Mungkin Allah mengirimkanmu untukku sebagai benteng dari pertahanan rasa sedihku.
.
.
.
♡♡♡
Defina melihat pantulan dirinya di cermin, menatap dalam bayangannya sendiri. Seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang hidup tanpa mampu melihat wajah orang yang melahirkannya terlebih dahulu. Jadi, wajar saja jika ayah nya tidak pernah peduli padanya. Karena ia hanya anak angkatnya saja, dan anak penghiburan di saat anak kandung mereka keguguran.
Apa yang Defina pikirkan, dengan cepat ia menepis pikiran buruknya.
"Astagfirullahaladzim." Beberapa kali Defina merapalkan istigfar memohon ampun kepada Allah karena telah berburuk sangka pada-Nya. Pada skenario yang telah Tuhan atur sedemikian rupa.
Defina ialah Defina ia hanya seorang wanita biasa, imannya belum sekuat Aisyah dan hatinya belum sesuci Fatimmah. Ia hanya sedang berusaha menjadi keduanya, sosok yang benar benar menginspirasi di dalam hidupnya.
Defina mendudukan dirinya di kursi meja rias. Air mata yang ia bendung kembali keluar bersama rasa sesak yang mencekat perjalanan nafasnya. Ia berusaha sabar tapi tetap saja hatinya berontak. Ingin berteriak namun tak mampu, ingin pergi namun hatinya berkata hafapi.
Defina menenggelamkan wajah dalam lipatan tangannya. Mencoba sejenak melupakan setiap memori kelam hidupnya. Setidaknya ia bisa mencari ke tujuh kakaknya. Dan mendapatkan informasi mengenai walinya.
Defina hanyut dalam rasa tenang saat merapalkan surat An-Naziat. Jika kita melihat sekilas artinya para malaikat yang mencabut, menyeramkan bukan jika kita ingat hari di mana malaikat akan mengambil nyawa kita. Di sana pintu taubat akan di tutup tak ada lagi kata ampunan yang di dapat, dan di sana pula kamu akan merasakan bahwa dunia yang telah di perjuangkan tak lebih dari godaan setan.
Mungkin inilah yang dinamakan takdir, bukankah seorang muslim tidak dikataan beriman jika ia lebih mencintai bapa dan anaknya daripada mencintai Rasulullah.
Defina tidak ingin menjadi muslim yang seperti itu, mungkin ini saatnya ia bangkit dan mendoakan orang tuanya agar tenang di alam sana. Lagi pula tak ada manfaatnya jika ia terus meratapi nasibnya yang seperti ini.
"Ibu ayah , Ini Defina putri kalian."
Tok..tok..tokk.
Defina mendongkak menatap pintu kamarnya saat mendengar bunyi pintu di ketuk. Dengan cepat ia menghapus air matanya.
"Defina, ada tamu sayang." Ucapan lembut neneknya berhasil membuat kening Defina berkerut, bagaimana mungkin ada tamu? Sedangkan dirinya tidak punya banyak teman di sini. Bahkan teman lamanya tidak tau di mana rumahnya. Dan di mana keberadaanya.
Defina merapihkan jilbabnya dan membuka pintu kamarnya, "siapa nek?" Tanya Defina penasaran.
"Ayok ikut nenek." Tanpa menjawab neneknya menarik tangan Defina lembut. Defina semakin di buat penasaran dengan tingkah neneknya yang aneh itu.
Sampai diruang tamu Defina menatap dua orang pria, satu orang pria yang tidak asing di mata Defina dan seorang pria paruh baya. Serta seorang perempuan paruh baya yang mengenakan gamis syar'i dan seorang anak perempuan yang duduk di kursi panjang.
Defina menyalami kedua perempuan itu kecuali pada dua orang pria itu, Defina hanya menyunggingkan senyum dan menundukan kepalanya.
Defina duduk di kursi yang hanya muat dua orang bersama neneknya. Ada kecanggungan di antara mereka semua. Sebelum neneknya memecah kesunyian diantara mereka.
"Silahkan pa bu di minum teh nya, kamu juga cantik ayo cobain kuenya ini bikinan kak Defina lho." Ucap neneknya seperti sedang promosi saja.
"Nak Ilham juga ayo diminum teh nya."
"Iyah makasih nek."
"Saya minum nek." Ucap seorang wanita paruh baya tadi.
Setelah banyak basa basi yang tercipta diantara mereka barulah Ilham mengutarakan niatnya bahwa ia ingin berta'aruf dengan Defina. Jelas saya Defina kaget dengan permintaan Ilham.
"Bagaimana De, kamu setuju sama permintaan nak Ilham?" tanya neneknya jelas saja ia tidak ingin memaksa cucunya semua keputusan ada di tangan Defina.
"Iyah nak pertimbangkan dulu saja." Ucap ibunya Ilham
"Iyah mungkin sebaiknya begitu." Timpal ayah Ilham
"Bu, boleh aku pindah ke deket kak Defina." Defina menoleh menatap anak kecil yang begitu manis itu.
"Sini sayang." Belum juga ibunya Ilham menjawab pertanyaan putrinya Defina lebih dulu mengijinkan Syaqilla duduk bersamanya. Neneknya sedikit bergeser memberikan ruang pada Syaqilla untuk duduk di sampingnya.
"Kaka aku punya gambar buat kaka." Syaqilla merogoh saku tasnya menyerahkan sebuah kertas yang sudah hampir lusuh.
Defina menatap gambar, yng ada dalam kertas itu.
"Ini adalah aku, ibu, ayah, bang Arsen, sama Kak Ilham , nah ini itu kakak. Tapi sayang kata kak Ilham bang Arsen udah tenang disana." Sungguh wajah anak manis ini begitu tulus Defina mampu melihat ketulusannya dari binar mata Syaqilla.
"Tapi Syaqilla gak sedih, karena kata kak Ilham Syaqilla bakalan punya kakak perempuan. Kata Kak Ilham Syqilla hanya tinggal berdoa sama Allah supaya kakak perempuannya mau jadi kakak Syaqilla." Ilham kaget tidak percaya dengan ucapan polos adeknya itu, sungguh ini diluar dugaannya.
Berbeda dengan Ilham, Defina perempuan itu malah tersenyum manis dengan ucapan Syaqilla. Inilah skenario banyak hal ketidak mungkinan yang tejadi dalam hidupnya.
Tentang siapa dirinya dan tentang kemana skenario Allah membawa alur hidupnya.
♡♡♡♡
Bagi Defina bertemu dengan keluarga kandungnya adalah hal yang paling indah dalam hidupnya, kesabarannya selama ini terbalas dengan kehadiran keluarga di sampingnya. Dan sekarang hidup Defina lengkap sudah, ia bisa bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan keluarganya yang menyambutnya dengan tangisan haru. Meski semua menahan Defina untuk tetap tinggal tapi lagi dan lagi Defina harus memikirkan nasib neneknya orang yang sangat berjasa dalam hidupnya.
Tepat siang tadi Defina sampai di asrama pesantren, hanya tinggal menunggu waktu sidang untuk menentukan apakah ia lolos atau tidak dan pantas tidaknya Defina mendapat gelar sarjana.
Rasanya baru kemarin Defina, merasakan ujian yang luar biasa tapi itulah ujian yang mengantarkan dirinya pada titik puncak kesabaran.
Defina sudah memutuskan ia akan tinggal bersama neneknya setelah lulus wisuda, ia akan mengabdikan dirinya untuk menjadi salah seorang guru di sekolah dekat rumahnya.
Soal Ilham dan Zaidan, Defina sudah memutuskan untuk memilih Ilham ia sudah mantap dengan keputusannya. Salat istikharah membawanya pada titik ini, meski Zaidan menolak keras keinginan Defina tetapi dengan bantuan Aisyah Zaidan akhirnya luluh. Walau dalam hatinya ia masih menyimpan sebuah rasa kecewa yang mendalam. Tapi Defina tak mampu berkata apa apa lagi selain kata maaf.
"Oke De, kalau kamu lebih milih cowok itu aku bakalan berusaha lupain kamu." Setidaknya itu adalah kalimat terakhir dari Zaidan yang Defina dengar.
@@@
....
Maaf cerita amatir ini mungkin hanya sekedar cerita amatir. Terimakasih yang sudah mampir?