Pasrah saja pada Allah niscaya dia adalah sebaik baiknya pemberi solusi.
.
.
.
.
❤LS❤
Karena pada hakikatnya pada siapa pun, kemana pun kamu mengadu tetap aja Allah adalah sebaik baik Zat yang akan memberikan solusi pada setiap permasalahanmu.
Begitu pun dengan Defina sejak kecil ia sudah terbiasa hidup sendiri, mencurahkan setiap permasalahnnya pada Allah karena hanya Allah yang bisa ia jadikan sandaran dalam hidupnya, ia memang tidak menemukan pelukan yang hangat dari sosok ibu dan semangat dari sosok ayah, tapi Defina menemukan kasih sayang dari Tuhannya.
Kini Defina baru saja sampai di rumah Ilham, bertepatan dengan berkumandangannya adzan ashar. Ibunya Ilham, mempersilahkan Defina untuk menempati kamar tamu. Defina bingung? Iyah jawabannya adalah sangat, sangat bingung. Bayangkan jika kalian pertama kali berkunjung ke rumah ibu mertua, lebih tepatnya calon ibu mertua, apa yang akan kalian lakukan? Terasa canggung dan serba salah bukan? Terlebih Defina baru bertemu dengan ibunya Ilham satu kali, sisanya hanya bertegur sapa lewat telephone.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Defina, dengan cepat Defina menghampiri pintu dan membukanya dengan perlahan. Di balik pintu, sosok perempuan paruh baya tengah menyambutnya sembari tersenyum. Tak ada raut wajah masam yang Defina tangkap dari ibunya Ilham, beliau terlalu manis untuk di pandang hampir mirip dengan Syaqilla sedangkan nada bicaranya hampir sama dengan Ilham. Bedanya hanya ada raut ketegasan saja dari nada bicara Ilham. Mungkin efek dari berbicara dengan tegas ketika sedang bertugas. Seperti yang kita tahu, jika wanita di luar sana mencintai abdi negara karena tertarik dengan seragam dan kedudukannya maka Defina mencintai Ilham karena Tuhannya. Sejauh ini Allah telah mempertemukan Defina dengan Ilham dengan cara tidak terduga bahkan mungkin aneh. Hingga proses ta'aruf yang hampir menjelang 3 bulan ini Ilham belum juga kembali. Kepastian akan hubungan mereka dipertanyakan, akan di bawa kemana nantinya.
"Udah beres solatnya?" tanya ibunya Ilham, sejak di mobil tadi banyak cerita yang Defina dapat mengenai kehidupan Ilham. Ilham yang kuat Ilham yang banyak berubah, Ilham yang lembut dan tegas ketika dihadapkan pada anak sekolah yang melanggar peraturan.
Defina tersenyum semabri mengangguk tipis,"udah bu." balasnya.
"Asalamualaikum," dari luar terdengar langkah kaki seseorang di ikuti ucapan salam yang beragema.
"wa'alaikumsalam," ibunya Ilham dan Defina menjawab salam dengan kompak.
Seorang gadis kecil, dengan membawa tas gendong frozen di punggungnya tersenyum. Menatap ada dua sosok di depannya yang sama sama terlihat cantik.
"Kak Defina?" cengir Syaqilla, yang datang adalah Syaqilla adiknya Ilham. Anak itu dengan cepat mengulurkan tangan untuk menyalami Defina.
Defina tersenyum menyambut uluran tangan Syaqilla, "Iyah." balas Defina.
Kemudian Syaqilla menyalami tangan ibunya, lalu pamit untuk berganti baju.
Ayam goreng, nasi putih, sambal, dan goreng tahu beserta tempe tersaji dengan rapi. Defina sedikit tidak enak, ibunya Ilham sampai harus repot repot menyediakan suguhan untuknya.
"Ayo makan, ini bi Titin yang masak. Soalnya tadi ibu gak sempet masak, terus takutnya pas kamu dateng laper gak ada masakan jadi ibu nyuruh bi Titin buat masak. Maaf yah seadanya Defina." tutur ibunya Ilham, sambil mengambil nasi untuk Syaqilla.
"Padahal ibu gak usah repot repot Defina jadi gak enak. Kita bisa masak bareng kalau ibu belum masak." ucap Defina, piringnya masih kosong belum ada satu pun makanan yang ia ambil.
"Hus, gak boleh gitu. Ibu seneng kamu ke sini, tapi anggep saja kamu dateng ke sini sebagai saudara ibu. Bukan sebagai calon istrinya Ilham." Ada rasa yang tidak mampu Defina definisikan dengan kata kata, rasa yang sejak lama tidak Defina temukan.
Ibunya Ilham bangkit, Defina mendongkak menatap bingung. Jauh dari perkiraan ibunya Ilham justrul mengambilkannya nasi beserta lauk pauknya lengkap ke piring Defina.
"Ayo makan, kamu keliatan kurus." kekeh ibunya Ilham, kemudian ia duduk kembali di kursinya.
"Iyah, kak Defina kayaknya kurus deh. Liat tuh Syaqilla, gendut kan?" kekeh Syaqilla.
"Kakak bukan kurus, cuman kekurangan daging aja badannya." balas Defina disertai candaan di dalamnya.
"Eh, udah udah ayo makan." hardik ibunya Ilham.
Ya, jauh dari belahan bumi lain. Defina tersenyum bahagia, bercanda ria. Entah pada sosok lain yang kini sedang berjuang atau perjuangannya telah usai? Tapi yang pasti, dua wanita itu lebih tepatnya tiga wanita bersama gadis kecil manis yang sedang lahap makan itu bahagia.
Tapi di belahan bumi lain juga ada sosok yang sedang berjuang menjaga perdamaian.
❤❤❤❤❤❤❤❤
Jangan terlalu berharap pada manusia, karena ia hanya akan menyajikan dua kemungkinan. Ketidakpastian atau menunggu yang berujung penyesalan.
❤LS❤
Ilham tersadar saat merasakan perih di tangan kanannya. Luka bekas sayatan nampak jelas dengan noda merah dan merobek sebagian baju loreng kebanggaannya. Seorang pria dengan baju loreng yang sama datang membawa beberapa kotak obat P3K.
"Om Ilham jago, udah di siksa berhari hari masih aja tahan banting." Nada bicara Agus terdengar seperti guyonan di telinga Ilham. Dengan nada bicara yang terdengar di buat bercanda.
"Udah cepet, obatin ini." hardik Ilham
"Iyah sabar, ini lagi di siapin dulu."
"Ham, ini luka nya lumayan dalem. Musti di jait kayaknya." Agus mengamati lengan Ilham yang terluka, sambil sesekali meringis.
Ilham mengehala nafas, "Yaudah jait aja. Paling sepuluh jahitan doank."
"Gila, sepuluh jahitan di anggep paling." Agus mulai mengeluarkan kapas dan alkohol kemudian memulai membersihkan luka Ilham. Sebelum akhirinya menjait tangan Ilham dengan beberapa jahitan di lengannya.
"Udah beres ham, gak usah dulu kena air, kalau bisa rutin cek perbannya." ucap Agus sambil melepaskan sarung tangan yang dipakainya.
"Bawel, kaya siapa aja." kekeh Ilham
"Yee, tetep aja di luar ruangan ini lo atasan gue." Ya memang benar ketika sedang tidak bertugas, Ilham dan teman temannya lebih suka menggunakan bahasa akrab, sedangkan di lapangan atau saat bertugas mereka menjunjung tinggi pangkat dan kedudukan mereka sebagai salah satu peran dari mereka yang memegang tanggung jawab masing masing. Semakin tinggi pangkat yang mereka duduki maka semakin tinggi kewajiban dan tanggung jawab yang mereka emban.
Di sisi lain, Defina tertawa renyah mendengar celotehan Syaqilla, anak itu tampak ceria menceritakan kisahnya saat pergi ke kebun binatang.
"Kalau jerapah, jerapah itu tinggi. Mirip badannya bang Ilham. hehe" cengir nya di akhir.
"tapi bedanya bang Ilham itu ganteng, iyah kan kak?" Defina mengangguk saja mengiyakan perkataan Syaqilla.
"Tapi...." ada raut kesedihan yang nampak di wajah anak manis itu,
Defina mendekat, "tapi apa?" tanyanya kemudian, menatap wajah Syaqilla yang terlihat murung.
"Bang Ilham jarang ada di rumah." celotehnya kemudian.
"lha, kan bang Ilham lagi lindungin Negara Syaqilla." Defina berusaha memperhalus perkataanya.
"Kok negara di lindungin?" tanyanya balik.
"Kalau bang Ilham gak ada negara kita gak bakal aman, banyak penjajah dan orang yang mau ngerusak persatuan Indonesia." anak itu berusaha fokus, mencerna setiap berkataan Defina. Hingga akhirnya ia mengangguk tipis tanda setuju.
Ibunya Ilham datang membawa kantung plastik berisi buah apel, ia tersenyum memperhatikan kedua orang yang terpaut usia itu asyik berinterkasi.
"Ibu bawain apel kesukaan Syaqilla,"
"yey makasih bu,"
Defina yang melihatnya ikut tersenyum, dahulu ia pernah merasakan hangatnya keluarga, hingga ia harus menerima kenyataan bahwa ibu dan ayah kandungnya sudah meninggal.
❤❤❤
Aisyah, terbaring kaku di ruangan yang bernuansa serba putih dengan aroma khas obat yang menusuk penciuman. Beberapa selang, terpasang di tubuhnya. Raut wajah yang selalu berseri di iringi senyuman tipis kini mulai memudar, beberapa orang kini terlihat tersedu.
"Anak ibu terkena kanker otak stadium akhir,"
Kata kata itu yang kini terngiang di telinga seorang ibu, putri semata wayangnya harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya di diagnosa terkena penyakit kanker.
"Aisyah, bangun nak ini ibu." tak jua ada jawaban, dari sosok yang terbaring lemah itu.
...............
Terimakasih sudah mampir, jangan lupa coment yah???