Senja semakin pekat, waktu maghrib akhirnya tiba. Soni mengajak Lusi untuk menunaikan ibadah bersama, sementara Aji bergantian menjaga kafe yang masih belum mendapatkan pelanggan sama sekali itu. Ketika selesai mendirikan solat, Lusi menatap Soni dengan lekat. "Apa? Kenapa lihat-lihat?" tanya Soni sembari merapikan sarung. Lusi masih duduk di lantai, masih menggunakan mukenanya. "Kamu nggak ada niatan buat halalin aku?" tanya Lusi tiba-tiba. Soni meletakkan sarung di gantungan dan lalu memasukkannya ke dalam lemari. Lalu, pria itu menatap sang kekasih dengan tenang. "Bisa-bisanya kamu bahas tentang itu, perasaanku ini lagi kacau, loh. Dari pagi belum ada yang mampir ke sini." "Tapi sikap kamu terlalu tenang buat orang yang ngaku perasaannya kacau," sahut Lusi manja. "Haruskah aku ter

