TUJUH BELAS

430 Kata
"Rapi bener ini lemariku, bersih juga." selidik Aisyah yang memperhatikan barang yang ia tata di lemari tersusun rapi dan tak ada debu sedikit pun. "Hehe lupa yahh ada asisten cantik di sini." balas Defina sambil tersenyum bangga. "Asisten cantik? Tau deh iya cantik, makanya ada abang loreng yang naksir." sindir Asiyah Bukannya tawa yang Defina berikan, justrul gurat wajah sendu yang tergambar di wajahnya. Aisyah yang sadar akan perubahan Defina merasa bersalah, takut jika obrolannya menyinggung Defina. "De, kamu kenapa?" tanya Aisyah sambil ikut duduk di dekat Defina, setelah meletakkan tas selempangnya di atas lemari miliknya. "Aku kepikiran dia Syah, udah hampir beberapa bulan ini dia gak ada kabar. Berita terkahir yang aku denger, ada penembakan lagi kemarin di sana." jawab Defina sendu. Iyah Ilham hanya pria lain yang bukan siapa siapa, tidak ada ikatan sah antara keduanya. Tapi hatinya telah jatuh pada sosok yang selalu ia sebut dalam doa, pilihan yang ia jatuhkan setelah melewati serangkaian salat dan petunjuk dari Allah. Hingga ia mantap untuk istiqomah menjaga hati pada sosok abdi negara itu. Aisyah berusaha tersenyum tipis, "Kamu jangan punya pikiran buruk gitu, bisa aja Ilham tugas di sana baik baik aja. Mungkin di sana susah sinyal atau bisa jadi ponselnya lowbat sulit di cas," terang Asiyah. Defina mengangguk mengiyakan, mungkin saja semoga yang dikatakan Aisyah itu benar adanya. "Yaudah sih, ayok cari makan bareng lahk." lanjut Aisyah mencoba mengalihkan pembicaraan. Berharap Defina melupkan Ilham sejenak. "Ayok, aku juga lapar." ini yang Aisyah suka, Defina itu punya masalah berat tapi mengeluh terlalu lama bukan sikapnya. Ia selalu mampu menyembunyikan perasaan lukanya, meski terkadang Aisyah sering melihat Defina terisak dalam salatnya. ❤❤❤ "Siap, terimakasih komandan." Ilham tersenyum melepas jabatan atasannya. Udara Indonesia kini terasa sejuk, cuacanya cerah dengan suhu yang cukup stabil. Di tambah angin yang berhembus damai. "Bang, saya langsung ijin pulang. Sudah ijin tadi sama komadan." "Kemana ini, Bang Ilham buru buru sekali rupanya." "Bang Ilham mau ngurus pengajuan katanya." seketika tawa keras terdengar dari pasukan yang telah kembali dari medan tugas dengan selamat itu. "Aamiin, saya lagi usahain sebelum turun tugas udah nikah." balas Ilham tanpa canggung. "Siap, kami dukung ndan." "Ya, doakan saja semoga pengajuan saya lancar. Tidak ada kendala," "Tapi calonnya sudah adakah bang?" "Calonnya? Ada dong. Masa mau nikah calonnya gak ada," balas Ilham "Yasudah, biar bang Ilham bareng saya saja. Saya mau ke Bandung, jemput calon," ucap Noel tertawa di akhir kalimatnya. "Waduh, bang noel keren juga udah ada calon." "Yaudah ayok, biar saya tidak repot minta di jemput. Sudah minta ijin belum?" "siap, sudah ndan. Saya sudah pamitan." "Yasudah ayok!" .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN