Lusi dan Soni kembali membersihkan tempat itu, dengan semangat yang menggebu. Ketika siang menjelang, keduanya memutuskan untuk makan siang di rumah. Sebelum sampai di rumah, keduanya mampir di mini market untuk membeli bahan makanan.
Lusi memasak untuk kekasihnya, tetapi Soni tak membiarkan kekasihnya memasak sendirian.
"Mau masak apa?" tanya Soni pelan.
"Mi aja, ya?" Lusi tersenyum malu. Gadis itu memang tak pandai memasak, hanya sebatas bisa karena terbiasa hidup sendiri sejak lama.
"Tapi aku mau pake nasi, aku laper banget. Sejak kerja di toko kemarin, aku makannya banyak-banyak." Soni mengambil panci kecil, mengisinya dengan air dan lalu meletakkannya di atas kompor. Lusi tersenyum melihatnya.
"Biar aku yang masak mi, kamu masak nasinya aja." Soni mengedipkan mata kirinya, Lusi kembali tersenyum.
Beberapa saat kemudian, keduanya sibuk menghabiskan makanan mereka. Di meja makan yang berbentuk bulat itu, Lusi dan Soni duduk saling berhadapan. Keduanya tampak begitu menikmati makanan yang mereka masak sendiri.
"Kalo capek, kita bisa beli makan aja. Nggak harus masak," ucap Soni sembari mengunyah makanannya.
Lusi mengangguk. "Son."
"Apa?"
"Boleh tanya?"
"Terus kamu sekarang lagi apa? Lagi ceramah?"
Lusi menyipitkan matanya, melirik Soni dengan kesal. "Aku serius."
"Aku juga selalu serius."
Lusi diam, memasukkan satu sendok penuh mi ke mulutnya. Soni tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu.
"Tanya apa?"
Lusi akhirnya tersenyum. "Jawab dengan jujur, ya?"
Soni mengangguk.
"Apa yang kamu suka dari senior kamu di kampus itu?" tanya gadis itu dengan semangat.
Soni terkekeh. "Kamu mau tanya tentang MbakKila?"
Lusi mencebikkan bibirnya dan lalu mengangguk lemah. "Aku penasaran, dia orang seperti apa. Apa yang buat kamu suka sama dia, aku pengen tahu kisah kalian." Gadis itu berbicara dengan lirih.
Soni sudah selesai dengan makannya. Ia lalu meneguk segelas air putih, membersihkan kotoran di giginya menggunakan ujung lidahnya dan lalu menarik napas panjang untuk mulai menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Baiklah, denger baik-baik, aku cuma akan cerita kali ini aja. Nggak ada kata lain kali." Soni berbicara dengan suara bariton.
Lusi mengangguk, gadis itu mendorong piringnya menjauh darinya. Ia ingin mendengar kisah masa lalu kekasihnya itu dengan fokus.
"Mbak Kila itu senior aku di kampus." Soni mulai bercerita.
"Iya, aku tahu."
Soni menyeringai. "Ah, nggak jadi cerita."
"Ih, jangan, dong. Iya, aku diem. Janji!"
Soni tersenyum.
"Aku kenal Mbak Kila dari aku masih jadi mahasiswa baru. Dia selalu dateng ke kampus dengan berlari, dia kerja di rumah makan yang nggak jauh dari kampus. Aku suka karena dia nggak cuma cantik, tapi juga pekerja keras. Dia nggak punya temen deket di kampus karena dia sibuk kerja dan kuliah, nggak ada waktu buat kumpul sama temen-temennya." Soni mengingat kembali bagaimana dulu ia pernah menyukai seniornya di kampus dengan begitu bangga.
"Sayangnya, dia dijodohin sama orang tuanya, sama pria yang udah punya pacar."
"Ha? Serius?"
"Hooh! Makanya aku bilang Pak Dira berengsek, dia masih berhubungan dengan pacarnya dan bersikap kasar sama Mbak Kila." Soni kemudian menceritakan bagaimana dirinya akhirnya menyerah untuk mengejar cinta seorang wanita yang bernama Sakila Dewi.
"Aku mau tidur siang dulu, nanti kita beli cat agak sorean aja, ya?" Soni membawa piringnya ke tempat cuci piring.
"Biar aku aja yang cuci." Lusi tersenyum ke Soni.
"Aku tidur di sofa ruang tamu aja, ya?"
