BAB 6

1519 Kata
Saat ini adalah malam pertama Indra di Surabaya. Tadi pagi, begitu sampai di bandara, ia menyewa mobil dan dikendarai oleh sopir pribadi. Selama seminggu itu, ia tidak hanya meeting dan seminar di satu tempat sehingga sang sopirlah yang mengantar dan membawa barang-barang Indra. Wita yang juga terlibat dalam acara itu ikut ke mana-mana dengan Indra. Mereka juga tinggal di hotel yang sama dan letak kamarnya berdekatan. Mereka berdua yang bertugas mewakili Rumah Sakit Wijaya ke kota Surabaya.  Malam pertama di Surabaya ini, Indra susah tidur. Beberapa kali ia berupaya menghubungi Marisa, tapi istrinya sudah tidur dan tidak mengangkat teleponnya. Baru setelah malam kedua Indra berhasil menghubungi Marisa yang tengah menginap di kediaman Santy dan Gusti. Benda pipih berwarna hitam terbalut casing berwarna merah jambu dengan gambar Mickey Mouse menampilkan layar dengan gambar seorang pria yang sedang menatap istrinya. Sedikit menitikkan air mata dan terlihat sedang sedih. "Ayah jangan sedih dong!" ucap Marisa karena melihat Indra malam ini cengeng. "Gimana nggak sedih, ini pertama kali Ayah jauh dari Bunda. Kemarin Ayah susah tidur karena nggak ada Bunda yang jadi gulingnya Ayah." "Sementara peluk guling sama bantal dulu, ya!” Raut wajah Marisa juga terlihat sedih. Wanita itu bukan hanya sedih karena sudah dua malam tidak bersama Indra. Marisa juga kesal karena Santy telah memaksakan kehendak tanpa meminta persetujuan dari keduanya Indra dan Marisa. Siang tadi, Marisa diajak Santy mengunjungi sebuah rumah sakit. Marisa mengira mama mertuanya ingin bertemu rekan kerja atau berkonsultasi masalah asam urat yang wanita itu derita. Marisa baru curiga setelah membaca papan nama yang ditempel pada sebuah pintu. Sangat jelas tertera di papan itu nama seorang dokter Obsgin. Dari situ Marisa mulai tahu bahwa Santy ingin membawanya untuk berkonsultasi masalah kandungan. Padahal di Jakarta masih banyak dokter Obsgin yang tak kalah bagus. Sepertinya Santy dengan sengaja membawa Marisa ke sini agar tidak dimarahi oleh Indra. Sebenarnya, Indra dan Marisa masih ingin mencoba dengan cara normal. Mereka akhirnya masuk berbarengan dan duduk berseberangan dengan sang dokter. Marisa diam saja. Sudah biasa ia diperiksa dan berkonsultasi untuk program hamil. Perut Marisa di oleskan sebuah jelly. Alat dengan ujungnya yang pipih di tempelkan pada bagian perut. Bergeser ke kanan dan ke kiri. Jelly itu terasa dingin saat membawa gerakan alat yang menampilkan isi di dalam rahim Marisa.  Seorang suster datang membawa bak instrumen berisi sebuah tabung kecil dan alat suntik.  "Di ambil darahnya dulu, yah," ucap sang suster pada Marisa. Marisa mengangguk, lalu menarik napas panjang. Suster itu menusukkan ujung jarum pada vena Marisa. Perlahan, darah keluar memenuhi tabung. Setelah penuh, tabung ditempeli label nama dan disimpan kembali ke dalam bak instrumen. Bekas suntikan pada tangan Marisa ditutup dengan plester. Marisa tidak kuasa untuk menolak pemeriksaan ini karena atas kehendak mama mertua. Ia hanya terdiam saat sang ibu terus menjelaskan kondisinya pada dokter yang bertugas. Tak berapa lama, semua pemeriksaan selesai dijalankan. Marisa kembali duduk di samping mama mertuanya. “Jadi kapan bisa melakukan bayi tabung, Dok?” tanya Santy pada dokter di hadapannya. “Bisa minggu depan, Bu,” jawab