Lusi tersenyum ringan, menikmati perasaan yang membuat hatinya berbunga-bunga. "Apa aku sepenting itu buat kamu?" "Apa kamu pikir aku hanya main-main?" tanya Soni dengan suara baritonnya. "Bukan, aku cuma mastiin kalo aku emang spesial buat kamu." Lusi menyahut dengan senyum malu-malu. Soni tersenyum lebar. "Harus dengan apa aku ungkapin perasaanku ke kamu? Apa dengan kondisiku sekarang masih belum bisa buat ngeyakinin kamu kalo di hati dan di hidupku cuma ada kamu?" "Ya seenggaknya katakan sesuatu untuk aku." Tiba-tiba saja Lusi berbicara dengan nada formal, seolah ia dan Soni adalah orang asing. Soni tersenyum geli. "Apa kata-kata lebih penting dari pada bukti nyata?" Lusi terkekeh. "Iya-iya, aku tahu kamu hidup susah sekarang karena aku. Kamu ninggalin keluarga kamu demi aku, tapi

