Soni mengajak Lusi pergi, ke rumah makan di sekitar rumah sakit. Tentunya untuk mengisi perut mereka yang masih kosong di pagi hari itu, sembari menjauh dari Ruslan yang sejak kemarin hanya menyalahkan Lusi seorang. "Makanlah, yang banyak. Biar kuat menghadapi kenyataan," ucap Soni sembari menyeringai, terlihat tampan walau wajahnya tampak sayu karena kurang tidur dan banyak pikiran. Lusi tersenyum. "Biar kuat dengerin Pak Ruslan marah-marah," sahutnya. Soni menatap sang kekasih dengan tatapan iba. "Maafin Papa." Pemuda itu terlihat begitu tersiksa dengan sikap sang ayah yang keras kepala dan selalu menyalahkan Lusi di segala situasi. Yang membuatnya semakin sakit hati karena sikap Lusi yang hanya diam, menerima semua sikap kasar ayahnya. Ia merasa sakit hati bercampur malu, tetapi s

