bc

Love Scenery (Bahasa Indonesia)

book_age18+
1.0K
IKUTI
5.0K
BACA
revenge
dark
forbidden
HE
love after marriage
dominant
CEO
bxg
icy
city
like
intro-logo
Uraian

Semenjak kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah peristiwa tragis, Laysa pun menuai kisah pilu yang harus dihadapi. Seorang pria yang baru dia temui, tega meninggalkannya di tempat hiburan malam. Kekurangannya yang tidak bisa berbicara dan berasal dari keluarga miskin, membuatnya tidak berdaya. Harapan untuk menjalani hidup normal, musnah.

Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Gavin Diamond Stewart. Ketika pertemuan mereka di sebuah hotel, Gavin menawarkan sebuah perjanjian yang akan menguntungkan bagi mereka berdua. Karena bagi Gavin, hidup hanya untuk bersenang-senang. Tidak ada kata menikah dan cinta dalam kamusnya.

Laysa pun dibawa oleh Gavin, dan diperkenalkan kepada seluruh anggota keluarga besar sebagai calon istrinya. Sontak saja hal tersebut memantik kemarahan keluarga Gavin, apalagi Laura—calon istri Gavin yang sebenarnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pertemuan Pertama dengan Laysa
Setiap pagi yang dilewati Gavin Diamond Stewart, tidak ubahya seperti alarm baginya untuk berperang di dunianya yang luas. Tidak ada wanita yang menjalin hubungan serius dengannya, tidak ada cinta, yang dia tahu hanya bagaimana memperluas daerah kekuasaannya. Sejumlah hotel mewah yang dipercayakan sang ayah, dan Gavin akan memanfaatkan itu dengan baik agar semua pesaingnya tahu siapa yang mereka hadapi. Usai merapikan pakaian, pria berusia 27 tahun tersebut keluar kamar pribadinya. Ternyata di depan pintu sudah ada sesosok pria paruh baya dengan setelan jas hitam rapi yang menyambut. Dia adalah Derry Daverson, seorang pelayan yang paling dipercaya Gavin untuk melakukan segala hal. Semua tugas yang diberikan kepada Derry hampir tidak pernah gagal. Namun, sepertinya kali ini berbeda. Kelihatan sekali dari raut wajah Derry yang kurang beersemangat. “Ada apa?” tanya Gavin seraya masuk lift pribadi dalam rumah mewahnya, pria itu setia mengikuti. “Saya membawa kabar buruk, Tuan. Para warga di daerah tempat kita akan membangun hotel, menolak untuk menjual tanah mereka.” “Apa aku harus turun tangan untuk hal semacam ini, Derry?” “Tidak, Tuan. Saya hanya ingin memberitahu bahwa kemungkinan rencana pembangunannya akan mundur satu atau dua hari.” Pintu lift terbuka, Gavin tetap melangkah diikuti Derry di belakangnya. “Itu terlalu lama, Derry. Aku tidak menginginkan laporan semacam ini darimu.” “Tapi, para warga di sana—“ “Apa kau iba pada orang-orang miskin itu? Kalau mereka tidak mau menjual tanah mereka, biarkan saja. Aku tetap akan membangun hotel megah di sana apa pun yang terjadi.” Pernyataan Gavin sudah jelas, dia akan menggusur rumah-rumah itu untuk kepentingan bisnisnya. Sebuah tempat yang cukup strategis di kawasan pesisir pantai Kota Florida itu sudah diincarnya sejak lama. Tidak ada jawaban berarti dari Derry, pria itu tentu tahu maksud bosnya. Ya, siapa orang yang berani membantah seorang Gavin Diamond Stewart? Pria berusia 27 tahun. Pemilik sejumlah hotel ternama di berbagai kota di Florida. Di usianya yang masih terbilang muda, dia sudah dipercayakan beberapa aset utama milik keluarga Stewart. Sebab, aset sang ayah juga dibagikan kepada saudara kembarnya Xavier Collin Stewart. Sampai detik ini, Gavin terus fokus membesarkan daerah kekuasaannya tanpa tertandingi oleh orang lain. Namanya malang melintang di berbagai artikel media massa sebagai pengusaha muda berbakat. Begitulah pandangan semua orang di luar sana terhadapnya. Namun, siapa sangka seorang Gavin Stewart merupakan pemuda berhati dingin yang tidak segan menyingkirkan musuhnya tanpa pandang bulu. Semua tindakannya bersih, sebab hukum tidak berlaku baginya. Salah satu kegiatan yang tidak pernah absen dalam hidupnya adalah pergi ke kelab malam dan menghabiskan uangnya bersama minuman beralkohol. Langkah Gavin terhenti oleh seorang wanita tua berpakaian rapi yang berdiri di hadapannya. Itu adalah Anne Calliston Stewart, ibu kandungnya. “Kau mengulanginya lagi, Gavin.” Gavin memberi kode agar Derry meninggalkan mereka berdua di sana, sebab Anne pasti sudah melihat perempuan yang baru saja meninggalkan rumahnya beberapa menit lalu. “Kenapa Momy datang tanpa memberitahuku? Orangku akan menjemput Momy ke rumah.” Gavin mengabaikan perkataan ibunya barusan. Dia memilih melanjutkan langkah ke ruang kerjanya. “Jangan mengalihkan pembicaraan, Gav. Kau akan segera menikah, bagaimana bisa kau masih tidur dengan perempuan murahan?” Anne mengikuti langkah sang anak yang tidak pernah patuh terhadap perintahnya itu. “Menikah? Ah, mungkin iya. Aku lupa.” “Gavin!” Suara Anne memekik keras. “Kau harus menghargai perasaan Laura, dia sangat mencintaimu. Pernikahan kalian juga akan dilaksanakan satu bulan lagi. Seharusnya kau sudah berhenti bermain-main dengan perempuan lain.” Gavin tersenyum miring, cinta? Dia tidak pernah percaya adanya cinta setelah mewarisi semua harta kekayaan ini. Semua wanita itu sama, hanya mengincar hartanya dan membuang jauh-jauh harga diri mereka. “Dengarkan momy, Gav. Tidak ada wanita yang seperti Laura di kota ini, dia cantik, berpendidikan, dan sudah jelas berasal dari keluarga terpandang.” “Momy begitu menyukai Laura. Lalu kenapa tidak Momy saja yang menikahinya? Pernikahan ini pun karena aku terpaksa, aku tidak pernah menyetujuinya,” ujar Gavin seadanya. “Itu karena kau terus bermain-main di usiamu yang sekarang, Gavin! Kau tahu, daddy bisa menarik kembali seluruh aset yang kamu miliki kalau kamu tetap seperti ini,” jawab Anne bernada serius. “Momy mengancamku?” “Ini bukan sekedar ancaman, Gavin. Daddy masih bisa melakukan apa pun terhadapmu!” tegas Anne. “Baiklah, baiklah! Aku akan menikah, apa Momy puas?” Gavin menjawab santai. Dia tahu perdebatan ini akan berakhir mengenaskan baginya. “Bagus kalau kamu mengerti,” kata Anne. “Malam ini momy menginap di sini, besok momy akan mengajak Laura untuk mempersiapkan pernikahan kalian.” “Terserah Momy.” Gavin membuka laptop miliknya, Anne pun pergi setelah urusannya selesai. “Wanita itu ....” Gavin pun mengambil ponsel, kemudian menelepon Derry. “Siapkan mobil untukku, malam ini kita akan pergi.” “Baik, Tuan.” *** Gavin memilih tidur di kamar utama hotel mewah miliknya. Dia malas jika Anne sudah ada di rumah, wanita itu akan terus mengoceh sampai tujuannya tercapai. Dan sebelum tujuan ibunya itu terpenuhi, bukan Gavin namanya jika tidak maju selangkah lebih dulu di depan Anne. Dalam surat penyerahan harta ayahnya disebutkan jika Gavin harus menikah untuk memiliki akses penuh dalam semua aset yang telah ditujukan untuknya. Syarat itu hanya berlaku untuk Gavin, sebab kedua orang tuanya tahu persis sifat sang anak yang masih suka bergaul dengan kehidupan liarnya bersama para wanita dan bersenang-senang di kelab malam. Banyak uang yang dikeluarkan Gavin demi memenuhi kesenangannya itu, dan Anne bersikeras menjodohkannya dengan wanita muda berusia 25 tahun bernama Laura Simpler, dia adalah anak dari rekan bisnis sang ayah. Sebenarnya, Gavin tidak menginginkan pernikahannya terjadi. Karena Laura cukup terbilang posesif untuk segala hal, dan itu bertentangan dengan sifat Gavin yang tidak ingin terikat oleh apa pun. Sekarang, Gavin meminta bantuan Derry untuk memanggil wanita-wanita pilihan yang bisa dia pergunakan untuk melancarkan niatnya. Ya ... Gavin berencana akan menikahi seorang wanita untuk menjadi alat agar dia mendapatkan hak dari seluruh asetnya. Dengan rencana ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengaturnya. “Siapa wanita ini?” tanya Gavin kepada Derry yang membawa seorang wanita muda di sampingnya. “Dia adalah Mia, putri dari mendiang Tuan Shawn.” Gavin memperhatikan wanita muda berambut kecokelatan dan berkulit gelap itu sebentar. Dia ingat pria bernama Shawn adalah mantan rekan bisnisnya yang sekarang sudah bangkrut. “Ganti, aku tidak mau lagi melihatnya di depan mataku,” ujar Gavin. Derry menyetujui, dia pun keluar untuk membawa wanita lainnya. “Sekarang siapa yang kau bawa?” tanya Gavin. “Namanya Lucia Clarison, Tuan.” Derry tidak menjelaskan secara detail lagi, sebab profil dari wanita yang dibawanya sudah ada di tangan Gavin. Wanita itu adalah seorang model majalah dewasa. Sebagai seorang model, Lucia terbilang sangat cantik. Kulit putih pucat yang terawat, tinggi semampai dan berpakaian seksi seperti kebanyakan wanita lainnya. “Keluar,” perintah Gavin cukup jelas. Wanita itu pun pergi tanpa banyak kata lagi. “Apa kau tidak ada pilihan yang lebih bagus, Derry?” Gavin menghela napas tipis, sudah beberapa wanita masuk kamar pribadinya ini. Namun, tidak ada seorang pun yang mampu memikat perhatiannya. Mereka semua sama, Gavin bisa membaca isi pikiran para wanita itu jika berhasil menikah dengannya. “Sebenarnya, masih ada satu lagi yang sudah saya persiapkan, Tuan. Hanya saja—“ “Bawa kemari. Aku tidak punya banyak waktu lagi,” ujar Gavin. Derry pun melaksanakan perintahnya, kemudian kembali bersama seorang wanita cantik berambut cokelat keemasan. Wanita yang mengenakan mini skirts dipadu crop top warna putih dengan renda kecil di sudut pakaiannya itu terlihat tertunduk, takut. Dia bahkan seperti menolak diajak oleh Derry untuk bertemu Gavin. Gavin membenarkan posisi duduknya, dia cukup tertarik karena wanita itu bahkan tidak berani menatap matanya walau sedetik. “Siapa namamu?” tanya Gavin. Wanita itu menggelengkan kepala, dia malah berusaha pergi dari kamar ini walau usahanya gagal karena Derry. Gavin pun beranjak dari kursi, lalu melangkah menghampiri wanita tersebut. Dia tidak ingin membaca data wanita itu karena dia sudah cukup menarik perhatiannya. “Aku bertanya siapa namamu?” Sekali lagi Gavin bertanya, wanita itu mundur selangkah seraya meremas sudut pakaiannya sendiri. Napasnya terengah-engah dengan mata memerah menahan tangis. Membuat Gavin semakin tertarik. Bagaimana tidak? Seorang wanita dengan tubuh ramping berkulit putih bersih, dan memiliki dadda yang indah di balik pakaian mininya ini terlihat tidak menunjukkan ketertarikannya kepada Gavin? “Pergilah, biarkan aku mengurusnya sendiri sekarang.” Gavin memerintahkan Derry untuk pergi dari kamarnya. Wanita itu terlihat ingin membuntuti Derry, tapi Gavin berhasil memegang lengannya. “Tidak ada seorang pun yang berani menolakku. Apa kau tahu itu?” Gavin mengeratkan pegangannya karena wanita itu terus berontak kasar. Tidak ada satu pun kalimat yang keluar dari mulutnya, hanya ekspresi yang syarat akan takut berhadapan dengan Gavin kental terlihat dari wajah cantiknya yang alami dengan polesan make up tipis. “Sekali lagi aku bertanya, siapa namamu? Jawablah kalau kau tidak ingin mendapat masalah karena sudah mengecewakanku.” Gavin bertanya sekali lagi, belum ada jawaban pasti. Gavin jadi geram sendiri, dia pun melangkah lagi menuju sofa dan mengambil file yang tergeletak di mejanya. Tertera di sana, nama gadis itu adalah Laysa Florensia. Latar belakang keluarga tidak diketahui, dan sempat bekerja menjadi seorang pelayan di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Gavin menyandarkan punggung di sofa, kemudian melipat kedua lengan di perut seraya memperhatikan baik-baik gadis di hadapannya. “Sepertinya kau mengalami banyak masalah sampai harus berakhir di tempatku. Katakan, siapa orang yang memperkenalkanmu pada orang suruhanku?” tanya Gavin. Gadis yang masih berdiri tidak jauh dari tempat Gavin itu sedikit meremas ke sepuluh jemarinya, ada kecemasan di sana. Gavin tahu, tapi berpura-pura tidak ingin tahu. Dia hanya ingin tujuannya tercapai, yaitu membatalkan pernikahannya dengan Laura. Gavin sedikit mengernyit sewaktu jemari lentik gadis itu mulai bergerak seperti sedang menyampaikan kalimat dalam bahasa isyarat. Kedua mata indahnya tampak kebingungan mencari sesuatu, sampai Laysa menghampiri meja dan mengambil sebuah pulpen di sana. “Patrick Hawt.” Laysa menuliskan sebuah nama dalam selembar kertas, akhirnya Gavin bisa memahami keadaan yang dihadapinya sekarang. Dia tahu, orang yang bernama Patrick adalah pria paruh baya yang suka memanfaatkan gadis-gadis muda seperti Laysa demi kepentingan pribadinya. Namun, yang paling membuat Gavin terkejut adalah kekurangan Laysa yang ternyata tidak bisa berbicara. Seorang gadis yang hanya bisa berkomunikasi lewat bahasa isyarat itu sepertinya sangat menguntungkan, Gavin bisa berpikir seperti itu sebab tidak akan ada yang bisa diucapkan Laysa kepada orang lain. “Tolong lepaskan aku.” Kalimat selanjutnya ditulis Laysa, Gavin tersenyum miring. “Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk ini, kau tahu? Bahkan walau kau bekerja selama satu tahun di kedai kecilmu itu, kau tidak akan pernah sanggup membayar uangku.” Raut wajah Laysa kembali murung. Sementara Gavin berusaha bersikap tenang, dia tidak ingin kesempatan emas ini lewat begitu saja. Wajah cantik Laysa sangat mumpuni, postur tubuh indah dengan kulit putih bersih. Hanya butuh sedikit polesan make up hingga pakaian mahal yang akan membuat gadis itu terlihat lebih menawan dan berkelas di mata orang lain. “Tujuanku memanggil kalian ke sini adalah, karena aku ingin membuat penawaran bagus. Tapi sepertinya hanya kau yang cocok dan akan kupilih,” ujar Gavin lagi. Dia pun mengeluarkan sebuah cek dan menyodorkan itu ke hadapan Laysa. Gadis itu terlihat tidak percaya, kedua mata bulat indahnya terbelalak melihat angka fantastis yang tertera di selembar kertas tersebut. Ya ... Gavin menuliskan sejumlah uang sebesar 3 juta dolar dalam cek tersebut. Uang sangat, sangat banyak bagi warga biasa seperti Laysa. Bahkan tangan gadis itu sampai sedikit gemetar memegang ceknya. “Ada apa? Masih kurang?” tanya Gavin. Laysa menggelengkan kepala, cepat. Dia pun segera menyambar pulpennya dan menuliskan kalimat yang cukup panjang. “Aku tidak bisa menerima uang sebanyak itu. Dan aku tidak mengerti penawaran apa yang kamu maksud. Kalau bisa, tolong lepaskan saja aku. Masih ada wanita lain yang lebih baik dari gadis yang bahkan tidak bisa berbicara seperti diriku.” “Apa kau yakin? Penawarnaku adalah sebuah pernikahan. Tugasmu adalah menjadi istriku selama satu tahun, selama itu kau bahkan bisa menerima fasilitas mewah. Setelah tujuanku tercapai, kau boleh pergi ke mana pun yang kau mau dengan uang bayaranmu.” Laysa belum mau merespons apa-apa. Dia hanya terdiam dan tertunduk seakan memikirkan banyak pertimbangan. Gavin pun membenarkan posisi duduknya, tidak akan membiarkan gadisnya lolos begitu saja. Dia tahu, ayahnya—Alexander Stewart tidak terlalu peduli anaknya akan menikah dengan siapa. Gavin hanya perlu membuat skenario dan rencana untuk membuat keluarganya percaya bahwa Laysa berasal dari keluarga yang kaya raya. “Hanya satu tahun, Lays. Itu akan sebanding dengan bayaran yang kau dapat. Bahkan, aku akan membayarmu lebih kalau kau berhasil memberiku anak dalam waktu cepat.” Laysa yang semula tertunduk, kembali mengangkat wajah disertai gelengan kepala. Gavin langsung mengerti kalau gadis itu keberatan dengan kalimat terakhirnya yang meminta keturunan. “Kenapa? Apa kau tidak mau menerima syaratku?” tanya Gavin. Laysa pun beranjak dari sofa dengan napas sedikit terengah, kemudian berjalan cepat ke arah pintu keluar. Namun, Gavin tentu bukan orang yang bisa melepaskan sesuatu yang menjadi incarannya. Dia menarik tangan Laysa cukup keras, hingga gadis itu berbalik arah lagi padanya. “Jangan bermain-main denganku kalau kau tidak mau mendapat masalah, Lays. Kau tahu aku bisa melakukan apa pun padamu,” ujar Gavin bernada datar. Gadis itu hanya bisa tertunduk, tidak bisa menolak dan berteriak, akhirnya sebuah kesepakatan yang diinginkan Gavin terjadi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook