EMPAT BELAS

1167 Kata
Jiwa yang berselimbut dosa, asa yang pernah tercipta. Kini sejenak nafas nafas rindu diam membelenggu. Meminta menunggu untuk waktu yang tak tentu. . . . . Aisyah tersenyum, melihat Devina. Ia menghela nafas lega pasalnya sahabat baiknya telah kembali mengukir senyum di bibirnya. Tapi jauh dari perkiraan Aisyah, Defina merasa hatinya masih cemas. Karena kini pagi menyapa dan sosok yang ia tunggu tak kunjung bersua. Mungkin ini adalah awal untuk menunggu seseorang dalam waktu yang tak pasti. Hanya saja harapannya hanya satu, kembalikan sosoknya dalam keadaan selamat. "De, aku mau ke luar bentar. Mau cari obat maag." Defina menoleh ke sumber suara. Aisyah tengah memperhatikannya dari dekat pintu. "Perlu di anter gak?" tawarnya pada Aisyah. "Gak usah, aku sendiri aja. Kamu tolong beresin file yang kemarin di sini". Defina mengangguk cepat, ia baru ingat jika ada beberapa nilai yang belum ia selesaikan. "Yaudah, hati hati syah". Aisyah mengangguk tipis, kemudian berjalan keluar. Bukan, bukan obat maag yang Asiyah cari. "Anda bisa mengambil hasil lab nya besok, tapi menurut gejala yang saya prediksi penyakit ini berbahaya. Ya mudah mudahan ini hanya dugaan saya saja. Anda berdoa saja semoga hasil nya negatif". Aisyah berjalan cepat, masih dengan ingatan kemarin yang terus membuatnya resah. Semoga saja ia tidak sakit parah, semoga prediksi dokter itu salah. "Permisi sus, saya mau ambil hasil lab saya yang kemarin". "oh iyah, atas nama bu Aisyah kan?" Aisyah mengangguk tanda ucapan sang suster benar adanya. "mari ikut saya, biar dokter yang jelasin hasil labnya mba". Aisyah berjalan mengikuti langkah suster perempuan itu. Hatinya semakin cemas, bayangan negatif bergelut dalam pikirannya. Ruangan bernuansa putih serta bau khas obat yang menyengat menyambut hangat kedatangan Aisyah. Ia di persilahkan duduk, di depannya dokter yang bername tag Dini itu tersenyum, menyambut kedatangan Aisyah. Dokter Dini, mengulurkan tanganya mengambil sebuah amplop dalam laci mejanya. Kemudian menyerahkannya pada Aisyah. "Apa yang saya duga ternyata benar". Belum sempat Aisyah membuka amplop putih itu sang dokter lebih dulu membuka suara. *** "kok lama sih syah?" Defina menengok ke arah Aisyah yang baru saja tiba. "itu muka kamu kok pucet, abis nangis atau sakit". Defina penasaran mendekat ke arah Aisyah. Tapi dengan cepat Aisyah membuang muka. Sebisa mungkin menyembunyikan kesedihannya. Kemudian Aisyah tertawa renyah, "kamu ada ada aja de. Orang muka aku kalau kepanasan emang gini. Lagian di luar panas banget". Defina sedikit tidak percaya bagaimana mungkin wajah Aisyah pucat dan dia bilang kalau wajahnya itu memang seperti itu, tapi tidak ingin terlalu ikut campur Defina akhirnya mengangguk percaya pada ucapan sahabatanya. "yaudah aku mau pergi salat dulu, kebetulan tadi di jalan gak sempet salat". "oke, abis salat aku tunggu buat makan. Laper nih," Aisyah mengangguk tipis dan pergi melangkahkan kakinya ke luar menuju mesjid. Lantuan suara salawat berkumadang di iringi getaran dari atas nakasnya. Defina menatap benda tersebut kemudian cepat melihat kontak yang tertera di layar ponselnya. Tidak ada nama, Defina was was angkat atau tidak. Tapi tangannya lebih berkuasa tanpa bisa menahannya. "Hallo asalamualaikum". Suara perempuan di sebrang sana terasa asing di telinganya. "Waalaikum salam, maaf ini dengan siapa yah?" tanya Defina "Defina, ini ibunya Ilham. Kamu sedang sibuk tidak?" canggung itulah yang Defina rasakan saat ini. Rasanya suara Defina berat, untuk berkata. "oh iyah, tante. Enggak kok ini Defina lagi istirahat". Jawab Defina akhirnya. "kok tante? Panggil ibu aja De". Terharu itulah perasaan Defina saat ini. "Defina apa kabar?" karena tak kunjung mendapat jawaban ibunya Ilham akhirnya kembali bersuara. "eh, iyah ta..bu. Alhamdulillah Defina baik. Ibu bagaimana sehat juga?" Seperti hingga sekarang Ilham masih menjaga keselamatan