Lusi mengangguk. "Sholat dulu."
"Siap, Ndoro."
Soni pergi meninggalkan Lusi di dapur. Sang pemilik rumah itu lalu mencuci piring bekas makannya, tetapi pikirannya masih sibuk membayangkan cerita sang kekasih tadi.
***
Sore itu Lusi dan Soni pergi ke toko bangunan untuk membeli cat dan beberapa kebutuhan lainnya.
"Kamu mau dindingnya dicat warna putih aja? Selagi di sini, coba kamu pikirin mateng-mateng, kita butuh cat warna apa aja?" tanya Soni.
"Oh, iya, aku butuh warna hijau sama cokelat." Lusi mulai memilih cat dinding.
Soni dan Lusi membeli banyak barang di toko bangunan itu, mereka meminta jasa antar karena tak mungkin akan membawanya menggunakan mobil milik Lusi.
"Kita tunggu di sana aja," ucap Soni yang mengajak Lusi pergi lebih dulu ke tempat di mana mereka akan membuka kafe.
Lusi dan Soni dibuat bengong ketika tiba di bangunan yang masih mereka bersihkan itu, di sana sudah berdiri seorang pria tua yang ditemani oleh seorang pria gagah yang diketahui adalah sopir pribadinya.
"Papa?" Soni menutup pintu mobil dengan pelan, tubuhnya masih merasa gemetar, gugup karena tak percaya ayahnya datang ke sana.
Ruslan yang sebelumnya berdiri menatap bangunan yang terlihat kumuh itu, kini berbalik dan lalu menatap anaknya. Mata pria tua itu terlihat berkaca-kaca, ia menarik napas dalam-dalam ketika mendapati sang anak yang terlihat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.
Pria tua itu masih membisu, membuat Soni semakin gugup.
Lusi yang baru saja turun dari mobil, hanya berani menganggukkan kepalanya sesaat, tanpa berani menyapa terlebih dahulu.
"Mau apa Papa ke sini?" tanya Soni yang tak ingin melihat ayahnya menyerang sang kekasih dengan tatapan mematikan.
"Mau sampe kapan kamu seperti ini? Apa masih belum cukup kamu pergi dari rumah? Apa kamu masih belum sadar kalau kamu sudah salah mengambil keputusan?" Ruslan masih bersikap dingin pada anak bungsunya. Ia memang berniat menemui anaknya, bukan untuk meminta maaf atau berbaikan dengan anaknya itu. Namun, ia hanya ingin semakin menekan sang anak agar segera mengakhiri hubungannya dengan Lusi.
Soni tersenyum getir. "Jadi Papa ke sini cuma mau ngomong itu?"
"Soni! Seharusnya kamu udah sadar, kalo kamu bukan siapa-siapa tanpa papa! Apa kamu nggak merasa sakit hati ketika orang-orang merendahkanmu? Semua penghinaan itu kamu dapet karena kamu pacaran dengan wanita itu!" Ruslan menunjuk Lusi dengan kemarahan yang menggebu di dadanya.
Soni terkekeh sesaat. Ia melihat Lusi hanya berani menunduk, merasa sedih dan malu yang bercampur menjadi satu.
"Kalo Papa ke sini cuma mau nyakitin hati Lusi, mending Papa pulang!"
"Kamu benar-benar dibutakan cinta monyetmu itu!"
"Terserah Papa mau bilang apa. Entah ini cinta buta, cinta bisu, apa pun. Biar Soni jalani dan nikmati cinta itu, Pa. Berhenti ikut campur. Asal Papa tahu, nggak ada yang ngerendahin Soni, kecuali Papa. Ya, cuma Papa, satu-satunya orang yang ngerendahin Soni. Dan asal Papa tahu, Soni bener-bener kecewa sama Papa. Silakan pergi dari sini, sebelum Soni semakin sulit buat maafin Papa."
Ruslan mengepalkan tangannya. "Hanya demi seorang wanita, kamu berani kurang ajar sama papa!"
"Maafin Soni, Pa. Soni memang bersalah, tapi .... Tolong jangan pernah dateng lagi, kalo Papa dateng cuma mau ngerendahin Soni. Sudah cukup Soni ngerasa kecewa sama Papa. Orang yang selama ini Soni anggep panutan, orang yang paling Soni hormati, ternyata mandang orang hanya dari kasta saja!" Soni menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Bersambung...