. Namun, sebelum wanita itu sampai di pintu, Soni menghentikan langkah gadis itu. "Oh, ya!" pekik Soni, sangat lantang, membuat Tina langsung berbalik dan menatap bosnya dengan lekat. "Ada lagi, Pak?" "Emang bener, kalian semua lihat video aku cium Lusi di gudang?" tanya Soni yang masih penasaran dengan masalah pribadinya. Pria itu tak ingin marah, ia hanya ingin tahu yang sebenarnya terjadi. Namun, pertanyaan itu berhasil membuat Tina ketakutan. Gadis itu takut dipecat karena sudah bergosip tentang hubungan asmara atasannya. "E ... e .... I-iya, Pak." Tina menjawab dengan gugup. Ia menunduk ketakutan, tangannya saling meremas, diletakkan di belakang paha. Soni tersenyum geli. "Jadi kalian semua udah tahu kalau aku sama Lusi pacaran?" Tina mengangkat pandangannya, lalu menatap Soni dengan keheranan. "Ha?" "Jadi aku nggak perlu beri pengumuman, kan, kalo aku sama Lusi pacaran?" Tina benar-benar terkejut karena reaksi Soni sangat berbeda dengan Lusi. Walaupun akhirnya Lusi meminta maaf, tetapi awalnya wanita itu marah terhadap para pelayan yang bergosip tentangnya. Namun, Soni tampak biasa saja walaupun video dirinya yang mencium manajer restoran itu sudah dilihat banyak orang. Tina mengangguk lemah dengan tatapan datar. "Iya, Pak." Soni tersenyum. "Baiklah," ucapnya singkat, kalimat yang tak dimengerti oleh Tina. Pelayan muda itu masih berdiri di depan pintu, menunggu kalimat selanjutnya dari sang bos. Soni memainkan lidahnya di dinding mulutnya. "Kali ini aku akan maafin. Tapi ... lain kali aku nggak akan maafin kalian kalo kalian berbuat seperti itu lagi. Tugas kalian di sini sebagai pelayan, jangan melakukan hal yang akan merugikan kalian sendiri." Soni berbicara dengan pelan, tetapi berhasil membuat Tina merasa ketakutan. "B-ba-baik, Pak." Tina lalu pergi dari ruangan yang membuatnya merasa panas-dingin itu. Soni sendiri langsung memanggil Lusi, menelepon wanita itu agar datang ke ruangannya. Lusi masuk ke ruangan Soni setelah mengetuk pintu. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya sesaat, tetapi bibirnya membisu. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, memberi salam sebagai bawahan, atau menyapa sebagai seorang kekasih. Ia masih canggung dengan hubungan asmara itu. "Kenapa?" tanya Soni yang merasa aneh dengan tatapan Lusi. Wanita itu lalu melangkah mendekat, kini ia berdiri di depan meja kerja Soni. "Aku nggak tahu aku harus gimana. Rasanya aneh," ucapnya lirih. "Maksud kamu?" "Kamu bos di sini, aku cuma manajer, aku cuma pekerja di sini. Gimana pun juga aku harusnya jaga sikap aku kalo kita di sini, karena kita lagi kerja." "Terus?" tanya Soni meledek. Pria itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke sang kekasih. Lusi menatap bingung pada Soni. "Ya ... gimana kalo kita sepakat buat tetep bersikap seperti dulu aja kalo kita lagi di restoran?" Lusi berkata dengan gugup ketika Soni berdiri di dekatnya. Pria itu lalu duduk di meja kerjanya dan menatap sang kekasih dengan tatapan nakal. "Kenapa? Kamu nggak mau orang-orang tahu hubungan kita?" "Bukan begitu, aku cuma nggak mau dianggap nggak profesional sama para pelayan. Aku takut mereka mikir aku nggak becus kerja dan cuma ngandelin statusku aja." Soni mengangguk. "Bukan karena kamu nggak mau mantan pacar kamu itu tahu?" Lusi membulatkan matanya. Ia tak menyangka Soni akan bertanya hal itu. Namun, ia sendiri merasa menyesal karena tak langsung bercerita mengenai kedatangan Samuel yang membuat keributan lagi di sana. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN