BAB 9

1875 Kata
Indra menatap layar ponsel. Ia melihat istrinya sedang menggendong seorang bayi perempuan dan terlihat ada dua orang yang duduk di dekatnya. Ia mengerutkan dahi ketika melihat seseorang yang wajahnya sangat familiar. Wajah seorang pria yang tidak asing dan merupakan mantan kekasih Marisa. Marisa menyadari Indra tengah melihat mantan kekasihnya yakni Febry. Ia segera berbicara, "Sayang, aku lagi gendong bayi. Ini anaknya Kak Febry. Kita nggak sengaja ketemu di mal." "Bagaimana kabar Febry, baikkah?" tanya Indra. "Kabarnya baik, Sayang. Ayah lagi apa, sudah makan belum?" tanya Marisa. “Sudah, Sayang. Ya udah, salam buat Febry, ya. Ayah lanjut meeting dulu. Kalau ada apa-apa, cepat kirim pesan, ya.” “Siap, Sayang!” Marisa menatap wajah bayi yang tengah ia gendong. Pipi yang bulat seperti bakpao, kulit yang putih mulus dan bersih, rambut hitam dan lurus tapi belum tumbuh sempurna, tangan dan kaki yang seperti roti sobek sangat menggemaskan. Syakila memiliki wajah perpaduan antara Nisa dan Febry. “Kamu ganti ponsel, ya, Sa?” Febry membuka pembicaraan. “Iya. Sewaktu terkena musibah saat aku diculik, ponsel dari Kakak rusak, jadi aku dibelikan ponsel baru sama A’a Indra," jelasnya. “O, gitu." Melihat Marisa sangat menyukai anaknya, Febry mendadak mendapat ide. Febry melirik ke arah Rika. “Ma, main ke vila Febry sekarang, yuk! Mama nggak sibuk, kan?” “Tidak, Nak Febry. Marisa juga sedang tidak sibuk. Iya, kan, Sa?” Marisa melirik Rika. Ia bingung dengan ajakan Febry. Jika menolak, ia merasa tidak enak pada Febry. Jika menerima ajakan itu, ia merasa tidak enak pada Indra. “Kita main sebentar ke vila Nak Febry ya, Sa?” bujuk Rika. “Iya, Ma.” Marisa hanya bisa menurut. Tampaknya Rika ingin berkunjung dahulu ke rumah Febry. Sudah lama Rika tidak berjalan-jalan. Marisa mengirimkan pesan singkat pada Indra, tapi sepertinya Indra sedang sibuk. Pesannya tidak dibaca sampai Marisa sudah berada di vila Febry. Vila yang terlihat asri itu sangat sepi. Hanya tangisan Syakila yang membuat tempat itu seakan hidup. Foto-foto Nisa dan Febry terpasang di dinding. Terlihat tidak adanya keharmonisan dan senyum yang tulus. Mungkin karena pernikahan mereka atas dasar keterpaksaan akibat kecelakaan Nisa hamil. Marisa kembali menggendong bayi perempuan yang sudah bangun itu, lalu mencium pipinya dengan gemas. Semoga segera mendapatkan anak yang selucu ini, aamiiin! Marisa tak henti-hentinya mengambil gambar ekspresi Syakila dan mengirimkannya pada Indra. “Kepingin yang kayak gini satu, Sayang!” Pesan dikirimkan bersama dua puluh foto hasil jepretannya Febry datang dengan membawa dua cangkir teh hangat untuk Rika dan Marisa. Ia menceritakan bagaimana kisah kehidupan pernikahan tanpa cinta. Bagaimana perjuangannya melupakan Marisa. Marisa tersentuh karena kesalahannya dulu yang memiliki kekasih lebih dari satu. Ia sadar telah menjadi akar penyebab Febry sakit hati dan terpuruk, sampai mabuk dan tidur dengan Nisa. Jika dulu Febry tidak bertengkar dengan Januar dan tidak sakit hati olehnya, pasti saat ini Febry tidak akan menjadi duda muda. “Semua orang pasti punya kesalahan. Maafkan segala kesalahanku dahulu, Kak. Jangan ingat semua keburukanku, ya? Jangan lupa bahwa aku juga punya sedikit kebaikan. Terima kasih dulu Kakak sangat baik kepadaku.” Marisa menunduk menatap Syakila. “Semua orang tidak ada yang sempurna, Sa. Kita makhluk yang memiliki kekurangan, kelebihan hanya milik Tuhan. Maafkan dulu kalau Kakak menjadi pasangan yang kurang baik sampai kamu berpaling dari Kakak. Indra pria yang sangat beruntung mendapatkan kamu. Kakak iri padanya.” Febry mengutarakan isi hatinya. “Aku jadi merasa sangat bersalah, Kak! Karena aku Kakak jadi menikah terpaksa dengan Nisa.” Da-da Marisa terasa sesak merasakan malu dan kecewa atas perbuatannya dulu. “Tidak apa-apa. Ada hikmahnya. Kakak jadi punya anak cantik dan lucu, Syakila.” Syakila mendengar pujian ayahnya seolah mengerti dan memberikan senyuman. Melihat perbincangan antara sepasang mantan kekasih, Mama Rika memilih untuk pergi berkeliling bersama asisten rumah tangga Febry. Ia takut mengganggu keduanya. "Aku boleh sering-sering main ke sini buat ketemu Kila, kan, Kak?" "Boleh, dong! Kalau Kakak kerja, kamu temui saja bibi. Nanti Kakak bilang bibi untuk ngebolehin kamu main sama Kila. Mau dibawa ke rumah kamu juga boleh, yang di Bandung tapi … jangan ke Jakarta. Kejauhan Kakak nanti jemput dia!" "Ya kali aku bawa ke Jakarta, Kak. Itu namanya menculik anak orang!" “Nggak pa-pa, yang nyuliknya cantik, nanti Kila ketularan cantiknya ateu Marisa!" "Kila udah cantik, Kak. Perpaduan antara wajah Kakak yang ganteng dan wajah Nisa yang cantik." "Terima kasih. Sini Kakak yang gendong Kila. Takut kamu pegel!" Marisa memindahkan gendongan Kila ke ayahnya. Suasana hatinya kembali membaik setelah bertemu malaikat kecil Syakila. Hari sudah sore. Marisa harus segera mengantar Rika pulang, lalu kembali ke rumah Santy sebelum kemalaman. "Kak, aku pamit pulang, ya. Sudah sore." Marisa tersenyum pada Febry. Sudah lama Febry tak melihat senyuman tulus yang langsung di depan matanya dari seorang wanita yang dulu sangat ia cintai. Ia membalas senyuman hangat itu dan mengizinkan Marisa untuk pulang. ☆☆☆ Marisa kini sudah mengantarkan Rika untuk pulang. Ia berpamitan untuk tidur di rumah Santy. Hari sudah malam karena vila Febry cukup jauh dan memakan waktu untuk pulang ke Bandung. Mama Santy yang melihat Marisa baru pulang ketika sedang menyiram bunga janda bodong kesayangannya, mendekat dan mengapa. "Habis dari mana? Kok jam segini baru pulang?" tanya Santy. "Habis anter Mama Rika belanja kebutuhan rumah, Ma," jawab Marisa. "Belanja kebutuhan rumah lama sekali, sampai malam." Santy berbicara dengan nada ketus.  Marisa hendak mencium punggung tangan Santy, tapi wanita itu menolak. “Nggak usah cium tangan. Tangan Mama kotor!" Santy terlihat tidak suka Marisa hendak menyentuhnya. "Aku bawa oleh-oleh buat Mama dan Papa." Marisa berniat menyenangkan hati Santy. "Apa itu?" Santy melirik kue yang Marisa berikan. "Kue kesukaan Mama. Ini, ya, Ma. Marisa simpan di atas meja ruang tamu, ya." Marisa berharap Mama Santy senang dengan kue yang ia bawa. "Simpen aja!" jawab Santy singkat, tanpa berterima kasih. Hati Santy sedang sensitif. Di tempat arisan, semua ibu seusianya sudah memiliki cucu, bahkan yang umurnya lebih muda dari dia juga sudah menggendong cucu. Andai saja dulu Marisa tidak menunda-nunda kehamilannya, pasti aku sudah punya cucu. Atau jika saja dulu tidak terjadi musibah penculikan, pasti cucuku masih hidup dan berkembang di dalam perutnya. Santy teringat juga seorang teman yang menjodohkan anaknya pada Indra. Kalau dulu Indra jadi dijodohkan dengan gadis itu, mungkin saja sekarang aku sudah menimang cucu. Tapi … Indra sangat mencintai Marisa. Gusti terlihat duduk santai di atas sofa sambil membaca koran. Orang yang berumur seperti Gusti memang lebih menggemari membaca berita dari bahan kertas dibandingkan dengan gadget. Melihat raut wajah Marisa yang seperti tidak enak hati, Gusti membuka suara. Gusti sangat peka dengan perasaan wanita. Mungkin karena sudah terbiasa menghadapi Santy yang mood-nya sering berganti-ganti. "Mantu Papa udah pulang!" Suara Gusti mengagetkan Marisa yang tengah melamun. Ia masih sedih mendapatkan sambutan kepulangan yang kurang mengenakkan dari Santy. "Eh, Papa. Maaf Marisa nggak lihat!" Marisa segera menghampiri Gusti dan mencium tangannya. "Papa segede gaban masa masih nggak kelihatan juga? Nih lihat, perut Papa semakin menggelambir!” Gusti memegang perutnya yang tidak lagi six pack, tapi bisa dibilang tumpukan-tumpukan lemak. "Ah Papa. Nanti A’a Indra juga perutnya kayak gitu kalau sudah seumuran dengan Papa." "Iya, tergantung pupuk dari istrinya. Sekarang saja sudah terlihat berisi. Kamu pintar mengurus suami, ya!” Gusti memberikan pujian pada menantunya agar merasa lebih senang. Suasana sedikit mencair berkat Gusti. Wanita memang senang mendapat pujian, termasuk Marisa. Dipuji oleh orang lain itu bisa membuat hati lebih bahagia. “Papa bisa saja. Marisa ke kamar A’a dulu, yah, Pa!" "Lho, kok kamar A’a? Kamar kamu juga, kan? Kamu anak Papa, Sayang!" "Iya, Pa." Marisa tersenyum, merasa Gusti menerima kehadirannya di rumah ini. ☆☆☆ Wanita-wanita yang umurnya sudah paruh baya tengah berkumpul. Mereka terlihat berumur sekitar kepala empat hingga kepala lima. Berbagai perhiasan terpasang di bagian leher, telinga, tangan, dan kaki. Gemerlapan cahaya yang terlihat dari perhiasan itu menandakan mereka bukan berasal dari kalangan rakyat jelata. Kendaraan yang mereka gunakan juga tidak terlihat sebagai kendaraan murah.  Baju-baju tengah ditata, perhiasan-perhiasan tengah berjejer rapi. Sebuah botol berisi lintingan kertas bertulis nama bertengger di antara banyak perhiasan. Ada lubang di tutup botol guna mengeluarkan lintingan nama ketika arisan dikocok. Makanan serta kudapan sudah tertata rapi di ruang makan. Kali ini, arisan itu diselenggarakan di rumah salah satu istri anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Wanita berumur kepala empat yang beberapa tahun lagi akan menginjak kepala lima tengah turun dari salah satu mobil mewah berwarna putih dengan kursi yang besar dan bertuliskan huruf 'W' yang artinya 'Wijaya'. Mobil itu kepunyaan Santy, istri Gusti Wijaya, pemilik rumah sakit besar yang ada di beberapa kota dan sekaligus pemilik klinik bersalin terkemuka di Jakarta. Tidak hanya sebagai penyedia jasa pemeriksaan hamil, melahirkan, nifas, bayi baru lahir dan balita, klinik Santy juga mempunyai dokter bedah dan dokter umum. Bahkan dilengkapi dengan ruangan operasi untuk melayani operasi kecil. Pemilik rumah yang merupakan istri anggota Dewan Perwakilan Rakyat itu menyambut kedatangannya. "Ibu Santy makin cantik saja! Arisan dolar kita kali ini anggotanya lengkap!" "Syukurlah kalau begitu. Berarti sedang tidak terlalu sibuk anggotanya." "Mari masuk, sudah saya siapkan makanan sesuai selera kita." "Terima kasih, Bu!" Ibu-ibu yang tengah bergosip berhenti setelah melihat kedatangan Santy. Mereka awalnya membicarakan kabar bahwa Santy telah kehilangan cucu. Mereka sangat menyayangkan kejadian itu. Meski kabar mengenai penculikan belum mereka dengar, kabar keguguran juga tidak mengenakkan jika disertai tambahan gosip-gosip penyebabnya. Menurut mereka, sangat disayangkan Santy memilih menantu dari kalangan biasa. Marisa dianggap lemah dan tidak bisa menjaga bayinya sehingga mengalami keguguran. Mereka juga menyayangkan sebuah rencana perjodohan. "Kenapa Bu Santy menolak anak Bu Rubi? Padahal cantik, dokter pula. Jangan tanya soal kekayaan. Beuuhhh Bu Ruby kan kaya raya dan pengurus yayasan rumah sakit juga!" "Kalau saja anak Bu Santy itu menikah dengan anak Bu Ruby, pasti kekayaan mereka kalau disatukan akan melimpah ruah, tidak akan habis dua puluh hingga tiga puluh turunan!" "Iya, Jeng. Sayang banget ditolak rencana perjodohannya. Ibu Santy apa nggak bego, ya? Malah milih mantu yang cuma bidan dan dari kalangan biasa. Kabarnya kuliah saja dibayarin Pak Gusti, loh." Santy tersenyum kecut melihat teman arisannya yang gemar bergosip. Meski tidak semuanya bersifat buruk, tapi pasti mereka akan mendengarkan gosip dan termakan kabar kurang baik, bahkan bisa saja terpengaruh oleh kabar itu. "Gimana mantunya, apa sudah hamil lagi, Jeng?" tanya seorang ibu yang memakai baju warna merah dan tengah sibuk merapikan perhiasan yang akan ia jual. "Belum. Mungkin belum saatnya. Baru juga lepas KB pasca keguguran," jawab Santy. "Dia sudah nggak kerja lagi di rumah sakit, kan? Lalu mantunya sekarang kerja apa?" " Saya kasih klinik saja. Biar dia yang mengurusnya." "Enak, ya, punya mertua yang kaya raya. Tinggal duduk manis saja menantunya. Ngomong-ngomong, kenapa sih Jeng Santy malah milih menantu dari kalangan biasa? Sudah jelas-jelas anak Ibu Rubi cantik, baik, dokter, mana dari kalangan yang sama pula. Kok malah nggak dijadiin perjodohannya." "Mungkin mereka memang tidak berjodoh, Bu. Anak saya juga sangat mencintai istrinya. Dia sudah menyukai Marisa sejak kecil." "Apa anak ibu masih kecil sudah belajar pacar-pacaran?" "Tidak, tidak!" Santy segera mengibas-ngibaskan tangan. "Bukan begitu. Mereka sudah sering bertemu dan berteman sedari kecil. Indra menyukainya. Lalu setelah besar, mereka bertemu kembali dan Indra ternyata masih menyukai Marisa." "O gitu ceritanya, Jeng. Eh eh itu, calon besan tidak jadinya Jeng Santy dateng!” Si ibu menunjuk pada seorang wanita yang turun dari mobil mewah. Gemerlap kalung berlian besar terlihat jelas dari dalam rumah.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN