Seorang pria tengah panik saat memperhatikan ponsel yang menampilkan seorang wanita cantik. Alisnya bertaut, jantung berdebar dengan kencang. Keringat dingin tiba-tiba muncul. Setelah menunggu diberikan kabar, malah mendapatkan pemandangan yang mengejutkan.
Marisa sudah beberapa jam tidak memberi kabar pada Indra. Setelah akhirnya memberi kabar, malah mengagetkan Indra karena ia sedang berada di rumah sakit. Indra takut terjadi sesuatu pada Marisa selama ia meninggalkannya untuk seminar dan meeting di Surabaya.
"Sayang, Bunda kok kayak di rumah sakit? Kenapa? Ada apa? Tidak kenapa-napa, kan?" Indra panik setelah melihat sekeliling Marisa dan langsung mengetahui bahwa lokasi istrinya tengah di rumah sakit.
Marisa yang merasakan sang suami tengah cemas berusaha menenangkan. “Ay, tarik napas panjang. Tenang … tenang. Nanyanya satu-satu.”
“Ih, gimana mau tenang? Orang Ayah khawatir Bunda kenapa-kenapa. Jawab pertanyaan Ayah, Bunda.” Indra tidak sabar mendengar penjelasan istrinya.
Marisa menutup mulutnya dengan jari telunjuk, mengisyaratkan Indra untuk diam. Suara Indra dari telepon terdengar sangat nyaring membuat Marisa malu karena takut diperhatikan orang lain yang berada di Unit Gawat Darurat.
Marisa segera mengalihkan panggilan video menjadi panggilan biasa dan menempelkan ponsel pada telinganya.
“Ay, Bunda lagi di rumah sakit. Ayah tenang aja. Bukan Bunda yang terluka, kok.” Marisa berbicara dengan nada yang menenangkan agar Indra tidak panik.
“Lalu Bunda kenapa ada di rumah sakit?” tanya Indra dari telepon.
“Tadi di jalan, Bunda melihat orang minta tolong. Bunda ragu buat nolong, takutnya dia orang jahat. Bunda udah siap-siap buat telepon Ayah. Ternyata dia memang terluka, Sayang. Pria itu digigit ular saat berkebun.”
“Syukur kalo gitu, Bun. Ayah takut Bunda kenapa-kenapa.”
“Bunda lagi tunggu dulu, nih. Kasihan bapak itu kalau ditinggal.”
Indra mengira pria yang ditolong Marisa adalah seorang pria paruh baya karena menurut keterangan istrinya, pria yang ditolong itu tengah berkebun.
“Hati-hati, ya, Bun. Kalau udah di rumah Mama Rika, kabarin Ayah, ya.”
“Siap, Komandan!”
Marisa menoleh saat dirinya dipanggil oleh seorang dokter. Dokter menjelaskan keadaan pasien yang beruntung tidak sampai kehilangan nyawa akibat luka gigitan ular.
Karena Marisa menyelamatkan tepat waktu, memberikan pertolongan dengan mencegah bisa mengalir ke seluruh tubuh, lalu segera membawanya ke rumah sakit, pria itu tidak dirawat dan bisa langsung pulang.
Marisa mendekat pada seorang pria yang masih tertidur dalam pengaruh obat. Ia duduk di pinggir bed dan sibuk menggunakan ponsel. Ia memberi kabar pada Rika dan Santy. Saat hendak bangun dari posisi duduknya, sebuah tangan menghentikan gerakannya. Pria itu menggenggam lengan Marisa dengan erat.
“Terima kasih,” bisiknya.
“Sama-sama. Kata dokter kamu boleh pulang. Rumahmu di sini? Biar aku antar.” Marisa tersenyum menatap pria yang terlihat seumuran dengannya.
Pria dengan kaos berwarna putih dan celana kolor yang panjangnya selutut itu membalas senyuman Marisa.
“Rumahku dekat SMAN 1 Bandung, Mbak, Kak, ah … aku harus panggil apa, ya?”
“Panggil aja Marisa. Sepertinya kita seumuran. Aku antar pulang, ya.”
“Maafkan sudah merepotkan kamu. Beruntung ada orang baik yang mau menolongku.”
“Sekarang fokus dengan kesembuhanmu, ya. Aku bantu bereskan administrasi dulu, lalu kita pulang.”
“Ambil ini, Marisa.” Pria itu menyerahkan sebuah kartu ATM. “Untuk debit pembayaran rumah sakit. Masa kamu yang bayar? Sudah dibawa ke sini saja aku sangat berterima kasih.”
Marisa meraih kartu ATM yang pria itu berikan. “Aku pinjam kartu tanda penduduk kepunyaanmu, dong. Aku kan nggak tahu sama sekali identitasmu. Mana bisa jawab dan isi formulirnya.”
“Oh, iya. Ini, Marisa.” Pria itu meraih kartu tanda penduduk dari dalam dompetnya.
Marisa pergi untuk mengurus administrasi agar segera bisa pulang. Ia melihat dan membaca kartu identitas pria tersebut. Ia sedikit tertawa setelah membaca namanya.
Intan?
Masa iya nama pria itu adalah Intan? Bukannya nama Intan dipakai untuk anak perempuan? Jangan-jangan ia seorang transgender. Tapi di KTP ini tertulis jenis kelaminnya laki-laki. Marisa menjadi bingung.
Ya sudah, isi sesuai KTP saja!
Pria yang Marisa tolong itu memiliki nama yang unik dan membingungkan. Setelah semua urusan beres, Marisa kembali ke ruangan pria itu dan mengembalikan kartu ATM dan KTP.
“Namamu Intan?” Marisa mengembalikan kedua kartu pada pria tersebut.
“Aneh, ya? Jangan kira aku wanita tomboy yang menjadi pria, ya! Aku pria asli, kok.”
“Lalu kenapa namamu seperti nama perempuan? Meski nama belakang itu berbau-bau pria.”
Pria itu tertawa. “Memangnya nama mengeluarkan bau?”
“Tidak, sih.”
“Kamu lucu! Kenalkan, aku Intan Septian.” Intan menjabat tangan Marisa.
Marisa membalas jabatan tangannya.
“Namaku aneh begini ada sejarahnya. Mau tahu?”
Marisa mengangguk, ia sebenarnya juga ingin tahu.
“Orang tuaku menginginkan kehadiran anak perempuan. Tapi, yang lahir anak laki-laki lagi. Jadilah aku dinamai seperti ini. Aku menderita saat di bangku kuliah. Guruku selalu mencari nama Intan di tengah kerumunan anak gadis. Padahal pemilik nama Intan itu seorang pria.”
“Sejarah yang bagus. Lucu juga. Ayo kita pulang.” ajak Marisa. Hari sudah sore, ia harus segera pulang agar tidak kemalaman sampai di rumah Rika.
Akhirnya Marisa mengantar sampai ke kediaman pria bernama Intan itu. Rumah yang terlihat megah, menandakan orang itu bukan dari kalangan biasa. Berbeda dengan penampilannya yang terlihat seperti orang biasa karena memakai pakaian untuk berkebun.
“Mampir dulu, yuk! Aku ingin kenalkan ke mommy.”
“Mmm, aku … aku buru-buru, Tan.”
“Ayolah. Hanya sebentar saja.”
Marisa menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.
“Bantu aku jalan ke dalam rumah.”
“O iya.”
“Mampir sebentar, ya.”
Marisa memapah Intan hingga ke dalam rumahnya. Seorang wanita paruh baya datang dan terlihat panik melihat anaknya yang tengah dipapah oleh seorang wanita yang tidak dikenal.
“Kenapa, Tan?” Wanita itu menghampiri dan membantu anaknya untuk duduk.
“Digigit ular, Mom.”
“Tuh, kan. Kata Mommy juga apa. Kamu tuh hobinya main motor trail sama berkebun. Kan bahaya. Kalau sudah digigit ular gini bakalan kapok, nggak? Ada pegawai yang bisa urus kebun papa, kok.” Si ibu mengomeli Intan yang sedang kesakitan.
Intan melirik Marisa. “Udah, Mommy jangan marah-marah terus. Malu tahu, lihat ada anak gadis yang dengerin dari tadi. Nggak dikasih minum gitu, Mom?”
Mommy Intan melirik Marisa. “Eh iya. Anak gadis yang Intan bawa geulis euy. Kabogoh Intan nyah?”
Marisa mengerutkan dahi. “Bukan, Tante. Saya menolong Intan tadi saat digigit ular.”
“Terima kasih. Nama Neng teh siapa?”
“Nama saya Marisa, Tante.” Marisa menjabat tangan orang tua Intan.
“Nama yang cantik dan orangnya juga cantik. Kamu ngerti bahasa Sunda?” tanyanya karena heran Marisa mengerti apa yang ia ucapkan tadi.
“Ngerti kok, Tante. Saya juga orang sini. Rumah saya dekat sini, setengah jam kira-kira, Tante.”
“Ya ampun. Ini sudah hampir malam, Sayang. Maafkan anak tante yang merepotkan kamu, ya.”
“Tidak apa-apa, Tante. Em, saya tidak bisa berlama-lama, Tante. Mama nanti cariin saya.” Marisa tidak ingin membuat ibunya semakin cemas karena belum juga pulang.
Intan sedikit menahan Marisa karena merasa bersalah telah merepotkannya. Marisa tetap bersikukuh untuk pulang dan tidak berlama-lama di rumah Intan.
Rika tengah berdiri di depan pintu, mondar mandir ke sana kemari. Ia sangat mengkhawatirkan Marisa yang terakhir memberi kabar tengah ada di rumah sakit untuk menolong orang. Melihat mobil Marisa yang telah memasuki halaman, Rika merasa lega. Putrinya kini tidak ada dalam bahaya.
“Maaf Marisa telat ya, Ma.” Marisa memeluk tubuh ibunya dengan erat.
“Indra lagi ke Surabaya, ya?”
“Iya, makanya Marisa ke sini aja. Kepingin ngerasain udara segar di Bandung.”
“Besok ke sawah, yuk.” ajak Rika.
“Ke sawah bareng Marisa lusa aja, ya. Besok aku diajak ketemuan sama Mama Santy, Ma. Katanya lagi ada di Bandung juga.”
“Ya sudah. Kita ke sawah dan main di air terjunnya lusa saja.”
“Marisa ketemu ibu mertua dulu besok, ya.” Marisa mengusap lembut pundak ibunya.
☆☆☆
Wanita cantik mengenakan baju overall berwarna merah jambu tengah merapikan rambut yang sengaja ia gerai ke belakang. Ia bersiap bertemu dengan ibu mertuanya.
Marisa mengemudikan mobil menuju kediaman rumah keluarga Wijaya yang ada di Bandung. Sudah sangat lama sekali ia tidak berkunjung ke situ.
Santy dan Gusti memeluk tubuh Marisa bergantian. Memberikan sambutan hangat. Marisa memperhatikan setiap sudut rumah, mengingat masa lalu saat ia pertama kali berkunjung ke rumah Indra. Masa-masa indah sebelum berpacaran dan menjadi suami istri. Pertama kali memasak untuk acara ulang tahun Gusti dan didekati Indra. Ia dibuat jengkel dengan tingkah Karin yang mengganggu kemesraan mereka berdua saat di dapur.
Santy mengagetkan Marisa yang tengah melamun. “Kangen sama A’a, ya?” tanya Santy.
“Iya, Ma.”
“Yuk, ikut Mama. Kita pergi ke suatu tempat. Biar sopir saja yang mengemudi.”
Marisa menurut dan ikut ke tempat yang ingin Santy kunjungi. Sebuah gedung berwarna putih, menjulang tinggi dengan lima lantai dan terlihat mewah. Mereka berdua masuk menuju lantai tiga untuk menemui seseorang.
Marisa memperhatikan sekeliling. Tempat itu penuh dengan gambar-gambar yang ditempel di dinding. Bau obat yang sangat menyengat memenuhi udara. Orang yang terlihat sibuk berjalan berlalu lalang.
“Mau apa kita ke sini, Ma?” tanya Marisa.
“Nanti kamu juga tahu,” jawab Mama Rika.
Sebuah papan nama yang ditempel pada sebuah pintu. Nama seorang dokter Obsgin tertulis di papan itu. Marisa mulai berpikir.
Kenapa Mama bawa aku ke dokter Obsgin di Bandung? Kan sudah ada yang langganan di Jakarta.
Mereka akhirnya masuk berbarengan dan duduk berseberangan dengan sang dokter. Marisa diam saja. Sudah biasa ia diperiksa dan berkonsultasi untuk program hamil. Setelah selesai diperiksa dan ia duduk kembali di samping sang ibu mertua.
“Jadi kapan bisa melakukan bayi tabung, Dok?” tanya Santy pada dokter di hadapannya.
“Bisa minggu depan juga, Bu.”
Hah … bayi tabung? Kenapa Mama Santy terburu-buru mengambil langkah ini? Padahal aku dan A’a Indra ingin mencoba cara normal terlebih dahulu.
“Ma, kok nggak kasih tahu dulu sebelumnya? A’a Indra juga belum tahu, ya?”
“Ah, Indra pasti mau, nggak usah ditanyain.”
“Tapi—“ Perkataan Marisa terpotong.