bangsanya. Biarlah ini menjadi pertimbangan ke mana hubungannya akan di bawa. "ibu juga baik de, maaf ibu baru telphone. Kamu bisa ke sini kan? Kita bisa bicara hangat di sini. Lagian Ilham kan belum pulang." Defina belum mengiyakan permintaan ibunya Ilham. Ia masih menimbang takutnya ia salah melangkah. Tuhan menguji bukan karena tak peduli tetapi Ia menyimpan bahagia yang haqiqi setelahnya. ❤LS❤ . . . . Happy Reading Defina akhirnya memutuskan untuk berangkat menemui Ibunya Ilham, setelah ia meminta saran dan izin dari neneknya. Ia berangkat karena mendapat informasi dari ibunya Ilham bahwa ayahnya Ilham tidak ada di rumah, karena sedang berada di luar kota menjenguk adiknya yang sedang sakit. Pukul delapan pagi Defina berangkat bersama Aisyah, Ia berpisah dengan Aisyah di terminal bus. Aisyah pulang ke rumahnya sedangkan Defina berangkat ke Bandung. Awalnya ibunya Ilham menawarkan jemputan untuk Defina tetapi ia memilih menolaknya. Ia lebih tidak enak jika harus merepotkan orang yang seharusnya ia hormati itu. Pukul satu siang akhirnya Defina tiba di terminal Bandung. Jauh dari dugaanya sosok yang baru sekali bertemu dengannya sudah setia menunggunya. Wanita bergamis tosca itu tersenyum hangat melambaikan tangan ke arah Defina yang baru saja turun dari atas bus. Di temani cuaca Bandung cerah, hampir tidak ada awan yang menutupi langit siang itu. Ingatan tentang Ilham masih terus hinggap di pikirannya meski ia sudah berusaha agar tidak terlalu fokus memikirkan orang yang belum tentu jodohnya itu. Defina berjalan mendekat ke arah wanita yang juga berjalan ke arahnya. Sampai di depannya ia membungkuk menyalami tangan wanita itu. "Defina, maaf ibu ngerepotin kamu." "Enggak kok bu, Defina lagi gak kuliah jadi bisa izin dari pesantren." balas Defina, ia tidak ingin ibunya Ilham merasa merepotkan dirinya. "Yaudah ayo berangkat! Kamu pasti capekan?" Defina mengangguk dan tersenyum hangat saat ibunya Ilham menuntunnya untuk berjalan. "Ibu di anterin supir tadi, soalnya kalau naik motor kasian kamu kepanasan." Ibunya Ilham kembali membuka suara, Defina merasa sosok di sampinya ini begitu hangat padahal ia hanya orang luar yang bahkan tidak tau latar belakangnya, bahkan Defina hampir lupa jika ibunya pun tidak pernah memperlakukannya sehangat itu. "Gak papa bu, Defina udah biasa panas panasan kok. Bahkan sering naik angkot juga." jawab Defina masih dengan melangkahkan kakinya bersampingan dengan ibunya Ilham. "Di sini kalau naik angkot jauh lagi, harus jalan soalnya ke kompleks ibu gak ada angkot." ucapnya di sertai tawa renyah. Kecanggungan masih melanda Defina, ia selalu saja kehabisan kata kata setiap kali berbicara dengan ibunya Ilham. "nah itu mobilnya, ayo masuk!" tunjuk ibunya Ilham, Defina menengok ke arah jemari itu mengarah , ia mengikuti ibunya Ilham duduk di jok belakang sedangkan di depan hanya di isi supir pribadi keluarga Ilham. ❤❤ Jauh dari kebahagian Defina, sesosok pria justrul sedang meringgis merasakan pukulan yang menghantamnya bertubi tubi. Demi Allah jika memang harus sekarang ia wafat maka pintanya hanya satu, wafatkan ia dalam keadaan khusnul khotimah. "lo masih gak mau ngaku?" tanya seseorang yang sedang berdiri tegap di hadapan Ilham. "Ayolah, kita ini sama sama orang Indonesia. Gue cuman minta lo buat ngasih tau markas lo sama temen temen lo di mana?" bentaknya ada penekanan di akhir kalimatnya. "Ilham, lo itu b**o apa gimana sih? Gue masih baik hati ngasih lo kesempatan atau gak..." pistol berwarna hitam itu kini tepat di atas kepala Ilham. Ilham pasrah, dia bungkam tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun. Semua badannya terasa hancur hanya ragaanya saja yang masih terasa utuh. Dor... Dor .. Dor ..Tanpa ampun kini hujan tembakan berhasil membuat lumpuh sosok di sana. ❤❤❤ Luv luvv?? author datang menghibur kalian di malam minggu. Semoga menghibur?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN