Seorang pria datang menghampiri asisten rumah tangganya. Ia heran, ke mana bayi yang tadi digendong wanita itu.
"Mana anakku, Bi? Bukannya tadi dia nangis?"
"Itu … sudah berhenti, Den. Dibantu Neng Geulis yang baik itu.” Si ibu menunjuk ke arah Marisa.
Seorang wanita cantik yang dahulu sangat ia cintai dan saat ini sangat ia rindukan tengah terlihat sedang menggendong seorang bayi layaknya ibu dan anak. Impian yang selama ini pria itu dambakan adalah bersanding dan memiliki keturunan bersama gadis yang sekarang ada di hadapannya.
Bayi dalam gendongan Marisa terlihat damai dan nyaman, seolah tahu dia sedang digendong oleh seorang wanita yang baik dan sangat dicintai oleh ayahnya.
Rambut yang menjuntai panjang, wajah yang terlihat semakin cantik, tubuh yang sedikit berisi, serta aroma parfum yang tercium dari kejauhan tetap terasa sama. Pria itu terpaku, takjub.
Pria itu adalah ayah dari anak yang digendong Marisa dan bukan orang asing. Ia adalah Febry, mantan kekasih Marisa.
Febry tersenyum penuh kebahagiaan setelah sekian lama tidak melihat Marisa secara langsung. Selama ini, seperti biasa Febry membuat fake account untuk memantau dan mengobati rasa ingin tahunya tentang kehidupan Marisa lewat media sosial.
"Marisa …." Febry berjalan mendekat, lalu memeluk Marisa dari belakang.
Melihat anaknya dipeluk oleh seorang pria, Rika kaget. Ia mengerutkan dahi, merasa mengenal sosok pria yang tengah memeluk putrinya.
“Akhirnya kita bertemu,” bisik Febry di dekat telinga Marisa.
Marisa sempat kaget karena tiba-tiba dipeluk oleh seorang pria. Ingin melawan pun sulit karena ia tengah menggendong seorang bayi. Mendengar suara pria itu, ia kontan teringat seseorang yang sangat ia kenal. Marisa memegang tangan pria yang melingkar di pinggangnya, lalu membalikkan badan. Matanya terbelalak saat tahu siapa orang itu.
“Kak Febry?” Marisa membuka suara.
“Iya!” balas Febry yang kini telah menghadap Marisa.
Marisa memandang wajah bayi perempuan yang ia gendong sangat mirip dengan Febry. Ia paham sekarang, anak siapa bayi cantik ini.
“Apa kabar, Cantik?” tanya Febry sambil tersenyum dan menjabat tangan Marisa.
“Baik, Kak. Kabar Kakak bagaimana?” Marisa agak ragu untuk membalas senyuman Febry.
“Baik, Sa ….” Febry nyaris keceplosan, memanggil sayang. “Baik, Cantik! Kamu di sini sedang apa dan bersama siapa?”
“Belanja, Kak. Aku bareng mama. Tu di belakang Kakak!” Marisa menggerakkan dagunya ke depan.
Febry menoleh, langsung tersenyum dan menghampiri Rika, lalu mencium punggung tangannya. “Maaf, saya malah membelakangi Mama.”
“Tidak apa-apa, Nak!” Rika mengusap pundak Febry. “Apa kabar istri kamu? Eh iya lupa. Maaf, Nak Febry. Tadi pengasuh anakmu bilang istrimu sudah meninggal, apa benar?”
“Iya, Ma. Nisa sudah meninggal saat melahirkan anak kami!”
“Mama turut berduka cita, Nak. Berarti kamu sekarang menjadi orang tua tunggal untuk bayimu, ya?”
“Iya, Ma,” jawab Febry sambil memasang wajah sendu.
“Kakak kenapa bisa ada di Bandung?” tanya Marisa yang bingung mengapa Febry berada di Bandung.
“Setelah menikah dengan Nisa, kan dia dikeluarkan dari kampus. Kakak menghukum dia agar tidak lagi mengganggu kehidupanmu dan membawanya untuk tinggal di vila Kakak di Bandung. Kakak juga pindah kampus. Kami hanya hidup bertiga ditemani asisten rumah tangga. Letak vila ke kota lumayan jauh, tapi pemandangannya indah dan hawanya sejuk. Kakak kira itu semua akan baik untuk seorang ibu hamil.”
“Wah … vila!”
“Kapan-kapan mampir, yah!” pinta Febry.
“Kuliah Kakak sudah beres?”
“Sudah, Cantik." Febry mengangguk dan tersenyum.
“Duduk, Kak. Biar aku saja yang berdiri karena takut bayi cantik ini terbangun. Nanti dia menangis lagi!” Marisa menepuk-nepuk pelan pan-tat bayi yang damai dalam dekapannya.
Febry duduk di sebelah Rika. Kini sudah tumbuh bulu-bulu halus di bagian wajahnya. Tubuh Febry terlihat sedikit kurus, mungkin karena lelah menjadi orang tua tunggal.
“Terima kasih sudah membuat anak Kakak berhenti menangis.”
“Sama-sama, Kak. Dia menangis karena ruam popok.”
Febry mengangguk, ia belum tahu anaknya terkena ruam popok. Selama ini anak itu lebih banyak diasuh si bibi. Ada rasa malu dalam hati Febry.
“Suami kamu ke mana? Kenapa tidak ikut?” Febry heran karena Marisa hanya berdua dengan Rika.
“Sedang di Surabaya, Kak.”
Febry melirik perut Marisa yang masih datar. Ia enggan bertanya, tetapi ingin tahu apakah Marisa sudah hamil atau belum.
“Kamu sedang tidak hamil, kan, Sa? Takut bayiku menekan sesuatu yang ada di dalam perutmu.”
“Tidak, Kak. Aku baru saja keguguran empat bulan yang lalu.” Marisa menunduk dan memperhatikan bayi perempuan yang tengah ia gendong.
“Maaf, Sa,” ujar Febry yang merasa tidak enak dengan pertanyaannya. “Pantas saja kamu menghilang dari media sosial cukup lama."
“Kakak masih sering melihat media sosialku?” Marisa keheranan.
“Iya. Kakak tahu kabar kamu dan apa yang kamu lakukan dari media sosial.”
“Lama aku menghilang dari media sosial karena aku mengalami musibah, Kak. Aku diculik, dan saat kabur, penculik menyiksaku hingga bayi yang ada dalam kandunganku keguguran.” Marisa menceritakan tragedi kelam yang ia alami beberapa waktu yang lalu.
Febry terlihat kaget. “Siapa orang yang tega menculik kamu?”
“Sudah dipenjara, Kak. Orangnya adalah sahabat sekaligus orang yang sangat menyukai suamiku!”
“Kamu wanita yang kuat, Sa.” Febry menggenggam lengan Marisa.
“Kamu boleh kok, anggap bayiku sebagai anakmu sendiri. Mudah-mudahan bisa mengobati rasa kehilangan atas bayi yang keguguran itu, ya."
Marisa mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih, Kak."
"Anakku tidak mempunyai sosok ibu. Pasti dia akan bahagia jika kamu menganggap dia seperti anakmu sendiri," lanjut Febry.
“Boleh aku tahu Nisa meninggal karena apa?”
Febry mengangguk. Ingatannya melayang ke beberapa bulan yang lalu, ke peristiwa yang merenggut Nisa untuk selamanya.
☆☆☆
=Enam Bulan yang Lalu=
Seorang perempuan dengan perut yang membundar dan kesulitan untuk berjalan merasakan sakit pada bagian pinggang. Kakinya membengkak dan tubuhnya terasa sulit untuk mendapatkan posisi nyaman. Kehamilannya telah menginjak usia sembilan bulan. Yang berarti tak lama lagi ia harus siap untuk melahirkan.
Sesuatu seperti air kencing mengalir dari bagian inti hingga membasahi lantai. Air yang keluar berwarna keruh dan bercampur sedikit darah. Sebagai mantan mahasiswa kebidanan yang pernah praktik, ia tahu cairan apa itu.
Nisa panik dan berteriak memanggil nama suaminya. Seorang pria datang, lalu ikut panik karena melihat lantai sudah basah oleh air yang keruh, bau anyir, dan bercampur darah.
Keadaan cuaca yang kurang baik menyulitkan mereka untuk pergi ke rumah sakit. Hujan disertai angin kencang telah membuat sebatang pohon yang tumbang dan menghalangi jalan dari vila ke rumah sakit terdekat. Butuh waktu yang lumayan lama untuk memindahkan pohon yang tumbang itu dengan bantuan warga sekitar.
Mereka sampai di rumah sakit setelah melalui berbagai halangan dan rintangan. Tubuh yang kini lemas dan mengeluarkan keringat dingin itu perlahan diangkat ke sebuah bed dengan roda empat. Ia didorong masuk ke dalam unit gawat darurat. Ruangan itu dingin dan dipenuhi alat-alat medis berbagai bentuk. Perawat dan dokter yang bertugas segera mempersiapkan diri saat Nisa masuk.
Mereka mengenakan alat perlindungan diri lalu memeriksa keadaan umum pasien. Setelah itu mereka memasangkan sebuah selang pada hidung untuk menyalurkan oksigen.
Anamnesis dilakukan perawat lain pada suami pasien untuk mengorek informasi penting yang bisa dijadikan acuan pemberian tindakan.
Dokter memeriksa keadaan bayi yang ada di dalam kandungan dengan alat ultrasonografi. Keadaan pasien mulai memburuk, dikhawatirkan mengalami keracunan air ketuban.