dokter itu. Hah … bayi tabung? Kenapa Santy terburu-buru mengambil langkah ini. Padahal aku dan A’a Indra ingin mencoba cara normal terlebih dahulu. “Ma, kok nggak kasih tahu dulu sebelumnya? A’a Indra juga belum tahu, kan?” Marisa merasakan da-danya perlahan sesak. “Ah, Indra pasti mau, nggak usah ditanyain!” jawab Santy dengan ketus. “Tapi—" Perkataan Marisa terpotong. "Sudah kamu nurut saja! Jarang ada yang berhasil hamil dengan cara normal jika punya riwayat penyakit seperti kamu, Sa. Mama sudah tanyakan pada dokter hampir di setiap rumah sakit di Jakarta. Mama ingin segera memiliki cucu dari kalian berdua. Kalau dari rahim wanita lain kan tidak mungkin!"  Keinginan Santy untuk memiliki seorang cucu begitu kuat hingga dirinya pergi ke berbagai rumah sakit untuk menanyakan apakah kasus riwayat seperti Marisa bisa segera hamil atau tidak. Rata-rata hasil dari penyelidikan Santy itu mendapatkan jawaban tidak berhasil hamil normal dan bisa hamil dengan cara bayi tabung. Ketika mengetahui fakta bahwa Marisa dan Indra tidak mau mencoba metode itu, Santy mengambil kesempatan saat Indra pergi ke Surabaya. Saat putranya jauh, Santy membawa paksa Marisa dan memaksanya untuk melakukan program bayi tabung. Sebenarnya Santy ingin menjalankan rencana itu di Jakarta, tapi ketika mengetahui Marisa pulang ke Bandung, Santy tak mau menyiakan waktu, segera membawa Marisa ke rumah sakit yang ada di Bandung. "Pokoknya kalau Indra datang dan tidak mau melakukan ini, kamu harus membujuknya!" perintah Santy. Sikap Santy kali ini sedikit berubah. Marisa hanya diam dan tidak berani untuk membantah mertuanya. Semula Marisa menganggap ini atas dasar kesalahannya. Jika tidak pergi dengan Reyhan saat itu, mungkin ia tidak akan diculik orang dan jika tidak berusaha untuk kabur dari penculik, ia tidak akan disiksa dan mengalami keguguran. "Indra pasti pulang nyusul kamu ke Bandung, kan? Jadi saat dia pulang nanti, Mama mau ajak kalian ke sini lagi," pinta Santy. "Iya, Ma." Marisa menundukkan kepalanya. "Pokoknya selama di Bandung, kamu harus tidur di rumah Mama. Kalau siang baru boleh ke rumah Mama Rika." "Iya, Ma." Marisa agak canggung jika tinggal di kediaman mertua saat suaminya tidak ada. Ini pengalaman pertama kali Marisa menginap tanpa adanya sang pemilik kamar. Sepulang dari rumah sakit, Marisa tidak berselera untuk makan. Ia hanya melamun di kamar Indra menatap sebuah foto pernikahan. Ia juga berdoa agar segera diberikan keturunan. Marisa menghubungi Rika dan memberikan kabar bahwa ia akan menginap di rumah mertuanya. Saat siang baru pergi ke rumah sang ibu. "Sayang!" teriak Indra dari telepon. "Hey … jangan melamun!" Teriakan itu menyadarkan Marisa dari lamunannya.  "Maaf, Ayah.” "Bunda ngelamunin apa, sih? Dari tadi Ayah ngomong nggak didengerin, dong. Bunda ngelamun gara-gara nggak ada Ayah di rumah itu, yah?" "Nggak kok, Ayah," jawab Marisa dan mulai tersenyum dengan terpaksa agar Indra tidak khawatir. "Perdana menginap di kamar Ayah di Bandung sendirian, yah! Yang akur sama Mama Santy dan Papa Gusti, Sayang. Nanti Ayah pulang langsung naik pesawat ke sana!" "Iya. Bunda sedikit canggung nggak ada Ayah di sini. Kamar ini sudah lama kosong juga, nggak ada yang menempati.” Marisa melirik ke arah kanan dan kirinya. "Awas ada hantu iiiii … takut!" Indra menakut-nakuti Marisa. "Jangan gitu dong. Bunda tidur sendiri, nih!" "Udah makan belum, Bun?" tanya Indra. "Udah tadi." Marisa berbohong. Ia tidak berselera untuk makan gara-gara Santy. "Ayah, tidur yuk. Udah malem!" "Masih sore kok. Bunda capek, ya?" "Iya," jawab Marisa singkat. Ia memencet tombol merah untuk mengakhiri panggilan video call malam itu. Marisa berusaha untuk memejamkan mata. Aneh rasanya tidur di ranjang yang terasa dingin. Sunyi sepi tanpa ada Indra yang menemani dan mengajaknya untuk mengobrol. Indra yang susah tidur karena merindukan Marisa, perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia membuka galeri dan memandang foto serta video istrinya. Dengan cara itu Indra akhirnya bisa terlelap dan masuk ke alam mimpi. Kecupan basah di bibir terasa begitu nikmat. Perlahan lidah Indra menerobos masuk ke dalam rongga mulut Marisa untuk mengabsen gigi istrinya. Kedua insan itu saling berpagutan. Lidah menari-nari di dalam rongga mulut yang terasa hangat. Ciuman itu tiba-tiba berhenti. Marisa menggendong bayi yang ia raih dari sebuah kasur kecil yang terletak di sebelah kasur king size-nya Marisa menitikkan air mata. Tangisan itu semakin kencang dan membuat Indra mendekat ke Istrinya. Indra mendekap sang istri dengan erat dan memandang wajah bayi yang ia gendong. Wajah bayi itu sangat biru dan terlihat kaku.  "Bayi ini sudah mati!" ucap Marisa. Indra kaget setelah melihat wajah bayi yang digendong istrinya. Ia lalu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Marisa. Belum sempat mencerna ucapan Marisa, Indra terperanjat bangun dan menarik napas panjang. Astaga … untung ini hanya mimpi! Indra meraih ponsel, ingin tahu jam berapa sekarang. Ponsel menunjukkan pukul lima dini hari. Indra menghubungi Marisa beberapa kali, tetapi teleponnya tidak diangkat-angkat.  Mungkin masih tidur. Indra meraih secangkir air mineral, meneguknya hingga tandas dan kembali merebahkan tubuhnya. Karena masih pagi, ia menutupkan mata kembali dan berusaha untuk tidur. ☆☆☆ Di Bandung, Rika sudah bangun sejak dini hari. Semalam ia bermimpi buruk, melihat Marisa menangis dengan tangan yang diikat kuat ke bangku. Rika yang terbangun dari mimpi buruk itu segera menghubungi Marisa. Ia meminta anaknya segera untuk pulang saat itu juga. Marisa bergegas bersiap-siap untuk pulang. Karena itu ia tidak mendengar panggilan telepon dari Indra. Ia menyempatkan diri memasak sarapan untuk Santy dan Gusti terlebih dulu sebelum pergi. Marisa meninggalkan sebuah memo di meja makan. Ia tidak enak membangunkan mertuanya saat tidur untuk sekadar berpamitan pulang ke rumah Rika. Sesampainya di rumah Rika. Ternyata sang mama telah menunggu di halaman sambil menyiram bunga. Begitu tahu putrinya datang, Rika bergegas menghampiri Marisa yang keluar dari mobil dan memeluknya dengan erat. "Mama mimpi buruk," bisik Rika. "Itu cuma mimpi, Ma. Marisa baik-baik aja, kok.” Marisa mengusap pundak Rika. "Gimana nginap di rumah mertua tanpa ada suami? Bisa tidur nyenyak tidak?" tanya Rika sambil melepaskan pelukannya. "Tidak, Ma," jawab Marisa dengan jujur. "Mama juga gitu dulu. Dibiasakan, ya. Indra mungkin nanti akan sering pergi ke luar kota,” ujar Rika lembut untuk memberi nasihat. Marisa bergegas masuk ke dalam rumah. Perutnya terasa perih, ia juga merasakan mual. Marisa berlari memasuki toilet dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN