Menangis membuat Lusi merasa lebih baik, merasa ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman sudah pergi dari dirinya. Kini, yang ada tinggal rasa malu karena wajahnya yang sembab dan terlihat kacau. Ingusnya masih menghuni kedua lubang hidungnya, batang hidungnya terlihat merah, matanya merah dan wajahnya terasa panas. Ia membiarkan pintu di sampingnya terbuka lebar-lebar agar bisa memberinya kesegaran dan kesejukan. Soni terus menatap sang kekasih dan sesekali mengacak-acak rambutnya, bahkan kali ini ia melakukannya lagi. "Jangan. Aku udah jelek banget, nggak perlu kamu tambahin." Lusi menggerakkan kepalanya agar menjauh dari tangan sang kekasih. Ia benar-benar merasa malu dengan kondisinya sekarang. Penampilannya sebelum menangis saja sudah kalah jauh jika disandingkan dengan penampilan Son

