Cinta Tak Bermata 15

1411 Kata
Hari berganti hari, Lusi masih belum tahu di mana Soni berada. Hampir setiap hari itu pula ia bertemu dengan Widuri, mencoba menghibur wanita yang tengah merindukan dan mengkhawatirkan anaknya. Walaupun sebenarnya ia sendiri juga merasa kacau, merasa cemas dan berharap Soni segera pulang. "Soni, kamu di mana?" Malam itu, hujan turun begitu deras. Lusi menatap ke luar jendela kamarnya, melihat beberapa tanaman yang diletakkan di pot itu bergerak hebat karena air hujan. "Pulanglah, aku janji akan bersikap baik sama kamu kalo kamu pulang sekarang." Gadis itu lalu menenggelamkan wajahnya ke bantal yang terbungkus sarung bermotif bunga-bunga. Suara isakan lirih kemudian terdengar mengisi ruang kamar itu. "Rasanya sepi banget, haaa ...." Lusi menangis seperti anak kecil. Lusi memang sudah terbiasa hidup sendiri sejak kedua orang tuanya meninggal, tetapi hidupnya mulai berubah ketika ia mengenal Soni. Pria itu pernah membuatnya bersemangat menjalani hidup, dan kini entah pergi ke mana. . . 1 bulan berlalu. Lusi dan Widuri masih tidak tahu di mana Soni berada. Keduanya kini duduk di ruang tamu di rumah Lusi, sembari menikmati teh hangat di sore hari. "Kerja kamu gimana?" tanya Widuri dengan suara lirih. Lusi tersenyum kecut. "Entahlah, Ma. Rasanya hambar aja, nggak ada yang spesal, biasa aja gitu. Bosen." Ya, sejak Lusi dekat dengan ibunda Soni itu, ia sudah memanggil wanita itu dengan sebutan yang sama dengan yang Soni lakukan. Tentu saja atas permintaan Widuri yang kian lama kian mengenal Lusi, wanita itu merasa Lusi adalah gadis yang tepat untuk anaknya dan ia memberi restu sepenuhnya. Sayangnya, Ruslan tak sependapat dengannya sehingga ia diam-diam menemui Lusi sepanjang waktu. Widuri tersenyum. "Yang semangat, dong." Lusi menatap Widuri dan lalu mengangguk dengan bibir yang kedua ujungnya terangkat sempurna. "Malem ini, kita mau pergi ke mana?" tanya Lusi dengan antusias. Setiap malam, kedua wanita itu pergi mencari Soni, berharap menemukan pria itu secepatnya. Namun, sepertinya Widuri mulai merasa lelah pada usahanya yang tak kunjung ada hasil itu. Wanita itu menatap gadis yang duduk di sampingnya sembari menghirup napas dalam-dalam. "Gimana kalo kita akhiri aja malem ini?" Widuri berbicara begitu lirih. Lusi mengerutkan keningnya, menatap Widuri dengan nanar. "Kenapa, Ma?" Sore itu terasa berbeda dari sore-sore sebelumnya. Lusi tak menyangka kalau Widuri akan menyerah, setelah sebulan berlalu, usaha mereka tak menghasilkan apapun kecuali kebersamaan mereka. "Kamu pasti capek, setiap malem harus keliling cari Soni." "Tapi, Ma,-" "Dari pagi sampe sore kamu kerja, malem kamu harus ikut cari Soni. Lihat kamu sekarang, kelihatan lebih kurus, kamu pasti capek, kurang istirahat." "Lusi nggak capek, Ma. Lusi seneng bisa jalan-jalan sama Mama tiap malem." Widuri menggelengkan kepalanya. "Soni bukan barang, untuk apa kita cari dia? Dia akan pulang kalau memang pengen pulang, begitu juga sebaliknya." Lusi tak bisa berkata-kata, ia melihat raut wajah Widuri sama seperti ketika wanita itu datang pertama kali ketika menemuinya, terlihat begitu lelah. Kali ini gadis itu merasa marah pada sang pujaan hati yang tak tahu ada di mana sekarang. "Lihat, Son. Apa yang kamu lakuin udah buat mama menderita. Awas aja kalo sampe aku tahu kamu di mana, aku akan pukuli kamu sampe puas," batin Lusi. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, sebenarnya ia juga menikmati apa yang dilakukan selama sebulan terakhir. Walaupun hanya 2 jam, ia akan menghabiskan waktu bersama Widuri, berputar-putar menggunakan mobilnya. Benar, ia dan Widuri melakukan itu, tujuan utamanya adalah untuk mencari keberadaan Soni. Namun, tak bisa Lusi pungkiri kalau ia menikmati kebrsamaannya dengan wanita itu, dengannya ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Berkat Widuri, malam-malam Lusi tak terlalu mencekam. "Kita akhiri aja sekarang. Mama nggak mau ngerepotin kamu. Kamu berhak bahagia, kamu bisa cari pria lain, nggak seperti Soni, mama rasa anak mama yang satu itu belum dewasa sama sekali." Mata Widuri terlihat berkaca-kaca, air mata itu berebut ingin keluar dari sana. Lusi menangis, gadis itu menunduk dan mencoba menyembunyikan tangisannya. "Pergilah dengan teman-temanmu, atau carilah pacar baru, yang jauh lebih dewasa dari Soni, yang lebih bertanggung jawab." Lusi menggeleng. "Lusi masih sayang sama Soni. Dan sebenernya Lusi nggak capek, Lusi seneng karena tiap malem Lusi nggak sendirian, ada Mama yang selalu menyambut setiap Lusi pulang kerja. Hal yang nggak pernah Lusi dapetin, Lusi seneng karena Lusi bisa punya sosok ibu selama sebulan ini. Kalo begini, Lusi nggak bisa ketemu sama Mama lagi, Lusi nggak bisa punya ibu lagi." Gadis itu menggeleng, masih dengan tangisannya yang terdengar lirih. Widuri ikut meneteskan air mata. "Siapa bilang kamu nggak punya ibu? Mama akan jadi ibu kamu selamanya. Kita akan ketemu kapan pun kamu mau, telepon mama kalo ada apa-apa. Mama juga akan datang ke sini sering-sering, jangan sedih." Wanita itu membelai lembut kepala Lusi. . . Widuri akhirnya pulang ke rumah, kedatangannya disambut oleh sang suami yang duduk di ruang tamu sembari membaca laporan penjualan restoran. "Tumben sudah pulang. Anak kamu itu sudah ketemu?" tanya Ruslan yang sebenarnya tahu ke mana istrinya pergi selama sebulan ini. Setiap sore wanita itu akan pergi dan pulang sekitar jam 9 malam. Namun, pria tua itu bersikap acuh tak acuh pada istrinya, sejak kepergian Soni, hubungan keduanya memang menjadi renggang. Widuri kesal, menatap sang suami dengan mata yang membola. "Jadi Soni cuma anakku? Kamu pikir dia tiba-tiba ada di perut aku tanpa usaha kamu? Atau jangan-jangan waktu itu aku ngelakuinnya sama suami orang? Makanya Soni bukan anak kamu?!" Ruslan terkejut dengan jawaban sang istri. Pria itu lalu menghela napas secara kasar. "Aku nggak akan perlu cari ke sana ke mari anakku kalo kamu nggak usir dia," ucap Widuri lagi. "Papa nggak akan ngusir dia kalo dia nurut sama papa." "Kamu kira Soni barang? Bisa kamu atur sesuka kamu." "Papa begini karena sayang sama dia." "Baiklah. Aku juga akan seperti itu mulai malam ini." Widuri lalu pergi meninggalkan sang suami. Ruslan bengong dibuatnya. Wanita itu memang jarang berdebat, lebih sering mengalah pada suaminya. Namun, kali ini ia tidak bisa diam karena ia merasa lelah. Ia sudah rindu pada anak bungsunya, anak yang paling manja padanya, sudah sebulan lebih mereka tak bertemu. Ia juga lelah karena sudah mencari ke mana-mana, tetapi tak ada hasilnya. Melihat sikap suaminya yang keras kepala, wanita itu marah dan meluapkan kemarahannya itu begitu saja. Keesokan paginya, Widuri menyiapkan makan pagi untuk suaminya. Ruslan duduk di meja makan dengan kening yang berkerut. Bagaimana tidak, meja yang biasanya diisi dengan beberapa piring dan mangkuk yang berisi lauk-pauk dan sayur, kini hanya ada bubur, salad sayur dan telur rebus di atas meja. Widuri datang sembari membawa nasi goreng yang baru saja matang. Nasi goreng yang menggunakan udang, cumi dan juga suwiran daging ayam itu terlihat begitu menggoda. "Nasi gorengnya cuma 1?" tanya Ruslan. "Iya, ini buat mama. Papa makannya itu aja." Widuri berbicara dengan santai, lalu mengambil sesendok penuh nasi goreng. Asap yang muncul dari nasi goreng itu bahkan mengeluarkan aroma yang mampu membuat Ruslan meneguk ludahnya berkali-kali. "Kenapa?" tanya Ruslan dengan wajah yang membeku. "Papa lupa? Papa perlu jaga pola makan, nggak boleh yang berminyak, inget kolesterol Papa udah tinggi." Widuri menyeringai. Ruslan tahu itu adalah cara istrinya untuk membalas perdebatan mereka semalam. Pria itu tersenyum, memutuskan untuk menikmati apa yang istrinya siapkan untuknya itu. Ketika satu sendok bubur sudah masuk ke dalam mulutnya, pria itu kembali dibuat terkejut. "Ma, kenapa buburnya hambar gini? Mama sengaja kan?" "Pa, ini semua demi kebaikan Papa. Papa lupa kalau papa juga nggak boleh makan makanan asal? Kurangi garem, kurangi gula. Inget, itu yang dokter pesen terakhir kali kita ke dokter." Widuri tersenyum puas. Ruslan menatap istrinya dengan napas tersengal. "Kalau begini caranya, papa nggak akan terkena penyakit karena kolesterol tinggi, darah tinggi apalagi diabetes. Tapi ... papa bisa mati karena serangan jantung." Widuri membuka matanya lebar-lebar. "Mana mungkin? Sebagai istri yang baik, mama akan merawat papa dengan sangaaaaaat baik. Udah, ayo dihabisin. Inget, ini semua DEMI KEBAIKAN Papa. Mama akan siapin makanan yang super sehat mulai sekarang." Wanita itu tersenyum sangat lebar, matanya menyipit dan bahkan berkedip sekali. Ruslan menatap bubur, salad sayur dan telur rebus itu sembari mengembuskan napas panjang. Ya, Widuri ingin balas dendam pada sang suami karena sudah berlaku seenaknya sendiri. Padahal sebagai orang tua, mereka seharusnya lebih bisa memahami anak sulung mereka. Soni sendiri merupakan anak yang baik selama ini. Walaupun termasuk anak manja, Soni tidak pernah berbuat onar dan terlibat kasus berbahaya yang membuat nama keluarga mereka aman hingga sekarang. Tak seperti anak muda lain yang banyak melakukan kesalahan di usia remaja. Apalagi alasan sang suami menolak hubungan Soni dan Lusi adalah karena masalah uang. Hal itu benar-benar membuat Widuri kesal pada sang suami dan memilih menghukum suaminya dengan menghilangkan makanan yang tak menarik minta Ruslan itu. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN