Beberapa hari kemudian. Lusi yang baru saja pulang dari tempat kerja, membuka matanya lebar-lebar ketika ada sosok wanita yang sudah duduk di teras rumahnya. Wanita itu sudah menunggunya sedari tadi, sendirian, di sore yang tampak cerah itu.
Lusi tahu siapa yang sudah menunggunya itu, ia pernah bertemu beberapa kali ketika ia bekerja di restoran yang dulu.
"Selamat sore, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
Lusi berdiri tepat di depan wanita yang sedari tadi duduk di kursi di terasnya. Kakinya terasa gemetar seketika, membayangkan apa yang akan ia dengar berikutnya. Sejak perpisahannya dengan Soni, hidupnya terasa begitu menyakitkan. Ia mencintai pria itu, pria yang lebih muda darinya, tetapi nasib memaksanya untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Selamat sore. Baru pulang kerja?" tanya Widuri-ibunda Soni, wajahnya tersenyum ringan, tetapi terlihat raut lelah di wajah wanita itu.
"E ... iya, Bu. Ada perlu apa, ya?" Lusi duduk. Ia merasa takut akan sesuatu yang belum ia dengar, kedatangan ibunda dari mantan kekasihnya itu tentu saja adalah hal yang tak pernah ia bayangkan.
"Aku ke sini mau tanya, di mana Soni sekarang?" Widuri berbicara dengan suara pelan.
Lusi merasa kaget dengan pertanyaan wanita yang kini duduk tak jauh darinya itu. "Soni belum pulang?" tanyanya dengan kedua alis yang terangkat.
Widuri menggeleng. "Sejak papanya ngelarang dia pacaran sama kamu, dia nggak pernah pulang."
Suara lirih Widuri terdengar begitu lirih, membuat Lusi merasa bersalah. Gadis itu menatap langit yang mulai berwarna jingga, terlihat indah, tak seperti hatinya yang terasa kacau dan cenderung merasa sakit.
"Tapi saya sama Soni udah nggak sama-sama lagi, Bu. Kami udah putus." Pengakuan Lusi membuat Widuri terkejut.
"Apa?"
"Iya, Bu. Saya udah nggak ada hubungan lagi sama Soni. Dia nggak pulang ke rumah?"
Kali ini Lusi yang merasa khawatir. Ia sudah merelakan perasaannya pada Soni, meminta perpisahan walau sebenarnya ia masih sayang. Namun, nyatanya perpisahan yang sudah menyiksanya beberapa hari ini sepertinya tak memberinya keuntungan. Ia berharap Soni mau pulang ke rumah orang tuanya dan kuliah seperti dulu lagi. Namun, kenapa ibunya malah mencarinya sekarang?
Widuri menggeleng. "Sejak hari itu, dia nggak pernah pulang ke rumah."
Lusi meremas tangannya, berpikir ke mana mantan kekasihnya itu pergi.
"Aku juga pergi ke kampus, tapi temen-temennya bilang kalau dia udah semingguan lebih nggak ke kampus. Terus Soni ke mana?" Widuri merasa khawatir pada anak bungsunya. Kedatangannya ke rumah Lusi yaitu ia berharap ia bisa mendengar kabar tentang Soni, tetapi kenyataannya berkata lain.
Lusi beranjak, lalu menatap ibunya dengan kening yang berkerut. "Ibu, silakan ikut saya."
Tanpa banyak pertanyaan, Widuri mengikuti Lusi. Gadis itu mencoba mencari Soni di rumah kos pria itu, satu-satunya tempat yang bisa ia tuju saat ini.
"Mas Soni jarang pulang, malah hampir nggak pernah pulang. Terakhir pulang itu 3 atau 4 hari yang lalu," ujar pemilik rumah kos itu.
Lusi terpaksa menelan harapannya, ia tak tahu ke mana pria yang masih ia cintai itu pergi. "Nggak seharusnya aku minta putus."
Lusi menempelkan keningnya di setir, menarik napas dalam-dalam sembari memikirkan ke mana lagi ia harus mencari Soni.
Widuri menepuk punggung Lusi. "Kita pulang dulu, sudah waktunya maghrib."
Lusi menatap Widuri dan lalu mengangguk, ia kemudian mengajak Widuri pergi ke masjid terdekat. "Kita solat di sini aja, ya, Bu?"
Widuri tersenyum, tetapi Lusi tahu wanita itu terlihat begitu lelah.
Lusi sudah selesai solat terlebih dulu, ia menunggu Widuri di serambi masjib itu. Sembari berpikir ke mana lagi ia akan mencari Soni.
Tak lama kemudian, Widuri duduk di sampingnya. "Udah solat?"
"Udah, Bu." Lusi berbicara lirih, tak berani bertatapan langsung dengan wanita yang kini tesenyum dalam lelahnya itu.
Widuri menarik napas dalam-dalam. "Kenapa kalian putus?" tanyanya pelan, tak ingin melukai perasaan Lusi.
Lusi akhirnya menatap Widuri, ia takut wanita itu akan tersinggung atau marah padanya, ternyata ibunda Soni begitu baik padanya.
"Soni nggak kuliah selama 2 hari, dan milih kerja. Saya nggak mau Soni berhenti kuliah, makanya saya minta putus aja. Berharap dia kembali pulang ke rumah dan bisa hidup enak seperti dulu lagi. Saya nggak tahu kalau ternyata dia malah ngilang seperti ini, saya bener-bener nggak tahu."
Lusi menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya, ia ingin menangis, tetapi malu.
Widuri merangkul gadis itu, mengelus lengannya pelan, sementara ia sendiri juga sedang merasa cemas. "Kita cari sama-sama, ya."
Lusi membuka kedua telapak tangannya, lalu menatap Widuri dengan mata yang berkaca-kaca. "Maafin saya, Bu. Soni pergi karena saya."
Widuri kemudian memeluk Lusi, kedua wanita itu saling berpelukan, saling memberi kehangatan. "Kamu nggak salah, nggak ada yang salah. Kita cari Soni sama-sama."
Kedua wanita itu saling berpelukan dan sama-sama menangis, cukup lama. Kini, ketika keduanya sudah merasa tenang, keduanya sama-sama diam untuk beberapa saat.
"Maafin saya, Bu."
"Buat apa lagi? Aku nemuin kamu bukan karena mau permintaan maaf kamu. Aku cuma kangen sama anakku, aku pengen ketemu sama dia."
"Kalo bukan karena saya, Soni nggak akan pergi dari rumah."
"Papanya Soni memang orang yang keras, nah sifatnya yang satu itu nurun ke anaknya. Makanya, kalo orang keras ketemu sama orang keras, ya susah." Widuri berbicara dengan nada bercanda, Lusi tersenyum sesaat.
"Wajar kalau Pak Ruslan nggak suka sama saya. Saya cuma yatim piatu, bukan berasal dari keluarga yang sederajat sama keluarga kalian."
Widuri menatap Lusi sembari menarik napas dalam-dalam. "Aku nggak pernah setuju sama keputusan yang satu itu."
Lusi tersenyum. "Saya juga lebih tua dari Soni. Itu bukan salah Pak Ruslan, sayanya aja yang nggak tahu diri. Saya semakin ngerasa bersalah sekarang, Soni nggak tahu pergi ke mana dan saya malah nggak tahu apa-apa tentang itu. Padahal semua ini terjadi karena saya."
Widuri menatap Lusi dengan tatapan nanar. "Sebenernya aku juga awalnya kaget waktu papanya Soni bilang kalau dia pacaran sama kamu, sama wanita yang lebih tua dari dia. Tapi setelah aku pikir-pikir, kalian nggak salah."
Lusi menatap Widuri dengan bibir yang tak tertutup rapat.
"Memangnya sejak kapan ada larangan mencintai wanita yang lebih tua? Memangnya apa salahnya mencintai orang? Yang salah itu kalo mencintai istri orang." Lagi-lagi Widuri melempar candaan, membuat Lusi merasa nyaman berada di dekat wanita itu.
Lusi tertawa kecil, lalu kembali menatap Widuri dengan kagum. "Maafin saya."
"Berhenti meminta maaf, aku nggak bawa piring buat kasih hadiah kamu."
Lusi tertawa semakin lantang. "Piringnya boleh dituker sama anak Ibu aja, nggak?" Gadis itu ikut melempar candaan, Widuri berhasil tertawa.
Malam itu, Lusi dan Widuri mengobrol cukup banyak, tentu saja membahas Soni. Keduanya sepakat untuk saling bertukar informasi, saling bertukar nomor ponsel dan berjanji akan saling mengabari jika salah satu di antara mereka sudah ada yang menemukan Soni.
Bersambung...