Sebuah Rasa.

1279 Kata
“Kamu dari mana saja, Gav? Sudah momy katakan kau harus serius dengan pernikahanmu, untuk apa momy datang ke sini kalau kau akan pergi?!” Anne bersuara keras mendapati anaknya baru pulang pagi hari setelah semalan penuh dia menghilang. Wanita itu tampak kesal, karena sebelumnya sudah berkata bahwa mereka akan ada janji dengan Laura untuk mempersiapkan keperluan di hari resepsi pernikahan. “Loh, semalam Momy bilang apa? Momy Cuma bilang kalau Momy dan Laura yang akan pergi. Tidak ada namaku dalam rencana kalian berdua,” ujar Gavin santai. “Gav!” Anne berteriak keras. “Momy tidak mau tahu, kamu harus ikut kami hari ini. Sekarang, kamu jemput Laura di rumahnya.” “Biklah, akan kusuruh orang menjemputnya.” Gavin melengos pergi dari hadapan Anne tanpa ingin berdebat panjang lagi. “Gavin! Gavin!” Suara Anne kencang sekali dari arah belakang, tetapi Gavin tidak mau mendengar. Dia melanjutkan langkah menuju kamar pribadinya dan melepas penat di sana. Hari ini, akan menjadi hari paling menyebalkan baginya. Di mana dia akan melakukan tindakan di luar keinginannya. *** Ketika matahari sudah menunjukkan sinarnya yang paling terang, Gavin baru turun dari kamar pribadinya. Suara Anne sudah memekik sejak lima belas menit lalu, telinganya perih mendengarkan ocehan ibunya. Sampai Gavin pun terpaksa bersiap demi menyelamatkan telinganya. Di lantai bawah, Gavin disuguhi pemandangan indah selayaknya seorang lelaki normal pada umumnya. Terlihat Anne sedang berbincang ringan bersama seorang gadis berperawakan jangkung, dengan tubuh ramping. Pakaiannya yang elegan, menambah kesan tersendiri bagi para lelaki yang melihatnya. Gadis bernama Laura Simpler—25th, memang bisa dibilang sangat cantik dan sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Semua bagian tubuhnya mendapat perawatan terbaik dan sudah tentu mahal. Laura dan Anne baru menoleh saat menyadari keberadaan Gavin di dekat mereka. Belum ada setengah menit, Laura bahkan sudah beranjak dari sofa dan memburu tubuh jangkung Gavin. Dipeluknya sejenak pria dingin itu sebelum berbicara. “Akhirnya kita bertemu juga, Vin. Aku merindukanmu, kenapa kamu tidak menjemputku tadi?” tanya Laura. “Aku malas—“ “Pagi ini Gavin baru saja pulang setelah melakukan rapat dengan rekan bisnisnya tadi malam, jadi tante menyuruhnya istirahat sebentar supaya dia ada tenaga untuk mempersiapkan pernikahan kalian,” sela Ane sebelum Gavin mengutarakan kejujurannya yang malas menemui Laura. Gadis itu sedikit mengernyit, tetapi tersenyum beberapa detik kemudian. “Oh, begitu. Aku pikir kamu tidak mau menemuiku, Vin. Kalau begini aku jadi tidak sala paham lagi,” ujarnya. Gavin tidak merespons banyak kecuali melepaskan genggaman tangan Laura di lengannya, pelan. Namun, gadis itu kembali menggaet lengannya, disertai senyum lebar. “Mumpung kita bisa bertemu, aku ingin selalu berada di dekat kamu, Vin. Selama ini sulit sekali menemuimu, karena pekerjaan kita yang terlalu padat.” Laura seakan tidak ingin melepaskan Gavin dari jangkauannya. “Ya, sudah. Ayo kita pergi,” ajak Anne. Mereka pun berangkat menuju lokasi yang akan mereka jadikan sebagai tempat berlangsungnya resepsi pernikahan. Bertepatan di kawasan Florida, mereka mendatangi The Winner Resort. Itu adalah tujuan utama Laura yang menginginkan area tersebut. Resort tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah milik Gavin sendiri. Resort paling mewah dan memiliki segudang fasilitas yang juga sangat mumpuni. Ketika mereka tiba di sana, seluruh staf dan karyawan berkumpul. Mereka juga telah diarahkan untuk membuat dekorasi gedung hingga jenis makanan apa saja yang akan mereka hidangkan nantinya. “Semuanya di gedung ini sudah lengkap, apa kamu menyukainya, Laura?” tanya Anne. “Tentu saja aku suka! Hotel ini memang yang terbaik, dan Tante begitu tau kemauanku,” jawab Laura bersemangat. Sudah tentu dia menyukainya, sebab resepsi pernikahannya mengusung konsep pernikahan seperti putri kerajaan. Warna-warna putih mendominasi, begitu pun desain interiornya yang terkesan mewah. Sementara Gavin di tengah-tengah mereka menyibukkan diri dengan ponsel, dia tidak terlalu fokus dengan orang-orang di sekitarnya. “Vin, apa menurutmu ini sudah cukup? Kita juga belum memilih suvenir untuk para tamu,” tanya Laura kepada Gavin. “Hmhh? Terserah kalian ...,” jawab Gavin padat. “Vin, sudahi dulu pekerjaanmu! Ini waktunya buat kita berdua, pernikahan kita tinggal sebentar lagi,” tegur Laura karena merasa diabaikan. Gavin yang merasa terusik pun menatap wanita itu dengan aura gelap yang menyelimutinya. Rahang kokohnya mengeras, jika bukan karena Laura adalah calon menantu kesayangan, dia sudah pasti mendepak wanita itu agar cepat pergi. “Kau ... bilang apa?” tanya Gavin. Laura dan Anne yang menyadari kemarahan Gavin pun sedikit terkejut. “Maksudku, tolong berhenti dulu dengan pekerjaanmu. Fokus sebentar saja—“ “Siapa kamu berani mengaturku begitu? Apa kamu sadar dengan kelakuanmu ini, huh?” Gavin melangkah mendekati Laura, tetapi gadis itu agak menghindarinya dengan wajah tertunduk, takut. Sang ibu—Anne, segera mengulurkan tangannya meraih lengan Gavin. “Sudahlah, Gav. Ini Cuma masalah kecil, Laura Cuma ingin yang terbaik di pernikahan kalian nanti.” “Apa alasan itu saja yang kalian tahu?! Momy sendiri tahu aku paling tidak suka diatur, tapi sekarang apa? Kita belum resmi menikah, tapi dia berani mengatur apa yang harus kulakukan!” Suara Gavin mendadak keras. “Pernikahan ini pun bukan atas kemauanku, seharusnya kalian berdua paham apa yang mau kulakukan! Aku tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Kalau aku menikah sekalipun, aku akan menikahi gadisku sendiri,” ujarnya panjang lebar. “Jangan mengada-ngada kamu, pernikahan kalian tinggal satu bulan lagi! Apa kamu mau mempermalukan keluarga kita?!” Anne berkata keras sekali, dia marah besar sebab sudah kenal baik dengan keluarga Simpler. “Momy sendiri yang mengatur ini, kenapa semua kesalahan itu dilimpahkan padaku?! Apa itu adil?” sahut Gavin. “Sepertinya aku salah sudah membuang waktu berhargaku di sini.” Gavin melangkah pergi meninggalkan Laura dan ibunya, walau suara mereka terdengar lantang memanggil dan berusaha menghentikan langkahnya, Gavin tidak peduli. Dia enggan menoleh ke belakang, apalagi bertingkah seakan menyetujui perjodohannya. Dalam perjalanan menuju ke hotelnya kemarin malam, Gavin menerima panggilan dari Derry bahwa Laysa sudah siap dan menunggu di sebuah restoran. Gavin pun terpaksa memutar arah perjalanannya. Rencana yang sudah disusunnya tidak boleh gagal, dibandingkan dengan Laura yang terus saja membuat tekanan darah naik, Laysa tidak akan mampu berbuat banyak. Sesampainya di sebuah restoran Jepang, Gavin melangkah masuk setelah memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya. Di dalam sana, Laysa sudah duduk manis di sebuah kursi bersama penampilannya yang diubah total. Gavin menghentikan langkah, kedua matanya tidak bisa dikondisikan dengan baik. Bagaimana dia cukup takjub dengan penata rias yang dia sewa untuk memoles penampilan Laysa. Gadis yang pada dasarnya sudah cantik dengan tubuh indah itu semakin menonjolkan aura kecantikannya. Sebuah off shoulder dress berwarna putih se atas lutut membalut tubuhnya, rambut panjang yang digerai menambah kesan anggun. “Sempurna ....” Gavin menyeringai kecil, kemudian melangkah menghampiri Laysa dan Derry. Kedua mata gadis itu tampak membulat sempurna ketika menyadari kehadiran Gavin di sana, dia spontan berdiri, tapi kakinya yang belum terbiasa dengan wedges itu sedikit tergelincir hingga hampir terjatuh. Namun, Derry segera merangkul tubuhnya sebelum benar-benar tumbang. Laysa segera berdiri tegap, kemudian memberi sebuah isyarat terima kasih kepada Derry atas tindakannya barusan. “Duduklah, aku tidak punya banyak waktu,” perintah Gavin, dan lantas dituruti Laysa. Masih terlihat rasa takut dari sorot mata gadis itu untuk Gavin, walau kenyataannya keadaan yang mendesak dia berada di sini. “Aku tidak ingin basa-basi lagi. Karena kau sudah setuju dengan tawaranku tadi malam, sekarang aku menyediakan sebuah perjanjian tertulis untukmu.” Laysa mengernyit. Kemudian menuliskan sebuah kalimat dalam buku yang dibawanya. “Perjanjian apa? Semalam kamu tidak menyebut soal perjanjian tertulis denganku!” “Ini untuk berjaga-jaga kalau suatu hari nanti kau kabur dariku, aku akan mencari dan menuntutmu membayar denda 3 kali lipat dari apa yang kau dapat.” Laysa kelihatan terkejut sekali sampai spontan beranjak dari kursinya. Alasan Gavin sendiri sebenarnya bukan itu, tetapi dia hanya ingin Laysa ... ya, menginginkan gadis itu berada di sekitarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN