BAB 7

1642 Kata
Seorang wanita muda tengah berjongkok di depan closet, mengeluarkan semua isi perutnya. Rika yang melihat anaknya tengah muntah-muntah segera mendekat dan memijat leher Marisa. "Kenapa, Sa?" "Mual banget, Ma. Perut Marisa perih. Kemarin nggak makan. Sepertinya maag Marisa kambuh.” Marisa meraih tisu untuk membersihkan bibirnya. "Lho, kenapa nggak makan di rumah Mama Santy?" Rika heran kenapa putrinya tidak makan di rumah mertuanya. "Malas, Ma. Nggak selera!" jawab Marisa, lalu keluar dari toilet. Rika tidak mau bertanya lagi. Ia sudah sangat paham apa yang Marisa rasakan. Rika dulu juga pernah tinggal di rumah mertua. Sudah pasti, tidak senyaman tinggal di rumah sendiri. Rasanya tidak bebas, malu, canggung, apalagi jika suami tidak ada di rumah. Terlihat jelas anak Marisa tengah sedih. Mungkin karena Indra tidak ada dan ia dipaksa tinggal di rumah mertua oleh Santy. "Anak Mama yang cantik bukan lagi hamil, kan?" Rika memberikan minyak kayu putih untuk Marisa. Marisa meraih minyak kayu putih yang diberikan Rika. "Nggak, Ma. Aku bawa test pack banyak ke mana-mana. Tiap hari aku cek saking nggak mau kecolongan lagi kayak dulu."  "Jadi ini benar gara-gara maag kambuh, ya.” Rika membantu Marisa mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh tubuhnya. Anak kesayangan ini terlihat murung, juga tidak enak badan. "Nanti malam tidur di sini saja, Sa." "Nanti dicariin Mama Santy atau Papa Gusti. Marisa tidur di sana saja, Ma. Siang ke sini. Nggak enak, mereka kepingin Marisa menginap di sana." "Ya udah. Mama buatkan bubur, ya." Rika pergi ke dapur untuk membuat bubur agar perut Marisa tidak kosong. Sebenarnya ia ingin ditemani Marisa di rumah. Apa daya jika keluarga suaminya ingin Marisa tinggal di sana, Rika harus mengalah. ☆☆☆ Wanita cantik dengan baju berwarna biru tengah duduk di atas sofa dan melamun. Matanya memperhatikan benda pipih yang ia genggam erat. Hari ini, ia belum memberikan kabar pada suaminya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pria yang sedari tadi ia pikirkan menghubungi lewat panggilan video call. Marisa segera mengangkat panggilan dari Indra itu. "Cinta, kamu di rumah Mama Rika sekarang? Pagi sekali udah ke situ. Kok nggak kasih kabar?" Indra mengerutkan dahi. Marisa hanya mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Indra. Pria itu segera tahu istrinya tengah memendam masalah. "Bunda sakit? Kenapa kelihatan lemas?" Marisa menggelengkan kepala. "Cuma masih ngantuk aja, Ayah. Semalam susah tidur. Bolak-balik kebangun terus. Terus mamaku pagi-pagi udah telepon dan suruh aku pulang." Ia berbohong karena tidak ingin membuat Indra khawatir. "Ada apa Mama Rika suruh Bunda buru-buru pulang?" "Nggak tahu, Sayang. Ayah buruan siap-siap dan sarapan, ya. Salam buat Wita." Marisa menutup teleponnya. Agar Marisa tidak ketahuan sedang sedih dan tidak enak badan, jadi lebih baik Marisa menghubungi Indra hanya sebentar. Padahal Indra masih ingin berbincang dengan istrinya. Tidak lama kemudian, Rika membawa semangkuk bubur dan air hangat. Dengan perlahan, ia duduk di sebelah putri bungsunya. "Sayang, semalam Mama mimpi buruk. Kamu sedang ada masalah apa? Ceritakan ke Mama, ya." Rika meniup bubur yang ada di sendok dan menyuapi Marisa. Perasaan seorang ibu tidak bisa dibohongi. Jika anak mengalami sesuatu, pasti ibu akan merasakan dan mendapat firasat buruk. "Benar ya, Ma. Kata orang, hati anak sama ibu kandung itu nyambung. Apa yang Marisa rasakan bisa juga Mama rasakan." Marisa menyandarkan kepalanya di pundak Rika. "Iya, Sayang. Kenapa anak Mama yang cantik?” Rika mengelus puncak kepala Marisa. "Entahlah, Ma. Marisa rasa Mama Santy berubah. Mungkin karena sangat menginginkan seorang cucu. Mama Santy bawa aku ke dokter Obsgin untuk konsultasi b bayi tabung. Padahal Marisa sama A’a Indra ingin coba secara alami dulu karena kami kan belum setahun menikah." Marisa berbicara sambil mengunyah bubur yang ibunya berikan. "Jadi kamu dipaksa untuk melakukan proses bayi tabung?" Rika seolah tidak percaya Santy memaksa Marisa. "Iya Ma. Marisa nggak mau dan masih merasa trauma dengan tindakan kuretase. Kan proses bayi tabung dilakukan di ruang operasi. Prosesnya itu benih diambil, lalu dimasukkan ke rahim lewat bagian inti. Marisa takut, Ma!" Marisa mudah trauma dengan hal buruk yang sudah ia alami. "Mungkin Mama Santy sangat mendambakan seorang cucu, Sayang. Berbeda dengan Mama. Mama mah santai saja jika kamu belum siap untuk hamil lagi. Mama kan udah punya Bella,” ujar Rika. Ternyata putrinya masih saja terlihat sedih. Rika mengelus lengan Marisa dengan lembut. "Sabar ya, anak Mama kan kuat! Mama percaya nggak lama lagi, kamu juga akan hamil, Nak!" "Aamiin, Ma." Marisa sudah menghabiskan satu mangkuk bubur dan segelas air putih. "Tidak ada stok obat-obatan di rumah, Ma?" tanyanya karena Rika tidak memberikan Marisa obat. "Tidak ada, Sayang. Obat-obatan yang kamu sediakan untuk Mama semuanya sudah habis," ujar Rika. "Kita ke mal, yuk, Ma!" ajak Marisa. "Kita beli stok obat untuk Mama, sekalian jalan-jalan." Rika mengerti, Marisa butuh sesuatu untuk mengalihkan rasa sedihnya. "Hayuk! Mama ganti baju dulu, ya." Sepanjang perjalanan, Rika mengajak anaknya mengobrol agar Marisa tidak melamun. Rika khawatir Marisa terus-menerus bersedih. Tanpa sepengetahuan Marisa, Rika memberikan pesan singkat kepada Indra. Menceritakan keadaan Marisa saat ini yang kecewa atas tindakan sang ibu mertua hingga tidak mau makan dan sakit maagnya kambuh.  Di Surabaya, Indra yang melihat pesan singkat yang diberikan Rika merasa merana. Kenapa saat istrinya bersedih ia tidak ada untuk menemani Marisa. Indra menahan diri untuk tidak menghubungi Santy. Ia takut emosi dan memberikan bahasa kasar lewat telepon. Indra memilih menanyakan langsung nanti setelah kembali ke Bandung agar tidak ada kesalahpahaman. "Anda kenapa, Dok?" tanya Wita yang duduk di sebelah Indra. "Tidak apa-apa, hanya saja ada masalah di rumah," ujar Indra. "Ada apa dengan istri Anda, Dok? Pulanglah jika keadaannya sangat mendesak. Saya bisa handel urusan sendiri." Wita memberikan Indra solusi. Indra terlihat baik dan bertanggung jawab menurut Wita. Sangat beruntung Marisa memiliki suami yang tampan, baik, bertanggung jawab dan sangat penyayang. "Nanti dulu, Wit. Aku tidak enak jika pulang sekarang. Ini bukan masalah yang sangat mendesak, kok." "Ya sudah, semoga masalah itu tidak berkelanjutan, Dok. Semangat!" Wita tersenyum manis pada Indra. Andai saja ia memiliki kekasih seperti Indra, tentu hidupnya akan bahagia. Sayang, kekasih yang ia miliki adalah seorang yang kasar dan saat ini susah untuk diputuskan. ☆☆☆ Marisa memarkirkan mobilnya di sebuah mal di Bandung. Ia menjadi ingat, momen saat dulu Indra menciumnya di parkiran mobil saat baru mengenal Indra yang ternyata teman masa kecilnya. Ia tersenyum mengingat masa itu. Indra berhasil membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Ciuman pertama dari seorang pria yang baru pertama kali bertemu lagi setelah sekian tahun. Seorang pria yang awalnya sangat dingin dan menyebalkan. Pria yang ternyata b***k cinta akut, mencintai Marisa dari kecil hingga sekarang. "Kenapa senyum-senyum, Sayang?" tanya Rika yang memperhatikan anaknya tengah tersenyum. "Marisa ingat dulu, Ma. Dulu waktu Marisa pertama kali diajak jalan sama A’a Indra, Marisa diajak ke sini. A’a cium bibir Marisa sampai berdarah. Marisa sampai menyembunyikan itu dari Mama dengan menutupinya memakai lipstik agak tebal." "Dasar, anak muda sekarang. Untung saat ini kalian sudah menikah. Mama tahu Indra akan sulit mengendalikan diri jika kamu tetap kekeuh tidak mau menikah dulu. Jadi Mama desak anak Mama buat buru-buru nikah saja. Mama jadi lega anak Mama ada yang jagain." Rika menahan tawa. Dulu ia bertingkah tidak mau memaksa Marisa, padahal ia membantu Indra dan keluarganya agar Marisa segera mau untuk diajak menikah. "Momen tunangan yang bikin aku kesel ke Mama tahu, Mama nggak bilang kalo A’a mau datang untuk melamar." "Kejutannya bagus, kan? Kamu nangis gara-gara terbaru!" Rika melepaskan sabuk pengaman. "Ayo kita beli obat untuk kamu, Sayang!" "Iya, Ma." Marisa keluar mobil dan berjalan merangkul ibunya. Kesedihan yang ia rasakan saat ini terlupakan karena bercanda tawa, berbelanja dan menikmati waktu hanya berdua bersama sang ibu. Setelah puas berkeliling hingga kaki terasa pegal, dua orang wanita dengan barang belanjaan yang banyak kemudian beristirahat dengan duduk di bangku restoran. Mereka menunggu makanan pesanan datang. Suara tangisan bayi tidak berhenti terdengar, membuat Marisa merasa kasihan dan menghampiri.  Ia ingin membantu menenangkan bayi yang sedang menangis itu karena ibu yang membawa sudah terlihat kelelahan. "Kenapa adek bayinya, Bu?" tanya Marisa. "Rewel, Neng. Dari pagi nangis terus. Sekarang sudah dibawa jalan-jalan juga tetap sama. Biasanya kalau rewel, dibawa keluar rumah juga langsung anteng lagi,” jawab ibu bayi itu. "Sini biar saya gendong, Bu," Marisa menggendong bayi yang usianya seperti belum menginjak enam bulan itu. "Saya bawa duduk di bangku saya, ya, Bu. Siapa tahu adeknya berhenti menangis." Marisa duduk di bangkunya dan berusaha menenangkan sang bayi. Ia menepuk-nepuk pelan punggung bayi dan mengusapnya dengan penuh rasa sayang. Seperti seorang ibu yang tengah berusaha membuat anaknya berhenti menangis. Namun, bayi itu tidak kunjung berhenti menangis. Marisa curiga ada masalah lain. Ia membuka baju bayi dan memeriksa apakah bayi itu pup atau popoknya sudah penuh. Ia melihat se-langkang-an bayi itu berwarna merah. "Bu, apa Ibu membawa salep untuk ruam popok?" tanya Marisa pada ibu yang memakai alat gendongan bayi di tubuhnya. "Ada, Neng. Ini.” Si ibu memberikan salepnya pada Marisa. Ia mengoleskan salep secara perlahan pada permukaan kulit bayi. "Dedek ini nangis karena sakit ada ruam popok di se-langkang-annya, Bu. Jangan lupa untuk oleskan salep, ya." Marisa membantu mengganti popok dan baju bayi yang berjenis kelamin perempuan itu. Wajahnya sangat mirip seseorang yang Marisa kenal. Tapi, ia mengerutkan dahi, berusaha mengingat wajah siapa. "Ibu memberikan dia Asi? Sepertinya dia lapar," saran Marisa. "Dia tidak minum ASI. Ibu kandungnya sudah meninggal. Saya hanyalah seorang pengasuh," ujarnya ibu itu. Marisa ikut sedih. Anak sekecil ini sudah tak punya ibu. "Bawa su-su botol?" Ibu itu memberikan su-su botol yang ia ambil dari tas. Marisa menggendong si bayi sambil memberikan su-su. Saat ia amati, ternyata wajah bayi itu sangat cantik. Rika melihat anaknya sudah sangat telaten mengurus bayi. Ia menundukkan kepala dan berdoa agar putrinya segera hamil dan mendapatkan keturunan. Seorang pria datang menghampiri asisten rumah tangganya yang terlihat tidak menggendong bayi. "Mana anakku, Bi? Bukannya tadi dia nangis?" "Itu … sudah berhenti, Den. Dibantu Neng Geulis yang baik itu.” Si ibu menunjuk ke arah Marisa. Pria itu menoleh. Matanya terbelalak. "Marisa …?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN