Ada Allah dalam setiap detak jantungmu
.
.
.
.
.
"Jangan cari calon istri," ucap bapanya. Ilham terkejut hal buruk mulai melintas dipikirannya, mengapa bapanya yang mendukung hubungannya dengan Defina justrul menyuruhnya untuk tidak mencari calon istri. Apa bapanya berubah pikiran, Atau Defina calon istri yang salah untuk Ilham.
Ilham terdiam, raut wajahnya seketika berubah. Kerutan di keningnya mengisyaratkan rasa penasaran yang tinggi. Ia mulai berpikir jika bapanya akan sama dengan ibunya dulu mencari calon istri yang layak untuk Ilham.
Bapanya Ilham menoleh, sembari terkekeh. Karena melihat raut wajah Ilham yang berubah.
"Bapa bukan minta kamu mutusin Defina,"
Ilham semakin di buat penasaran,"terus tadi kata bapa?"
"Bapa pengen kamu itu cari calon ibu, ibu buat kamu sama ibu buat anak anak kamu. Karena ketika kamu cari calon istri, nanti kalau sudah jadi istri bisa aja sewaktu waktu pergi ninggalin kamu. Apalagi tugas kamu yang pergi satu tahun pulang satu minggu," Ilham mulai mengerti arah pembicaraan bapanya, kepalanya mengangguk paham.
"Coba kalau kamu cari calon ibu, ibu itu seburuk apa pun anaknya, ya tetep sayang dia sama anaknya," lanjut bapanya kemudian.
"Kirain Ilham, bapa tadi mau nyuruh Ilham buat ninggalin Defina."
Bapanya geleng geleng kepala, "Ilham bapa mu ini gak ada hak buat ngelarang kamu. Yang penting kamu bahagia, calon kamu juga anak yang bener. Tapi ingat, jangan sampe kamu manfaatin sikap baiknya itu," tegas bapanya.
Ilham tersenyum, "Ya enggaklah pa, mana mungkin Ilham tega sama Defina pa."
"Yasudah, ayok kita makan."
❤❤❤
Waktu masih menunjukkan pukul Delapan pagi, namun Defina sudah duduk santai di dalam bus. Hari ini ia memutuskan untuk pulang ke Garut, menemui neneknya. Udara pagi cukup menusuk pori pori kulitnya, bahkan matahari belum mau menampakkan sinarnya. Langit terlihat mendung dan sepertinya hujan akan turun pagi ini.
Tiga bulan menjelang acara wisuda tidak banyak yang Defina persiapkan, berbeda dengan teman temannya yang sudah sibuk memilih baju dari mulai gamis hingga kebaya yang terbaik untuk dikenakan diacara wisuda. Defina justrul sebaliknya memilih bersikap santai saja tidak ingin menjadikan dirinya sibuk pada hal yang bisa disiapkan dengan sederhana.
dilain rute perjalanan Ilham dan ibunya terlibat percakapan serius, perihal pernikahannya nanti dengan Defina. Mengingat Defina rasanya Ilham selalu terpesona pada sosoknya meskipun tak pernah bercengkrama atau sekedar jalan berdua. Baik Ilham atau Defina sama sama saling menjaga dalam doa. Karena mereka percaya perihal jodoh sudah pasti Allah takdirkan.
"Pas Defina wisuda, kira kira Ilham udah nikah belum ya sama Defina?" tanya Ilham pada ibunya, namun matanya masih fokus menatap jalanan yang cukup padat pagi itu.b
"Yah kalau pengajuan kamu cepat di prosesnya pasti udahlah."
Ilham mengangguk, membenarkan ucapan ibunya. "Ilham minta dipercepat aja bu, hehe."
"Yah itu mau mu. Tapi kalau jadi Defina, ibu gak bakalan mau nikah sama kamu. Udah mah jarang pulang, sekali pulang eh gak lama." gurauan ibunya membuat Ilham tertawa sekaligus membenarkan, nyaris matanya tertutup tertarik pipi dan bibir yang tersenyum lebar.
"Tapi bukannya nanti pas pengajuan harus ada adegan gandengan gitu yah?" ibunya teringat vidio pengajuan pernikahan tentara yang harus bergandengan dengan calon istrinya.
"Iyah, tapi Ilham coba bicara supaya tesnya gak harus gandengan tangan bu, lagian dosa juga gandengan sama orang yang belum halal buat kita."
"Iyah ibu juga tau, syukur aja kalau bisa negosiasi. Lagian tuh yah nanti pas pengajuan bareng sama ibu aja biar Defina gak canggung, kalau sama neneknya Defina kasian udah tua juga kan." tawar ibunya
"Nah boleh bu, jadi nanti kan Ilham gak berduaan sama Defina," setuju Ilham.
Seperti halnya kebetulan, Ilham dan Defina dipertemukan tepat di halaman rumah Defina baru saja Defina turun dari angkot dan saat itu juga mobil Ilham memasuki pekarangan rumah Defina. Kaget luar biasa keduanya tidak menjanjikan bertemu atau sekedar berkirim pesan. Namun Allah selalu punya rencana indah untuk mempertemukan setiap hamban-Nya dengan tanpa diduga.
Ibunya Ilham turun dari mobil, pandangannya tertuju pada gadis di sebrangnya tanpa aba-aba langsung saja dihampirinya Defina. Begitupun Defina melangkah mendekat dan mencium tangan calon mertuanya itu.
"Defina, sehat nak? Kebetulan begini yah, kalau tau gitu kenapa gak bareng aja." ibunya Ilham antusias menyalami Defina.
"Sehat bu, kan Defina gak tau ibu mau ke sini." sekedar basa basi saja, untuk menutupi rasa kagetnya tanpa persiapan bertemu dengan Ilham.
???
Secangkir kopi dan tiga gelas teh mengepul hangat melambungkan asapnya. Hujan rintik rintik mulai membasahi bumi. Beberapa toples tak ketinggalan berjajar rapi di atas meja. Namun yang tercium adalah aroma kecanggungan dari dua insan yang sedari kemarin saling melambungkan doa tanpa bertatap muka.
Dan kini mereka duduk bersebrangan, tak berani saling menatap. Defina larut dengan pandanganya pada segelas teh, begitupun Ilham yang sibuk mengamati secangkir kopi. Terlihat biasa saja namun pada masa kecanggungan siapa sangka pemandangan itu begitu menyelamatkan mereka.
"Nek, maaf saya sama Ilham datang ke sini mendadak gak bawa apa apa juga." Sedari tadi memang ibunya Ilham tidak lepas dari sekedar basa basi.
"Gak usah repot repot bu, sudah datang ke sini jauh jauh pun Alhamdulillah."
"Nak Ilham baru pulang tugas juga?" tanya nenek Defina pada Ilham yang sedari tadi diam. Ah jiwa kesatrianya melemah hanya sekedar di depan wanita. Padahal ia sudah biasa bergulat dengan lawan yang bersenjata.
Kepala Ilham mulai terangkat untuk menengok nenek dari sang calon istri. "Iyah nek, baru pulang tugas," jawab Ilham.
"Tugas terus yah, kalau pahlwan perdamaian mah emang beda." balas nenek Defina sambil terkekeh. Yang dibalas tawa renyah dari semuanya.
"Defina juga tinggal acara wisuda yah?" Ibunya Ilham bertanya pada Defina.
"Iyah bu, sekitar tiga bulan lagi."
"Masih lama yah lumayan de?" Ilham mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Meski didalam dadanya terdengar seperti konser menabuh bedug. Untuk saja jantungnya tidak copot.
"Iyah ka, alhamdulillah ada waktu dulu buat istirahat."
"Kebetulan kalau kaya gitu, Defina bisa beresin semua persyaratan buat pengajuan kan Ilham? Jadi gak ganggu waktu kuliah." ibunya Ilham to the point, membuat Defina sedikit tersentak.
"Nah iyah bu, lebih cepat lebih baik." timbal neneknya. Defina dan Ilham merasa terpojok. Ah emang beda rasanya kalau orang yang berniat serius. Padahal keduanya tidak pernah merasakan apa itu jalan bersama, pergi berdua tak saling mengenal kejelekan dan kekurangan masing masing. Namun keduanya sudah sama sama mantap untuk menikah. Walaupun pada awalnya Defina sempat begitu takut untuk menikah dengan alasan trauma akan cerita masa lalu. Hingga semua orang meyakinkannya jika jalan hidup setiap orang itu tidak sama.