“Bayi ini harus segera dilahirkan, Pak, sebelum nyawanya terancam. Kondisi sang ibu tidak memungkinkan untuk melakukan persalinan secara normal. Melihat kakinya yang sangat bengkak, ketuban yang keruh dan sudah keluar lebih dulu, serta posisi bayi yang kurang bagus, istri Bapak harus segera menjalani operasi sesar.”
“Silahkan lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok!” jawab Febry.
“Baik kalau begitu. Saya akan segera menyiapkan operasi.”
Wanita yang kini pergerakannya semakin melemas, menggenggam lengan suaminya dengan erat. “Jika aku tidak selamat nanti, tolong besarkan dia dengan penuh kasih sayang,” ujarnya lirih.
“Sssst! Jangan bilang begitu. Kamu pasti selamat!” Febry mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi istrinya.
“Maafkan kesalahanku selama ini, Kak. Aku mengikatmu dengan sebuah paksaan. Kakak memang tidak mencintaiku, tapi tolong cintai anak kita,” pintanya.
“Kakak pasti akan menyayangi dia, Nisa. Kamu berjuanglah. Kalian berdua akan selamat.” Febry mencium punggung tangan istrinya.
“Keluarga Nyonya Nisa,” panggil salah satu perawat.
Febry menoleh dan mendekat pada perawat yang memanggilnya.
“Mari kita bawa Nyonya Nisa ke ruang operasi!” ajaknya.
Febry segera mengikuti petugas yang mendorong kasur Nisa ke ruangan operasi. Kini pakaian Nisa sudah berubah menjadi kain berwarna hijau. Febry diperbolehkan masuk dan menyaksikan kelahiran putrinya.
Nisa kehilangan kesadaran setelah sesuatu disuntikkan ke bagian punggungnya. Dokter menyayat perut Nisa dengan pisau bedah dan membukanya secara perlahan. Dengan cepat, dokter itu mengeluarkan bayi mungil yang berwarna pucat dan bercampur lendir serta darah.
Bayi berhasil diselamatkan dan tidak ada sesuatu yang mengganggu jalan napasnya. Febry diperbolehkan melakukan metode kanguru untuk membuat bayinya hangat. Yakni memeluk erat tanpa ada kain yang menghalangi tubuh mereka berdua.
Layar monitor yang menampilkan keadaan pasien tiba-tiba berbunyi kencang. Angka-angka semakin terlihat menurun. Keadaan Nisa memburuk.
Terjadi pendarahan dan keadaan tanda vital Nisa semakin anjlok. Dokter segera berjuang menyelamatkan nyawanya. Semua yang berada di ruang operasi itu menjadi tegang. Febry hanya bisa berdiri terpaku di sisi istrinya.
Setelah berjuang beberapa menit, dokter itu menggelengkan kepala dan merasa gagal untuk menyelamatkan sebuah nyawa. Ibu yang telah berjuang untuk melahirkan bayi ke dunia kini terbujur kaku. Tidak ada lagi hembusan napas yang keluar dari hidung. Tidak ada lagi jantung yang berdetak, tidak ada lagi suara yang terdengar. Semuanya hening.
Dokter melihat jam dan mengumumkan kematian pasien.
Febry yang mendengar istrinya sudah tidak lagi bernyawa menitikkan air mata. Ia sudah berjanji menjadi ayah yang kuat dan menyayangi putrinya.
Perlahan, ia bawa bayi mungil yang masih memejamkan mata itu mendekat ke arah tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa. Ia menempelkan bibir mungil ke pipi yang sudah mulai terasa dingin dan membiru.
“Selamat tinggal, Nisa. Selamat datang ke dunia, Syakila," ucap Febry di antara derai air mata. Ia mencium kening sang putri dan kening istrinya.
☆☆☆
Marisa terharu dan menitikkan air mata mendengar kisah Febry. “Semoga Nisa tenang di alam sana, Kak.”
Febry tersenyum. "Makasih, Sa."
Marisa mengusap kening bayi yang semakin tidur dengan lelap. “Jadilah wanita yang kuat ya, Nak!” Kemudian ia menoleh pada Febry. “Siapa nama bayi ini, Kak?”
“Syakila. Panggil saja Kila.”
“Nama yang indah. Halo, Kila. Ini Tante Marisa. Kamu bisa menganggapku sebagai ibumu, Anak Cantik!”
Febry tersenyum mendengar perkataan Marisa. Marisa terlihat sangat cocok menggendong bayi.
Ponsel Marisa tiba-tiba berbunyi. Sebuah panggilan telepon video call dari Indra. Rika mengambil ponsel itu dari tas Marisa, lalu mendekatkannya di depan wajah wanita itu. Marisa memencet tombol hijau sambil tetap menggendong Syakila.
Indra bisa melihat istrinya tengah menggendong seorang bayi. Layar ponsel juga memperlihatkan sedang bersama siapa Marisa saat ini. Ia mengerutkan dahi saat menyadari siapa sosok seorang pria yang ada di tengah-tengah Marisa dan ibu mertuanya.