Laysa melayangkan sebuah tammparaan keras tepat di pipi Gavin. Tangannya spontan melakukan itu akibat rasa sakit luar biasa karena ujaran Gavin barusan. Siapa perempuan yang bisa tenang setelah kehamilannya diragukan? Padahal, Laysa hanya melakukannya dengan seorang lelaki. Namun, dengan mudahnya tuduhan itu tersemat untuknya, sungguh keji.
Gavin lantas mencengkeram rambut bagian belakang Laysa sangat kuat, menimbulkan rasa sakit lain yang diterima gadis itu.
“Berani sekali kau melakukan itu padaku. Ingatlah, kau hanya seorang gadis yang kubayar, Lays. Tidak lebih dari itu. Kau harus menyadari di mana menempatkan posisimu walau kita akan menikah,” ujar Gavin pelan seperti berbisik.
Ucapannya tersebut sudah cukup membuat tekanan yang dialami Laysa semakin dalam. Dia menangis tersedu-sedu, meratapi kehidupannya yang tidak pernah bertemu dengan bahagia.
Gavin pun melepas cengkeramannya cukup keras hingga tubuh Laysa terempas ke kasur. Kemudian beranjak dari sana dengan angkuh dan tidak memedulikan apa pun tentang Laysa. Gavin sangat kesal, karena ternyata gadis itu sama seperti gadis kebanyakan yang mudah terlena dengan uang dan fisik seorang lelaki.
***
Sebelum Gavin pulang ke rumah, semuanya terlihat baik-baik saja. Suasana hatinya selalu baik, apalagi ketika membaca tulisan pengakuan dari Laysa. Dia pikir, rencananya akan berjalan dengan lancar, mendapatkan seorang istri yang mudah disetir ke arah mana pun tanpa bisa melawan, kemudian memiliki seorang anak yang akan memperkuat pendapatan harta kekayaan dari orang tuanya.
Namun, siapa sangka keyakinan itu tidak bertahan. Gavin mendapatkan sebuah kenyataan mengejutkan dari saudara kembarnya sendiri, Xavier. Saat Gavin berniat membelikan serangkai bunga cantik untuk gadisnya, ternyata dia mendatangi toko bunga yang sama dengan Xavier.
Lelaki yang sama-sama sibuk dengan pekerjaan tersebut bertemu, hingga menimbulkan pemikiran masing-masing. Gavin sendiri tidak heran kenapa dia bertemu dengan saudaranya di tempat ini, sebab lelaki itu sering membeli bunga-bunga untuk dibagikan ke anak-anak penyandang distabilitas, atau ke panti asuhan sebagai simbol dari perusahaan yang dikelolanya. Sementara Gavin? Xavier pasti bertanya-tanya kenapa orang sedingin dan seangkuh Gavin ada di tempat seperti ini.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Xavier.
“Sejak kapan kau mau tahu urusanku? Urus saja urusanmu sendiri.” Gavin menjawab santai, kemudian memanggil seorang wanita penjual bunga di tempat ini. “Tolong siapkan bunga untukku.”
“Apa itu untuk kekasih Anda, Tuan?” tanya wanita itu.
“Ah, ya. Cepatlah,” ujar Gavin, wanita itu pun mencarikan bunga yang cocok untuk Gavin.
Sementara itu di dekatnya, Xavier tersenyum tipis.
“Sepertinya kau sudah tergila-gila pada gadis itu. Siapa namanya ... ah, Laysa. Nama yang cantik sama seperti wajah dan tubuhnya.”
Gavin mendengar ujaran Xavier sangat jelas di telinganya. Walau dia menyadari itu disengaja untuk memanas-manasinya, Gavin tetap terpancing karena yang mengatakannya adalah rivalnya sendiri.
“Dia adalah calon istriku, apa salahnya dengan itu? Penilaianmu tentangnya memang benar, aku memiliki standar sendiri memilih pasangan,” balas Gavin.
“Benarkah?” tanya Xavier padat, kemudian mengambil setangkai bunga mawar merah ke tangannya. “Walau pun dia bisu? Aku berpikir, kau tidak pernah tertarik dengan seluruh anak yang memiliki keterbatasan seperti itu. Apa yang kau rencanakan sebenarnya?”
“Sudah kukatakan itu tidak ada urusannya denganmu.” Gavin mulai risi, apalagi saat Xavier menyenggol niatnya menikahi Laysa.
“Itu adalah urusanku karena aku tidak akan pernah menyetujui apa pun tindakanmu. Laysa sama seperti anak-anak yang sering kutemui, dia tidak layak menjadi istri seorang yang sama sekali enggan menerima sebuah kekurangan.”
“Apa kau bilang?” Gavin geram.
“Apa kalimatku kurang jelas? Kalau begitu akan kuperjelas kembali,” ujar Xavier. “Aku tidak akan pernah menyetujui tindakanmu. Dan asal kau tahu, Laysa tidak pernah menyukaimu, sedikit pun. Kalau aku menginginkannya, dia akan lebih memilihku dibanding denganmu.”
Gavin mengepalkan tangan sangat kuat. Jika tidak banyak penggunjung yang datang ke tempat ini, dia sudah pasti akan melayangkan kepalan tangannya ini ke wajah lelaki itu. Gavin masih ingin menjaga nama baiknya dan tidak ingin mencari keributan yang hanya akan memunculkannya di media massa dengan berbagai macam berita. Apalagi, Xavier adalah seorang direktur utama di sebuah PH, bisa sangat mudah melakukan apa pun dengan pekerjaannya itu.
Tidak lama, pesanannya selesai dibuat. Gavin segera meninggalkan toko bunga tersebut dengan langkah lebarnya. Dia sangat kesal, bagaimana bisa seorang Xavier bisa mengatakan itu di hadapan wajahnya langsung begitu. Nyalinya cukup besar, padahal Xavier tahu Laysa adalah calon istri saudaranya.
“Dia begitu meyakininya. Apa artinya semua itu?” Batin Gavin bertanya-tanya. Setelah itu dia teringat pertemuan antara Laysa dan Xavier yang terbilang cukup sering hingga tampak keakraban di antara mereka berdua.
Itu membuat hati Gavin memanas oleh kecemburuan besar. Ah ... tidak. Gavin bukan mengartikan perasaannya ini dengan sebuah kecemburuan, melainkan dia membenci miliknya tersentuh oleh orang lain. Akhirnya, Gavin membuang bunga yang baru dibelinya ke tempat sampah.
Setelah pulang ke rumah dan mendapat kabar Laysa sedang mengandung, Gavin meragukan bayi itu adalah darah dagingnya. Ia menganggap Laysa sama saja dengan para perempuan pinggir jalan di luar sana karena ingatan itu.
***
Keesokan harinya, Laysa dan Gavin pergi ke sebuah rumah sakit besar untuk menemui seorang dokter spesialis kandungan. Lelaki bertubuh jangkung itu duduk di kursi samping Laysa terbaring di bed strecher. Seorang lelaki tua yang bergelar dokter di dekat mereka tampak mengecek perut Laysa menggunakan alat medisnya.
“Dia masih sangat kecil, usianya sekitar dua minggu. Perkembangannya cukup baik,” ujar Dokter Richard.
Gavin tidak bereaksi banyak, kecuali dia lihat Laysa menggigit bibbir bawah seakan masih tidak mempercayai hal ini. Ya, siapa yang akan percaya? Secepat ini mereka diberi keturunan dan memperjelas masa depan mereka selanjutnya.
“Saya akan meresepkan obat untuknya, tolong dihabiskan obat ini. Jika ada keluhan apa pun, segera periksakan kandungannya. Sebab kehamilannya sekarang bisa dikatakan masih sangat rentan,” ujar Dokter Richard lagi seraya meresepkan obat untuk Laysa.
“Apa keadaannya sekarang baik-baik saja? Dia sempat pingsan kemarin, saya hanya ingin memastikannya,” ujar Gavin sekaligus bertanya mewakilkan ekspresi wajah Laysa yang seakan penasaran dengan kehamilannya sendiri.
“Dia hanya kelelahan, istirahat cukup. Terutama tidak melakukan aktivitas berat, itu akan membantu kesehatannya,” jawab sang dokter.
Gavin pun hanya terdiam. Setelah mereka selesai dan hendak keluar dari rumah sakit, ternyata Derry sudah menunggu di lantai bawah. Lelaki paruh baya itu menyampaikan sebuah kabar untuk Gavin.
“Maaf, Tuan. Ada banyak media massa di luar sana, saya menyarankan agar Tuan keluar melewati jalan lain, saya sudah mempersiapkan mobilnya,” ujar Derry.
Gavin cukup terkejut, kenapa sampai mereka datang ke tempat ini. Padahal dia sudah menutup rapat-rapat kehadirannya sekarang. Namun, dia teringat lagi saudara kembarnya itu. Gavin menganggap ini adalah ulah Xavier yang sengaja mengundang mereka ke sini.
“Tidak perlu. Aku akan menemui mereka,” ujar Gavin.
“Tapi, Tuan. Itu sangat beresiko tinggi untuk Anda.”
“Aku bisa mengatasi ini, Derry. Siapkan saja mobilnya di depan.” Gavin membenarkan jas hitamnya, lalu berjalan tegas menuju area luar rumah sakit tempat para awak media itu berada. Derry pun segera melaksanakan perintah tuannya, seraya mengikui langkah Gavin dan Laysa.
Di depan sana. Para orang dari media massa langsung berkerumun menyambut kedatangan Gavin dan Laysa, mereka semua seperti semut yang disodorkan makanan manis. Ada banyak kamera, begitu pun pertanyaan untuk keduanya.
“Apa Anda bisa menjelaskan kedatangan Anda ke rumah sakit ini, Tuan?” tanya salah seorang dari mereka. “Lalu siapa gadis yang ada di samping Anda ini? Apa benar dia adalah calon istri Anda?”
“Saya hanya mengantarnya memeriksa kesehatan,” jawab Gavin. “Ya, dia adalah calon istri saya. Kalian bisa melihatnya secara langsung di sini.”
“Lalu bagaimana rencana pernikahan Anda dengan Nona Laura?”
“Saya tegaskan, itu tidak akan pernah terjadi. Laysa adalah satu-satunya calon istri saya, berita yang kalian dapat selama ini adalah sebuah kebohongan.”
Seketika suasana sedikit ribut, sebab Gavin sudah terang-terangan mengumumkan hubungannya dengan Laysa dan membantah berita sebelumnya yang mengataka bahwa dirinya akan menikah dengan Laura Simpler.
“Lalu apa Anda bisa mengenalkan siapa calon istri Anda ini kepada kami?”
“Dari mana asalnya?”
“Sudah berapa lama kalian berhubungan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Gavin risi dan bosan sendiri. Mereka tidak akan pernah selesai sampai dia sendiri yang menyudahi ini. Akhirnya, Gavin menggenggam tangan Laysa dan mengajaknya pergi menghampiri mobil mereka yang baru saja tiba.
“Kita sudahi ini, terima kasih.” Gavin memberi senyum terpaksa, menjaga citranya di depan awak media sebagai seorang baik dan murah senyum. Tingkahnya ini membuatnya muak sendiri, sebab terlihat ramah kepada orang lain bukan gayanya.
“Apa ini akan baik-baik saja, Tuan? Mereka akan banyak menuliskan artikel secepatnya,” ujar Derry sekaligus bertanya saat dirinya berada satu mobil dengan Gavin dan Laysa.
“Kekhawatiranmu itu tidak cukup beralasan, Derry. Aku malah menginginkan ini, jadi jangan banyak bertanya atau mengatakan hal boddoh lagi.”
“Baik, Tuan.” Derry tidak berani banyak membantah lagi, seluruh ucapan Gavin adalah perintah baginya.
Sementara itu, Laysa di samping Gavin hanya terdiam. Jalanan besar kota hari ini cukup padat hingga kemacetan pun terjadi. Di tepi jalan, mereka melewati sebuah restoran seafood. Dalam kecepatan mobil yang pelan, pandangan Laysa hanya tertuju kepada restoran tersebut. Laysa seakan menginginkan itu, tapi dia hanya terdiam tidak memberikan kalimat apa pun di bukunya.
Itu disadari oleh Gavin, hingga dia merasa risi sendiri. Memang selama satu bulan penuh ini dilewati Laysa dalam rumah, akses keluar gadis itu hanya sebatas ke dapur atau halaman belakang rumah. Gavin melarang keras Laysa keluar karena orang tuanya masih mengawasi gerak gerik mereka lewat orang suruhan, untung saja Anne masih dalam masa liburan bersama Alex di luar kota. Jika tidak, wanita itu akan merusuh di rumah Gavin saat mengetahui Laysa tinggal di rumah putranya.
Gavin bisa terbebas dari ocehan Anne sekarang, tapi entah di hari selanjutnya.
“Apa kau menginginkan itu?” tanya Gavin iseng karena pandangan Laysa sama sekali tidak berpindah tempat.
Laysa menoleh, lalu menggelengkan kepala pelan. Seraya membenarkan posisi duduknya, wajah cantik itu malah terlihat muram.
“Baguslah, kita bisa melanjutkan perjalanan pulang.”
Setelah jalanan sudah lengang, akhirnya mobil pun melaju dengan kecepatan standar. Gavin kembali terganggu oleh raut wajah Laysa di sampingnya yang tampak kecewa. Gavin merasakan itu, walau Laysa tidak mengatakan apa pun.
Namun, Gavin berusaha tidak peduli.
Lima menit berlalu, Gavin masih bisa menahan untuk tidak menggubris raut wajah Laysa yang seperti itu.
Setengah jam perjalanan mereka, Gavin mulai gerah sendiri. Dia melihat mereka kembali melewati sebuah restoran seafood di pinggir jalan dan kedua mata Laysa terus berputar ke arah luar.
“Putar balik mobilnya, aku ingin makan di restoran tadi,” ujar Gavin pada sopir pribadinya.
Perintahnya itu lantas dituruti. Mereka pun berputar arah dan berhenti di depan sebuah restoran yang sepertinya sangat diinginkan oleh Laysa. Gavin turun dari mobil lebih dulu setelah mengajak gadis itu keluar.
Mereka pun duduk di satu meja yang sama, sementara Derry dan sang sopir menunggu di luar. Gavin memesan makanan, kemudian menunggu sampai pesanan itu tiba.
Raut wajah Laysa seketika cerah, kedua matanya berbinar menatapi hidangan dari olahan udang dan kerang di mejanya yang baru saja tiba. Namun, dia masih belum mau menyentuh itu dalam beberapa saat.
“Makanlah, sebelum aku berubah pikiran dan membuangnya ke tempat sampah.” Gavin berkata seraya hendak memulai makan siangnya ini.
Bukannya mulai menyantap hidangannya, Laysa malah menuliskan sebuah kalimat di bukunya. Kemudian ditunjukkan ke arah Gavin.
“Terima kasih.”
“Tidak berguna.” Gavin berkata ketus, tapi senyum gadis itu tidak memudar sama sekali.
Laysa pun mulai memakan makanannya dengan lahap, lalu sesekali memegang perutnya yang masih tampak rata itu. Dia kelihatan sangat senang dengan kesediaan Gavin mampir di tempat ini.
Padahal, Gavin tidak merasa lapar sama sekali. Kenapa dia melakukan ini?