TIGA BELAS

1118 Kata
Berbicara soal Ilham, Defina sama sekali belum mendengar kabarnya lagi, sejak pertemuannya di Garut. Biasanya Ilham akan rutin menanyakan kabar Defina meski hanya lewat pesan, tapi sudah hampir enam bulan ini Ilham menghilang. Defina tidak ingin memiliki pikiran buruk tentangnya ia berusaha berfikir husnudzan pada Ilham. Ia yakin jika dimana pun Ilham sekarang Allah sedang melindungi nya. Defina, membuka sebuah kotak yang ia simpan di lemari bajunya. Sudah hampir 2 tahun ia menyimpan kotak ini tanpa berniat untuk membukanya. Surat dari Ilham itu masih terbungkus rapi dengan amplop putih, Defina berfikir sejenak sebelum mulai membuka amplop itu. Sebuah kertas terlipat indah di dalamnya. Asalamualaikum wr. wb. Teruntuk Dirimu Wahai Ukhti Allah telah mempertemukan aku pada sosokmu Bidadari tanpa kepakan sayap Pembawa cahaya dikala gelap Menuntun rasa yang selalu gelisah Menerbangkan asa yang selalu punah Defina, Allah telah melabuhkan hatiku padamu. Tak sulit aku mencarimu karena Allah yang menuntunmu padaku. Awal pertemuan yang singkat, dan mungkin kamu enggan mengenalku lebih jauh. Aku hanya seorang prajurit TNI, nyawaku adalah tebusan dari setiap perjuanganku. Aku bertahan untuk melindungi orang yang kadang merusak dirinya sendiri. Aku berkelana menjelajahi hutan mencari kedamaian dan aku temukan itu, tapi ketika bertemu denganmu damai ku semakin menjadi. Aku tak pintar mengukir kata, karena aku bukan seorang penyair. Aku harap kamu baca surat ini, entah aku masih ada di bumi atau tidak aku akan merasa bahagia. Jika senja tenggelam dan aku belum datang maka lamakanlah sujudmu, sejenak selipkan namaku dalam doamu. Karena mungkin saat itu aku sedang berusaha melepaskan diri. Jika malam aku belum juga datang makan bangunlah di sepertiga malam bacakan aku ayat ayat Allah yang mampu membuat hatiku yakin dan tenang. Tapi jika pagi aku belum juga menampakan diri maka saat itulah aku akan menyuruhmu menunggu untuk waktu yang tidak pasti. Wahai bidadariku semoga Allah menjagamu dan juga menjagaku. Hingga aku akan datang melamarmu dan mengucapkan janji suci di hadapan-Nya. Wasalam M. Ilham. Prasetya Air mata haru terjatuh tanpa di minta, sosok Ilham mampu mengetarkan hati Defina. Semakin bertambah rasa kagum pada sosok yang sekarang sedang menghilang. Defina menyimpan surat ini begitu lama, hingga tak sadar jika Ilham sekarang mungkin saja sedang berjuang di kala senja memintanya untuk berdoa. Surat yang Defina baca ia lipat kembali seperti semula kemudian menyimpannya kembali pada tempat asalnya, ia bangun dari duduknya untuk menyimpan kembali surat itu hingga tak sengaja gelas yang berada di meja terjatuh karena ia tak sengaja menyenggolnya. Seketika ppranggggg, seketika gelas itu hancur menjadi bagian yang tak beraturan. "Astagfirullah, ya Allah." Defina gemetar untung saja tidak mengenai kakinya. "Defina," Aisyah sama terkejutnya "Teteh gak papa."Rini ikut menimpali "Enggak papa kok, tadi gak sengaja aja ke senggol tangan." Balas Defina, tapi rasanya hati Defina tidak enak. Ahk mana mungkin ada apa apa, pasti gelasnya pecah kaya biasa, Defina berusaha meyakinkan dirinya yang semakin dilanda rasa takut. "Sini aku bantu beresin," tawar Rini ia mendekat dengan membawa sapu dan kantong plastik di tangannya. "Gak papa biar teteh aja Rin," Balas Defina merasa tidak enak "Udah Rini aja teh, sekarang teteh pergi ke mesjid aja sama teh Aisyah udah mau magrib aku lagi gak salat kok." Balas Rini, ia sudah mulai membersihkan serpihan gelas yang Defina jatuhkan. "Oh iyah, teh Aisyah cepet bawa teh Defina ke mesjid." Sambung Rini kembali. "Oh iyah ayok De, Rin maaf yah jadi kamu sendiri yang berisihin." "Udah gak papa kak, ijinin aku yah sama kak Marul aku lagi ada tamu. Heheh" cengir Rini "Iyah beres pokoknya." "Ayok De," "Iyah ayok," Aku akan berdoa dalam sujudku untukmu, semoga malam nanti kamu kembali aku tidak ingin menunggu hingga pagi. @@@ "Lo itu b**o apa gimana sih, gue minta lo kasih tau di mana tempat persembunyian temen temen lo." Bentakan itu di iringi pukulan ganas yang semakin membuat seseorang di ujung lorong sana merintih. "Gak gue gak akan kasih tau di mana markas itu," "Oh rupanya lo mau jadi jagoan, so soan ngorbanin nyawa lo demi nyelametin temen temen lo." Plak satu tamparan kembali mendarat lagi, "Demi Allah, saya akan melindungi mereka. Karena Allah yang akan melindungi saya." Balas Ilham, darah segar sedari tadi sudah keluar dari hidungnya. Wajah tampannya berganti dengan warna lebam. Angka kesadarannya jika di hitung sudah berada dalam angka dua, satu lagi badannya akan limbung. "Oke, ini adalah ganjaran buat orang yang gak tau di untung kaya lo." Satu pukulan di iringi tembakan berhasil melumpuhkan kesadaran Ilham, hingga gelap dan seterusnya sunyi yang Ilham temukan. Tuhan jika memang takdir yang membawanya hadir, maka aku akan ikhlas bila takdir juga yang membuatku kehilanganya. . . . . . . Semak belukar itu bergoyang, menandakan sedang ada orang di balik sana yang bersembunyi. Lorong hitam di di balik gedung tua terlihat mencekam tetapi sosok di balik semak itu tidak sedikit pun gentar. Teriakan kesakitan semakin membuat amarahnya membara. Level kemarahannya benar benar berada di atas puncak, jika saja situasi bisa ia kendalikan maka keselamatannya akan ia gadaikan untuk menebus kawannya yang sedang berusaha menjaga kedamaian di dalam sana. Satu langkah dua langkah, Agus menapakan kakinya melangkah pelan sambil tangannya memberi isyarat aman pada kawan di belakangnya. Langit gelap semakin membuat suasana mencekam, rintik hujan sudah mulai turun perlahan di ikuti petir yang seolah memberi gema semangat pada mereka yang sedang berusaha melakukan misi. Pintu tua sudah di depan mata, Agus mengisyaratkan satu per satu timnya untuk berpencar. Membagi timnya untuk siap siaga di setiap penjuru tempat, sementara ia dan rekannya yang lain akan masuk menyergap dari belakang. Brakkkk pintu di buka secara paksa, pasukan lawan dengan sigap mengangkat s*****a. Mencoba melumpuhkan pasukan yang di pimpin Agus. s*****a api ukuran besar siaga di tangan masing masing baik musuh maupun lawan. "Oh... rupanya pahlawan dari negeri kita sudah datang". Tepuk tangan dan tawa renyah terdengar seperti hinaan nyata di telinga Agus. Agus tersenyum, tetap saja pikirannya harus fokus jangan sampai lawan berhasil membuyarkan pikirannya. "Prajurit Agus?" Sebuah s*****a terarah tepat di depan wajah Agus sang pemimpin tim. Angkat s*****a semakin gencar, sebuah tembakan ke udara menjatuhkan lampu gantung tepat di kepala musuh. Tanpa suara, angkat s*****a membungkan mereka. Hanya terdengar sahutan suara tembakan dari setiap penjuru. Agus maju membungkam Jack dengan kakinya. Satu persatu prajurit masuk menumpas lawan karena merasa situasi sedang berpihak padanya. Noel maju satu langkah berpura pura was was hingga ia mengambil jalan pintas. Dorrr, satu tembakan berhasil membuat lawan tumbang. Para penghianat negeri, bukan salahnya jika ia harus menelan musuh dengan berakhir kematian. Karena musuhnya di depan sana berontak tak ingin menyerah. "Masuk, Noel periksa jalur satu ujung lorong". "Dani amankan situasi". "Masuk Noel, amankan jalur satu di sini terdapat jasad yang sulit di kenali". Agus menyerahkan Jack pada kawannya, ia sedang mencari sosok yang kawan yang belum di temukan keberadaannya. "Hallo markas besar masuk bantuan sedang di kirim, amankan jalur". "Hallo Agus masuk, jalur aman". ,,,,,,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN