Cinta Tak Bermata 19

1425 Kata
Hari ini Lusi menyerahkan surat pengunduran dirinya ke restoran di mana ia bekerja selama sebulan terakhir. Hal itu sesuai dengan permintaan Soni yang ingin segera memulai bisnis mereka. Pria itu sudah memilih bangunan yang tak jauh dari rumah Lusi, bangunan yang jauh dari kata bagus dan mewah. Bangunan yang sebenarnya adalah bangunan lama, kedua sejoli itu perlu merogoh kocek yang lebih dalam jika ingin merenovasi bangunan 2 lantai itu agar menjadi bangunan yang layak dipakai. "Gimana?" tanya Soni ketika Lusi masuk ke dalam mobil. Gadis itu baru saja keluar dari restoran, baru saja berpamitan dengan orang-orang di sana. "Aku udah ngajuin surat pengunduran diri. Aku bahkan dikasih bonus, semacam pesangon kali, ya," ucap Lusi sembari memamerkan amplop putih di tangan kanannya. Soni memakaikan sabuk pengaman untuk kekasihnya itu dan lalu mengacak-acak rambut Lusi dengan senyum mengembang. "Kenapa? Bos kamu nggak mau kamu keluar? Baru kerja sebulan aja udah dapet pesangon," celetuk Soni. "Heem. Tadi sempet bilang, katanya mau naikin gaji aku, ngelarang aku keluar. Tapi karena aku tetep mau keluar, akhirnya aku dikasih ini. Kata bosnya, aku bisa kembali kapan aja aku mau." "Cih, pasti sejak kamu masuk kerja di sini, penjualan restoran naik drastis. Makanya nggak mau kamu keluar." Soni lalu menginjak pedal gas mobil Lusi dan mengajak gadis itu pergi dari pekarangan restoran. Mobil Lusi kini sudah berhenti di depan bangunan yang rencananya akan digunakan sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggal Soni. Ya, pria itu berencana menggunakan lantai satu untuk ruang usahanya, ia ingin membuka kafe. Kemudian di lantai dua, bisa ia gunakan sebagai tempat tinggalnya sehingga ia tak perlu mencari rumah kos atau rumah kontrakan untuknya tinggal. Lusi dan Widuri pun sudah menyetujuinya. Soni dan Lusi lalu masuk ke bangunan yang tampak usang dan sangat kotor itu. Keduanya kompak menggunakan masker karena tak ingin menghirup debu banyak-banyak. Sembari melangkahkan kaki mereka ke dalam bangunan itu, kedua orang itu memegang kayu di tangan mereka, digunakan untuk membersihkan rumah laba-laba yang ada di mana-mana. "Kamu yakin mau ngelakuin semuanya sendiri?" tanya Soni pada Lusi. "Iya, kita harus hemat sebisa mungkin. Aku nggak mau, uang jadi alasan buat kamu pergi kabur lagi. Jadi, kita pake uang sebaik mungkin, biar kamu nggak kabur." Lusi menatap Soni dengan tatapan mengejek, pria itu malah tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Emang aku pernah kabur?" "Pernah!" Soni kemudian menarik napas dalam-dalam, sembari melihat seluruh penjuru ruangan di lantai satu itu. Kemudian menatap sang kekasih sembari terkekeh pelan. "Apa perlu kita panggil mama, buat bantuin?" tanya Soni. "Yah, kamu tega mau nyuruh mama buat kerja berat?" "Hah, ini pasti akan melelahkan." Lusi kemudian berjalan mendekat ke Soni dan lalu menepuk pundak pemuda itu. "Semangat, ya!" Gadis itu lalu mengambil beberapa balok kayu dan mulai mengumpulkannya untuk dibuang. Soni tersenyum melihatnya dan lalu ikut membantu membersihkan bangunan itu. Kedua sejoli itu akhirnya memulai membersihkan ruangan itu, membuang semua kotoran dan bahkan mengelap dinding. Waktu berlalu, Lusi kini duduk bersandar di dinding yang ada di dekat pintu masuk. Soni baru saja kembali dari mini market, menyerahkan sebotol minuman dingin ke kekasihnya itu. "Capek?" Lusi langsung minum, Soni sudah membuka penutupnya sebelum diserahkan padanya. Gadis itu mengangguk. "Banget!" Napasnya terdengar tersengal, keringatnya bercucuran, wajahnya terlihat kusam dan seluruh pakaiannya terlihat kotor. Soni duduk di samping kekasihnya, minum sebotol minuman dingin, langsung habis tanpa sisa. "Kamu mau pulang sekarang? Aku anterin, istirahat dulu aja di rumah. Nanti aku lanjutin sendiri, aku udah biasa kerja berat akhir-akhir ini." Lusi tersenyum. "Begaya!" "Serius. Aku nggak mau kamu sakit karena kecapekan." "Nggak perlu. Aku mau kita ngerjainnya sama-sama." "Tapi kalo capek banget, kamu istirahat aja. Nggak usah buru-buru." Soni menyeka keringat di kening Lusi menggunakan lengannya yang terbungkus kemeja kotak-kotak itu. "Aku emang capek, Son. Tapi aku nggak akan tumbang semudah itu, aku udah biasa kerja berat sejak kecil, sejak orang tuaku meninggal. Jadi tenang aja, aku ini wanita tangguh." Soni terkekeh pelan, lalu mengangguk. "Iya, aku percaya. Tapi jangan maksa, kalo capek, istirahat aja." Kedua sejoli itu lalu diam, sembari menikmati kelelahan mereka. "Kita termasuk untung nggak, sih? Bangunan ini 2 lantai, letaknya juga di tempat yang rame, asal kita bisa ngolahnya, aku yakin kafe kita bakal rame." Lusi menatap ke jalan raya, posisi bangunan yang akan ia gunakan sebagai tempat usahanya memang terletak di lokasi yang sangat strategis. Soni mengangguk. "Bangunan ini hasil sengketa keluarga, jadi wajar kalo harganya murah. Coba aja selama ini terawat, pasti harga sewanya jauh lebih mahal." Soni mencoba menjelaskan. Sejak keputusannya untuk menerima uang dari ibunya, Soni memang langsung menyiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan untuk usahanya, terutama bangunan yang akan ia gunakan. Ia sengaja memilih bangunan yang lokasinya tak terlalu jauh dari rumah Lusi sehingga gadis itu tak perlu bepergian jauh setiap harinya. Pemuda itu tinggal di rumah kosnya yang lama untuk sementara, sampai bangunan yang sudah ia sewa selama 1 tahun penuh itu siap untuk digunakan. "Coba aja kita punya uang lebih, mending kita beli aja bangunan ini. Aku takutnya, ntar kita udah bagusin, sama yang punya udah nggak boleh disewain lagi," ucap Lusi pelan. "Ya tahu lah, kita mau ambil sewa 2 tahun aja nggak boleh. Tapi mau gimana, kita kan juga cuma punya dananya terbatas, aku nggak mau punya hutang ke mama banyak-banyak, namanya juga masih merintis." Soni teringat bagaimana ia mencoba merayu sang pemilik bangunan, tetapi tak ada hasil. Ia ingin setidaknya menyewa bangunan itu selama minimal 2 tahun, tetapi sang pemilik bangunan tak menyetujuinya. Namun, ia terpaksa mengalah karena ia memang membutuhkan bangunan itu, berharap usahanya sukses. "Heem. Perjuangan kita masih panjang, aku rasa kita akan mulai lelah dari sekarang. Kita harus semangat!" Lusi mengepalkan tangannya dan mengangkatnya, seolah ia siap bertempur. Soni tertawa terbahak-bahak. "Awas aja kalo aku denger kamu ngeluh. Haaa .... Harusnya aku rekam tadi, biar kalo kamu ngeluh nanti, aku bisa kasih lihat ke kamu." Lusi tersenyum. "Nggak apa-apa kalo mau ngeluh, yang nggak boleh itu nyerah." "Apa itu nyerah? Nggak ada di kamusku. Kalo aku udah nentuin apa yang aku mau, aku nggak akan menyerah sampe aku bisa dapetin apa yang aku mau." Soni berbicara lirih. "Termasuk cewek yang jadi senior kamu di kampus itu? Kamu pasti tetep akan ngejar cinta dia, kan, kalo dia masih single?" Lusi tiba-tiba saja teringat bagaimana Soni mengabaikannya karena pria itu dulu mencintai wanita lain. Soni tertawa terbahak-bahak. "Yah, kamu cemburu? Kamu masih inget aja sama Mbak Kila. Aku aja udah lupa, sekarang di otak dan hati aku cuma ada nama kamu." Lusi menyeringai. "Gombal! Apa kamu secinta itu sama cewek itu? Bukannya kamu sampe jadi sopir, cuma biar bisa deket sama dia?" Lusi menekuk wajahnya. Soni menarik dagu kekasihnya itu agar mereka bisa saling bertatapan. "Kamu lihat kan, aku tipe orang yang seperti itu. Aku rela ngelakuin apa aja buat perjuangin apa yang aku mau. Dan sekarang, aku maunya kita menikah. Aku akan perjuangin itu, semampu dan sebisaku, aku nggak akan menyerah." Lusi menatap Soni dengan perasaan yang cukup sulit untuk diartikan, tetapi ia merasa ada sedikit rasa cemburu yang mengganggunya. "Terus, kenapa kamu menyerah sama cewek itu?" Lusi penasaran dengan masa lalu kekasihnya. Soni tersenyum. "Mbak Kila udah menikah, udah punya suami. Aku dulu mikirnya dia nggak bahagia dengan suaminya itu, aku berharap Mbak Kila mau bercerai dari suaminya supaya aku bisa masuk ke hatinya. Sayangnya, Mbak Kila ternyata cinta sama suaminya, walaupun pria itu sebenernya pria b******k. Mbak Kila yang baik, hidupnya cukup malang." Pria itu bercerita dengan suara lirih. "Kamu masih nggak rela? Kamu masih cinta sama cewek itu?" Lusi mencoba memberanikan diri untuk menanyakan hal yang sebenarnya membuatnya sakit hati itu. Soni tersenyum semakin lebar. "Aku tahu, kamu tanya itu cuma mau tahu, apa aku masih punya perasaan buat Mbak Kila, kan?" Lusi malu untuk mengakuinya, ia menunduk malu. Soni membelai lembut rambut sang kekasih. "Tenang aja, di hati dan otak aku sekarang cuma ada nama kamu. Aku udah relain Mbak Kila sama Pak Dira setelah tahu Pak Dira udah banyak berubah, sekarang mereka udah hidup bahagia. Mbak Kila udah hamil, mungkin sekarang udah melahirkan. Aku yakin mereka udah hidup bahagia. Mbak Kila orang yang baik, dia akan disertai orang-orang yang baik juga." Lusi diam, ia senang mendengar pengakuan Soni, walaupun ia tak bisa menampik kalau ia masih merasa cemburu. "Kamu juga orang yang baik, Lus. Kamu juga akan disertai orang-orang yang baik. Percayalah, suatu saat kamu akan bahagia, dengan aku tentunya. Jangan harap kamu bisa bahagia kalo nggak sama aku!" ucap Soni lagi. Lusi terkekeh mendengarnya. Gadis itu kemudian tersenyum menatap sang kekasih. "Aku juga nggak akan ngelepasin kamu lagi. Aku nggak akan minta putus lagi. Kamu cuma boleh jadi pacar aku. Kamu cuma boleh jadi suami aku." Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN