Ada saatnya luka datang sebagai pembuka pintu kebahagiaan.
❤Ls❤
Jari lentik itu mulai bergerak lemah menandakan sang pemiliknya mulai kembali tersadar. Perlahan mata Aisyah terbuka, matanya melirik tipis memperhatikan sekelilingnya. Kepalanya masih terasa berat, ibunya dengan cepat menghampiri Aisyah. Mengusap kepalanya pelan, sambil berusaha menahan air mata yang siap terjun bebas.
"Aisyah di mana mah?"
"Kamu di rumah sakit, kemarin kamu pingsan." jawab ibunya, tangannya masih tidak berhenti mengusap kepala Aisyah yang tertutup jilbab instan berwarna biru muda itu.
Aisyah tidak menjawab perkataan ibunya, pikirannya mulai menerawang jauh. Memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Segala hal buruk tentang dirinya datang begitu saja mengisi kepalanya yang masih terasa sangat pening.
"Mamah udah tau semuanya?" Pertanyaan Aisyah lolos begitu saya dari mulutnya.
Dan kini air mata ibunya tidak dapat dibendung lagi, bersamaan dengan air mata yang menetes itu anggukan kepala terlihat berat di wajah Aisyah.
"Kenapa kamu sembunyiin ini dari mamah?"
Aisyah menghela nafas, bibirnya tersenyum menampakkan senyum kepiluan. Seolah ia baik baik saja dan tidak terjadi apa apa dalam hidupnya.
"Aisyah haus mah," yang keluar bukanlah sebuah jawaban, hanya sebuah alibi yang Aisyah sengaja ucapkan. Untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Ibunya mengambil segelas air putih, kemudian membantu Aisyah duduk dengan mencari posisi yang memungkian Aisyah bersandar dengan nyaman.
Diteguknya air itu dengan berlahan, rasa sesak itu kini mulai terasa. Ujian hidupnya ini terasa begitu berat. Beban di pundaknya terasa meningkat berkali kali lipat. Mungkin jika mengikuti prediksi ahli medis harapan hidupnya tidak akan menyentuh angka lima puluh persen. Penyakitnya benar benar sudah parah, ia takut jika sewaktu waktu Allah mengambil nyawanya tanpa di duga. Namun apa yang bisa ia lakukan selain ikhlas nyawa ini hanya titipan saja, ia sudah berusaha menjaganya. Dan Allah tau apa yang terbaik untuk dirinya.
Hanya saja jika waktunya itu tiba, tolong wafatkan dirinya dalam keadaan husnul khotimah. Jangan sampai ia mati dalam keadaan maskiat kepada Allah.
Kini Aisyah hanya tinggal meyakinkan ibu serta ayahnya, bahwa ia baik baik saja. Serta Aisyah tidak ingin sampai Defina tau apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Dari balik pindu namapak Ayah Aisyah datang dengan raut wajah seperti biasa, datar. Tapi di balik itu Aisyah tau, ayahnya sedang berusaha kuat untuk dirinya. Putri semata wayangnya, yang kini sedang berjuang.
"Gimana mendingan?" tanya ayahnya, sambil menyeret kursi untuk duduk di samping istrinya.
"Mendingan pah, tinggal kepala Aisyah aja sakit." ucap Asiyah, sambil berusaha tersenyum menatap ayahnya.
"Ayah sama mamah sedang berusaha mencari dokter dan rumah sakit terbaik buat ngobatin kamu."
❤❤❤❤❤❤
Defina berjalan santai di perpustakaan ia baru saja tiba tadi pagi di pondok, Defina tidak enak jika harus berlama lama tinggal di rumah Ilham meskipun tidak ada siapa pun tetap saja rasanya tidak enak. Selain itu sidang kelulusan akan di adakan dua minggu lagi, itu tandanya ia akan segera menjadi seorang sarjana. Ya, semoga saja itu pun jika dia dinyatakan lulus dan pantas menyandang gelar di belakang namanya.
Tapi ia berharap saat gelar sarjana melekat di belakang namanya semua sosok penting dalam hidupnya berkumpul, di moment penting dalam hidupnya itu.
Defina tersadar akan sesuatu sudah beberapa hari ini dirinya kehilangan komunikasi dengan sahabat terbaiknya, ia hampir lupa untuk mengabari Aisyah bahwa dirinya telah sampai di pondok.
Tanpa menunggu lama Defina dengan cepat merogoh ponsel dari dalam tasnya, ia kemudian duduk dipinggir koridor perpustakaan. Mencari no Aisyah, selang beberapa lama nampak getaran dari ponselnya menandakan sang pemanggil berhasil memanggil sosok di sebrang sana.
"Hallo, Asalamualaikum."
"iya, Wa'alaikumsalam de." Balas Aisyah parau.
"kamu kenapa Syah sakit?" ytanya Defina penasaran, suara Aisyah jelas terdengar beda di telinganya. Yang ia dengar suara itu nampah lemah tak bertenaga.
"Lha enggak kok, aku sehat ini abis bangun tidur." karena faktnya berbohong itu dosa dan Aisyah sekarang sedang melakukannya untuk menutupi semuanya dari Defina. Maka mungkin Allah akan senang hati segera mengungkap semua kesalannya.
"Kirain aku sakit, ini kamu kapan balik ke sini. Ini aku di sini sepi gini, anak anak sekolah aku gak ada kerjaan." papar Defina diringi rengekan manja,
Terdengar tawa renyah di ujung sana, Aisyah sedang berusaha tertawa pilu.
"Ini aku ada urusan, abis beres urusan aku balik kok. Kita kan mau wisudaan," tawanya renyah.
"Syah ini, obat.."
"Eh bentar yah aku di panggil dulu." belum juga Defina menjawab Aiysah lebih dulu menutup panggilan telephone itu sepihak.
Defina tertegun, ucapan itu samar tapi terdengar jelas bahwa yang ia katakan adalah obat, maksudnya obat apa? Pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenaknya, pasalnya akhir akhir ini Aisyah memang sering mengeluh sakit dan rutin pergi ke luar sendirian setiap hari minggu. Jika biasanya Aisyah tidak bisa pergi sendirin maka ini sebaliknya, Aisyah akan pergi sendiri tanpa memberi tau Defina terlebih dahulu. Seolah olah ada sesuatu yang sedang di sembunyikan sahabatnya itu.
Defina terdiam di dekat pintu lemari Aisyah, memperhatikan beberapa barang milik Aisyah yang tersusun rapi di sana. Dan secarik kertas yang menempel di pintu laci bertuliskan Milik sahabat Defina. Kata itu di tulis Aisyah dulu ketika pertama kali bersahabat dengan Defina. Tanpa sadar ada rasa rindu yang kini mengusik pikiran Defina. Andai ia berani, mungkin ia sudah pergi menyusul sahabatnya itu.
Terkait dengan sidang kelulusan yang akan di adakan besok, dan Aisyah masih belum juga kembali. Ponselnya pun sejak saat itu tidak bisa di hubungi, Aisyah benar benar menghilang. Di tambah nomor keluarganya pun selalu dalam keadaan sibuk.
Suara pintu terbuka menyadarkan lamunan singkat Defina. Refleks badannya memutar sudut 180°. Menghadap pintu yang terbuka, menampakkan sosok wanita berjilbab biru muda dengan gamis berwarna putih yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
Tanpa pikir panjang, Defina berjalan setengaj berlari. Berhambur kepelukan sahabatnya itu, Aisyah yang kaget terjengkang ke belakang beruntung tembok di belakangnya mampu menopang badannya.
"Lepasin ih, sesek tau." Aisyah mencoba meregangkan pelukan Defina. Namun hasilnya nihil, tetap sama malah sebaliknya. Defina lebih mengeratkan pelukannya.
"Kamu sih, pulang lama banget. Aku kangen, mana sidang besok di mulainya," bukannya menjawab Aisyah malah tertawa renyah menggelengkan kepalanya seolah ia sedang tertawa. Ya dia tertawa, tawa pamit atau tawa kebahagiaan siapa yang tau.
Yaudah aku mau masuk, pegel ini kaki," elak Aisyah yang tidak ingin Defina bertanya lebih banyak lagi.
"Hehe yaudah masuk." Defina berjalan menuju dekat lemari miliknya kemudian duduk di lantai sambil bersandar pada lemari.
Memang di dalam kobongnya tidak ada kursi hanya ada lemari milik anak kobong kasur, peralatan lainnya seperti alat tidur, itu pun hanya kasur biasa tidak ada ranjang di kobongnya. Karena sudah peraturan dari sananya, itung itung ngerasain gimana rasanya orang tidak mmapu tidur di atas lantai. Beruntung saja mereka masih beralaskan kasur lipat, dibandingkan orang di luar sana yang hanya tidur beralaskan lantai.